MANHAJ

Ikut Pendapat Ulama atau Ikut Dalil?

Pertanyaan:

Mohon pencerahannya ustadz. Ketika kita mengajak umat untuk kembali kepada Al-Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman salaful ummah, serta meninggalkan taklid buta kepada ulama, maka sebagian orang melontarkan syubhat:

“Memangnya ulama tidak pakai dalil?”

“Memangnya ulama pakai ayat injil dan taurat?”

Dan perkataan semisalnya. Bagaimana menanggapi syubhat-syubhat di atas?

Jawaban:

Alhamdulillah, ash-shalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi wa man walah, amma ba’du,

Syubhat di atas mengesankan bahwa ulama pasti selalu benar. Padahal ulama tidak maksum dan tidak boleh meyakini ada ulama yang maksum. Imam Malik bin Anas rahimahullah mengatakan:

ليس من أحد إلا ويؤخذ من قوله ويترك إلا النبي صلى الله عليه وسلم

“Tidak ada satu orang pun kecuali perkataannya boleh diambil dan boleh ditinggalkan, kecuali Nabi shallallahu’alaihi wa sallam (maka wajib diambil dan tidak boleh ditinggalkan)” (Irsyadus Salik ila Manaqibi Malik, hal. 227).

Sehingga ulama terkadang mengikuti dalil dan terkadang menyelisihi dalil. Terkadang ulama punya dalil, terkadang ulama juga terjerumus pada taklid buta. Sebagaimana penjelasan Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad:

وأمَّا المشتغلون بالفقه بعدهم، فمنهم من يستفيدُ من علمهم في الفروع، ويُعوِّل على ما دلَّ عليه الدليل؛ أخذاً بوصايا الأئمَّة أنفسهم، فإنَّ كلَّ واحد منهم جاء عنه الأمرُ باتِّباع الدليل، وتركِ قوله إذا كان الدليلُ على خلافه، وهؤلاء موافقون لهم في العقيدة ومنهم مَن يُقلِّدُهم في مسائل الفروع، دون سعيٍ إلى معرفة الرَّاجح بالدَّليل

“Adapun para ulama madzhab yang mengikuti para imam (Malik, Abu Hanifah, Ahmad, dan Asy-Syafi’i), ada golongan ulama madzhab yang mengambil faedah dari para imam dalam masalah furu’ (fikih) dan berpegang pada dalil yang digunakan oleh para imam. Dalam rangka mengikuti wasiat mereka. Karena setiap para imam tersebut memerintahkan untuk mengikuti dalil dan meninggalkan pendapat mereka yang menyelisihi dalil. Dan para ulama golongan ini mengikuti aqidah para imam. Dan ada golongan ulama madzhab yang taklid kepada para imam dalam masalah furu’ (fikih). Tanpa berusaha untuk mengetahui pendapat yang rajih berdasarkan dalil” (Qathfu al-Jana ad-Dani, hal. 36-37).

Syaikh Shalih bin Muhammad Al-Fulani Al-Madini (wafat tahun 1218 H) rahimahullah dalam kitabnya, Iiqazhul Humam, beliau menceritakan betapa seorang ulama yang terjerumus dalam taklid buta akan selalu mencari cara untuk membela pendapat madzhabnya. Beliau berkata:

ترى بعض الناس اذا وجد حديثا يوافق مذهبه فرح به وانقاد له و سلم

“Engkau lihat sendiri, sebagian orang ketika mendapatkan hadits yang sesuai dengan pendapat madzhabnya, ia gembira sekali. Ia pun patuh pada hadits tersebut dan menerima dengan senang hati”.

و ان وجد حديثا صحيحا سالما من معارضة والنسخ مؤيدا لمذهب غير امامه فتح له باب الاحتمالات البعيدة وضرب عنه الصفح و العارض و يلتمس لمذهب إمامه أوجها من الترجيح مع مخالفته للصحابة و التابعين والنص الصريح

“Namun ketika ia menemukan hadits shahih, tidak bertentangan dengan dalil lain, tidak mansukh, dan bertentangan dengan pendapat imamnya, ia pun mencari kemungkinan-kemungkinan lain yang jauh. Lalu membuat seolah hadits tersebut bertentangan dengan dalil lain. Kemudian merumuskan poin-poin tarjih yang menguatkan pendapat madzhabnya walaupun bertolak belakang dengan pendapat sahabat Nabi, pendapat para tabi’in serta nash yang sharih (tegas)” [selesai nukilan].

Maka jika ditanya, “memangnya ulama tidak pakai dalil?” jawabnya terkadang ulama mengikuti dalil terkadang tidak.

Bahkan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam risalah Kitabul Ilmi menyebutkan ada beberapa udzur yang kita berikan ketika menemukan pendapat ulama yang menyelisihi dalil:

  1. Bisa jadi dalil yang ada belum sampai kepada ulama tersebut
  2. Bisa jadi ulama tersebut menyangka haditsnya shahih, padahal ulama hadits menyatakan haditsnya dhaif atau palsu
  3. Bisa jadi ulama tersebut keliru dalam memahami dalil
  4. Bisa jadi ulama tersebut menyangka dalilnya tsabit padahal dalil tersebut sudah mansukh
  5. Bisa jadi dalil yang ada sudah sampai kepada ulama tersebut, namun ia lupa.

Dan udzur-udzur lainnya. Yang menunjukkan bahwa ulama tidak selalu benar dan mereka tidak maksum.

Jika ada orang yang berkata, “Ulama saja tidak mesti benar apalagi kamu!!”.

Jawabnya, kita tidak meninggalkan pendapat ulama yang bertentangan dengan dalil untuk beralih kepada pemahaman sendiri. Namun kita mengambil pendapat ulama lain yang lebih sesuai dengan dalil Al-Qur’an, As-Sunnah dan pemahaman salaf. Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

: قد سمعت قولك في الإجماع والقياس بعد قولك في حكم كتاب الله وسنة رسوله أرأيت أقاويل أصحاب رسول الله إذا تفرقوا فيها ؟

[ فقلت : نصير منها إلى ما وافق الكتاب أو السنة أو الإجماع أو كان أصحَّ في القياس

“Jika ada orang yang bertanya, Wahai Imam Syafi’i, aku dengar engkau mengatakan bahwa setelah Al-Qur’an dan Sunnah, ijma dan qiyas juga merupakan dalil. Lalu bagaimana dengan perkataan para sahabat Nabi jika mereka berbeda pendapat?

Imam Asy-Syafi’i berkata: Bimbingan saya dalam menyikapi perbedaan pendapat di antara para sahabat adalah dengan mengikuti pendapat yang paling sesuai dengan Al-Qur’an atau Sunnah atau Ijma’ atau Qiyas yang paling shahih” (Ar-Risalah, 1/597)

Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan menjelaskan:

فالواجب أن نَجتمع على كتاب الله وسُنة رسوله، و ما اختلفنا فيه نردُّه إلى كتاب الله وسُنة رسوله، لايعذر بعضنا بعضاً و نبقى على الاختلاف؛ بل نردُّه إلَى كتاب الله وسُنة رسوله، و ما وافق الْحَقَّ أخذنا به، و ما وافق الخطأ نرجع عنه . هذا هو الواجب علينا ، فلا تبقى اﻷمة مُختلفةً

“Wajib bagi kita semua untuk bersatu di atas Al-Qur’an dan As-Sunnah. Perkara yang kita perselisihkan, kita kembalikan kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul, bukan malah kita saling bertoleransi dan membiarkan tetap pada perbedaan. Bahkan yang benar adalah kita kembalikan kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Pendapat yang sesuai dengan kebenaran, kita ambil, pendapat yang salah maka kita tinggalkan. Itulah yang wajib bagi kita, bukan membiarkan umat tetap pada perselisihan” (Syarah Ushul As-Sittah, 19).

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah juga menjelaskan:

الواجب الالتزام بما شرعه الله، على لسان رسوله محمد عليه الصلاة والسلام، وليس هناك شخص معين يلزم الأخذ بقوله، لا الأئمة الأربعة ولا غيرهم، فالواجب اتباع النبي صلى الله عليه وسلم والسير على منهاجه في الأحكام والتشريع، ولا يجوز أن يقلد أحد بعينه في ذلك، بل الواجب هو اتباع النبي ﷺ، والأخذ بما شرع الله على يده عليه الصلاة والسلام سواء وافق الأئمة الأربعة أو خالفهم، هذا هو الحق

“Yang wajib bagi kita adalah berpegang teguh pada syariat Allah dan kepada tuntunan Rasul-Nya, Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam. Bukan mengikuti person tertentu untuk diambil semua pendapatnya. Apakah ia imam yang empat atau person yang lain. Yang wajib bagi kita adalah mengikuti Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan berjalan di atas manhaj beliau dalam fikih dan hukum syariat. Dan tidak boleh taklid buta kepada seorang pun dalam masalah ini. Bahkan wajib mengikuti Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan mengambil apa yang Allah syariatkan melalui tangan Nabi-Nya shallallahu’alaihi wa sallam. Baik sesuai dengan pendapat imam yang empat ataupun tidak sesuai. Ini yang merupakan kebenaran” (Nurun ‘alad Darbi, no. 73 pertanyaan ke-4).

Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik.

Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in.

***

Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

REKENING DONASI:

BANK SYARIAH INDONESIA
7086882242
a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451)

🔍 Hukum Memelihara Burung, Hukum Shalat Berjamaah Di Masjid Bagi Laki Laki, Amalan Bulan Rojab, Materi Kultum Pendek, Foto Pantat Jilbab, Cara Solat Idul Adha

QRIS donasi Yufid