Konsultasi Kesehatan dan Tanya Jawab Pendidikan Islam https://konsultasisyariah.com KonsultasiSyariah.com Fri, 21 Apr 2017 07:12:33 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=4.7.4 Boleh Shalat di Waktu Kapanpun di Masjidil Haram? https://konsultasisyariah.com/29432-boleh-shalat-di-waktu-kapanpun-di-masjidil-haram.html Fri, 21 Apr 2017 02:06:47 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29432 Shalat di Masjidil Haram Kapanpun?

Katanya di masjidil haram dibolehkan shalat di waktu kapanpun termasuk setelah subuh. Apa benar? krn shalat jenazah d sini juga dilakukan setelah subuh…

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Dalam hadis dari Jubair bin Muth’im radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berpesan kepada Bani Abdi Manaf yang

يَا بَنِى عَبْدِ مَنَافٍ لاَ تَمْنَعُوا أَحَدًا طَافَ بِهَذَا الْبَيْتِ وَصَلَّى أَيَّةَ سَاعَةٍ شَاءَ مِنْ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ

Wahai Bani Abdi Manaf, jangan kalian melarang siapapun untuk thawaf di Baitullah ini, dan melaksanakan shalat di waktu kapanpun yang dia kehendaki siang maupun malam. (HR. Nasai 592, Turmudzi 877, dan dishahihkan al-Albani).

Setelah menyebutkan hadis ini, at-Turmudzi mengatakan,

وقد اختلف أهل العلم فى الصلاة بعد العصر وبعد الصبح بمكة فقال بعضهم لا بأس بالصلاة والطواف بعد العصر وبعد الصبح. وهو قول الشافعى وأحمد وإسحاق واحتجوا بحديث النبى -صلى الله عليه وسلم- هذا.

Ulama berbeda pendapat mengenai hukum shalat setelah asar dan setelah subuh di Mekah. Sebagian ulama mengatakan tidak masalah shalat sunah dan thawaf setelah asar dan subuh. Ini merupakan pendapat Imam as-Syafii, Imam Ahmad, dan Ishaq bin Rahuyah. Mereka berdalil dengan hadis di atas.

وقال بعضهم إذا طاف بعد العصر لم يصل حتى تغرب الشمس وكذلك إن طاف بعد صلاة الصبح لم يصل حتى تطلع الشمس. واحتجوا بحديث عمر أنه طاف بعد صلاة الصبح فلم يصل وخرج من مكة حتى نزل بذى طوى فصلى بعد ما طلعت الشمس. وهو قول سفيان الثورى ومالك بن أنس.

Sebagian mengatakan, jika ada yang thawaf setelah asar, maka shalat sunah setelah thawaf dilaksanakan waktu maghrib. Demikian pula bagi yang thawaf setelah subuh, maka tidak boleh shalat setelah thawaf sampai terbit matahari. Mereka berdalil dengan hadis Umar, bahwa beliau  pernah thawaf setelah subuh, dan beliau tidak langsung shalat setelah thawaf, sampai beliau keluar Mekah, lalu singgah di Dzi Tuwa dan shalat setelah terbit matahari. Ini merupakan pendapat Sufyan at-Tsauri dan Imam Malik bin Anas. (Sunan Turmudzi, 3/479)

Penjelasan Turmudzi di atas seputar shalat pasca-thawaf. Dalam penjelasan an-Nawawi, bolehnya shalat di waktu terlarang, juga berlaku untuk semua shalat sunah

Dalam madzhab Syafi’iyah

قال أصحابنا: لا تكره الصلاة بمكة في هذه الأوقات، سواء في ذلك صلاة الطواف وغيرها، هذا هو الصحيح المشهور عندهم

Para ulama madzhab kami berpendapat, tidak makruh shalat di Mekah di waktu-waktu terlarang, baik shalat sunah setelah thawaf atau shalat sunah lainnya. Inilah pendapat yang benar yang masyhur dalam madzhab Syafiiyah.  (al-Majmu’ Syarh Muhadzab, 4/179)

Dan hukum ini hanya berlaku khusus untuk masjidil haram dan tidak berlaku untuk masjid lainnya.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Apakah yang Mengalami LGBT Dilaknat Allah? https://konsultasisyariah.com/29429-apakah-yang-mengalami-lgbt-dilaknat-allah.html Thu, 20 Apr 2017 01:54:56 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29429 Terjangkit LGBT Dilaknat Allah?

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh ustadz. mau tanya ustadz tentang hukum orang homoseks tapi dia menahan perasaannya itu. jadi gini ustadz, entah darimana asalnya, sejak saya SMP, saya merasa tertarik sama sejenis, hingga sekarang saya kuliah. tapi, saya bisa menahan itu semua dengan memperteguh iman saya, memperbanyak sunnah, hafalan quran, dsb. saya sudah mencoba untuk tidak tertarik dengan lelaki dan suka sama perempuan. tapi gak bisa dipungkiri kalau melihat lelaki tampan, walaupun sedikit pasti ada rasa tertarik ustadz. Saya juga belum pernah sama sekali merealisasikan perasaan saya. Pikiran saya selalu positif bahwa ini adalah ujian terberat saya dari Allah. Saya mau tanya, apakah saya masih termasuk manusia yg dilaknat Allah ustadz? termakasih

Jawab:

Wa ‘alaikumus salam warahmatullahi wabarakatuh

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Pertama, kami mengajak anda untuk memahami bahwa kecenderungan terhadap sejenis termasuk diantara penyakit mental. Dan Allah Ta’ala memberi ujian kepada manusia, salah satunya dalam bentuk penyakit.

Allah berfirman,

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. al-Baqarah: 155)

Ibnu Katsir menyebutkan keterangan sebagian ahli tafsir, bahwa diantara makna kekurangan jiwa adalah mengalami sakit. Dan puncaknya dalam bentuk hilangnya nyawa, artinya mati. (Tafsir Ibnu Katsir, 1/467).

Dan bentuk penyakit ada 2:

[1] Peyakit fisik, seperti difabel atau sakit fisik lainnya

[2] Penyakit mental, seperti kelainan akal, ideot, telat mikir, termasuk diantaranya memiliki kecenderungan terhadap manusia sejenis.

Kedua, setelah kita memahami bahwa LGBT termasuk penyakit, sebagai manusia yang normal, tentu dia akan sedih. Karena dia menyadari, dirinya tidak normal. Bukan malah dibanggakan. Tidak ada manusia normal yang bangga dengan penyakitnya.

Ada waria, semakin dibuat-buat jadi banci, lalu meniru gaya wanita tak bermoral, ini membanggakan kondisi abnormal. Mentalnya tidak normal, dan jiwanya juga tidak normal. Makanya para waria adalah manusia yang cacat jiwa, cacat mental.

Dengan demikian, bagi siapapun yang mengalami kondisi LGBT, jangan sampai dibanggakan. Anda bangga dengan kondisi LGBT, justru menunjukkan bahwa anda sangat tidak normal.

Anda bisa perhatikan, LGBT yang membuat komunitas untuk memperjuangkan agar dilegalkan, adalah manusia yang cacat mental dan jiwanya. Mereka memperjuangkan agar penyakitnya dilegalkan. Manusia seperti ini tidak akan pernah berjuang untuk menyembuhkan penyakitnya.

Ketiga, Orang yang mengalami musibah fisik, merasakan sakit dan dia bersabar, dia akan mendapatkan pahala dan akan menghapuskan dosa-dosanya. Seperti itu pula orang yang mengalami musibah mental. Jika dia bisa bersabar, dia akan mendapatkan pahala dan musibah itu akan menjadi kafarah bagi dosa-dosanya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

“Sesungguhnya Allah ketika mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka denagn musibah. Siapa yang ridha dengan musibah itu maka dia akan mendapatkan ridha Allah. Sebaliknya, siapa yang marah dengan musibah itu maka dia akan mendapatkan murka Allah.” (HR. Ahmad 23623, Tirmidzi 2396 dan dishahihkan al-Albani).

Sesungguhnya ujian yang Allah berikan kepada para hamba, hakikatnya didasari kecintaan Allah kepada hamba-Nya. Karena seorang hamba akan bisa mendapatkan derajat yang lebih tinggi, ketika mereka mendapatkan ujian dan mampu bersabar terhadap ujian tersebut.

Namun ada dua sikap manusia yang berbeda. Ada yang memahami musibah  itu dengan baik, sehingga dia bisa ridha terhadap ujian yang Allah berikan. Dia berkeyakinan bahwa ujian ini adalah sumber pahala baginya. Sehingga sama sekali dia tidak merasa telah didzalimi oleh Allah. Di saat itulah, Allah akan memberikan keridhaan dan pahala yang besar kepadanya.

Sebaliknya, ada orang yang menyikapi musibah itu dengan cara yang salah. Dia menganggap sakit ini adalah kezaliman dan ketidakadilan. Mengapa dia sakit, sementara orang lain tidak sakit. Mereka dia tidak bisa mendapatkan kenikmatan hidup, sementara tetangganya bisa mendapatkan banyak kenikmatan. Dia marah dan tidak sabar dengan musibahnya. Sebagai hukumannya, Allah justru murka kepadanya.

Anda resah, anda sedih, dan anda bersabar, itu akan menjadi kafarah dosa,

Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ شَيْءٍ يُصِيْبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ نَصَبٍ، وَلاَ حَزَنٍ، وَلاَ وَصَبٍ، حَتَّى الْهَمُّ يُهِمُّهُ؛ إِلاَّ يُكَفِّرُ اللهُ بِهِ عَنْهُ سِيِّئَاتِهِ

“Tidaklah ada suatu musibahpun yang menimpa seorang muslim, baik keletihan atau sakit atau kesedihan atau kegelisahan atau gangguan atau gundah gulana bahkan duri yang menusuknya kecuali Allah akan menjadikan hal itu sebab untuk menghapus dosa-dosanya.” (HR. Bukhari 5641 dan Muslim 2245)

Jangan sampai anda punya pikiran bahwa semua orang yang punya kecenderungan LGBT itu dilaknat… karena tidak semua LGBT melampiaskan kecenderungannya. Benar dia punya kecenderungan terhadap sejenis, tapi itu kelainan di luar kemampuannya.

Keempat, apa yang anda lakukan, insyaaAllah sudah benar. Berusaha untuk menghiasi diri dengan sunah, dengan hal-hal yang bermanfaat…

Kami juga sarankan agar anda berkonsultasi ke psikiater yang amanah, barangkali bisa membantu anda untuk mencari solusi untuk terapi.

Referensi tambahan yang bisa anda pelajari: Ingin Sembuh dari Gay

Semoga bermanfaat…

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Zakat Walet https://konsultasisyariah.com/29423-zakat-walet.html Wed, 19 Apr 2017 02:19:09 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29423 Cara Menghitung Zakat Walet

Bagaimana cara menghitung zakat burung walet? Apakah termasuk hewan ternak yang wajib dizakati?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Binatang ternak yang wajib dizakati hanya ada 3: onta, sapi dan kambing. Selain itu, tidak ada kewajiban zakat, meskipun binatang itu dimiliki secara pribadi dan produktif. Seperti ayam ternak, ikan yang diternak, termasuk burung walet.

Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu pernah menulis surat kepada Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, yang ditugaskan ke Bahrain,

بسم الله الرحمن الرحيم، هذه فريضة الصدقة التي فرض رسول الله – صلى الله عليه وسلم – على المسلمين، والتي أمر الله بها رسوله، … في أربع وعشرين من الإبل فما دونها من الغنم من كلِّ خمسٍ شاةٌ…

Bismillahirrahmanirrahim,

Ini adalah pembagian harta zakat yang ditetapkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kaum muslimin, dan yang diperintahkan Allah untuk Rasul-Nya… jika onta mencapai 24 ada zakatnya berupa kambing, di setiap 5 ekor onta, zakatnya 1 ekor kambing… (HR. Bukhari 1454).

Kemudian Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu menyebutkan rincian nishab (batas wajib zakat) untuk onta, sapi, dan kambing.

Lalu bagaimana dengan zakat walet?

Untuk hewan waletnya, tidak dizakati. Karena walet tidak dimiliki. Walet dibebaskan liar, sehingga bisa datang pergi ke tempat siapapun. Dan kalaupun ditangkap kemudian ditaruh di sangkar, justru burung ini tidak bisa menghasilkan karena stres.

Karena itulah, yang dizakati adalah hasil dari burung ini, air liurnya dan sarangnya yang bisa dijual.

Bagaimana perhitungan zakatnya?

Zakatnya mengikuti perhitungan zakat mal. Nishab zakat mal adalah 85 gr emas. Jika asumsi harga emas adalah 500rb/gr, berarti konversi rupiah 42,5 juta.

Hasil penjualan sarang walet, jika mencapai Rp 42,5 juta berarti telah mencapai nishab. Selanjutnya jika selama setahun tidak kurang dari ini, maka dizakati 2,5%.

Apakah digabungkan dengan simpanan harta yang lain?

Jika simpanan harta itu juga dari hasil walet, maka digabungkan. Dari dari selain walet, misalnya dari gaji karyawan, maka tidak perllu digabungkan.

Misalnya, si A seorang karyawan pertamina, memiliki

[1] tabungan dari gaji senilai 50 jt di bulan Rajab 1437

[2] hasil walet kandang pertama Rp 20 jt di bulan Syawal 1437

Pada saat Dzulhijjah 1437, kandang walet kedua panen, dan setelah dijual menghasilkan 30 jt.

Sehingga total hasil walet Rp 50 jt.

Kapan si A zakat?

[1] Untuk tabungan dari gaji, dia zakati di bulan Rajab 1438

[2] Untuk hasil walet di Dzulhijjah 1438, karena di bulan ini hasil walet baru mencapai nishab.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Halal yang Dibenci Allah https://konsultasisyariah.com/29419-halal-yang-dibenci-allah.html Tue, 18 Apr 2017 01:49:00 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29419 Perkara Halal yang Dibenci Allah

Benarkah talak adalah perkara halal yang dibenci Allah? katanya ada hadisnya…

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Terdapat hadis dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, secara marfu’ yang menyatakan,

أَبْغَضُ الْحَلَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى الطَّلَاقُ

“Halal yang paling dibenci Allah adalah thalak.”

Hadis ini diriwayatkan Abu Daud no. 2180 dari jalur Katsir bin Ubaid, dari Muhammad bin Khalid, dari Muarrif bin Washil, dari Muharib bin Ditsar.

Dalam keterangannya di dhaif Sunan Abu Daud bahwa Muhammad bin Khalid membawakan riwayat yang berbeda dengan 3 perawi tsiqah lainnya. Menurut riwayat para perawi tsiqah lainnya, hadis ini mursal dari Muharib bin Ditsar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tanpa Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma.

Karena itulah, para ulama mengkategorikan hadis ini sebagai hadis dhaif. Al-Baihaqiy mengatakan,

هَذَا حَدِيثُ أَبِي دَاوُدَ، وَهُوَ مُرْسَلٌ، وَفِي رِوَايَةِ ابْنِ أَبِي شَيْبَةَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، مَوْصُولا وَلا أَرَاهُ حَفِظَهُ

“Ini adalah hadits Abu Daawud, dan ia mursal. Dan pada riwayat Ibnu Abi Syaibah (yaitu Muhammad bin ‘Utsmaan bin Abi Syaibah), dari ‘Abdullaah bin ‘Umar diriwayatkan secara maushul, aku tidak melihat riwayat ini terjaga.” (Sunan Al-Kubraa 7/320; Sunan Ash-Shaghiir no. 2786)

Meskipun kita mengakui bahwa talak tidak disukai dalam islam. karena ini salah satu misi besar iblis.

Dalam hadis dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, Nabi ‘alaihis shalatu was salam bersabda,

إِنَّ إِبْلِيسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً يَجِىءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا فَيَقُولُ مَا صَنَعْتَ شَيْئًا قَالَ ثُمَّ يَجِىءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ – قَالَ – فَيُدْنِيهِ مِنْهُ وَيَقُولُ نِعْمَ أَنْتَ

“Sesungguhnya iblis singgasananya berada di atas laut. Dia mengutus para pasukannya. Setan yang paling dekat kedudukannya adalah yang paling besar godaannya. Di antara mereka ada yang melapor, ‘Saya telah melakukan godaan ini.’ Iblis berkomentar, ‘Kamu belum melakukan apa-apa.’ Datang yang lain melaporkan, ‘Saya menggoda seseorang, sehingga ketika saya meninggalkannya, dia telah bepisah (talak) dengan istrinya.’ Kemudian iblis mengajaknya untuk duduk di dekatnya dan berkata, ‘Sebaik-baik setan adalah kamu.’” (HR. Muslim 2813).

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Memilih Waktu Kajian Khusus, Bid’ah? https://konsultasisyariah.com/29416-memilih-waktu-kajian-khusus-bidah.html Mon, 17 Apr 2017 02:35:59 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29416 Mengkhususkan Waktu untuk Kajian, Termasuk Bid’ah?

Tanya pak ustadz
Di sebuah masjid, ada kajian setiap hari kecuali hari jumat. Apakah ini termasuk bid’ah…?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Dalam hadis dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, beliau bercerita,

Ada beberapa wanita meminta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

غَلَبَنَا عَلَيْكَ الرِّجَالُ ، فَاجْعَلْ لَنَا يَوْمًا مِنْ نَفْسِكَ . فَوَعَدَهُنَّ يَوْمًا لَقِيَهُنَّ فِيهِ ، فَوَعَظَهُنَّ وَأَمَرَهُنَّ

Kami kalah dengan para kaum lelaki (ketika mendengarkan ceramah anda), karena itu jadikan satu hari anda, khusus untuk kami. Kamudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjanjikan satu hari khusus untuk pertemuan dengan para wanita. Beliau menasehati mereka dan memrintahkan mereka… (HR. Bukhari 101).

Dari diriwayatkan dari Abu Wail, beliau menceritakan,

كَانَ عَبْدُ اللَّهِ بنُ مَسْعُود يُذَكِّرُ النَّاسَ فِى كُلِّ خَمِيسٍ

“Bahwa Abdullah bin Mas’ud memberi kajian di masyarakat setiap hari kamis.” (HR. Bukhari 70).

Ini semua merupakan dalil bolehnya menentukan waktu tertentu untuk kajian atau untuk pertemuan. Dan bukan termasuk membuat id (hari raya), yang dilarang dalam islam. karena hari raya yang diizinkan hanyalah hari raya idul fitri dan idul adha.

Syaikh Dr. Abdul Aziz ar-Rais ketika menjelaskan ini mengatakan,

لو أن قوما اجتمعوا وحددوا يوما في الشهر أو يوما في السنة يجتمعون في هذا اليوم هذا لا يعد عيدا لأن الزمان ليس مرادا لذاته وإنما جاء تبعا لا قصدا…

Jika ada sekelompok orang mereka berkumpul dan menentukan satu hari tertentu dalam sebulan atau dalam setahun, lalu mereka berkumpul untuk kajian, ini tidak disebut id. Karena waktu yang ditentukan bukan tujuan utama, namun sifatnya mengikuti, bukan menjadi maksud utama.

Kemudian Dr. Abdul Aziz menyebutkan dua riwayat di atas.

(rekaman kajian – man thalabal ilma fal yudaqqiq – http://islamancient.com/)

Karena itu, mengadakan kajian rutin di hari tertentu, lalu ada bagian yang libur, bukan termasuk bid’ah dan bukan termasuk membuat hari raya…

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Menikah dengan Mahar Terutang https://konsultasisyariah.com/29413-menikah-dengan-mahar-terutang.html Fri, 14 Apr 2017 00:24:09 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29413 Menikah dengan Mahar Terutang

Jadi begini ustad, apakah boleh kita menikah dengan membayar MAHARNYA dicicil semampu kita

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Mahar pernikahan boleh dibayarkan tunai, juga boleh dibayarkan secara bertahap (tidak tunai).

Ibnu Qudamah mengatakan,

ويجوز أن يكون الصداق معجلا ومؤجلا وبعضه معجلا وبعضه مؤجلا لأنه عوض في معاوضة فجاز ذلك فيه كالثمن

Mahar boleh disegerakan dan boleh ditunda. Boleh juga sebagian disegerakan, dan sebagian ditunda. Karena mahar termasuk bayaran dalam akad muawadhah (imbal-balik), sehingga boleh disegerakan atau ditunda, seperti harga. (al-Mughni, 8/22)

Keterangan lain disampaikan Syaikhul Islam ketika menjelaskan masalah surat nikah, yang tertulis jenis maharnya,

ولم يكن الصحابة يكتبون “صداقات” لأنهم لم يكونوا يتزوجون على مؤخر ؛ بل يعجلون المهر ، وإن أخروه فهو معروف ، فلما صار الناس يتزوجون على المؤخر والمدة تطول ويُنسى : صاروا يكتبون المؤخر ، وصار ذلك حجة في إثبات الصداق ، وفي أنها زوجة له

Dulu para sahabat tidak menulis mahar, karena mereka tidak menikah dengan mahar tertunda, namun mereka segerakan mahar. Andai mereka akhirkan, itu akan dikenal. Ketika masyarakat menikah dengan mahar tertunda, sementara waktunya panjang dan kadang lupa, maka mereka menulis mahar yang tertunda. Bukti tertulis ini menjadi dasar mahar terutang, dan bahwa wanita ini adalah istrinya. (Majmu’ Fatawa, 32/131)

Semua kembali kepada kesepakatan

Imam Ibnu Baz menjelaskan tentang teknis pembayaran mahar,

هذه المسألة ترجع إلى اتفاق الزوجين ، أو الزوج وولي المرأة ، إذا اتفقا على شيء فلا بأس به ، من تعجيل أو تأجيل ، كل ذلك واسع والحمد لله ؛ لقوله صلى الله عليه وسلم : (الْمُسْلِمُونَ عَلَى شُرُوطِهِمْ)

Permasalahan ini kembali kepada kesepakatan suami-istri atau kesepakatan suami dan wali wanita. Ketika mereka sepakat dalam hal tertentu, tidak masalah, seperti menyegerahkan mahar atau menundanya. Semua itu longgar, walhamdulillah… berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kaum muslimin harus mengikuti kesepakatan mereka.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 21/89)

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Hukum Berkendara Tanpa Memiliki SIM https://konsultasisyariah.com/29408-hukum-berkendara-tanpa-memiliki-sim.html Thu, 13 Apr 2017 02:38:37 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29408 Tidak Punya SIM

Jika kita berkendaraa tidak memakai sim, bgamn hukumnya?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Pada prinsipnya setiap muslim harus memenuhi setiap aturan yang berlaku baginya. Termasuk aturan ketika dia ber-lalu lintas. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمُسْلِمُونَ عَلَى شُرُوطِهِمْ

“Setiap muslim harus mengikuti kesepakatan mereka.” (HR. Abu Daud 3596, ad-Daruquthni 2929 dan yang lainnya).

Dalam Fatwa Lajnah Daimah dinyatakan,

“Peraturan lalu lintas ditetapkan demi kemaslahatan umum kaum muslimin. Wajib bagi seluruh pengemudi untuk memperhatikan dan melaksanakan peraturan tersebut. Karena ketika aturan itu dilaksanakan menghasilkan maslahat bagi masyarakat. Sebaliknya ketika itu dilanggar, akan terjadi banyak kecelakaan dan membahayakan orang lain serta akan ancaman bahaya lainnya.” (Fatwa Lajnah no. 15752)

Syaikh Ibnu Baz juga menerangkan,

“Setiap muslim dan non muslim tidak diperbolehkan melanggar aturan negara dalam hal lalu lintas. Karena pelanggaran itu bisa membahayakan dirinya dan orang lain.

Negara membuat aturan itu didasari semangat untuk mewujudkan maslahat bagi semua masyarakat dan menghindari bahaya yang mengancam kaum muslimin. Oleh karena itu siapapun tidak boleh melanggar aturan itu. Para penanggung jawab berhak untuk memberi sanksi orang yang melakukan pelanggaran.” (Fatawa Islamiyah, 4/536).

Standardisasi di negara kita, bagi mereka yang hendak menggunakan kendaraan bermotor, dia diharuskan memiliki surat izin yang dikeluarkan pihak kepolisian. Tujuannya adalah untuk menekan angka pengguna jalan yang belum memenuhi kelayakan, sehingga bisa memicu kecelakaan.

Karena itu,

[1] Sudah selayaknya setiap calon pengendara yang belum memiliki sim agar mengikuti standar yang ditetapkan pemerintah.

[2] Selayaknya bagi penyelenggara penerbitan SIM untuk mengikuti SOP dalam penerbitan sim, agar pengguna kendaraan di masyarakat bisa lebih baik..

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Hukum Paytren (Bagian 04) https://konsultasisyariah.com/29401-hukum-paytren-bagian-04.html Wed, 12 Apr 2017 01:05:20 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29401 Hukum Paytren (Bagian 04)

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Islam mencegah setiap celah munculnya penipuan, penyesalan sepihak, ketidak nyamanan dalam setiap transaksi yang dilakukan. Karena itulah, islam melarang adanya gharar (ketidak-jelasan) dalam transaksi.  Dalam transaksi di masa silam, bentuk gharar cukup jelas terlihat. Seperti ba’i mulamasah, munabadzah, atau ijon untuk buah yang belum layak dipanen[1].

Lain halnya dengan transaksi kontemporer. Mengingat teori Opportunity is Market (peluang pasar adalah pasar), kebanyakan sisi gharar (ketidak-jelasan) terletak pada peluang pasar. Karena itulah, peluang pasar di zaman kita dijual. Mulai dari asuransi, MLM, bisnis afiliasi, dan semacamnya, semua yang dijual adalah peluang pasar. Terlebih transaksi modern lebih banyak didominasi di dunia maya, dan lebih menekankan transaksi tidak tunai. Sehingga keberadaan barang dan jasa menjadi tidak signifikan.

Apapun itu, baik gharar kuno, maupun gharar modern, semua memiliki titik kesamaan, sama-sama tidak jelas objek akadnya. Karena semua bergantung pada peluang. Sehingga ada kemungkinan untung atau sebaliknya, mengalami kerugian.

Saya sangat memahami, tulisan saya mengenai hukum Paytren belum tentu bisa diterima oleh para penggiat Paytren.

Setelah tulisan ini dipublis, ada banyak pembelaan yang mereka sampaikan dan dilaporkan ke saya.

Sengaja tulisan bagian keempat ini tertunda untuk mengumpulkan setiap pembelaan yang terkait. Karena bagian keempat ini disiapkan untuk menjawab pembelaan itu.

Berikut diantaranya,

[1] Bukankah hukum asal transaksi itu mubah?

Saya rasa kita semua sepakat akan hal ini, bahwa hukum asal transaksi jual beli adalah mubah. Ada tulisan mengenai kaidah ini, bisa anda simak di: Kaidah dalam Fikih Jual Beli

Hanya saja, Anda perlu beri catatan, hukum asal transaksi jual beli itu mubah, selama tidak ada unsur pelanggaran syariat.

Ketika di sana ada pelanggaran syariat, anda tidak bisa menggunakan kaidah ini sebagai dalil. Karena tidak nyambung. Kita dihalalkan untuk bertransaksi, tapi aktivitas dan transaksi kita juga dibatasi aturan.

[2] Apa salahnya MLM?

Yang salah bukan namanya atau barangnya.. Tapi yang menjadi pertanyaan adalah apa yang anda jual?

Mayoritas MLM tidak menekankan pada penjualan produk, namun lebih menekankan menjual peluang pasar. Seseorang dikatakan produktif, jika dia bisa mendapatkan banyak downline, dari pada menjual produknya.

Karena itulah, pada kebanyakan MLM, produk hanya sampingan. Banyak diantara mereka yang tidak butuh produk, namun termotivasi daftar hanya untuk bisa mendapatkan fee mencari downline.

[3] Antara MLM dan Konvensional

“Mengikuti sistem konvensional itu rugi. Satu-satunya sistem yang bisa membuat kita berbagi keuntungan adalah sistem MLM.”

Terlalu sentimen jika sistem konvensional disebut merugikan. Karena sistem ini yang dijalankan sejak masa silam. Bahkan sudah ada sejak zaman para sahabat. Jika ini merugikan, tentu mereka akan melarangnya.

Kita bisa pindah ke analogi yang sering digunakan untuk membela MLM…

[4] Analogi jualan buku…

“Ketika si A membeli buku dari toko X, karena isinya bagus, si A memberi tahu kepada si B agar membeli buku yang sama, dapat apakah si A? Bahkan andai setelah dari si B terjadi 1000 transaksi, tentu sudah sewajarnya, si A mendapat fee pemasaran.”

Ada analogi, dan ada kesesuaian analogi dengan kasus. Analogi ini tidak salah, karena setiap usaha yang manfaat, berhak mendapat penghargaan. Termasuk usaha memasarkan barang milik orang lain. Dalam kajian fiqh muamalah, fee pemasaran telah difatwakan boleh Ibnu Abbas dan beberapa ulama tabiin, seperti Muhammad bin Sirin dan yang lainnya. Usaha itu disebut samsarah (makelaran). Pelakunya disebut simsar (makelar).

Dalam shahih Bukhari dinyatakan,

ولم ير ابن سيرين وعطاء وإبراهيم والحسن بأجر السمسار بأسا

“Menurut Ibnu Sirin, Atha’, Ibrahim an-Nakhai, dan Hasan al-Bashri, upah makelar tidak masalah.”

وقال ابن عباس لا بأس أن يقول بع هذا الثوب فما زاد على كذا وكذا فهو لك

Ibnu Abbas mengatakan, ‘Tidak masalah pemilik barang mengatakan, ‘Jualkan kain ini, jika laku lebih dari sekian, maka kelebihannya milik kamu.’ (Shahih Bukhari, 2/794).

Hanya saja, kita perlu membedakan  objek dalam akad, antara produk riil dan produk yang bentuknya peluang pasar. Analogi toko buku, ini produk riil, jika buku itu benar-benar dibutuhkan konsumen. Ini sangat berbeda dengan Paytren. Dalam Paytren, dipisahkan antara harga produk dengan harga peluang pasar. Karena itu dalam Paytren dibedakan antara mitra pengguna dengan mitra pebisnis.

Ketika si A membeli buku, toko X memberikan 2 penawaran harga,

[1] Harga buku saja à Rp 50.000

[2] Harga buku, plus hak untuk memasarkan à Rp 65.000; di mana si A akan mendapatkan fee 10% dari setiap pembeli baru.

Dalam klausul no.2, toko X menjual peluang pasar. Dan bisa jadi, si A tidak ada keinginan untuk memiliki buku itu. Tapi dia rela beli karena ada peluang mendapatkan fee ketika ada pembeli baru. Saya kira, kita tidak perlu mengulang sisi gharar Paytren yang pernah kita bahas di: Hukum Paytren (Bagian-3)

Bagi orang yang memahami konsep gharar, dia akan melihat dengan sangat jelas sisi gharar transaksi di atas.

[5] Bukankah Paytren telah mendapatkan sertifikat dari MUI?

Bagian ini yang paling sulit untuk dijawab. Karena kami tidak tahu tingkat kebenaran dari berita ini. Kami berusaha mencari-cari bukti sertifikat itu, dan kami belum mendapatkannya. Padahal ini salah satu senjata pemasaran Paytren.

Yang kami jumpai adalah fatwa DSN-MUI no.75/2009 tentang PLBS (Penjualan Langsung Berjenjang Syariah).

Fatwa ini diterbitkan tahun 2009, dan Paytren belum lahir. Karena Paytren hadir tahun 2013.

Dan anda bisa bandingkan antara isi fatwa dengan realita Paytren. insyaaAllah kita akan membahas khusus kesesuaian fatwa dengan realita Paytren.

[6] Kami ingin sedekah, kami ingin membeli Indonesia

Seharusnya kita malu bersembunyi di balik motivasi indah untuk membela bisnis bermasalah… dulu waktu VSI dipasarkan, jargon mereka adalah bisa sambil sedekah, kita beli Indonesia.. bagaimana kelanjutannya?? VSI tidak ada kabar. Meskipun kita bisa memahami, VSI dengan Paytren core-bisnis nya hampir sama.

Semoga Allah membimbing kita untuk bisa melihat kebenaran sebagai kebenaran, dan memudahkan bagi kita untuk mengikutinya… amin.

Allahu a’lam.

[1] mengenai keterangan masing-masing, bisa dipelajari di Hukum Paytren Bag. 1

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh YufidStore.com (Toko Muslim Online Murah dan Amanah)

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Ketika Santri Membela Kafir https://konsultasisyariah.com/29395-ketika-santri-membela-kafir.html Tue, 11 Apr 2017 02:12:40 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29395 Ngaku Santri Tapi Membela Kafir

Saya bingung dengan kondisi muslim di negara kita saat ini, ada kelompok ngaku santri tapi kok masih bela orang kafir penista Al-Quran ya, mohon wejangannya ustadz, terima kasih.

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Ada satu kalimat yang barangkali bisa menjadi pelipur kepenatan hati kita ketika melihat hiruk-pikuk negara kita, “Di setiap perjuangan, selalu ada penghianat.” Kalaupun ada sebagian orang berpenampilan muslim, lalu menyatakan dengan terang-terangan membela musuh islam, itu hal yang lumrah. Bagian dari sunatullah, dalam setiap perjuangan selalu ada pengkhianat.

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdakwah, ada banyak musuh mengintai. Terutama dari kalangan Yahudi dan orang kafir sekitar Madinah. Anehnya, di saat yang sama, ada beberapa orang yang tinggal di Madinah, mereka juga ikut shalat jamaah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di masjid nabawi, yang justru terang-terangan memberi ruang bagi para musuh islam itu. Mereka itu adalah orang-orang munafik Madinah. Allah ceritakan tentang mereka dalam al-Quran,

بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا . الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا

“Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman dan penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kemenangan di sisi orang kafir itu? maka sesungguhnya semua kemenangan kepunyaan Allah. (QS. an-Nisa’: 138 – 139)

Jadi, kalaupun ada yang mengaku santri, namun menjadi garda depan pembela gubernur kafir, itu bagian dari kelanjutan sejarah yang sudah ada sejak masa silam. Mereka melestarikan tradisi pegkhianatan yang dilakukan orang munafiq di masa silam, terhadap perjuangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka sangat berharap, agar yang menang adalah gubernur kafir.

Sebagaimana orang munafik di masa silam, mereka sangat merugikan kaum muslimin. Wajar jika Allah memberikan ancaman berat bagi mereka.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>