Hukum Makmum Perempuan Membenarkan Bacaan Imam Shalat

12953

Hukum Makmum Perempuan Membenarkan Bacaan Imam Shalat

Pertanyaan:

Suara wanita aurat bukan ya?

Ketika sholat jamaah saya mendengar wanita yang keluar suaranya sangat keras membetulkan bacaan imam shalat.

Bagaimana hukumnya?

Jawaban:

Bismillah, Alhamdulillah wasshalaatu wassalaamu ‘alaa rasuulillaah. ‘Ammaa ba’du;

Ketika imam terlupa atau tersalah dalam bacaannya maka disyariatkan bagi makmum untuk membenarkannya.

Diriwayatkan dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhu:

«أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – صَلَّى صَلَاةً فَقَرَأَ فِيهَا فَلَبَسَ عَلَيْهِ، فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ لِأبِي: أَصْلَيْت مَعَنَا؟ قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: فَمَا مَنَعَك»

Bahwasanya dahulu Nabi ﷺ pada sebuah shalat yang beliau kerjakan, beliau membaca (ayat) didalamnya lalu terjadi keraguan pada bacaan itu. Maka setelah shalat beliau berkata kepada ayahku (Umar): apakah kamu tadi shalat bersama kita? Umar menjawab; Iya. Beliau ﷺ berkata; lalu apa yang menghalangimu (dari membenarkan bacaanku)?. (HR. Abu Dawud)

Berkata Al Imam Asy-Syaukani (1250 H) Rahimahullah:

والأدلة قد دلت على مشروعية الفتح مطلقا، فعند نسيان الإمام الآية في القراءة الجهرية يكون الفتح عليه بتذكيره تلك الآية، وعند نسيانه لغيرها من الأركان يكون الفتح بالتسبيح للرجال والتصفيق للنساء.

Dan dalil-dalil ini menunjukkan bahwa membenarkan keluputan imam disyariatkan secara mutlak. Ketika imam terlupa sebuah ayat dalam bacaan Jahriyah maka membenarkannya dengan cara mengingatkan ayat tersebut. Dan ketika terlupa pada selain bacaan (gerakan) dari rukun-rukun (shalat) maka cara membenarkannya adalah dengan cara bertasbih bagi laki-laki dan menepukkan tangan bagi wanita. (Nailul Authar: 2/380)

Hal ini hukumnya wajib apabila berakibat pada sah atau tidaknya shalat. Seperti jika kesalahan terjadi pada surat Al-fatihah. Atau apabila kesalahan tersebut merubah makna sebuah ayat.

Dan syariat ini mencakup laki-laki maupun perempuan. Jika seorang wanita bermakmum kepada suaminya atau mahramnya dan tidak ada orang ajnabi (bukan mahram) maka boleh baginya untuk membenarkan bacaannya.

Adapun ketika shalat berjamaah di masjid –misalnya- dimana terdapat orang-orang yang bukan mahram maka tidak selayaknya untuk membenarkan bacaan imam kecuali jika tidak ada makmum laki-laki yang mengkoreksinya. Tentunya dengan suara yang biasa, tidak mendayu-dayu sehingga tidak menimbulkan fitnah bagi laki-laki.

Syaikh Bin Baz (1420 H) Rahimahullah beliau ditanya:

Apabila imam tersalah dalam bacaannya dan tidak ada satupun dari kalangan laki-laki yang membenarkannya, maka apakah boleh bagi wanita untuk membenarkan kesalahan tersebut?

Beliau menjawab:

نعم، تنبيه تفتح عليه إن فتح عليه الرجال فالحمد لله وإلا تفتح عليه وصوتها ليس بعورة، إنما العورة التغنج والخضوع هذا هو المنهي عنه، كما قال تعالى:

Iya, wanita tersebut mengkoreksi dengan memberikan sebuah peringatan, jika ada laki-laki yang membenarkannya maka Alhamdulillah. Namun jika tidak, maka dia membenarkannya dan suaranya bukanlah aurat. Yang aurat bila berbicara dengan manja dan dilembut-lembutkan, inilah yang terlarang. Sebagaimana Firman Allah Ta’ala:

يَٰنِسَآءَ ٱلنَّبِيِّ لَسۡتُنَّ كَأَحَدٖ مِّنَ ٱلنِّسَآءِ إِنِ ٱتَّقَيۡتُنَّۚ فَلَا تَخۡضَعۡنَ بِٱلۡقَوۡلِ فَيَطۡمَعَ ٱلَّذِي فِي قَلۡبِهِۦ مَرَضٞ

Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu melembutkan suara dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya. (QS. Al-Ahzab: 32)

والخضوع: اللين والتكسر في الصوت، فيطمع الذي في قلبه مرض الشهوة، أما الصوت العادي لا بأس به ولهذا قال:

Dan Khudhu’ (maknanya): lemah lembutnya suara. Sehingga orang yang didalam hatinya terdapat penyakit syahwat berkeinginan buruk. Adapun suara yang biasa maka tidaklah mengapa. Oleh sebab itu Allah berfirman:

وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا

Dan ucapkanlah perkataan yang baik. (QS. Al-Ahzab: 32)

يعني: قولاً ليس فيه فحش وعنف وليس فيه تغنج ولا تكسر ولا خضوع، بل بين ذلك قولاً عادياً، فتفتح عليه بكلام عادي ليس فيه تكسر وخضوع وليس فيه عنف وشدة، ولكن القول المعتاد ولهذا قولاً معروفاً

Yakni perkataan yang tidak mengandung kekejian dan kekerasan, tidak manja dan tidak dilemah lembutkan. Namun antara itu yaitu perkataan yang biasa. Dia –wanita- membenarkan bacaan imam dengan ucapan yang tidak mengandung kelemah lembutan dan tidak mengandung kekerasan dan kekasaran, akan tetapi ucapan yang biasa. oleh karenanya disebut dengan ucapan yang baik.

المقصود: أنها لا تمتنع من قول الحق من أجل قول بعض الناس: إن صوتها عورة، لا ليس بعورة، فالصوت المجرد ليس بعورة، كان النساء يتكلمن مع النبي ﷺ ويسألنه ومع الصحابة ويخاطبهن ويخاطبونه ولم يقل: إن أصواتكن عورة، وقد حضر معهن ذات يوم جمعهن وعلمهن وأرشدهن وأجاب عن أسئلتهن عليه الصلاة والسلام، هذا أمر معروف وإنما المنكر الخضوع الذي يسبب الفتنة بها أو يظن بها السوء من أجله، أما القول العادي فلا بأس به. نعم.

Maksudnya; tidaklah seorang wanita terlarang untuk menyuarakan kebenaran hanya karena ucapan sebagian orang; bahwa suaranya adalah aurat. Tidak, suaranya bukanlah aurat. Sekedar suara bukanlah aurat. Dahulu para wanita mereka bercakap dengan Nabi ﷺ dan bertanya kepadanya. Juga bercakap dengan para sahabat. Nabi ﷺ berbicara dengan mereka begitu juga sebaliknya, Nabi pun tidak mengatakan; suara kalian adalah aurat. Pada suatu hari sekelompok mereka datang lalu Nabi ﷺ memberikan pelajaran dan bimbingan kepada mereka. Nabi ﷺ juga menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. Ini adalah hal yang baik adapun yang terlarang adalah melemah lembutkan suara yang dapat menimbulkan fitnah atau menyebabkan persangkaan yang buruk. Adapun perkataan yang biasa maka tidaklah mengapa. https://binbaz.org.sa/

Dan dalam masalah ini hendaknya diperhatikan beberapa hal, seperti;

1) Hendaknya seorang yang tepat dibelakang imam adalah orang yang berilmu dan memiliki hafalan alqur’an. Sehingga bisa membenarkan kesalahan imam. jika tidak,

2) Yang berhak membenarkan bacaan imam adalah yang terdekat dengannya.

3) Tidak dibenarkan bagi para makmum untuk rame-rame membenarkan bacaan imam. Karena hal itu hanya akan menimbulkan kerancauan dan bercampur aduknya suara sehingga tidak terdengar dengan jelas. Akan tetapi cukup satu orang yang terdekat dengan imam.

4) Hendaknya tidak terburu-buru untuk membenarkan bacaan imam. Karena munkin saja imam akan segera membenarkan bacaannya terlebih jika ia adalah seorang hafidz alqur’an.

5) Hendaknya dengan suara yang terdengar, tenang dan jelas.

6) Dan yang paling terpenting hendaknya dengan niat yang ikhlas, bukan karena riya’ atau semisalnya.

Demikian, Wallahu Ta’ala A’lam.

Dijawab oleh Ustadz Idwan Cahyana, Lc.

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
  • KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989