Anak-anak memiliki banyak hak yang harus ditunaikan oleh orang tua mereka karena mereka adalah buah hati dan penyejuk mata. Di antara hak-hak tersebut adalah:
- Seorang ayah harus benar-benar memilih ibu yang baik bagi anaknya karena keturunan yang saleh akan lahir dari istri yang salehah.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan ciri-ciri wanita yang dapat dipilih sebagai istri dalam hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
تُنْكَحُ ٱلْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ؛ لِمَالِهَا، وَلِحَسَبِهَا، وَلِجَمَالِهَا، وَلِدِينِهَا؛ فَٱظْفَرْ بِذَاتِ ٱلدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ
“Seorang wanita dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah yang baik agamanya, niscaya engkau beruntung.” (HR. al-Bukhari).
Istri salehah adalah istri yang jika suaminya memandangnya, suaminya bahagia karenanya; apabila sang suami tidak ada di sisinya, sang istri mampu menjaga diri dan hartanya. Ia adalah wanita yang membantu suaminya untuk menjalankan ketaatan kepada Allah Jalla wa ‘Ala. Ia merupakan pendukung terbaik bagi suaminya dalam urusan agama dan dunianya.
Istri salehah adalah istri yang mendidik anak-anaknya agar memiliki sifat jujur, amanah, serta menjaga kehormatan dan kemuliaan diri. Ia adalah wanita yang mengetahui kewajibannya terhadap Tuhannya, suaminya, anak-anaknya, rumah tangganya, agama dan dakwahnya, serta masyarakat di tempat ia tinggal. Ia adalah wanita yang bermanfaat bagi masyarakat, ia menunaikan segala kewajibannya dengan terukur dan teratur, tidak lalai dan tidak berlebihan.
Apabila ia menunaikan itu semua, maka balasannya di sisi Allah amatlah agung dan membahagiakan. Diriwayatkan dari Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا صَلَّتِ ٱلْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا؛ قِيلَ لَهَا: ٱدْخُلِي ٱلْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ ٱلْجَنَّةِ شِئْتِ.
“Apabila seorang wanita melaksanakan shalat lima waktunya, berpuasa pada bulannya (Ramadan), menjaga kehormatannya, dan menaati suaminya, maka dikatakan kepadanya: ‘Masuklah ke dalam surga melalui pintu surga mana saja yang engkau kehendaki.’” (HR. Ahmad).
- Orang tua harus memilih nama yang baik untuk anaknya.
Diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ أَحَبَّ أَسْمَائِكُمْ إِلَى ٱللَّهِ: عَبْدُ ٱللَّهِ وَعَبْدُ ٱلرَّحْمَٰنِ
“Sesungguhnya nama yang paling dicintai Allah di antara nama-nama kalian adalah Abdullah dan Abdurrahman.” (HR. Muslim).
Oleh karena itu, seorang ayah hendaknya memilihkan nama yang baik bagi anaknya karena kelak anak tersebut akan dipanggil dengan nama itu pada hari Kiamat. Di antara nama-nama yang baik adalah nama-nama para Nabi, para sahabat, dan lainnya yang mengandung makna yang agung yang membuat anak itu bangga ketika dewasa.
- Orang tua hendaknya mengajarkan anaknya al-Qur’an.
Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Tidak ada hal yang lebih afdal setelah amalan wajib daripada menuntut ilmu karena ia merupakan cahaya yang memberi petunjuk bagi orang yang kebingungan.”
Al-Qabisi berkata, “Orang tua yang berharap kepada Allah agar Dia menjadikan anaknya penyejuk hati, tidak akan pelit mengeluarkan harta untuk mengajarkan Al-Qur’an. Nafkah yang dikeluarkan untuk pendidikan Al-Qur’an bisa menjadikan orang tua termasuk orang-orang yang berlomba dalam kebaikan. Orang tua yang mengajarkan anaknya dengan baik dan mendidik dengan adab yang baik telah melakukan amal besar yang sangat diharapkan mendapatkan pahala berlipat dari Allah.”
Apabila seorang ayah melakukan hal tersebut, sesungguhnya ia sedang memberikan manfaat bagi dirinya sendiri karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:
إِذَا مَاتَ ٱلْإِنْسَانُ ٱنْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim).
Hak-hak tersebut ditegaskan melalui tanggapan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu terhadap seorang pemuda yang diadukan oleh ayahnya kepada beliau. Jadi, pernah ada seorang ayah yang datang kepada Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu untuk mengadukan kedurhakaan anaknya.
Umar lalu memanggil anak itu dan bertanya kepadanya, “Mengapa kamu durhaka kepada ayahmu?”
Anak itu menjawab, “Wahai Amirul Mukminin! Bukankah anak juga punya hak yang harus ditunaikan ayahnya?”
Beliau menjawab, “Ya.”
Anak itu bertanya, “Apa saja hak-hak itu?”
Beliau menjawab, “Memilih ibu (yang baik), memberinya nama yang baik, dan mengajarkan Al-Qur’an kepadanya.”
Anak itu lalu berkata, “Ayahku tidak melakukan satu pun dari hal-hal tersebut. Adapun ibuku, beliau adalah mantan budak wanita dari Zanj (daerah di Afrika yang penduduknya berkulit hitam) yang dimiliki orang Majusi. Ayahku memberiku nama Ju’la (sejenis kumbang) dan ia tidak mengajariku satu kata pun dari Al-Qur’an.”
Amirul Mukminin Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pun menoleh kepada ayahnya dan berkata, “Hai kamu! Kamu datang kepadaku untuk mengadukan kedurhakaan anakmu, padahal kamu telah durhaka terlebih dahulu kepadanya. Kamu telah berbuat buruk terhadapnya sebelum ia berbuat buruk kepadamu.”
Wahai ayah! Wahai ibu!
Bertakwalah kepada Allah terhadap buah hati dan penyejuk mata kalian karena anak-anak adalah amanah besar yang ada di pundak kalian. Kelak kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka pada hari Kiamat.
Apabila kalian telah baik dalam menuntun mereka, maka itulah sebaik-baik nikmat. Tetapi, jika belum, masih ada kesempatan di hadapan kalian. Manfaatkanlah umur yang tersisa ini untuk mengarahkan mereka kepada kebaikan dan menunjukkan jalan menuju kebaikan tersebut sehingga mereka mengikutinya, mengetahui jalan ilmu lalu menimba ilmu darinya, serta menempuh jalan cahaya sehingga mereka tidak tersesat.
Pilihkanlah mereka teman-teman yang baik, karena teman punya pengaruh besar dalam kehidupan manusia. Dalam menjalani kehidupan ini, seseorang pasti akan memengaruhi orang lain atau terpengaruh oleh orang lain. Apabila imannya kuat, akidahnya kokoh, serta memiliki akhlak dan perilaku yang baik, maka ia akan memberi pengaruh kepada orang lain dengan akhlaknya yang baik itu. Sebaliknya, apabila ia lemah imannya dan mudah goyah pemikirannya, maka ia akan terpengaruh sifat-sifat tercela orang lain.
Ayah dan ibu hendaknya senantiasa memantau anak-anak mereka serta menanyakan tentang teman-teman mereka, apa saja yang mereka kerjakan dan mereka katakan. Hal ini agar para orang tua dapat mengenali dan mengantisipasi sifat-sifat buruk teman-teman tersebut, baik itu teman di sekolah, di jalan, di kompleks, di komunitas, maupun di masjid.
Dalam hal ini, hendaknya setiap orang tua memberikan perhatian besar terhadap sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
مَثَلُ ٱلْجَلِيسِ ٱلصَّالِحِ وَٱلْجَلِيسِ ٱلسُّوءِ، كَمَثَلِ حَامِلِ ٱلْمِسْكِ وَنَافِخِ ٱلْكِيرِ؛ فَحَامِلُ ٱلْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، أَوْ تَشْتَرِيَ مِنْهُ، أَوْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ ٱلْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، أَوْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا مُنْتِنَةً
“Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Pembawa minyak wangi, bisa jadi ia akan memberimu (minyak wangi), atau engkau membeli darinya, atau engkau mendapatkan darinya aroma yang harum. Adapun pandai besi, bisa jadi ia akan membuat pakaianmu terbakar, atau engkau mendapatkan darinya bau yang tidak sedap.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Juga sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
ٱلْمَرْءُ عَلَىٰ دِينِ خَلِيلِهِ؛ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
“Seseorang itu berada di atas agama (jalan hidup) teman dekatnya. Maka hendaklah salah seorang dari kalian memperhatikan dengan siapa ia berteman.” (HR. at-Tirmidzi).
Juga sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
إِيَّاكَ وَقَرِينَ ٱلسُّوءِ؛ فَإِنَّكَ بِهِ تُعْرَفُ
“Jauhilah teman yang buruk, karena engkau dikenal (dinilai) melalui dirinya.” (HR. Ibnu Asakir).
Para orang tua hendaknya membiasakan anak-anak mereka untuk mengingat Allah sejak dini. Sebab, orang-orang yang senantiasa bersama Allah tidak akan menyesal, mereka akan memperoleh keberuntungan, dan hidup dalam kebahagiaan serta ketenteraman, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
أَخْلِصْ دِينَكَ يَكْفِكَ ٱلْقَلِيلُ مِنَ ٱلْعَمَلِ
“Ikhlaskan agamamu, niscaya sedikit amal sudah mencukupimu.”
Mengingat Allah juga dapat dilakukan dengan mengucapkan perkataan yang baik, menyingkirkan gangguan dari jalan, menegakkan amar makruf nahi mungkar, mendamaikan dua pihak yang berselisih, saling tolong menolong dan gotong-royong, bersedekah kepada orang miskin, anak yatim, atau orang yang membutuhkan, memasang wajah berseri-seri di hadapan orang lain, bertransaksi yang jujur saat jual beli, dan dengan segala hal yang dicintai dan diridai Allah.
Demikianlah yang wajib kita lakukan dalam mendidik anak-anak kita sehingga mereka menjadi bekal pahala bagi kita setelah wafat.
Ya Allah, limpahkanlah selawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad ﷺ, dan kepada keluarga dan seluruh sahabat beliau.
***
Prof. Dr. Abdullah bin Muhammad ath-Thayyar
Sumber:
https://www.alukah.net/social/0/9609/حقوق-الأبناء-على-الآباء/
🔍 Shalat Syuruq Adalah, Wallpaper Makam Nabi Muhammad, Yang Mewajibkan Mandi Besar, Sunnah Sholat Ied, Khutbah Idul Fitri 2018
