Kontemporer

Apakah Dupa Sama dengan Bakhur?

Pertanyaan:

Benarkah bahwa orang Islam juga menggunakan dupa sebagaimana orang Hindu, Budha dan Kristen? Konon dalam Islam disebut bakhur.

Jawaban: 

Alhamdulillahi hamdan katsiran thayyiban mubarakan fihi, ash-shalatu wassalamu ‘ala alihi wa shahbihi. Amma ba’du.

Jawaban untuk pertanyaan ini tergantung apa yang dipahami dari istilah “dupa”? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), makna dupa adalah: luban (kemenyan, setanggi, dan sebagainya) yang apabila dibakar asapnya berbau harum.

Jika dengan makna ini, dupa adalah kayu yang dibakar untuk menghasilkan bau yang wangi, maka tentu kaum Muslimin menggunakannya. Itulah bakhur, yaitu kayu wangi yang dibakar untuk menghasilkan bau harum, semisal untuk mengharumkan ruangan atau pakaian. 

Dalam Lisanul Arab disebutkan:

والبَخُورُ، بالفتح: ما يتبخر به ويقال: يَخَّرَ علينا من بَخُور العُود أَي طَيَّبَ

“Bakhur dengan huruf ba’ di-fathah, adalah segala yang dapat mengharumkan, jika orang Arab mengatakan: bakhara ‘alaina min bakhuril ‘ud maknanya adalah pasanglah wewangian untuk kami dari kayu yang wangi”.

Dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

أيُّما امرأةٍ أصابتْ بخورًا فلا تشهدنَّ معنا العِشاءَ

“Wanita mana saja yang terkena wangi bakhur, maka janganlah ia menghadiri shalat isya bersama kami di masjid.” (HR. Muslim no. 444).

Karena wanita yang terkena bakhur akan menjadi wangi tubuh atau pakaiannya, sehingga menjadi godaan yang besar bagi para lelaki di masjid.

Dari penjelasan di atas, kita ketahui bahwa bakhur dalam Islam adalah sekedar salah satu bentuk wewangian. Berupa kayu yang wangi seperti kayu gaharu dan kayu cendana, yang jika dibakar akan menimbulkan asap yang wangi, untuk mengharumkan ruangan atau pakaian. Tidak ada keyakinan khusus atau ibadah khusus terkait dengan bakhur.

Ini tidak sebagaimana keyakinan agama lain. Penggunaan dupa dalam agama lain dikaitkan dengan suatu keyakinan atau ibadah. Contohnya dalam agama Hindu, “Dupa adalah sejenis harum-haruman yang dibakar sehingga berbau harum dan menyala sebagai lambang (dewi) Agni dan berfungsi sebagai: 

– Perantara yang menghubungkan pemuja dengan yang dipuja. 

– Sebagai pembasmi segala mala dan pengusir roh jahat. 

– Sebagai saksi dalam upacara” (Warta Hindu Dharma No. 407 Januari 2001, dikutip dari dari website phdi.or.id).

Menurut agama Budha, “Dupa digunakan sebagai salah satu bahan yang digunakan dalam ritual upacara umat Budha di Candi Borobudur maupun Candi Mendut khususnya dalam upacara Waisak. Dupa yang dipakai dalam sembahyang umat Buddha biasanya berjumlah 3 batang. Dupa sebanyak 3 batang ini melambangkan “pantangan”, “tekad”, “bijaksana”. Menurut ajaran agama Buddha, pantangan melahirkan tekad, tekad membentuk kebijaksanaan” (Dikutip dari web borobudurpedia.id).

Menurut agama Kristen, “Penggunaan dupa dalam ibadah dimulai pada masa Eksodus, pada saat yang sama ketika Tuhan memerintahkan pembangunan tabernakel dan berbagai pengorbanan. Dalam Keluaran 30, Allah memerintahkan pembakaran dupa dan menetapkan peraturan serta prosedur penggunaannya” (Dikutip dari situs deihomines.com).

Adapun dalam Islam, penggunaan dupa yang demikian, yaitu diyakini sebagai lambang dewa-dewi atau perantara dalam ibadah kepada Tuhan, atau pengorbanan untuk Tuhan, ini semua adalah bentuk kesyirikan dan kekufuran. 

Allah ta’ala berfirman:

اَلَا لِلّٰهِ الدِّيْنُ الْخَالِصُ ۗوَالَّذِيْنَ اتَّخَذُوْا مِنْ دُوْنِهٖٓ اَوْلِيَاۤءَۘ مَا نَعْبُدُهُمْ اِلَّا لِيُقَرِّبُوْنَآ اِلَى اللّٰهِ زُلْفٰىۗ اِنَّ اللّٰهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِيْ مَا هُمْ فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ ەۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِيْ مَنْ هُوَ كٰذِبٌ كَفَّارٌ

“Ingatlah! Hanya milik Allah agama yang murni (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah mereka (berkata), “Kami tidak menyembah mereka (selain Allah) melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” Sungguh, Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta lagi kufur” (QS. Az-Zumar: 3).

Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik.

Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi wa sallam.

Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. 

***

URUNAN MEMBUAT VIDEO DAKWAH YUFID.TV

Yufid.TV membuka kesempatan untukmu, berupa amal jariyah menyebarkan ilmu yang bermanfaat. Kami namakan “Gerakan Urunan Membuat Video Yufid.TV”. Anda dapat menyumbang dalam jumlah berapa pun untuk membuat video Yufid.TV, Yufid Kids, dan Yufid EDU. Anda boleh sumbangan Rp 5.000,- atau kurang itu. Semoga ini menjadi tabungan amal jariyahmu, menjadi peninggalan yang pahalanya tetap mengalir kepadamu di dunia dan ketika kamu sudah di alam kubur.

Anda dapat kirimkan sumbangan urunanmu ke:

BANK SYARIAH INDONESIA 
7086882242
a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
Kode BSI: 451 (tidak perlu konfirmasi, karena rekening di atas khusus untuk donasi)

PayPal: [email protected]

Mari kita renungkan Surat Yasin Ayat ke-12 ini:

إِنَّا نَحْنُ نُحْىِ ٱلْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا۟ وَءَاثَٰرَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَىْءٍ أَحْصَيْنَٰهُ فِىٓ إِمَامٍ مُّبِينٍ

Artinya: 

“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan KAMI MENULISKAN APA YANG TELAH MEREKA KERJAKAN DAN BEKAS-BEKAS YANG MEREKA TINGGALKAN. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Yasin: 12)

Apa bekas-bekas kebaikan yang akan kita tinggalkan sehingga itu akan dicatat sebagai kebaikan oleh Allah?

🔍 Batas Sholat Dhuha, Prasangka Dalam Islam, Mp3 Kajian Islam, Sholawat Setelah Sholat, Berapa Hari Puasa Rajab, Do'a Ketika Bercermin

QRIS donasi Yufid