Ijab Qabul dan Jatuh Talak

1950

Pertanyaan:

Assalamualaikum,

  1. Bolehkah kita qabul dulu baru ijab dalam urusan akad pernikahan?
  2. Bolehkah si isteri mengenakan syarat tertentu untuk menyuruh si suami ber-ta’lik?

Contohnya, si isteri mengenakan syarat “Abang tak leh bercakap atau berkenalan dengan mana-mana perempuan”, dengan tujuannya untuk menjaga keharmonian rumah tangga. Si suami pulak… ikut ler… dengan tujuan yang sama, padahal si suami terdedah pada semua tu terutama dalam pekerjaan.

  1. Adakah boleh si isteri menyuruh si suami melakukan ta’lik?
  2. Adakah jatuh cerai ta’lik pada isteri bila si suami melakukan perkara tersebut?
  3. Selepas cerai ta’lik… kena akad baru utk bersama kembali atau cukup sekadar rujuk?

Jawaban Ustadz:

Wa’alaikum salam Warohmatullahi wabarakatuh,
Antara ijab dan qabul tidak boleh dipisah dan harus dilafazkan dalam kesempatan yang sama. Antara calon suami-isteri boleh mengajukan syarat-syarat yang dibolehkan dalam agama dan mungkin untuk lakukan, adapun contoh yang disebutkan dalam pertanyaan adalah syarat yang mustahil untuk dilakukan, karena untuk tanpa berbicara dengan wanita sama sekali, sebab agama pun tak menyuruh begitu, yang dilarang adalah berbicara yang mengundang fitnah atau berduaan dengan wanita yang bukan mahram, adapun dalam hal yang dibutuhkan seperti jual beli ini tidak dilarang. Begitu pula baginda Rasulullah sholllallahu’alaihiwasallam memberi salam kepada wanita yang beliau jumpai.

Untuk masalah jatuh atau tidaknya talak (cerai) dengan melanggaran ucapan ta’lik tersebut silakan antum bawa persoalannya pada qodhi (hakim agama), merekalah yang berhak untuk mempelajari isi (bunyi) ta’lik talak tersebut. Dan selanjutnya memutuskan hukumnya, sebab hal ini tidak boleh diputuskan oleh pendapat seseorang, demi untuk terhindar dari berbagai macam fitnah di kemudian hari, maka perlu diputuskan oleh pihak yang berwenang dari negara.

***

Penanya: Uqasyah
Dijawab Oleh: Ustadz Ali Musri

Sumber: muslim.or.id