Mari bersama untuk kehidupan kita kelak di akhirat.   BSI: 7086882242
a.n. Yayasan Yufid Network  

Seluruh dana untuk operasional produksi konten dakwah di Yufid: Yufid.TV, YufidEDU, Yufid Kids, website dakwah (KonsultasiSyariah.com, Yufid.com, KisahMuslim.com, Kajian.Net, KhotbahJumat.com, dll).

Yufid menerima zakat mal untuk operasional dakwah Yufid

Hadits, KITAB

Penjelasan Ringkas Tentang Arba’in An-Nawawiyah, Hadis ke-29

arba'in-an-nawawiyah-hadis-ke-29

Pertanyaan:

Mohon penjelasan mengenai sabda Rasulullah dalam Arba’in An-Nawawiyah, hadis ke-29, yang berbunyi, “… Semoga engkau kehilangan ibumu, wahai Mu’adz.

Jawaban:

Penggalan lafal hadis yang dimaksud ialah,

قلت : يا نبي الله ، وإنا لمؤاخذون بما نتكلم به ؟ فقال : ثكلتك أمك ، وهل يكب الناس في النار على وجوههم _ أو قال على مناخرهم _ إلا حصائد ألسنتهم

“…Aku (Mu’adz) berkata, ‘Wahai Nabi Allah, apakah kita akan disiksa lantaran ucapan yang kita lontarkan?’ Beliau menjawab, ‘Tsaqilatka ummuka, wahai Mu’adz! Bukankah menusia itu disungkurkan wajahnya – hidungnya (dalam riwayat yanng lain) – di neraka, selain karena ucapan lisannya (yang tidak ada nilai baiknya)…”

Tidak hanya “tsaqilatka ummuka” (sebuah lafal yang seolah-olah mengungkapkan doa kejelekan) yang terdapat dalam hadis. Masih ada kalimat lain, seperti: qatalahullah, wailun laka, dan taribat yadaka (asal makna taribat adalah “berpisah”).

Berkaitan dengan ini, Syekh Azhim Abadi, penulis Syarah Sunan At-Tirmidzi, mengatakan dalam penjelasan hadis no. 113, 1:128, “Bangsa Arab biasa memakainya tanpa memaksudkan ucapannya sesuai dengan hakikat (lafal tersebut). Mereka menyebutkan, ‘Taribat yadaka! (Celakalah dua tanganmu!),’ ‘Qatahullah! Ma asyja’ahu! (Semoga Allah memeranginya! Betapa beraninya dia!),’ ‘Wa la umma lahu wa la aba lahu! (Dia tidak mempunyai ibu, dan dia tidak mempunyai ayah!),’ ‘Tsaqilatka ummuka! (Celakalah ibumu!),’ ‘Wailun ummuhu (Kecelakaanlah untuk ibunya!),’ dan lain-lain. Mereka (bangsa Arab) mengatakannya saat mengingkari sesuatu, menjauhi sesuatu, bertekad untuk melakukan sesuatu, menganggap besar satu perkara, atau mengungkapkan anjuran dan kekaguman dengannya. Wallahu a’lam.” (Lihat Syarah Muslim, karya An-Nawawi, 3:221)

Sumber: Majalah As-Sunnah, edisi 3, tahun IX, 1426 H/2005 M. Disertai penyuntingan bahasa oleh redaksi www.KonsultasiSyariah.com.
Artikel www.KonsultasiSyariah.com

🔍 Download Video Sholat Yang Benar, Apakah Wanita Bisa Mengeluarkan Air Mani, Bentuk Alam Semesta Menurut Islam, Islam Bukan Teroris, Sedekah Yang Benar, Cara Agar Bisa Melihat Makhluk Gaib

QRIS donasi Yufid

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.