Apa Hukum Mengeraskan Bacaan Bagi Imam dan Sholat Sendirian?

18876
jubah akhwat murah

Tanya:

Saya sekarang kerja di kaltim, mau nanya, misalkan saya sholat sendiri pada sholat isya/maghrib terus ada makmum masbuk datang pas selesai baca al-Fatihah rakaat kedua, apakah saya mengeraskan bacaan surat yang tersisa atau tetap sirr kayak sholat sendiri? Jazakallahu khairan.

(Herlambang, Kaltim)

Jawab:

Seseorang yang sholat sendirian dan imam dianjurkan untuk mengeraskan bacaan surat pada dua rakaat pertama sholat shubuh, maghrib, dan isya . Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengeraskannya dan kita diperintah untuk mengikuti beliau. Allah ta’ala berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً(الأحزاب:21)

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Qs. 33:21)

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

وصلوا كما رأيتموني أصلي

“Dan sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku sholat.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Berkata An-Nawawy rahimahullahu:

المنفرد كالإمام في الحاجة إلى الجهر للتدبر، فسنَّ له الجهر كالإمام وأولى؛ لأنه أكثر تدبرًا لقراءته

“Orang yang sholat sendirian seperti imam dalam hal kebutuhan kepada mengeraskan suara untuk tadabbur (merenungi ayat), maka disunnahkan baginya juga mengeraskan bacaan surat seperti imam, bahkan lebih berhak, dikarenakan dia lebih bisa merenungi terhadap apa yang dia baca.” (Al-Majmu’ 3/355)

Berkata Syeikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullahu pernah ditanya tentang orang yang sholat sendirian dan mengeraskan bacaan surat maka beliau mengatakan:

يشرع له ذلك كما يشرع للإمام وذلك سنة لكن لا يرفع رفعا يؤذي من حوله من المصلين أو الذاكرين أو النائمين ، لأحاديث وردت في ذلك

“Hal demikian (mengeraskan bacaan surat) bagi orang yang sholat sendirian disyari’atkan, sebagaimana disyari’atkan untuk imam, ini adalah sunnah, akan tetapi jangan terlalu mengangkat suara sehingga mengganggu orang sekitar, baik yang sedang sholat, sedang berdzikir, atau yang sedang tidur.” (Majmu’ Fatawa wa Rasail Syeikh Bin Baz 11/237)

Apabila kasusnya seperti yang antum sebutkan maka dianjurkan antum mengeraskan bacaan surat yang tersisa. Namun apabila tidak mengeraskan maka tidak mengapa dan sholat antum sah.

Berkata Qatadah (wafat tahun 118 H) rahimahullah:

من صلى المغرب فقرأ في نفسه فأسمع نفسه أجزأ عنه

“Barangsiapa yang sholat maghrib, kemudian membaca dengan sirriyyah (tidak mengeraskan suara), memperdengarkan kepada dirinya sendiri maka sudah mencukupi.” (Dikeluarkan oleh Abdurrazzaq di dalam Al-Mushannaf 2/110)

Wallahu a’lam.

Ustadz Abdullah Roy, Lc.

Sumber: tanyajawabagamaislam.blogspot.com