Apa Hukum Musafir Lebih Dari 4 Hari?

7219

Tanya:

Assalamualaikum

Insya Alloh ana akan mengadakan safar ke Jakarta (dari Balikpapan) untuk waktu sekitar 2 pekan dengan niat silaturrahim.

Bagaimana sholat yang harus ana kerjakan? Sebelumnya ana melakukan sholat dengan jama’ dan qoshor (safar yang lalu). Namun ada sumber lain (afwan ana ga tau pasti dari siapa) mengatakan sholat yang ana harus kerjakan yaitu tidak dijama’ namun tetap diqoshor. Bagaimana ustadz penjelasan yang rojihnya? Agar ana bisa yakin bagaimana seharusnya ana sholat saat di Jakarta nanti. Baarokallahu fiik. Jazzakallahu khoiron katsiron

(Ummu Aufa)

Jawab:

Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuhu. Wa fiikum barakallahu

Seorang musafir yang berniat singgah di sebuah tempat lebih dari 21 sholat (4 hari) dan dia mengetahui kapan selesai hajatnya atau sudah menentukan berapa lama tinggal disana. maka hukumnya seperti orang yang muqim. Hendaknya menyempurnakan shoflat (tanpa diqashar) dan mengerjakan setiap sholat pada waktunya (tanpa dijamak) kecuali ada sebab seperti sakit dll.

Dan ini adalah pendapat jumhur ulama,Imam Malik, Imam Asy-Syafi’i, dan Imam Ahmad (lihat Al-Mughny 3/147-148)
Mereka berdalil dengan apa yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika haji wada’, dimana beliau tinggal di Mekah selama 4 hari sebelum pergi ke Mina, mengqashar sholat. Oleh karena barangsiapa yang tinggal lebih dari 4 hari maka menyempurnakan sholatnya.

Berkata Al-Lajnah Ad-Daimah:

وهذا المسافر إذا نوى الإقامة ببلد أكثر من أربعة أيام فإنه لا يترخص برخص السفر ، وإذا نوى الإقامة أربعة أيام فما دونها فإنه يترخص برخص السفر . والمسافر الذي يقيم ببلد
ولكنه لا يدري متى تنقضي حاجته ولم يحدد زمناً معيناً للإقامة فإنه يترخص برخص السفر ولو طالت المدة ، ولا فرق بين السفر في البر والبحر

“Dan musafir apabila berniat tinggal di sebuah daerah lebih dari 4 hari maka dia tidak mengambil keringanan orang yang safar. Dan jika berniat tinggal 4 hari atau kurang maka mengambil keringanan-keringanan safar. Dan seorang musafir yang tinggal di sebuah tempat dan dia tidak tahu kapan selesai hajatnya dan tidak menentukan berapa lama tinggal disana maka dia boleh mengambil keringanan safar, meski lama waktunya. Dan tidak ada bedanya bepergian lewat darat atau laut.” (Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah 8/99-100, Lihat juga Majmu’ Fatawa Syeikh Bin Baz 12/273)

Wallahu a’lam.

Ustadz Abdullah Roy, Lc.

Sumber: tanyajawabagamaislam.blogspot.com