Belum Mandi Keringat Bau Dilarang Ke Masjid?

6112

Sholat di Masjid ketika Bau Badan atau semisalnya.

Pertanyaan:

Apakah orang yang belum mandi dan bau ketek tidak boleh sholat di masjid ?

Jawaban:

Bismillah, walhamdulillah, wassholatu wassalamu ‘ala Rasulullah,

Saudara/saudari yang bertanya, semoga Allah ﷻ senantiasa memberikan hidayah dan taufiq-Nya kepada kita semua.

Memasuki Masjid yang merupakan Rumah Allah ﷻ adalah sebuah ibadah yang sangat mulia, karena hal itu dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah ﷻ di dalamnya, dan tentunya sudah seharusnya bagi kita untuk mempersiapkan segala sesuatunya agar kita menghadirkan diri dengan keadaan yang pantas dan layak dengan adab-adab yang disyari’atkan dalam Agama kita.

Termasuk adab menuju Masjid adalah dengan pakaian yang suci, bersih dan wangi, begitu juga dengan badan dan mulut yang tidak mengeluarkan aroma yang kurang baik, maka periksalah diri kita sebelum menuju tempat tang mulia tersebut.

Karena telah jelas sebuah hadits dari Rasulullah ﷺ :

مَنْ أَكَلَ ثُومًا أَوْ بَصَلًا فَلْيَعْتَزِلْنَا» أَوْ قَالَ: «فَلْيَعْتَزِلْ مَسْجِدَنَا أَوْ لِيَقْعُدْ فِي بَيْتِهِ»

“Barangsiapa makan bawang putih atau bawang merah, hendaklah ia menjauhi kami, atau beliau mengatakan : hendaklah ia menjauhi Masjid kami, dan hendaklah ia duduk di rumahnya” (HR. Bukhari : 5032, Muslim: 875, Abu Da’ud: 3326)

Dalam menjelaskan hadits ini, Imam Al-Khottobi rahimahullah mengatakan:

وقوله فليعتزل مسجدنا إنما أمره باعتزال المسجد عقوبة له وليس هذا من باب الأعذار التي تبيح للمرء التخلف عن الجماعة كالمطر والريح العاصف ونحوهما من الأمور

“Perkataan Rasulullah ﷺ : (Hendaklah ia menjauhi masjid kami), adalah sebagai hukuman baginya, dan bukan merupakan udzur/alasan yang membolehkan seseorang lelaki untuk meninggalkan sholat berjama’ah, seperti halnya hujan, angin kencang, badai, dan semisalnya” (Ma’alimus Sunan : 4/255, Umdatul Qori Syarhu Shohihil Bukhori: 6/148)

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam kitab beliau Syarah Shohih Muslim, menyebutkan:

ويلحق بالثوم والبصل والكراث كل ماله رَائِحَةٌ كَرِيهَةٌ مِنَ الْمَأْكُولَاتِ وَغَيْرِهَا قَالَ الْقَاضِي وَيَلْحَقُ بِهِ مَنْ أَكَلَ فُجْلًا وَكَانَ يَتَجَشَّى قال وقال بن الْمُرَابِطِ وَيَلْحَقُ بِهِ مَنْ بِهِ بَخَرٌ فِي فِيهِ أَوْ بِهِ جُرْحٌ لَهُ رَائِحَةٌ

“Dan hal yang serupa dengan bawang putih, bawang merah dan bawang bakung adalah segala sesuatu yang memiliki aroma/bau yang tidak enak, baik berupa makanan-makanan atau selainnya, Al-Qhodi berkata: dan termasuk juga yang memakan lobak kemudian bersendawa, dan Ibnul Murobith berkata: termasuk juga yang memiliki bau mulut, atau luka yang mengeluarkan bau busuk” (Syarhun Nawawi ‘ala Muslim: 5/48)

Syaikh bin Baaz rahimahullah berkata:

وكل ما له رائحة كريهة حكمه حكم الثوم والبصل كشارب الدخان ومن له رائحة في إبطيه أو غيرهما يؤذي جليسه فإنه يكره له أن يصلي مع الجماعة، وينهى عن ذلك حتى يستعمل ما يزيل هذه الرائحة

“Dan segala sesuatu yang memiliki aroma tidak enak maka hukumnya sama dengan bawang putih dan bawang merah, seperti perokok dan siapapun yang ketiaknya mengeluarkan bau busuk atau semisalnya yang menyakiti teman duduknya, maka ia dibenci untuk sholat berjamaah, dan dilarang mendekati jamaah sampai ia menggunakan sesuatu yang dapat menghilangkan bau busuk tersebut” (Majmu’ Fatawa ibn Baaz: 12/84)

ينبغي أن يستعمل الطيب أو يستعمل الثياب النظيفة التي ليس فيها رائحة كريهة؛ لأن الرسول صلى الله عليه وسلم نهى أن يحضر المسجد من أكل ثوما أو بصلا أو كراثا، ويلحق بذلك كل من له رائحة خبيثة كرائحة الدخان أو رائحة الصنان من الإبط، كل هذا ينبغي له الحذر منه والعلاج، يعالج إبطيه حتى يزول ما فيها من الرائحة الكريهة.

“Selayaknya seseorang memakai wewangian, atau memakai pakaian bersih yang tidak berbau busuk, karena Rasulullah ﷺ telah melarang siapapun yang makan bawang putih, bawang merah dan bawang bakung untuk menghadiri masjid, dan termasuk dalam larangan itu bagi siapapun yang memiliki bau busuk, seperti bau rokok atau bau ketek/ketiak, maka semua ini seharusnya dijauhkan/dihindari dan diobati, hendaklah ia obati ketiaknya (badannya) agar hilang segala aroma yang tidak baik” (Fatawa Nuur ‘alad Darbi lbni Baaz: 7/293-294)

Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin pun pernah ditanya tentang seseorang yang sakit yang badannya berbau tidak enak, bolehkah ia dikeluarkan dari masjid ?

وسئل فضيلة الشيخ: عن رجل سقيم له رائحة كريهة فهل يجوز إخراجه من المسجد؟

Maka beliau menjawab:

فأجاب فضيلته بقوله: إذا كان في هذا الرجل السقيم الذي ذكر السائل رائحة كريهة فلا بأس من إخراجه من المسجد إذا لم يزل هذه الرائحة عنه؛ لأنه ثبت عن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أنه نهى من أكل ثوماً أو نحوه مما له رائحة كريهة أن يقرب المساجد، وعلى هذا فإذا قرب المسجد من كان فيه رائحة كريهة فقد عصى النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ومعصية النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ منكر…………..وإخراج صاحب الرائحة الكريهة من المسجد من إزالة المنكر فيكون مأموراً به

“Apabila terdapat pada seseorang yang sakit sebagaimana yang ditanyakan bahwa ia memiliki bau yang busuk, maka tidak mengapa ia dikeluarkan dari masjid selama aroma tersebut masih menempel padanya, karena telah tetap sebuah hadits dari Nabi ﷺ bahwa beliau melarang siapapun yang makan bawang atau semisalnya yang memiliki bau busuk untuk mendekati masjid, sehingga berdasarkan dalil ini maka seseorang yang terdapat padanya bau busuk / aroma kurang baik (memasuki masjid) maka ia telah bermaksiat terhadap Nabi ﷺ, dan bermaksiat kepada nabi ﷺ adalah sebuah kemungkaran, Maka mengeluarkan orang tersebut dari dalam masjid adalah dalam rangka menghilangkan kemungkaran, sehingga perkara ini adalah perkara yang diperintahkan”. (Majmu’ Fatawa wa Rosa’il al-Utsaimin: 13/304).

Kesimpulan: Berdasarkan pemaparan di atas, maka telah selayaknya bagi kita untuk menjaga kemuliaan masjid, dengan adab-adab yang baik sebelum memasuki masjid, seperti: Bersiwak / menggosok gigi, Menghilangkan aroma/bau busuk dari tubuh dengan mandi dan sebagainya, tidak memakan bawang atau yang serupa dengannya atau makanan yang mengundang sendawa (seperti durian, dan sebagainya) di saat-saat menjelang datangnya waktu sholat, hendaknya memakai wewangian, dan adab-adab lainnya, hal ini telah disebutkan oleh para ulama secara detail dalam Kitab-kitab Adab.

Wallahu A’lam.

Dijawab oleh Ustadz Hafzan Elhadi, Lc. M.Kom

(Alumni Fakultas Syari’ah Universitas Imam Muhammad ibn Saud Al Islamiyyah, Cab. Lipia Jakarta, Pemateri SurauTV, Pimpinan Ma’had TI Dar El-Ilmi Payakumbuh – Sumatera Barat)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
  • KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989