SEJARAH ISLAM

Penjelasan Ulama tentang Hadis Bahwa Rasulullah Pernah Ingin Bunuh Diri dalam Sahih Bukhari

السؤال

أثناء بحثي على المواقع وجدت الرد على أن في ” صحيح البخاري ” أن رسول الله صلى الله عليه وسلم حاول الانتحار ، لكني لم أجد النص المذكور في ” صحيح البخاري ” حتى تكتمل لي جميع الأركان لكي أزيل الشبهة ، لو تكرمتم بإطلاعي على النص المذكور في ” صحيح البخاري ” مع الشرح المفصل . و شكراً

Pertanyaan:

Ketika saya sedang berselancar di berbagai laman, saya menemukan sebuah bantahan bahwa dalam Sahih Bukhari dinyatakan bahwa Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam pernah mencoba bunuh diri. 

Hanya saja, saya tidak menemukan redaksi hadis tersebut dalam Sahih Bukhari. Agar lengkap semua alasan untuk menghilangkan syubhat ini, semoga Anda berkenan menunjukkan kepada saya redaksi riwayat tersebut Sahih Bukhari beserta penjelasannya secara rinci. Terima kasih

الجواب

الحمد لله.

أولاً:

الحديث الذي يسأل عنه الأخ السائل موجود في ” صحيح البخاري ” برقم ( 6581 ) ، في كتاب ” التعبير ” ، باب ” أول ما بدئ به رسول الله صلى الله عليه وسلم من الوحي الرؤيا الصالحة “.

ولفظه : قَالَ الزُّهْرِيُّ فَأَخْبَرَنِي عُرْوَةُ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّهَا قَالَتْ : … وَفَتَرَ الْوَحْيُ فَتْرَةً حَتَّى حَزِنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا بَلَغَنَا حُزْنًا غَدَا مِنْهُ مِرَارًا كَيْ يَتَرَدَّى مِنْ رُءُوسِ شَوَاهِقِ الْجِبَالِ ، فَكُلَّمَا أَوْفَى بِذِرْوَةِ جَبَلٍ لِكَيْ يُلْقِيَ مِنْهُ نَفْسَهُ تَبَدَّى لَهُ جِبْرِيلُ فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ إِنَّكَ رَسُولُ اللَّهِ حَقًّا ، فَيَسْكُنُ لِذَلِكَ جَأْشُهُ ، وَتَقِرُّ نَفْسُهُ ، فَيَرْجِعُ ؛ فَإِذَا طَالَتْ عَلَيْهِ فَتْرَةُ الْوَحْيِ غَدَا لِمِثْلِ ذَلِكَ ، فَإِذَا أَوْفَى بِذِرْوَةِ جَبَلٍ تَبَدَّى لَهُ جِبْرِيلُ فَقَالَ لَهُ مِثْلَ ذَلِكَ ” .

Jawaban:

Alhamdulillah. Pertama, bahwa hadis yang ditanyakan oleh penanya terdapat dalam Shahih Bukhari nomor 6581, dalam kitab “at-Taʿbīr” bab “Hal Pertama Yang Menjadi Permulaan Wahyu bagi Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam adalah Mimpi Yang Benar” dengan redaksi sebagai berikut:

 “Az-Zuhri berkata; Urwah memberitahuku dari Aisyah —Semoga Allah Meridainya— yang berkata bahwa … wahyu terhenti untuk beberapa waktu hingga Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersedih—menurut kabar yang sampai kepada kami—sampai pada titik kesedihan yang membuat beliau berkali-kali pergi karena ingin bunuh diri dengan cara melompat diri dari puncak gunung. 

Setiap kali beliau naik puncak gunung untuk melemparkan dirinya, Jibril menampakkan diri dan mengatakan, 

‘Wahai Muhammad, sesungguhnya engkau betul-betul Rasulullah!’ 

Hal itu meredam kegelisahan dan menenangkan jiwa beliau, lalu beliau pulang. Setiap kali wahyu terhenti lama, beliau pergi lagi seperti itu. Setiap kali beliau naik puncak gunung untuk melemparkan dirinya, Jibril menampakkan diri dan mengatakan hal seperti itu pula.”

ثانياً:

هذه الزيادة ليست من كلام عائشة رضي الله عنها ، بل هي من كلام الزهري ، وهو من التابعين لم يدرك تلك الحادثة ، ولم يذكر هو أن أحدا من الصحابة حدثه بها ، ولذا نصَّ على ذلك في الرواية نفسها بقوله : ” فيما بلَغنا ” .

قال ابن حجر – رحمه الله – :

ثم إن القائل ” فيما بَلَغَنا ” هو الزهري ، ومعنى الكلام : أن في جملة ما وصل إلينا من خبر رسول الله صلى الله عليه وسلم في هذه القصة . وهو من بلاغات الزهري وليس موصولاً ، وقال الكرماني : هذا هو الظاهر .

” فتح الباري ” ( 12 / 359 ) .

وقال أبو شامة المقدسي – رحمه الله – :

هذا من كلام الزهري أو غيره ، غير عائشة ، والله أعلم ؛ لقوله : ” فيما بلغنا ” ، ولم تقل عائشة في شيء من هذا الحديث ذلك .

” شرح الحديث المقتفى في مبعث النبي المصطفى ” ( ص 177 ) .

Kedua, penambahan redaksi itu bukan berasal dari perkataan Aisyah —Semoga Allah Meridainya— melainkan itu ucapan az-Zuhri. Dia adalah Tabiin yang tidak mendapati langsung peristiwa itu. Di samping bahwa tidak ada satu pun Sahabat yang menceritakan cerita seperti itu. Inilah sebabnya dalam riwayat itu disebutkan, “menurut kabar yang sampai kepada kami.” 

Ibnu Hajar —Semoga Allah Merahmatinya— berkata bahwa yang mengatakan “menurut kabar yang sampai kepada kami” adalah az-Zuhri. Artinya, “Di antara kabar yang sampai kepada kami tentang kisah ini,” yang merupakan kabar yang berasal darinya dan tidak bersambung sanadnya. Al-Kirmani berkata, “Ini yang benar.” Selesai kutipan dari Fathul Bari (12/359). 

Abu Syamah al-Maqdisi —Semoga Allah Merahmatinya— berkata bahwa itu adalah perkataan az-Zuhri atau orang lain, tetapi bukan perkataan Aisyah. Allah Yang lebih Mengetahui. Alasannya adalah karena ada perkataan “menurut kabar yang sampai kepada kami,” yang sama sekali bukan ucapan Aisyah —Semoga Allah Meridainya— dalam hadis ini. Syarẖu al-H̱adīts al-Muqtafā fi Mabʿasti an-Nabiyyi al-Musṯhafā halaman 177.

ثالثاً:

وبلاغات الزهري وغيره لا تُقبل ؛ لأنها مقطوعة الإسناد من أوله ، فهي كالمعلَّقات تعريفاً وحكماً ، ومجرد وجود مثل هذه البلاغات أو المعلقات في كتاب الإمام البخاري لا يعني أنها صحيحة عنده ، أو أنها مما يصح أن يقال فيها : رواه البخاري ؛ لأن الذي يقال فيه ذلك هو ما رواه فيه مسندا .

قال الشيخ الألباني رحمه الله :

” هذا العزو للبخاري خطأ فاحش ، ذلك لأنه يوهم أن قصة التردي هذه صحيحة على شرط البخاري ؛ وليس كذلك ، وبيانه أن البخاري أخرجها في آخر حديث عائشة في بدء الوحي … [ وذكر الرواية السابقة ] .

Ketiga, kabar dari az-Zuhri atau selain dia tidaklah diterima, karena status sanadnya Maqṯhūʿ (terputus) sejak dari perawi pertama, yang statusnya seperti hadis Muʿallaq, baik secara definisi maupun hukumnya. Sekadar adanya berita seperti ini atau kabar Muʿallaq dalam kitab Imam Bukhari tidak berarti itu dianggap sahih oleh beliau —Semoga Allah Merahmatinya— atau berarti boleh dikatakan, “diriwayatkan oleh Bukhari” karena yang boleh dikatakan demikian adalah hadis yang beliau riwayatkan secara bersanad. 

Syekh al-Albani —Semoga Allah Merahmatinya— berkata bahwa menyandarkan riwayat itu sebagai riwayat Bukhari adalah kesalahan fatal, karena memberikan kesan bahwa kisah keinginan bunuh diri ini sahih menurut syarat Bukhari, padahal tidak demikian. Penjelasannya, bahwa Bukhari mencantumkannya di akhir hadis Aisyah ini dalam bab tentang permulaan wahyu … (lalu beliau menyebutkan riwayat tersebut).

هكذا أخرجه بهذه الزيادة أحمد ( 6 / 232 – 233 ) وأبو نعيم في ( الدلائل ) ( ص 68 – 69 ) والبيهقي في ( الدلائل ) ( 1 / 393 – 395 ) من طريق عبد الرزاق عن معمر به . ومن هذه الطريق أخرجه مسلم ( 1 / 98 ) لكنه لم يسق لفظه ، وإنما أحال به على لفظ رواية يونس عن ابن شهاب ، وليس فيه الزيادة . وكذلك أخرجه مسلم و أحمد ( 6 / 223 ) من طريق عقيل بن خالد : قال ابن شهاب ، به ، دون الزيادة . وكذلك أخرجه البخاري في أول الصحيح عن عقيل به .

قلت [ القائل هو الشيخ الألباني ] : ونستنتج مما سبق أن لهذه الزيادة علتين :

الأولى : تفرد معمر بها ، دون يونس وعقيل ؛ فهي شاذة .

الأخرى : أنها مرسلة معضلة ؛ فإن القائل : ( فيما بلغنا ) إنما هو الزهري ، كما هو ظاهر من السياق ، وبذلك جزم الحافظ في “الفتح” …

Tambahan ini juga diriwayatkan oleh Ahmad (6/232-233), Abu Nu`aim dalam ad-Dalā’il (hal. 68-69), dan al-Baihaqi dalam ad-Dalā’il (1/393-395) dari Abdurrazzaq dari Muammar. Dari jalur ini pula Imam Muslim meriwayatkannya (1/98), tetapi beliau tidak mengutip redaksi kalimat tersebut, melainkan mengutip redaksi riwayat dari Yunus dari Ibnu Syihab yang tidak ada tambahan tersebut.

Diriwayatkan pula oleh Muslim dan Ahmad (6/223) melalui Aqil bin Khalid bahwa Ibnu Shihab meriwayatkan demikian tanpa tambahan tersebut. Imam Bukhari juga meriwayatkannya dalam permulaan kitab Sahih-nya dari Aqil dengan redaksi tersebut. Aku katakan (yang mengatakan adalah syekh al-Albani) bahwa dari penjelasan di atas, kami bisa menyimpulkan ada dua cacat dalam tambahan ini:

  • Yang pertama, bahwa Muammar bersendirian dalam meriwayatkannya, padahal Yunus dan Aqil tidak. Maka dari itu, riwayat ini statusnya Syādz (riwayat yang menyelisihi riwayat lain yang lebih sahih).
  • Cacat kedua, bahwa riwayat ini statusnya Mursal (hanya sampai Tabiin) Muʿḍal (yang terputus dalam sanadnya dua orang lebih secara berturut-turut), karena yang mengatakan “menurut kabar yang sampai kepada kami” adalah az-Zuhri, sebagaimana itu jelas tampak dalam konteksnya. Al-Hafiz menegaskan hal ini dalam kitab al-Fath.

قلت : وهذا مما غفل عنه الدكتور [ يعني : الدكتور البوطي ، مؤلف الكتاب الذي ينتقده الشيخ ] ، أو جهله ، فظن أن كل حرف في “صحيح البخاري” هو على شرطه في الصحة ، ولعله لا يفرق بين الحديث المسند فيه والمعلق ، كما لم يفرق بين الحديث الموصول فيه والحديث المرسل الذي جاء فيه عرضا ، كحديث عائشة هذا الذي جاءت في آخره هذه الزيادة المرسلة .

واعلم أن هذه الزيادة لم تأت من طريق موصولة يحتج بها كما بينته في ( سلسلة الأحاديث الضعيفة ) برقم ( 4858 ) ، وأشرت إلى ذلك في التعليق على “مختصري لصحيح البخاري”.

انتهى ـ مختصرا ـ من “دفاع عن الحديث النبوي” (40-41) .

Aku katakan bahwa inilah poin yang diabaikan atau tidak diketahui oleh sang Doktor (maksudnya Dr. Al-Būṯhī, sang penulis kitab yang sedang dikritik oleh Syekh). Dia mengira bahwa setiap huruf dalam Sahih Bukhari statusnya sahih sesuai dengan syarat kesahihan yang beliau tetapkan. 

Barangkali dia tidak membedakan antara hadis yang bersanad dan yang Muʿallaq, sebagaimana dia tidak membedakan antara hadis Mauṣhūl (sanadnya sampai kepada Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam) dan Mursal (sanadnya hanya sampai kepada Tabiin) yang tercantum dalam hadis yang sahih, seperti hadis Aisyah ini, yang di akhirnya tersebut tambahan Mursal ini. 

Ketahuilah bahwa redaksi tambahan ini tidak diriwayatkan dengan jalur yang Mauṣhūl sehingga bisa dijadikan dalil, sebagaimana yang telah saya jelaskan dalam Silsilah al-Aẖādīts aḏ-Ḏaʿīfah nomor 4858 dan saya singgung dalam komentar saya dalam ringkasan saya terhadap Sahih Bukhari. Selesai kutipan dengan diringkas dari Difāʿ ʿan al-H̱adīts an-Nabawī (hal. 40-41).

رابعاً:

قد جاءت أسانيد أخرى فيها ذِكر حكاية محاولة النبي صلى الله عليه وسلم الانتحار أثناء انقطاع الوحي بعدما جاءه أول مرة ، وكلها أسانيد مردودة ، ما بين ضعيف وموضوع .

ومنها :

1. إسناد ابن مردويه :

قال الحافظ ابن حجر – رحمه الله – :

ووقع عند ابن مردويه في ” التفسير ” من طريق محمد بن كثير عن معمر بإسقاط قوله ” فيما بلغنا ” ، ولفظه : ” … فترة حزن النبي صلى الله عليه وسلم منها حزناً غدا منه ” إلى آخره ، فصار كله مدرجا على رواية الزهري عن عروة ، عن عائشة والأول هو المعتمد .

” فتح الباري ” ( 12 / 359 ، 360 ) .

Keempat, ada juga riwayat-riwayat lain yang bersanad yang menyebutkan kisah Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam yang mencoba bunuh diri pada saat wahyu terhenti setelah wahyu turun pertama kali kepada beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. Hanya saja, semua riwayat tersebut tertolak, statusnya antara lemah dan palsu, misalnya:

  1. Sanad Ibnu Mardawaih yang dikatakan oleh al-Hafiz Ibn Hajar —Semoga Allah Merahmatinya— bahwa dalam kitab tafsir Ibnu Mardawaih ada riwayat dari Muhammad bin Katsir dari Muammar dengan menghilangkan perkataannya “menurut kabar yang sampai kepada kami” sehingga menjadi demikian redaksi hadisnya, “… wahyu terhenti untuk beberapa waktu hingga Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersedih karenanya sampai pada titik kesedihan yang membuat beliau ….” dan seterusnya, sehingga semua riwayat ini dimasukkan dalam dalam riwayat az-Zuhri dari Urwah dari Aisyah. Namun yang benar adalah pendapat yang pertama. Selesai kutipan dari Fathu Bari (12/359-360).

ومعنى قول الحافظ ” والأول هو المعتمد ” أي : أن رواية الزهري فيها لفظ ” فيما بلغنا ” وليست هي موصولة .

قال الشيخ الألباني – رحمه الله – معلِّقاً على ترجيح الحافظ – :

ويؤيده أمران :

الأول : أن محمد بن كثير هذا ضعيف ؛ لسوء حفظه – وهو الصنعاني المصيصي – .

قال الحافظ :” صدوق كثير الغلط ” ، وليس هو محمد بن كثير العبدي البصري ؛ فإنه ثقة .

والآخر : أنه مخالف لرواية عبد الرزاق حدثنا معمر … التي ميزت آخر الحديث عن أوله ، فجعلته من بلاغات الزهري … .

فدل هذا كله على وهم محمد بن كثير الصنعاني في وصله لهذه الزيادة ، وثبت ضعفها .

” سلسلة الأحاديث الضعيفة والموضوعة ” ( 10 / 453 ) .

Maksud dari perkataan al-Hafiz, “Yang benar adalah pendapat yang pertama” adalah riwayat az-Zuhri yang ada tambahan redaksi “menurut kabar yang sampai kepada kami” yang statusnya bukan riwayat Mauṣhūl. Syekh al-Albani —Semoga Allah Merahmatinya— berkata ketika mengomentari pendapat yang dikuatkan al-Hafiz ini bahwa hal itu dikuatkan dengan dua perkara.

(1) Pertama, Muhammad bin Katsir adalah perawi lemah, karena buruk hafalannya. Dia adalah Muhammad bin Katsir aṣh-Ṣhanʿāni al-Maṣhīṣhi. Al-Hafiz berkata bahwa dia jujur tapi sering keliru. Dia bukanlah Muhammad bin Katsir al-ʿAbdi al-Baṣhri. Kalau dia perawi terpercaya.

(2) Kedua, riwayatnya bertentangan dengan narasi dari Abdurrazzaq dari Muammar, yang mana akhir hadisnya berbeda dengan yang pertama, sehingga aku menghukuminya sebagai tambahan redaksi dari az-Zuhri…. Semua ini menunjukkan kesalahan Muhammad bin Katsir aṣh-Ṣhanʿāni yang me-Mauṣhul-kan tambahan tersebut, yang dengan demikian bisa dipastikan status kelemahannya. Silsilah al-Aẖādīts aḏ-Ḏaʿīfah wal Maḏhūʿah (10/453).

2. إسناد ابن سعد :

قال محمد بن سعد :

أخبرنا محمد بن عمر قال حدثني إبراهيم بن محمد بن أبي موسى عن داود بن الحصين عن أبي غطفان بن طريف عن ابن عباس أن رسول الله صلى الله عليه وسلم لما نزل عليه الوحي بحراء مكث أياماً لا يرى جبريل فحزن حزناً شديداً حتى كان يغدو إلى ” ثبير ” مرة وإلى ” حراء ” مرة يريد أن يلقي نفسه منه فبينا رسول الله صلى الله عليه وسلم كذلك عامداً لبعض تلك الجبال إلى أن سمع صوتاً من السماء فوقف رسول الله صلى الله عليه وسلم صعقا للصوت ثم رفع رأسه فإذا جبريل على كرسي بين السماء والأرض متربعاً عليه يقول : ” يا محمد أنت رسول الله حقّاً وأنا جبريل ” قال : فانصرف رسول الله صلى الله عليه وسلم وقد أقرَّ الله عينه وربط جأشه ثم تتابع الوحي بعد وحمي .

” الطبقات الكبرى ” ( 1 / 196 ) .

  1. Sanad Ibnu Saad, yang mana Muhammad bin Saad berkata; Muhammad bin Umar mengabarkan kepada kami, dia mengatakan: Ibrahim bin Muhammad bin Abu Musa menceritakan kepadaku dari Dawud bin al-H̱uṣhain dari Abu Ghaṯfān bin Ṯharīf dari Ibnu Abbas bahwa ketika Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam mendapatkan wahyu di gua Hira, beliau tetap tinggal di sana beberapa hari tanpa melihat Jibril lagi, sehingga beliau sangat sedih. Ketika itulah beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sekali pergi ke bukit Tsubair dan sekali ke bukit Hira karena ingin melemparkan dirinya dari sana.

    Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam terus-menerus seperti itu, bolak-balik ke salah satu dari dua bukit itu, sampai beliau mendengar suara dari langit, sehingga beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam berhenti karena terkejut mendengar suara itu. Lalu beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam mengangkat kepalanya, ternyata beliau melihat Jibril berada di atas singgasana antara langit dan bumi dalam keadaan bersila di atasnya, lalu dia berkata kepada beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, “Wahai Muhammad, engkau benar-benar Utusan Allah, dan aku adalah Jibril.”

    Ibnu Abbas berkata, “Kemudian Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam pulang sementara Allah telah Menenangkan jiwanya dan meredam kegelisahannya. Setelah itu, wahyu turun secara berkelanjutan. Selesai kutipan dari aṯ-Ṯhabaqāt al-Kubrā (1/196).

قال الشيخ الألباني – رحمه الله – :

وهذا إسناد موضوع ؛ آفته : إما محمد بن عمر – وهو الواقدي – ؛ فإنه متهم بالوضع ، وقال الحافظ في ” التقريب ” : ” متروك مع سعة علمه ” ، وقد تقدمت كلمات الأئمة فيه أكثر من مرة.

وإما إبراهيم بن محمد بن أبي موسى – وهو ابن أبي يحيى – واسمه : سمعان الأسلمي مولاهم أبو إسحاق المدني – ، وهو متروك أيضاً مثل الواقدي أو أشد ؛ قال فيه الحافظ أيضاً : ” متروك ” ، وحكى في ” التهذيب ” أقوال الأئمة الطاعنين فيه ، وهي تكاد تكون مجمعة على تكذيبه ، ومنها قول الحربي :” رغب المحدثون عن حديثه ، روى عنه الواقدي ما يشبه الوضع ، ولكن الواقدي تالف ” .

Syekh al-Albani —Semoga Allah Merahmatinya— berkata bahwa sanad riwayat ini palsu. Cacatnya adalah adanya Muhammad bin Umar, yakni al-Waqidi, yang tertuduh melakukan pemalsuan. Al-Hafiz berkata dalam at-Taqrīb, “Dia ditinggalkan meskipun ilmunya luas.” Telah dijelaskan sebelumnya perkataan para imam ulama tentangnya beberapa kali.

Adapun Ibrahim bin Muhammad bin Abi Musa, yaitu Ibnu Abi Yahya, maka namanya adalah Samʿān al-Aslami (dengan nisbah Maula) Abu Ishaq al-Madani. Dia juga ditinggalkan, seperti al-Waqidi, atau bahkan lebih parah darinya. Al-Hafiz juga berkata tentangnya, “Ditinggalkan.” Dalam at-Taqrīb, dia juga mengutip perkataan para imam yang mengkritisinya, yang mana mereka hampir-hampir sepakat bahwa dia berstatus pendusta. Termasuk di antaranya adalah perkataan al-Harbi, “Para ahli hadis tidak menyukai hadisnya.” Al-Waqidi meriwayatkan darinya riwayat yang statusnya mendekati palsu, sementara dia sendiri statusnya sangat lemah.

وقوله في الإسناد : ” ابن أبي موسى ” أظنه محرَّفاً من ” ابن أبي يحيى ” ، ويحتمل أنه من تدليس الواقدي نفسه ؛ فقد دلس بغير ذلك ، قال عبد الغني بن سعيد المصري : ” هو إبراهيم بن محمد بن أبي عطاء الذي حدث عنه ابن جريج ، وهو عبد الوهاب الذي يحدث عنه مروان بن معاوية ، وهو أبو الذئب الذي يحدث عنه ابن جريج ” .

” سلسلة الأحاديث الضعيفة والموضوعة ” ( 10 / 451 ) .

Adapun ucapannya dalam sanad ini, “Ibnu Abi Musa,” maka dugaanku ini sengaja diubah dari aslinya, “Ibnu Abi Yahya.” Mungkin juga si al-Waqidi sendiri yang melakukan Tadlīs (manipulasi sanad), karena dia sudah melakukan Tadlīs dalam riwayat yang lain. Abdul Ghani bin Said al-Mishri berkata, “Dialah Ibrahim bin Muhammad bin Abi ʿAṯhāʾ yang mana Ibnu Juraij meriwayatkan darinya. Dia juga Abdul Wahhab yang mana Marwan bin Muawiyah meriwayatkan darinya. Dia juga Abu Dziʾbi yang mana Ibnu Juraij meriwayatkan darinya. Silsilah al-Aẖādits aḏh-Ḏhaʿīfah wa al-Mauḏhūʿah (10/451).

3. إسناد الطبري :

قال ابن جرير الطبري :

حدثنا ابن حميد قال حدثنا سلمة عن محمد بن إسحاق قال حدثني وهب بن كيسان مولى آل الزبير قال سمعت عبد الله بن الزبير وهو يقول لعبيد بن عمير بن قتادة الليثي : حدِّثنا يا عبيد كيف كان بدء ما ابتدئ به رسول الله صلى الله عليه و سلم من النبوة حين جاء جبريل عليه السلام فقال عبيد – وأنا حاضر يحدث عبد الله بن الزبير ومن عنده من الناس – : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يجاور في حراء من كل سنة شهراً … جاءه جبريل بأمر الله فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم ( فجاءني وأنا نائم بنمط من ديباج فيه كتاب فقال اقرأ فقلت ماذا أقرأ فغتني حتى ظننت أنه الموت ثم أرسلني فقال اقرأ فقلت ماذا أقرأ وما أقول ذلك إلا افتداء منه أن يعود إلي بمثل ما صنع بي قال ( اقرأ باسم ربك الذي خلق ) إلى قوله ( علَّم الإنسان ما لم يعلم ) 

  1. Sanad at-Tabari, yang mana Ibnu Jarir at-Tabari berkata: Ibnu Hamid mengabarkan kepada kami, dia mengatakan: Salamah mengabarkan kepadaku dari Muhammad bin Ishaq, dia berkata: Wahb bin Kaisan Maulā (budak yang telah dibebaskan) keluarga az-Zubair, memberitahuku, dia mengatakan, “Aku mendengar Abdullah bin az-Zubair berkata ketika sedang berbicara kepada Ubaid bin Umair bin Qatadah al-Laitsi: ‘Wahai Ubaid, kabarkan kepada kami bagaimana awal mula Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam mendapatkan kenabian ketika Jibril ʿAlaihis Salām mendatangi beliau?’

    Ubaid memberitahu Abdullah bin az-Zubair dan orang-orang yang bersamanya—sementara aku hadir di tengah mereka—dengan mengatakan bahwa Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam biasa menghabiskan satu bulan di gura Hira setiap tahunnya. … Ketika itu Jibril datang kepada beliau dengan perintah Allah, Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam mengisahkan,

    [“Dia mendatangiku sementara aku sedang tidur dengan membawa selembar kain berbahan sutera yang ada suatu tulisan padanya, lalu dia berkata, ‘Bacalah!’ Maka aku berkata, ‘Apa yang harus aku baca?’ Lalu dia memelukku sampai aku mengira akan mati, kemudian melepaskanku sembari berkata, ‘Bacalah!’ Maka aku berkata, ‘Apa yang harus aku baca?’ Aku tidak mengatakan hal itu kecuali agar aku terlepas darinya karena dia selalu mengulangi seperti apa yang telah dia lakukan kepadaku sebelumnya, ‘Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan, …’ sampai dengan firman-Nya, ‘… Yang Mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.’” (QS. Al-‘Alaq : 1-5) 

قال : فقرأته ، قال : ثم انتهى ثم انصرف عني وهببت من نومي وكأنما كتب في قلبي كتاباً ، قال : ولم يكن من خلق الله أحد أبغض إليَّ من شاعر أو مجنون كنت لا أطيق أن أنظر إليهما قال : قلت : إن الأبعد – يعني نفسه ! – لَشاعر أو مجنون لا تحدث بها عني قريش أبداً لأعمدن إلى حالق من الجبل فلأطرحنَّ نفسي منه فلأقتلنها فلأستريحن ، قال : فخرجت أريد ذلك حتى إذا كنت في وسط من الجبل سمعت صوتاً من السماء يقول : يا محمد أنت رسول الله وأنا جبريل قال : فرفعت رأسي إلى السماء فإذا جبرئيل في صورة رجل صاف قدميه في أفق السماء يقول يا محمد أنت رسول الله وأنا جبرئيل … ) .

” تاريخ الطبري ” ( 1 / 532 ، 533 ) .

Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam mengisahkan, “Lantas aku membacanya. Setelah selesai, dia pergi dariku dan aku pun terbangun dari tidurku dalam keadaan seolah-olah dia telah menulis sebuah kitab di dalam hatiku.”

Beliau bersabda, “Tidak ada seorang pun di antara ciptaan Allah yang lebih aku benci daripada seorang penyair atau orang gila, sampai-sampai aku tidak mau melihat mereka.

Aku berkata, ‘Kemungkinan paling jauh—yakni diri beliau—adalah benar seorang penyair atau orang gila. Jangan sampai orang-orang Quraisy membicarakanku tentang ini. Aku akan pergi ke puncak gunung lalu melemparkan diriku dari atas sana agar aku mati dan beristirahat. Kemudian, aku keluar ingin melakukan itu. Ketika aku sampai di tengah-tengah gunung, aku mendengar suara dari langit yang menyeru, ‘Wahai Muhammad, engkau adalah Rasulullah, dan aku adalah Jibril!’ Lalu aku mengangkat kepalaku ke langit, ternyata aku melihat Jibril di dalam wujud manusia yang kakinya lurus di ufuk langit sambil berkata, ‘Wahai Muhammad, engkau adalah Rasulullah, dan aku adalah Jibril!’] ….” Tārīkh aṯ-Ṯabari (1/532-533).

ومتن هذه الرواية منكر مخالف للروايات الصحيحة ؛ ففي هذا المتن أن لقاء النبي صلى الله عليه وسلم بجبريل كان في المنام لا يقظة ! ثم إن فيه قوله صلى الله عليه وسلم ( ماذا أقرأ ) ! وكلاهما باطل ، فاللقاء بين الرسولين كان يقظة ، والذي قاله صلى الله عليه وسلم ( ما أنا بقارئ ) نفياً عن نفسه أن يكون قارئاً والرواية المنكرة تثبت أن ليس أمِّيّاً ! .

وأما إسناد الرواية : فقال الشيخ الألباني – رحمه الله – :

ولكن هذا الإسناد مما لا يفرح به ، لا سيما مع مخالفته لما تقدم من روايات الثقات ؛ وفيه علل:

Matan riwayat ini mungkar dan bertentangan dengan matan riwayat yang sahih. Dalam redaksi riwayat ini, pertemuan Nabi Muhammad Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dengan Jibril terjadi dalam mimpi, bukan dalam keadaan terjaga! Lalu ada perkataan beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, “Apa yang aku baca,” Kedua hal itu batil, karena pertemuan dua utusan ini terjadi dalam keadaan terjaga! Pun yang beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam katakan adalah, “Aku tidak bisa membaca.” Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam ingin mengatakan bahwa dia buta huruf, sementara riwayat mungkar ini menunjukkan bahwa beliau tidak buta huruf. 

وأما إسناد الرواية : فقال الشيخ الألباني – رحمه الله – :

ولكن هذا الإسناد مما لا يفرح به ، لا سيما مع مخالفته لما تقدم من روايات الثقات ؛ وفيه علل:

الأولى : الإرسال ؛ فإن عبيد بن عمير ليس صحابيّاً ، وإنما هو من كبار التابعين ، ولد في عهد النبي صلى الله عليه وسلم .

الثانية : سلمة – وهو ابن الفضل الأبرش – ، قال الحافظ :” صدوق كثير الخطأ ” .

قلت : ومع ذلك فقد خالفه زياد بن عبد الله البكائي ؛ وهو راوي كتاب ” السيرة ” عن ابن إسحاق ، ومن طريقه رواه ابن هشام ، وقال فيه الحافظ :” صدوق ثبت في المغازي ” .

Mengenai sanad riwayat ini, maka syekh al-Albani —Semoga Allah Merahmatinya— berkata bahwa status sanad ini tidaklah menggembirakan, apalagi riwayat ini bertentangan dengan riwayat dari orang-orang yang tepercaya yang telah disebutkan sebelumnya. Ada dua cacat di dalamnya:

(1) Pertama, riwayat ini Mursal, karena Ubaid bin Umair bukanlah seorang Sahabat, melainkan hanya dari kalangan Tabiin senior yang lahir pada masa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam.

(2) Kedua, bahwa Salamah, yakni Ibnu al-Faḏhl al-Abrasy, dikomentari oleh al-Hafiz dengan mengatakan bahwa dia adalah orang yang jujur ​tapi banyak kelirunya. Aku (syekh al-Albani) katakan bahwa Ziyad bin Abdullah al-Bakāʾi telah menyelisihi riwayatnya. Dia adalah perawi kitab as-Sīrah dari Ibnu Ishaq, yang melalui dia juga Ibnu Hisyam meriwayatkan kitab tersebut. Al-Hafiz berkata tentangnya, “Jujur dan tercantum dalam kitab al-Maghāzī.”

وقد أخرج ابن هشام هذا الحديث في ” السيرة ” ( 1 / 252 ، 253 ) عنه عن ابن إسحاق به دون الزيادة التي وضعتها بين المعكوفتين [ ] ، وفيها قصة الهمّ المنكرة .

فمن المحتمل أن يكون الأبرش تفرد بها دون البكائي ، فتكون منكرة من جهة أخرى ؛ وهي مخالفته للبكائي ؛ فإنه دونه في ابن إسحاق ؛ كما يشير إلى ذلك قول الحافظ المتقدم فيهما .

ومن المحتمل أن يكون ابن هشام نفسه أسقطها من الكتاب ؛ لنكارة معناها ، ومنافاتها لعصمة النبي صلى الله عليه وسلم ؛ فقد أشار في مقدمة كتابه إلى أنه قد فعل شيئاً من ذلك ، فقال ( 1 / 4 ) : ” … وتارك ذكر بعض ما ذكره ابن إسحاق في هذا الكتاب مما ليس لرسول الله صلى الله عليه وسلم فيه ذكر … وأشياء بعضها يشنع الحديث به ” .

Ibnu Hisyam meriwayatkan hadis ini dalam as-Sīrah (1/252-253) darinya juga, dari Ibnu Ishaq tanpa ada tambahan yang aku letakkan dalam tanda kurung ini [ ]. Kisah ini mungkar dan mengkhawatirkan. Ada kemungkinan bahwa al-Abrasy meriwayatkannya sendiri tanpa al-Bakāʾi, sehingga statusnya mungkar jika ditinjau dari jalur lain, yang bertentangan dengan riwayat al-Bakāʾi sendiri, karena dalam riwayat Ibnu Ishaq, hadis ini diriwayatkan bukan darinya, sebagaimana disinggung dalam perkataan al-Hafiz sebelumnya tentang mereka berdua.

Ada juga kemungkinan bahwa Ibnu Hisyam sendiri yang menghilangkannya dari kitabnya karena memang matannya mungkar dan kontradiktif dengan status kemaksuman Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. Dia menyinggung dalam mukadimah kitabnya bahwa dia terkadang melakukan hal itu. Dia berkata (1/4), “… meninggalkan sebagian dari apa yang disebutkan oleh Ibnu Ishaq dalam kitab ini, yang disebutkan tapi tidak berasal dari Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam … dan hal-hal lain yang membuat tercela suatu matan hadis.”

وهذا كله يقال على احتمال سلامته من العلة التالية ؛ وهي :

الثالثة : ابن حميد – واسمه محمد الرازي – ؛ وهو ضعيف جدّاً ، كذَّبه جماعة من الأئمة ، منهم أبو زرعة الرازي .

وجملة القول : أن الحديث ضعيف إسناداً ، منكر متناً ، لا يطمئن القلب المؤمن لتصديق هؤلاء الضعفاء فيما نسبوا إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم من الهم بقتل نفسه بالتردي من الجبل ، وهو القائل – فيما صح عنه – : ( من تردى من جبل فقتل نفسه ؛ فهو في نار جهنم يتردى فيها خالداً مخلداً فيها أبداً ) متفق عليه – ” الترغيب ” ( 3 / 205 ) – لا سيما وأولئك الضعفاء قد خالفوا الحفاظ الثقات الذين أرسلوه .

” سلسلة الأحاديث الضعيفة والموضوعة ” ( 10 / 455 – 457 ) .

Semua itu adalah kemungkinan yang ada dengan asumsi bahwa riwayat ini selamat dari cacat berikut, yaitu cacat ketika adanya Ibnu Hamid, yang bernama Muhammad ar-Razi. Dia adalah orang yang statusnya sangat lemah. Sejumlah imam ulama hadis menganggapnya pendusta, termasuk Abu Zur’ah ar-Razi. Ringkasnya, bahwa hadis ini lemah sanadnya dan mungkar matannya.

Hati orang mukmin tidak akan mungkin tenang dalam mempercayai orang-orang lemah seperti mereka yang meriwayatkan bahwa Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam berkeinginan untuk bunuh diri dengan cara melompat dari gunung. Padahal beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam adalah orang yang berkata —menurut riwayat sahih dari beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, “Barang siapa yang melompat dari gunung lalu bunuh diri, maka di neraka Jahanam dia akan kekal di dalamnya dalam keadaan (bunuh diri) dengan melompat begitu selama-lamanya.” (Muttafaqun ʿAlaihi), kitab Al-Targhīb (3/205). Terlebih lagi, karena para perawinya adalah orang-orang lemah yang menyelisihi para perawi terpercaya yang meriwayatkannya secara Mursal. Silsilah al-Aẖādits aḏh-Ḏhaʿīfah wa al-Mauḏhūʿah (10/455-457).

خامساً:

قد ثبت بما تقدم ضعف الأسانيد التي رويت في محاولة النبي صلى الله عليه وسلم الانتحار ، بل وبطلان بعضها ، ولا يخفى أن متنها أيضاً باطل منكر ، وذلك من وجوه :

1. أن فترة انقطاع الوحي كانت لإزالة الخوف الذي جاء لنبينا محمد صلى الله عليه وسلم أول ما جاءه الوحي ، وأنها للاستعداد لما بعده ، فكيف يلتقي هذا مع همِّه صلى الله عليه وسلم بالانتحار ؟! .

قال ابن طولون الصالحي – رحمه الله – :

الحكمة في فترة الوحي – والله أعلم – : ليذهب عنه ما كان يجده صلى الله عليه وسلم من الروع وليحصل له التشوق إلى العود .

” سبل الهدى والرشاد في سيرة خير العباد ” ( 2 / 272 ) .

Kelima, dari uraian di atas, telah terbukti bahwa sanad-sanad riwayat mengenai percobaan bunuh diri yang dilakukan Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam adalah lemah, bahkan sebagiannya palsu. Tidak samar juga bahwa matan-matannya palsu dan mungkar, karena beberapa alasan berikut:

  • Masa terhentinya wahyu adalah untuk meredam rasa takut yang dirasakan Nabi kita Muhammad Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam ketika wahyu pertama kali datang kepadanya, selain untuk mempersiapkan diri beliau menghadapi wahyu yang datang setelahnya. Apakah niat beliau untuk bunuh diri selaras dengan hal ini?! Ibnu Ṯhūlūn aṣh-Ṣhālihi —Semoga Allah Merahmatinya— berkata bahwa hikmah di balik masa terhentinya —Allah Yang lebih Mengetahui— adalah untuk menghilangkan rasa takut yang beliau rasakan dan menghadirkan rasa kerinduan beliau untuk mendapatkannya lagi. Subul al-Hudā wa al-Rasyād fī Sīrati Khairi al-ʿIbād (2/272).

2. أن النبي صلى الله عليه وسلم لم يشك للحظة في كونه نبيّاً ، فقد ثبَّت الله تعالى قلبه بالوحي ، وما وجده من الرهبة من نزول الوحي أول مرة فيدل على بشريته ، وعلى شدة الوحي ، وقد كان يعاني صلى الله عليه وسلم بعد ذلك عند نزول الوحي في بعض صوره .

والخلاصة :

لم تصح رواية همِّ النبي صلى الله عليه وسلم وسلم بالانتحار لتأخر الوحي عليه أول أمر الرسالة ، والزيادة التي في البخاري ليست على شرطه فلا تنسب للصحيح ، وقد أثبتها البخاري رحمه الله أنها من قول الزهري لا غيره ، فهي بلاغ مقطوع الإسناد لا يصح ، وقد ذكرنا للحديث روايات أخرى كلها يؤكد عدم صحة القصة لا سنداً ولا متناً .

والله أعلم.

  • Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak pernah sedikit pun meragukan status kenabian beliau, karena Allah Subẖānahu wa Taʿālā telah Menguatkan hatinya dengan wahyu tersebut. Adapun rasa takut yang beliau rasakan ketika wahyu turun pertama kali, maka itu menunjukkan sisi kemanusiaan beliau dan betapa beratnya wahyu tersebut. Beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bahkan merasakan sakit saat wahyu turun dalam beberapa cara lain.

Kesimpulan:

Bahwa riwayat tentang Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam yang berniat bunuh diri ketika wahyu terlambat turun di masa awal kenabian beliau adalah riwayat yang tidak sahih. Adapun tambahan redaksi yang termaktub dalam Sahih Bukhari tidaklah memenuhi syarat yang ditetapkannya, sehingga tidak bisa disebut sebagai riwayat kitab Sahih. Imam Bukhari —Semoga Allah Merahmatinya— memvalidasinya hanya sebagai perkataan az-Zuhri, bukan perawi lain, yang merupakan berita yang sanadnya terputus dan tidak sahih. Kami telah menyebutkan riwayat-riwayat lain hadis tersebut yang semuanya memperkuat bahwa riwayat ini tidak sahih, baik sanadnya maupun matannya. Allah Yang lebih Mengetahui.

Sumber:

islamqa.info/ar/answers/152611/روايات-هم-النبي-صلى-الله-عليه-وسلم-بالانتحار-لا-تصح-لا-سندا-ولا-متنا

PDF sumber artikel.

🔍 Ruqyah Diri Sendiri, Agama Islam Syiah, Menikah Di Bulan Puasa, Sejarah Abdul Qodir Jaelani, Walpaper Puasa, Alquran Tartil

QRIS donasi Yufid