Shalat Ditunda, Adzan Juga Ditunda

207
menunda adzan dan iqomah
Ilustrasi @speaker /unsplash

Hukum Menunda Adzan dan Shalat Karena Kajian

Di sebagian tempat, jika ada kajian antara maghrib sampai bakda isya, maka begitu masuk waktu isya’, kajian dihentikan dan adzan dikumandangkan.  Kemudian kajian dilanjutkan, seusai kajian, barulah shalat isya dilaksanakan. Apakah ini dibenarkan?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Nabi ﷺ memberikan panduan dalam masalah, melaui sabdanya yang disampaikan kepada Malik bin al-Huwairits radhiyallahu ‘anhu,

فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ

“Apabila ‘telah datang waktu shalat’, hendaknya salah seorang diantara kalian mengumandangkan adzan…” (Muttafaq ‘alaih).

Apa yang dimaksud ‘datang waktu shalat’?

Sebagian ulama menjelaskan, diantaranya al-Allamah Abdullah al-Fauzan bahwa yang dimaksud datang waktu shalat adalah datang pelaksanaan shalat, dan bukan masuk waktu shalat ditandai dengan pergeseran matahari.

Sebagai ilustrasi, masuk waktu dzuhur jam 11.30; sementara pelaksanaan shalat dimulai jam 12.15.

Apa makna ‘datang waktu shalat’?

Maknanya adalah ketika pelaksanaan, yaitu jam 12.15 dan bukan ketika
masuk waktu, yaitu jam 11.30.

Syaikh Abdullah al-Fauzan menjelaskan,

يستفاد من قوله: “إذا حضرت الصلاة” أن المراد حضور فعلها؛ وذلك بأن يكون الأذان عند إرادة فعل الصلاة، لا عند دخول الوقت…

Disimpulkan dari sabda beliau, “Apabila datang waktu shalat” bahwa yang dimaksud datang di sini adalah pelaksanaan, dalam arti adzan dikumandangkan ketika hendak melaksanakan shalat, bukan ketika masuk waktu shalat… (Minhah al-Allam, 2/294).

Diantara dalil yang mendukung pendapat ini adalah hadis dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, Bahwa ketika Nabi ﷺ di Tabuk, cuaca sangat panas. Ketika masuk waktu dzuhur, Muadzin hendak mengumandangkan adzan, namun Nabi ﷺelarangnya.

Abu Dzar bercerita,

كُنَّا مَعَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَأَرَادَ الْمُؤَذِّنُ أَنْ يُؤَذِّنَ الظُّهْرَ فَقَالَ « أَبْرِدْ ». ثُمَّ أَرَادَ أَنْ
يُؤَذِّنَ فَقَالَ « أَبْرِدْ ». مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلاَثًا حَتَّى رَأَيْنَا فَىْءَ التُّلُولِ ثُمَّ قَالَ « إِنَّ شِدَّةَ الْحَرِّ مِنْ
فَيْحِ جَهَنَّمَ فَإِذَا اشْتَدَّ الْحَرُّ فَأَبْرِدُوا بِالصَّلاَةِ »

Kami bersama Nabi ﷺ. Ketika Muadzin hendak mengumandangkan adzan dzuhur, beliau bersabda, “Tunda, sampai agak teduh.” Setelah berselang beberapa waktu, muadzin hendak mengumandangkan adzan. Lalu beliau bersabda, “Tunda, sampai agak teduh.” Ini berulang dua atau tiga kali. Sampai ketika kami telah melihat bayangan kerikil (mendekati waktu asar), beliau bersabda, “Sesungguhnya cuaca yang panas itu disebabkan hembusan jahanam. Jika ada cuaca yang panas, maka tundalah waktu shalat hingga agak teduh.” (HR. Bukhari 539 dan Muslim 1431)

Dalam riwayat Bukhari 535 ada tambahan,

أَبْرِدْ أَبْرِدْ – أَوْ قَالَ – انْتَظِرِ انْتَظِرْ

“Tunda, sampai agak teduh.” atau beliau bersabda, “Tunggu dulu.”

Al-Hafidz Ibnu Rajab menjelaskan,

ظاهر حديث أبي ذر الذي خرجه البخاري يدل على انه يشرع الإبراد بالأذان عند إرادة الإبراد بالصلاة، فلا يؤذن إلا في وقت يصلي فيه، فإذا أخرت الصلاة أخر الأذان معها، وأن عجلت عجل الأذان

Makna yang mendekati dari hadis Abu Dzar yang diriwayatkan Bukhari menunjukkan disyariatkan untuk menunda adzan, jika shalatnya ingin ditunda. Sehingga tidak dikumandangkan adzan, kecuali bersamaan dengan waktu pelaksanaan shalat. Jika shalatnya di akhirkan, maka adzannya juga diakhirkan sebagaimana shalatnya. Dan jika shalatnya disegerakan, maka adzannya juga disegerakan.

Kemudian al-Hafidz Ibnu Hajar membawakan dalil yang lain,

أن النبي – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ليلة جمع لما غربت له الشمس بعرفة، ودفع، لم ينقل عنه أنه أذن للصلاة، فلما قدم جمعاً أذن وأقام وصلى

Bahwa ketika Nabi ﷺ di malam Muzdalifah (malam tanggal 10 Dzulhijjah), ketika matahari sudah tenggelam di Arafah, tidak dinukil bahwa beliau menyuruh untuk mengumandangkan adzan shalat. Baru setelah tiba di Muzdalifah, beliau mengumandangkan adzan, lalu iqamah, lalu mengerjakan shalat. (Fathul Bari, Syarh Shahih Bukhari, 4/249)

Kita sering menjumpai suasana semacam ini ketika kajian setelah maghrib, kemudian lanjut Isya’. Pada saat masuk waktu isya’, kajian dihentikan dan Muadzin mengumandangkan adzan, namun shalat ditunda. Padahal yang lebih sesuai sunah, jika shalat isya’ ingin ditunda hingga selesai kajian, maka sebaiknya adzannya juga ditunda.

Meskipun jika adzan dikumandangkan ketika masuk waktu shalat, dengan pertimbangan untuk menjaga agar tidak terjadi keributan di masyarakat, kemudian iqamahnya yang dintunda, insyaaAllah diperbolehkan. Meskipun yang lebih sesuai sunah adalah yang pertama.

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
  • KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989