Mari bersama untuk kehidupan kita kelak di akhirat.   BSI: 7086882242
a.n. Yayasan Yufid Network  

Seluruh dana untuk operasional produksi konten dakwah di Yufid: Yufid.TV, YufidEDU, Yufid Kids, website dakwah (KonsultasiSyariah.com, Yufid.com, KisahMuslim.com, Kajian.Net, KhotbahJumat.com, dll).

Yufid menerima zakat mal untuk operasional dakwah Yufid

Sholat

Bolehkah Tidak Duduk Tawarruk karena Sempit?

Pertanyaan:

Terkadang dalam shalat berjamaah, kondisi shaf sangatlah sempit. Sehingga ketika duduk tawarruk pada tasyahud akhir saya kesulitan untuk duduk dengan sempurna, karena akan mendesak orang di sebelah saya. Apakah boleh saya tidak duduk tawarruk jika kondisi shaf sempit?

Jawaban:

Alhamdulillah, ash-shalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi wa man walah, amma ba’du,

Disyariatkan duduk tawarruk di dalam shalat. Yaitu cara duduk dengan menempatkan bokong di lantai, lalu kaki kiri dikeluarkan pada sisi kanan dan telapak kaki kanan ditegakkan. 

Dalam hadis Abu Humaid As-Sa’idi radhiyallahu’anhu beliau berkata:

فإذا جلس في الركعتين جلس على رجلٌه اليسرى، ونصب اليمنى، وإذا جلس في الركعة الآخرة، قدم رجلٌه اليسرى، ونصب الأخرى، وقعد على مقعدته

“Nabi shallallahu’alaihi wa sallam jika duduk dalam salat di dua rakaat pertama beliau duduk di atas kaki kirinya dan menegakkan kaki kanan. Jika beliau duduk di rakaat terakhir, beliau mengeluarkan kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya dan duduk di atas lantai.” (HR. Bukhari no. 828 dan Muslim no. 226).

Dalam riwayat lain:

حتَّى إذا كانتِ الرَّكعةُ التي تنقضي فيها الصَّلاةُ، أخَّرَ رِجْلَه اليُسرى، وقعَد على شِقِّه متورِّكًا ثم سلَّمَ

“Nabi shallallahu’alaihi wa sallam jika sudah sampai pada rakaat terakhir salat, beliau menjulurkan kaki kirinya dan duduk langsung di lantai dalam keadaan tawarruk, kemudian salam.” (HR. Abu Daud no. 730, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Abu Daud).

Pendapat yang rajih (kuat), tempat duduk tawarruk adalah pada tasyahud akhir dalam salat yang terdapat dua tasyahud, seperti salat Zuhur, salat Ashar, salat, Maghrib, dan salat Isya.

Dan hukum duduk tawarruk pada tempat tersebut adalah mustahab (sunnah), tidak sampai wajib. Oleh karena itu, jika duduk tawarruk bisa mengganggu orang yang salat di sebelahnya yang tepat adalah meninggalkan duduk tawarruk. Karena mengganggu orang hukumnya haram. Tidak boleh melakukan yang mustahab namun di saat yang bersamaan terjatuh pada yang haram.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin pernah ditanya, “Bolehkah tidak duduk tawarruk (dalam salat) jika bisa mengganggu orang di sebelah kita (ketika shaf sangat rapat)?”. Beliau menjawab:

ترك السنة لدفع الأذية خير من فعل السنة مع الأذية فهذا المتورك إذا كان بتوركه يؤذي جاره فلا يتورك

“Meninggalkan sesuatu yang hukumnya sunnah jika bisa mengganggu orang lain, itu lebih baik daripada mengamalkan sunnah tapi mengganggu orang lain. Orang yang duduk tawarruk ini jika ia melakukan duduk tawarruk bisa menganggu orang di sebelahnya, maka hendaknya jangan duduk tawarruk.” (Liqa Baabil Maftuh, 2/38).

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah juga mengatakan:

إذا دعت الحاجة إلى التضام، وعدم التورك لا يتورك، التورك سنة، مستحب في التشهد الأخير، فإذا كان يؤذي به إخوانه؛ فلا يتورك، يجلس على رجله اليسرى كجلوسه بين السجدتين وهو في التشهد الأول؛ لأن إيذاء إخوانه محرم، فلا يستبيح المحرم بمستحب، يترك المستحب حتى يتوقى المحرم

“Jika memang ada kebutuhan untuk mengumpulkan kaki ketika duduk, sehingga tidak duduk tawarruk, maka boleh saja untuk tidak duduk tawarruk. Duduk tawarruk itu sunnah, dianjurkan pada tasyahud akhir. Maka jika dengan duduk tawarruk akan mengganggu saudaranya yang ada di sebelahnya, maka jangan duduk tawarruk. Hendaknya ia duduk di atas kaki kirinya (duduk iftirasy) seperti duduk di antara dua sujud dan duduk tasyahud awal. Karena mengganggu saudara Muslim itu hukumnya haram. Maka perkara yang mustahab tidak membolehkan perkara yang haram. Hendaknya meninggalkan perkara yang mustahab untuk menghindarkan diri dari yang haram” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi, rekaman no.443 pertanyaan ke-17).

Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik.

Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in.

Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. 

***

URUNAN MEMBUAT VIDEO DAKWAH YUFID.TV

Yufid.TV membuka kesempatan untukmu, berupa amal jariyah menyebarkan ilmu yang bermanfaat. Kami namakan “Gerakan Urunan Membuat Video Yufid.TV”. Anda dapat menyumbang dalam jumlah berapa pun untuk membuat video Yufid.TV, Yufid Kids, dan Yufid EDU. Anda boleh sumbangan Rp 5.000,- atau kurang itu. Semoga ini menjadi tabungan amal jariyahmu, menjadi peninggalan yang pahalanya tetap mengalir kepadamu di dunia dan ketika kamu sudah di alam kubur.

Anda dapat kirimkan sumbangan urunanmu ke:

BANK SYARIAH INDONESIA 
7086882242
a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
Kode BSI: 451 (tidak perlu konfirmasi, karena rekening di atas khusus untuk donasi)

PayPal: [email protected]

Mari kita renungkan Surat Yasin Ayat ke-12 ini:

إِنَّا نَحْنُ نُحْىِ ٱلْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا۟ وَءَاثَٰرَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَىْءٍ أَحْصَيْنَٰهُ فِىٓ إِمَامٍ مُّبِينٍ

Artinya: 

“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan KAMI MENULISKAN APA YANG TELAH MEREKA KERJAKAN DAN BEKAS-BEKAS YANG MEREKA TINGGALKAN. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Yasin: 12)

Apa bekas-bekas kebaikan yang akan kita tinggalkan sehingga itu akan dicatat sebagai kebaikan oleh Allah?

🔍 Kitab Kuning, Contoh Khutbah Gerhana Bulan, Tata Cara Sholat Makmum Masbuk, Ciri Ciri Mani, Surat Yang Baik Dibaca Saat Hamil, Menikah Dengan Jin

QRIS donasi Yufid