Asal Muasal Ya’juj dan Ma’juj

19858
Scr: https://youtu.be/b3Xgeywxxes

Asal Muasal Ya’juj dan Ma’juj

Ust mohon dijelskan ttg asal muasal ya’jud dan ma’jud. Dan apkh mrk itu manusia atau makhluk dari bangsa lain? Syukron

Jawaban:

Bismillah wal hamdulillah wassholaatu was salaam ‘ala Rasulillah. Waba’du.

Sebelum masuk membahas jawaban, ada sedikit koreksi tentang penyebutan Ya’jud dan Ma’jud. Penyebutan yang tepat, bukan Ya’jud Ma’jud. Namun Ya’juj يَأْجُوجُ dan Ma’juj َمَأْجُوجُ, diakhiri huruf “J”. Karena demikian yang tersebut dalam Al-Quran,

حَتَّىٰ إِذَا فُتِحَتْ يَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ وَهُم مِّن كُلِّ حَدَبٍ يَنسِلُونَ

Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya’juj dan Ma’juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. (QS. Al-Anbiya’ : 96)

Demikian halnya yang disebut dalam hadis…

Selanjutnya tantang asal muasal Ya’juj dan Ma’juj, ada dua keterangan dari para ulama hal ini:

Pertama, mereka berasal dari keturunan Adam, bukan Hawa.

Normalnya manusia terlahir dari perkawinan. Namun Ya’juj dan Ma’juj, mereka adalah manusia yang terlahir tidak melalui perkawinan Adam dan Hawa. Mereka muncul karena Adam mengalami mimpi basah. Kemudian air maninya bercampur dengan tanah. Dari sinilah kemudian Allah ciptakan Ya’juj dan Ma’juj.

Pendapat ini termaktub dalam Al-Wasail Al-Mantsuroh, halaman 116 – 117, atau yang dikenal dengan kitab kumpulan fatwa Imam Nawawi rahimahullah (Fatawa Al-Imam An-Nawawi). Disebutkan pula oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, beliau nisbatkan keterangan ini kepada Imam Nawawi rahimahullah. Beliau memberikan keterangan,

ووقع في فتاوى محيي الددين

Penjelasan ini terdapat dalam fatwanya Muhyid Din Imam Nawawi. (Fathul Bari, 13/108)

Kedua, mereka adalah keturunan Yafits bin Nuh.

Yafits bin Nuh merupakan moyang dari bangsa Turuk. (An-Nihayah fil Fitan wal Malaahim 1/153. Tahqiq : Dr. Thoha Zaini)

Pendapat yang tepat adalah pendapat yang kedua ini, wallahua’lam bis showab.

Karena pendapat pertama tak satupun riwayat shahih yang mendukung keterangan tersebut. Sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnu Katsir rahimahullah,

وهذا مما لا دليل عليه ولم يرد عمن يجب قبول قوله

Pernyataan yang menjelaskan bahwa Ya’juj dan Ma’juj berasal dari campuran tanah dan air mani Adam, adalah pernyataan yang tidak berdalil. Dan tak ditemukan dalam riwayat dari seorang yang wajib diterima ucapannya (Nabi shallallahu’alaihi wa sallam). (An-Nihayah fil Fitan wal Malaahim 1/152-153)

Sehingga kesimpulannya, Ya’juj dan Ma’juj adalah manusia anak keturunan Adam dan Hawa, tepatnya moyang mereka adalah Yafits bin Nuh.

Dalil yang menunjukkan mereka makhluk dari bangsa manusia, adalah hadis dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudriyi –radhiyallahu’anhu-, dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

يَقُولُ اللهُ تَعَالَى: يَا آدَمُ. فَيَقُولُ: لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ فِي يَدَيْكَ. فَيَقُولُ: أَخْرِجْ بَعْثَ النَّارِ. قَالَ: وَمَا بَعْثُ النَّارِ؟ قَالَ: مِنْ كُلِّ أَلْفٍ تِسْعَ مِائَةٍ وَتِسْعَةً وَتِسْعِينَ فَعِنْدَهُ يَشِيبُ الصَّغِيرُ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَى وَمَا هُمْ بِسُكَارَى وَلَكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ ﭼ. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَأَيُّنَا ذَلِكَ الْوَاحِدُ؟ قَالَ: أَبْشِرُوا فَإِنَّ مِنْكُمْ رَجُلًا وَمِنْ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ أَلْفًا …

Allah ta’ala berfirman kepada Adam, “Ya Adam…”

Maka Adam menjawab, “Labbaikka wa sa’daika wal khairu fi yadaika (Aku sambut panggilan-MUdengan senang hati dan kebaikan semuanya di tanganMu).”

Kemudian Allah berfirman ,“Keluarkan utusan penghuni neraka.”

“Apa itu utusan penghuni neraka?” tanya Adam.

“Dari setiap seribu anak keturunanmu, sembilan ratus sembilan puluh sembilan orang!” Jawab Allah ta’ala.

Maka ketika itu anak kecil menjadi beruban, setiap yang hamil melahirkan janin yang dikandungnya, dan kamu lihat orang-orang seakan mabuk padahal mereka tidak mabuk. Tetapi karena adzab Allah yang sangat pedih.

“Siapa satu yang selamat dari kita itu ya Rasulullah?” tanya heran para sahabat.

Rasulullah menjawab, “Bergembiralah, sesungguhnya penghuni neraka itu dari kalian satu dan dari Ya’juj dan Ma’juj seribu….” (HR. Bukhari dengan Fathul Bari, juz 6 hal. 382)

Wallahua’lam bis showab..

Referensi :
Asy-rotus Saa’ah , karya Syekh Yusuf bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabil. Terbitan : Dar Ibni Al-Jauzi, KSA, cetakan ke 4, th. 1435 H.

Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori
(Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk AndroidDownload Sekarang !!

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK