Diamnya Abu Daud Terhadap Suatu Hadits

2305

Pertanyaan:

Terkadang Imam Abu Daud tidak memberikan komentar atau diam terhadap satu hadits. Apakah diamnya beliau ini menunjukkan keshahihan hadits tersebut, ataukan harus diteliti terlebih dahulu?

Jawaban:

Diamnya Abu Daud tidak dapat dijadikan alasan bahwa hadits tersebut dapat dijadikan sebagai hujjah, karena berdasarkan penelitian yang mendalam telah diketahui banyak hadits yang tidak dikomentari oleh Abu Daud, ternyata hadits itu sangat jelas kecacatannya.

Oleh karena itu, An-Nawawi berkata tentang sebagian hadits yang tidak dikomentari oleh Abu Daud, bahwa sanad-sanad-nya dha’if (lemah) dan diamnya Abu Daud justru dikarenakan kelemahan sanad-sanad-nya yang sudah jelas. Demikianlah pandangan beliau, walaupun An-Nawawi sendiri banyak bersandar kepada diamnya Abu Daud.

Oleh karena itu, menjadi keharusan bagi siapa saja yang mendapat suatu hadits dalam kitab Sunan Abu Daud yang tidak beliau komentari, untuk menerapkan kaidah-kaidah ilmu hadits terhadap sanad hadits tersebut.

Selanjutnya, sehubungan dengan itu, menurut Imam Suyuthi dalam kitab Alfiyyah karya beliau yang membahas ilmu hadits, bahwa Abu Daud meriwayatkan hadits terkuat yang beliau temukan. Namun jika beliau tidak menemukannya maka beliau meriwayatkan hadits dha’if. Serta bahwa kebanyakan hadits-hadits dalam kitab Abu Daud tidak dikomentari oleh beliau.

Perkataan As-Suyuthi tadi merupakan pengakuan Imam Suyuthi bahwa di dalam bab-bab kitab Sunan banyak yang berisi hadits-hadits yang dha’if. Meskipun demikian, hal ini dapat dianggap sebagai sesuatu yang dapat dimaklumi (udzur) karena riwayat-riwayat tersebut merupakan riwayat yang terkuat yang ditemukan oleh Abu Daud.

Sumber: Fatwa-fatwa Syekh Nashiruddin Al-Albani, Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Media Hidayah, 1425 H — 2004 M.
(Dengan beberapa pengubahan tata bahasa oleh redaksi www.konsultasisyariah.com)