Mari bersama menabung pahala amal jariyah untuk kehidupan kita kelak di akhirat.   BSI: 7086882242
a.n. Yayasan Yufid Network  

Seluruh dana untuk operasional produksi konten dakwah di Yufid: Yufid.TV, YufidEDU, Yufid Kids, website dakwah (KonsultasiSyariah.com, Yufid.com, KisahMuslim.com, Kajian.Net, KhotbahJumat.com, dll).

Yufid menerima zakat mal untuk operasional dakwah Yufid

Bersuci, Haji

Bagaimana Cara Menyucikan Diri Melalui Ibadah Haji

Oleh:

Isa bin Ali Abu al-Id

Allah Subhanahu wa Ta’ala mensyariatkan kepada kita berbagai ibadah agar kita dapat menyucikan jiwa dan memperbaiki hati. Apabila jiwa telah bersih, niscaya ia akan beruntung dan selamat, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا

“Sungguh beruntung orang yang menyucikan (jiwa)nya.” (QS. Asy-Syams: 5).

Haji adalah ibadah agung yang Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan sebagai pembersih, pendidik, dan ampunan bagi dosa-dosa para hamba-Nya. Namun banyak orang memandang ibadah-ibadah —termasuk haji— sebatas ungkapan keimanan dan sarana meraih pahala, itu saja. Padahal hakikatnya tidak demikian. Ibadah itu selain sebagai perwujudan keimanan dan sarana meraih pahala, juga sebagai rambu-rambu yang menuntun seorang hamba di jalan kehidupan yang penuh lika-liku ini. Di dalamnya terdapat realisasi keseimbangan yang benar antara amalan duniawi dan amalan ukhrawi.

Sedangkan perjalanan haji merupakan miniatur dari perjalanan hidup dalam beberapa hitungan hari. Ia pergi dari negeri yang sudah ia kenal menuju negeri lain, yaitu negeri terbaik. Lalu melaksanakan ibadah dan ketaatan dengan tata cara tertentu. Ia berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, hidup dengan banyak orang dengan beragam warna kulit, bangsa, dan negara. Selalu menyertai mereka berjalan dan menetap, bangun dan tidur, makan dan minum. Setelah itu kembali berpisah. Demikianlah hidup.

Ibadah haji telah hilang makna-maknanya yang benar dari hati banyak orang, makna yang mengantarkan jamaah haji menuju penyucian jiwa dengan ibadah agung ini. Ketika kita mencermati sarana penyucian jiwa melalui haji, kita dapati bahwa terdapat tiga tahapannya, yaitu sebelum haji dilaksanakan, selama melaksanakan haji, dan setelahnya. 

Sarana-sarana ini dapat diterapkan dalam setiap ibadah, dan rinciannya adalah sebagai berikut:

Pertama: Sarana penyucian jiwa sebelum ibadah

  • Mengikhlaskan ibadah untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu dengan meniatkan ibadah tersebut semata-mata hanya untuk-Nya, bukan untuk riya, sum’ah, atau tujuan-tujuan duniawi lainnya, tapi untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Perhatikanlah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang realisasi keikhlasan dalam haji:

وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ

“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah.” (QS. Al-Baqarah: 196). Dan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda:

مَنْ حَجَّ لِلّٰهِ، فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ، رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ.

“Barangsiapa yang berhaji karena Allah, lalu tidak berkata-kata keji dan tidak berbuat fasik, maka ia kembali (dalam keadaan suci dari dosa) seperti pada hari ia dilahirkan oleh ibunya.” 

  • Mengikuti tuntunan Nabi dan mencontoh beliau dalam setiap amalan haji. Dalam artian, engkau mengejar bentuk amalan yang paling sempurna yang dilakukan Nabi dalam hajinya. Alih-alih mencari keringanan dan alasan-alasan yang dapat membatalkan ibadah dan amalan. 

Ketahuilah selalu bahwa engkau sedang mengejar tujuan agung dalam hajimu, yaitu: “Haji mabrur tidak ada balasannya kecuali surga.” Maka tidak sepatutnya engkau melewatkan kebaikan dan kesempurnaan hajimu dengan mencari-cari keringanan dan menyia-nyiakan kewajiban yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan kepadamu. Oleh sebab itu, engkau harus mempelajari hukum-hukum haji dengan membaca buku tentang tata cara haji yang benar, mendengarkan kajian, dan lain sebagainya.

  • Melatih diri untuk melaksanakan haji, melalui pelaksanaan umrah lebih dari sekali. Hal ini juga berlaku dalam setiap ibadah. Syariat menghadirkan ibadah-ibadah sunnah dari jenis ibadah wajib yang serupa. Pada umumnya, ia bertujuan sebagai latihan dan pembiasaan diri untuk melakukan ibadah wajib. Sebagai contoh, salat sunnah rawatib bagi salat fardhu dan banyak berpuasa sunnah di bulan Sya’ban untuk bersiap menyambut Ramadhan. Ini juga kita temui di haji, dengan membiasakan diri dengan ibadah umrah. Nabi bersabda:

اَلْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا، وَالْحَجُّ الْمَبْرُوْرُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ

“Ibadah umrah ke umrah berikutnya adalah penggugur dosa di antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga.” 

Perhatikanlah bagaimana Nabi menyandingkan umrah dengan haji dalam peraihan pahala, dan dimulai dengan umrah, sehingga umrah merupakan sarana untuk memahami dan menghayati ibadah haji, agar seorang hamba meraih pahala haji. Nabi juga bersabda:

تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ

“Iringilah antara ibadah haji dan umrah.” Dan makna hadis ini menjadi lebih jelas dengan konteks hadis-hadis sebelumnya.

  • Mencermati keutamaan-keutamaan haji dan membuat jiwa kita rindu kepada Tanah Suci, melalui ayat-ayat, hadis-hadis, dan ucapan para ulama yang menggugah semangat untuk berhaji ke Baitullah. Perhatikanlah doa Nabi Ibrahim tentang kecintaan manusia kepada Makkah:

فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ

“Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka.” (QS. Ibrahim: 37).

Dan bisa jadi Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan bagi hati manusia kecintaan dan kecenderungan kepada Baitullah.

Kedua: Sarana penyucian jiwa saat melangsungkan ibadah

  • Selalu teguh dalam keikhlasan dan pengesaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta menghadirkannya dalam setiap amalan, terlebih lagi makna ketauhidan tampak sangat jelas dalam ibadah haji. Perhatikan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang Ibrahim:

وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَنْ لا تُشْرِكْ بِي شَيْئًا

“Dan (ingatlah), ketika Kami tentukan tempat Baitullah bagi Ibrahim (dengan berfirman): ‘Janganlah engkau mempersekutukan Aku dengan apa pun.’” (QS. Al-Hajj: 26).

Perhatikan juga ketauhidan yang ada dalam kalimat talbiyah Nabi, doa beliau di bukit Shafa, Marwah, dan tempat-tempat pelaksanaan haji lainnya. Diriwayatkan juga ketika berihram, beliau mengajarkan orang-orang tentang keikhlasan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak menghiraukan kenikmatan dunia dan pujian manusia. Anas mengatakan: “Nabi berhaji di atas pelana yang usang dan kain beludru yang harganya tidak sampai empat dirham, beliau berdoa: ‘Ya Allah, jadikanlah haji ini tidak mengandung riya dan sum’ah.’”

  •  Mencontoh sang teladan, Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam, yang telah mengajarkan umat bagaimana cara melaksanakan kewajiban ini. Beliau berhaji dengan umatnya lalu bersabda kepada mereka: 

لِتَأْخُذُوا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ

“Hendaklah kalian mempelajari dariku tata cara ibadah haji kalian.” 

  • Menjauhi segala hal yang menghalangi seseorang dari mengoptimalkan pelaksanaan ibadah haji, yaitu dengan menjauhi kemaksiatan dan dosa. “Maka janganlah dia berkata jorok (rafats), berbuat maksiat, dan bertengkar dalam (masa) haji.” (QS. Al-Baqarah: 197).

Juga menjauhi segala hal yang diharamkan saat ia dalam keadaan berihram, karena itu semua sebagai bentuk pengagungan terhadap ibadah haji dan manasik yang dijalankan olehnya. Oleh karenanya, orang yang mengagungkan syiar-syiar Allah Subhanahu wa Ta’ala akan dianugerahi ketakwaan dan amalan yang baik. “Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32).

  • Berhenti di tempat-tempat pelaksanaan haji, dan menghayati sejarah, makna, dan kaitannya dengan tauhid, tawakal, dan pengagungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Nabi bersabda:

قِفُوا عَلَى الْمَشَاعِرِ؛ فَإِنَّهَا مِنْ إِرْثِ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ

“Berhentilah di tempat-tempat pelaksanaan haji ini, karena ia adalah bagian dari warisan ayah kalian, Ibrahim.

Perhatikanlah sai antara Shafa dan Marwah, ingatlah kisah keluarga Nabi Ibrahim dan bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala memuliakan mereka, mengabadikan sejarah mereka, dan menjadikan ibadah haji sesuai dengan cara mereka.

Perhatikan juga tawaf, dan ingatlah bahwa Nabi Ibrahim dan para nabi lainnya bertawaf di Baitullah ini, juga berharap dan berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ingatlah juga Baitul Makmur yang tepat lurus dengannya di langit, para malaikat juga bertawaf mengelilinginya di sana, dan jika satu malaikat telah ke sana, ia tidak akan kembali lagi hingga hari kiamat. Sedangkan engkau dapat kembali ke Baitullah berkali-kali. Ingat dan berlombalah dengan hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala yang saleh dalam beramal saleh. 

Semakin banyak seseorang menghayati amalan-amalan haji ini, semakin meningkat kedekatannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan mengetahui kadar nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tercurah kepadanya dalam pelaksanaan hajinya.

  • Bersabar atas kesulitan yang dihadapi orang yang berhaji selama hajinya. Namun, ketika ia mengetahui besarnya pahala, akan terasa sepele segala keletihan itu. Oleh sebab itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang hal-hal yang dapat mengurangi pahala, Dia berfirman: “Maka janganlah dia berkata jorok (rafats), berbuat maksiat, dan bertengkar dalam (masa) haji.” (QS. Al-Baqarah: 197). Perhatikanlah, bagaimana perselisihan dan perdebatan dapat menghalangi seseorang dari banyak pahala yang besar.

Ketiga: Sarana penyucian jiwa setelah ibadah

  • Introspeksi dirimu, dan tanyakan padanya tentang segala yang ada di antara awal dan akhir ibadahmu, apakah Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni dosaku? Apakah Dia menerima amalanku? Apakah hajiku mabrur?
  • Berbaik sangka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam penerimaan ibadahmu. Ketahuilah bahwa baik sangka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala menuntutmu untuk tidak terbuai dengan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah menutupi aib-aibmu.
  • Jangan mengajak dirimu untuk bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala karena ada sebagian orang yang ketika sedang beribadah atau hampir menyelesaikannya, ia mulai memikirkan dosa dan kemaksiatan yang baru saja ia bertaubat darinya. Subhanallah! Apakah seperti ini bentuk syukur atas nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberimu taufik dan petunjuk, dan memudahkanmu untuk menjadi salah satu jemaah haji, kemudian engkau berniat untuk bermaksiat lagi padahal engkau belum keluar dari Rumah-Nya yang agung! Kami memohon ampunan-Mu, ya Allah!
  • Wahai orang yang sudah bertaubat, teguhkanlah dirimu di atas pertaubatan dan keinsafanmu. Berdoalah kepada Tuhanmu: “Ya Allah, janganlah engkau jadikan ini sebagai akhir bagiku berada di Rumah-Mu. Jadikanlah kami orang yang berhaji dan umrah dengan meraih ampunan dosa dan perbaikan hati.”

Penutup 

Ada orang saleh yang menangis saat melepas keberangkatan jemaah haji. Ia bergumam dalam hati: “Duhai sedihnya!” Ia bersedih atas ketidakmampuannya melaksanakan haji ke Baitullah. Lalu ia berkata: “Ini kesedihan orang yang terputus dari Baitullah, lalu bagaimana dengan orang yang terputus dari Allah Subhanahu wa Ta’ala?”

Saya memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar tidak mengharamkan kita dari berhaji ke Baitullah, menikmati nikmat bermunajat kepada-Nya, dan mendekat kepada-Nya tahun demi tahun. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima amalan kita semua.

Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada hamba dan nabi-Nya, Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam, dan kepada keluarga dan para sahabat beliau.

Sumber:

https://www.alukah.net/spotlight/0/8210/كيف-نتزكى-بالحج؟/

Sumber artikel

🔍 Pengertian Orang Fasik, Ayat Alquran Pengusir Setan Mp3, Amalan Untuk Ibu Hamil Menurut Islam, Dalil Tentang Zuhud, Doa Punya Anak

Visited 1 times, 1 visit(s) today

QRIS donasi Yufid