Konsultasi Kesehatan dan Tanya Jawab Pendidikan Islam https://konsultasisyariah.com KonsultasiSyariah.com Tue, 23 May 2017 02:28:16 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=4.7.5 Jalan Sehat Berhadiah, itu Judi? https://konsultasisyariah.com/29543-jalan-sehat-berhadiah-itu-judi.html Tue, 23 May 2017 02:28:02 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29543 Hukum Undian Jalan Sehat Berhadiah

Ada jalan sehat di kampung, hadiah utamanya motor. Peserta ditarik iuran 20rb dan dapat fasilitas berupa kaos, snack, dan minum. Apakah hadiah ini boleh?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Sebelumnya kita akan melihat batasan judi yang disampaikan para ulama.

Ibnu Qudamah mengatakan,

ومتى استبق الاثنان والجعل بينهما فأخرج كل واحد منهما لم يجز وكان قمارا لأن كل واحد منهما لا يخلو من أن يغنم أو يغرم وسواء كان ما أخرجاه متساويا مثل أن يخرج كل واحد منهما عشرة أو متفاوتا مثل أن أخرج أحدهما عشرة والآخر خمسة

Ketika 2 orang berlomba dan ada hadiahnya, namun masing-masing membayar iuran, hukumnya tidak dibolehkan. Dan termaduk judi. Karena masing-masing ada 2 kemungkinan, beruntung atau rugi. Baik iuran yang dikeluarkan nilainya sama, misalnya, masing-masing membayar 10 ribu. atau iurannya beda, misalnya, yang satu membayar 10 ribu sementara satunya membayar 5 ribu. (al-Mughni, 11/131).

Karena hakekat iuran hadiah yang dibayarkan adalah taruhan. Sehingga ada satu pihak yang diuntungkan, sementara pihak lain dirugikan. Berbeda jika yang terjadi adalah ada pihak yang diuntungkan, sementara pihak lain tidak dirugikan, ini bukan judi.

Terkait perlombaan, ada 2 kasus kegiatan berhadiah yang perlu kita bedakan,

Pertama, hadiah yang diambil dari pihak luar, bukan dari iuran peserta. Peserta yang mendapat hadiah beruntung, sementara peserta yang tidak mendapat hadiah tidak dirugikan, karena mereka tidak mengeluarkan apapun.

Misal: kegiatan jalan sehat berhadiah yang diselenggarakan di RT, peserta bayar 3 ribu untuk biaya snack, minuman, dan  perlengkapan kegiatan. Hadiahnya beragam dari mulai motor dari sponsor sampai makanan. Kita bisa memastikan, hadiah yang diberikan bukan dari iuran peserta, karena hadiah itu sudah habis untuk biaya snack dan keperluan panitia.

Kedua, hadiah yang diambil dari iuran peserta kegiatan, sehingga ada sebagian yang diuntungkan sementara di saat yang sama, ada pihak yang dirugikan.

Misal: jalan sehat yang diselenggarakan perusahaan x, tiap peserta bayar 100 ribu dan hanya mendapat 1 botol air mineral. Ada 300 peserta, hadiah utama motor dan hadiah terkecil setrika.

Kita bisa memastikan, hadiah yang dibagikan peserta diambil dari biaya pendapaftaran. Sehingga peserta yang mendapat hadiah beruntung, sementara peserta yang tidak mendapat hadiah rugi 97 ribu (yang 3 ribu biaya air).

Berdasarkan batasan yang disampaikan Ibnu Qudamah, untuk kasus kegiatan yang pertama dibolehkan, karena tidak ada taruhan, sehingga bukan termasuk judi. Sementara kasus kedua, iuran yang dibayarkan peserta merupakan taruhan dan termasuk judi.

Acuannya adalah jika hadiah itu diambilkan dari iuran peserta, berarti iuran itu menjadi taruhan. Namun jika hadiah tidak diambil dari iuran peserta, tidak termasuk taruhan karena tidak ada yang dirugikan.

Jika jalan sehat membayar 20 ribu, dengan fasilitas berupa kaos, snack, dan minum, tentu sudah habis. Sehingga hadiah bukan dari peserta.

Kecuali Lomba yang Mendukung Jihad

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan adanya taruhan untuk lomba yang mendukung jihad, yaitu memanah, menunggang kuda, dan pacuan onta. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا سَبَقَ إِلَّا فِي خُفٍّ، أَوْ نَصْلٍ، أَوْ حَافِرٍ

Tidak boleh ada taruhan kecuali untuk pacuan onta, memanah, dan pacuan kuda. (HR. Ahmad 10138, Nasai 3604 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Dan kita bisa memastikan, jalan sehat bukan termasuk perlombaan yang mendukung jihad.

Terkait lomba yang mendukung jihad, ulama berbeda pendapat apakah harus ada muhallil ataukah tidak?

Jumhur ulama mengatakan, harus ada muhallil. Dan pendapat kedua mengatakan, tidak harus ada muhallil. Dan ini merupakan pendapat Syaikhul Islam.

Yang dimaksud muhallil adalah pihak yang dilibatkan dalam lomba, namun sama sekali tidak ditarik iuran hadiah (taruhan). (al-Musabaqah, Dr. Sa’d as-Satsri, 76 – 77).

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
]]>
Siapa orang yang Disalib menggantikan Isa? https://konsultasisyariah.com/29537-siapa-orang-yang-disalib-menggantikan-isa.html Mon, 22 May 2017 01:56:49 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29537 Apakah Isa yang di Salib Oleh Yahudi?

Siapakah yang disalib menggantikn yesus? Apakah bnar dia pengkhianat yg menunjukkan yahudi persembunyian yesus dan para muridnya?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Ada 3 pendapat manusia mengenai orang yang disalib orang yahudi itu dan berikut statusnya,

Pertama, orang yang disalib itu adalah Nabi Isa, dan disalib dalam kondisi kafir, karena tuduhan menyebarkan kesesatan. Ini merupakan anggapan yahudi.

Kedua, orang yang disalib itu adalah Nabi Isa, dan disalib dalam rangka menebus dosa semua manusia. ini aqidahnya nasrani.

Ketiga, orang yang disalib bukanlah Nabi Isa, tapi salah satu muridnya yang diserupakan dengan Isa. Sementara Nabi Isa diangkat oleh Allah ke langit. Dan inilah aqidah kaum muslimin yang diajarkan oleh Allah dalam al-Qur’an. (Tafsir Ibnu Katsir, 2/449)

Untuk aqidah yahudi dan nasrani, tidak perlu kita hiraukan, karena mereka sendiri tidak yakin dengan aqidah ini. Allah berfirman menceritakan aqidah mereka,

وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا

Ucapan Yahudi: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. (QS. an-Nisa: 157).

Siapa yang disalib itu?

Terdapat riwayat yang shahih sampai Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau menjelaskan tafsir ayat di atas,

لما أراد الله أن يرفع عيسى إلى السماء، خرج على أصحابه -وفي البيت اثنا عشر رجلا من الحواريين-…ثم قال: أيكم يُلْقَى عليه شبهي، فيقتل مكاني ويكون معي في درجتي؟ فقام شاب من أحدثهم سنا، فقال له: اجلس. ثم أعاد عليهم فقام ذلك الشاب، فقال: اجلس. ثم أعاد عليهم فقام الشاب فقال: أنا. فقال: أنت هو ذاك. فألقي عليه شَبَه عيسى ورفع عيسى من رَوْزَنَة في البيت إلى السماء. قال: وجاء الطلب من اليهود فأخذوا الشبه فقتلوه، ثم صلبوه

Ketika Allah hendak mengangkat Isa ke langit, beliau menemui para muridnya, dan ketika itu di rumah ada 12 lelaki hawariyin… kemudian Isa mengatakan, “Siapakah diantara kalian yang wajahnya digantikan seperti wajahku, lalu dia akan dibunuh menggantikan aku, dan dia akan mendapatkan surga yang derajatnya sama denganku. Lalu berdirilah seorang pemuda yang paling muda usianya, “Saya.”

“Duduk.” Kata Isa.

Nabi Isa mengulang lagi tawarannya, dan pemuda itu angkat tangan dan menyatakan “Saya.”

Nabi Isa tetap menyuruhnya untuk duduk. Hingga berlangsung sampai 3 kali. Di yang ketiga, pemuda ini angkat tangan, “Saya.” Lalu Isa mengatakan, “Baik, kamu orangnya.”

Lalu dia diserupakan dengan Isa dan Isa diangkat melalui lubang angin yang ada di atap, menuju langit.

Kemudian datanglah orang yahudi yang mencarinya, mereka langsung menangkap manusia  yang mirip itu, dan langsung membunuhnya, lalu mensalibnya. (Tafsir Ibnu Katsir, 2/449).

Ibnu Katsir berkomentar,

وهذا إسناد صحيح إلى ابن عباس ، وكذا ذكر غير واحد من السلف أنه قال لهم : أيكم يلقى إليه شبهي فيقتل مكاني وهو رفيقي في الجنة

Sanadnya shahih sampai Ibnu Abbas. Demikian pula yang dijelaskan beberapa ulama salaf, bahwa Isa berkata ke mereka, ‘Siapa yang bersedia wajahnya diserupakan dengan wajahku, lalu dia dibunuh menggantikanku dan balasannya dia akan menemaniku di surga.’ (Tafsir Ibnu Katsir, 2/450).

Sementara itu, Ibnu Jarir berpendapat bahwa yang diserupakan dengan Nabi Isa adalah semua orang hawariyin muridnya Isa. Ketika orang Yahudi yang mengepung rumah itu menangkap mereka, Yahudi itu kebingungan dan mengatakan,

‘Kalian telah menyihir kami. Tunjukkan mana Isa, atau kami bunuh kalian semua.’

Kemudian salah satu diantara mereka ada yang maju, karena teringat janji Isa bahwa dia akan mendapatkan surga bersama Isa. Lalu Yahudi itu membunuh orang tadi dan menyalibnya.

Namun kata Ibnu Katsir mengomentari riwayat kedua ini,

سياق غريب جدًّا

Konteksnya sangat aneh. (Tafsir Ibnu Katsir, 2/451)

Apapun itu, berdasarkan riwayat ini, bahwa orang yang disalib, menggantikan Isa adalah orang soleh dan bukan orang jahat. Bahkan dia termasuk manusia yang dijamin surga.

Kemudian Ibnu Katsir membantah akidah Nasrani,

وبعض النصارى يزعم أن يودس زكريا يوطا ـ وهو الذي دل اليهود على عيسى ـ هو الذي شبه لهم فصلبوه ، وهو يقول : إني لست بصاحبكم أنا الذي دللتكم عليه

Sebagian nasrani menyangka bahwa Yudas – yang berkhianat memberi yahudi posisi Isa – dialah yang diserupakan dengan Isa, lalu dia disalib. Dia mengatakan, “Saya bukan orang yang kalian cari, justru saya yang menunjukkan kalian posisi orang yang kalian cari.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/452)

Meskipun kami ingatkan, sejarah semacam ini tidak mendesak untuk diketahui muslim, dalam arti iman mereka tetap baik, meskipun mereka tidak mengetahui siapa hakekatnya orang ini. Karena itu, tidak ada penjelasan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai orang ini. Intinya, kita meyakini bahwa yang disalib bukanlah Nabi Isa ‘alaihi shalatu was salam.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Jual Beli ketika Adzan Jum’at, Haram? https://konsultasisyariah.com/29533-jual-beli-ketika-adzan-jumat-haram.html Fri, 19 May 2017 02:00:43 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29533 Dilarang Jual Beli ketika Adzan Jum’at

Apa hukum jual beli ketika sudah masuk waktu jumatan?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Sesuatu dinilai sah ketika dia memenuhi rukun, syarat dan tidak ada mawani’ (penghalang keabsahan). Baik bentuknya ibadah maupun muamalah. Akad seseorang dinilai sah ketika terpenuhi rukun, syarat dan tidak ada penghalang keabsahan.

Diantara penghalang keabsahan transaksi jual beli adalah adanya adzan jum’at ketika khatib sudah naik mimbar. Karena ketika adzan jumatan telah dikumandangakan, Allah melarang hamba-Nya untuk melakukan aktivitas jual beli. Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ

“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.” (QS. al-Jumu’ah: 9).

Larangan ini berlaku, ketika adzan jum’atan setelah khatib naik mimbar. Sementara untuk masjid yang adzannya 2 kali, larangan ini tidak berlaku untuk adzan sebelum khatib naik mimbar.

Dalam Bidayatul Mujtahid, Ibnu Rusyd mengatakan,

وهذا أمر مجمع عليه فيما أحسب أعني منع البيع عند الأذان الذي يكون بعد الزوال والإمام على المنبر.

Ini aturan yang disepakati ulama – menurut yang saya tahu – yaitu larangan melakukan jual beli ketika adzan setelah masuk jumatan, dan khatib sudah berada di atas mimbar.

Apakah Akadnya Sah?

Ada dua hal yang perlu kita bedakan,

[1] Pelanggaran larangan, kaitannya dengan dosa orang yang melanggarnya

[2] Keabsahan akad, kaitannya dengan berlakunya konsekuensi jual beli, apakah telah terjadi perpindahan hak milik ataukah tidak.

Ketika seseorang melakukan aktivitas tertentu, baik ibadah maupun muamalah, dan dia melanggar larangan syariat, maka orang ini berdosa. Apakah aktivitas yang dia lakukan menjadi batal? Jawabannya belum tentu. Ada orang melakukan pelanggaran ketika ibadah, dan ibadahnya tetap sah.

Misal, orang melakukan shalat dengan menggunakan pakaian hasil mencuri. Shalatnya sah, meskipun orang ini berdosa karena dia mengenakan pakaian orang lain tanpa kerelaan pemilik. Padahal yang seharusnya dia lakukan adalah segera mengembalikannya.

Meskipun terkadang ada larangan, yang jika dilanggar bisa menyebabkan ibadah menjadi batal. Misalnya larangan berbicara ketika shalat. Ketika ini dilaranggar maka meyebabkan shalat yang dikerjakan menjadi batal.

Para ulama membahas masalah ini dalam kajian ushul fiqh di bab kaidah, apakah adanya larangan menyebabkan ibadah atau akad menjadi batal.

Apakah larangan melakukan jual beli ketika adzan jum’at menyebabkan akad jual beli menjadi batal?

Ulama berbeda pendapat dalam hal ini,

Pertama, jual belinya tetap sah dan tidak batal. Ini merupakan pendapat Hanafiyah dan Syafi’iyah.

Mereka beralasan bahwa larangan melakukan jual beli ketika adzan jum’at tujuannya adalah agar orang bisa serius menghadiri jumatan, sehingga tidak disibukkan dengan kepentingan duniawi lainnya.

(Bada’i as-Shana’i, 2/220 dan al-Muhadzab, 4/418).

Kedua, jual beli batal dan tidak berlaku konsekuensinya. Ini merupakan pendapat Malikiyah dan Hambali.

Mereka beralasan dengan ayat di atas, dimana Allah melarang jual beli ketika adzan telah dikumandangkan. Dan larangan ini kembali kepada dzat jual beli. Sehingga ketika seseorang melanggarnya, dia berdosa dan jual belinya statusnya terlarang. (al-Mudawwanah, 1/280 dan Kasyaful Qana’, 4/1428).

Ibnu Rusyd mengatakan,

واختلفوا في حكمه إذا وقع هل يفسخ أو لا يفسخ فإن فسخ … فالمشهور عن مالك أنه يفسخ وقد قيل لا يفسخ وهذا مذهب الشافعي وأبي حنيفة

Mereka berbeda pendapat tentang hukum jual beli yang sudah terjadi, dilakukan saat adzan jumat. Apakah jual belinya batal atau tidak batal… pendapat yang masyhur menurut Malik, jual belinya batal. Ada juga yang mengatakan, jual belinya tidak batal, dan ini pendapat Imam as-Syafi’i dan Abu Hanifah. (Bidayatul Mujtahid, 2/169).

Terlepas  perbedaan di atas, Allah melarang bagi orang yang wajib jumatan untuk jual beli ketika jum’atan. Menjauhi larangan ini adalah kewajiban. Waspadai bagi anda yang wajib jumatan, beli BBM ketika sudah masuk waktu jumatan, beli makanan, minuman, atau masih antri di kasir swalayan, dan beberapa transaksi kecil yang sering dilanggar kaum muslimin ketika jumatan.

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Dilarang Menggantungkan Lonceng di Leher Binatang https://konsultasisyariah.com/29518-dilarang-menggantungkan-lonceng-di-leher-binatang.html Thu, 18 May 2017 02:59:47 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29518 Hukum Menggantungkan Lonceng di Leher Binatang

Apa benar memasang lonceng d kucing hukumnya dilarang? Soalnya sy prnah dengar, itu haram..

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Dinyatakan dalam hadis dari Abu Basyir al-Anshari Radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau pernah bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam safar, pada saat rombongan berada di kemahnya, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا يبْقَيَنَّ فِي رَقَبَةِ بَعِيرٍ قِلاَدَةٌ مِنْ وَتَرٍ وْلا قِلاَدَةٌ إِلَّا قُطِعَتْ

Jangan sampai di leher onta ada kalung dari watar atau kalung biasa, kecuali dipotong. (HR. Bukhari 3005 dan Muslim 2115)

Watar adalah tali busur untuk memanah. Mereka yakini ini digunakan untuk jimat, baik mendatangkan berkah atau tolak balak.

Hadis ini dipahami para ulama, larangan menggantungkan lonceng di leher binatang. Karena itulah, ketika Bukhari membawakan hadis ini, beliau menulis judul bab,

باب ما قيل في الجرس ونحوه في أعناق الإبل

Bab tentang hukum mengalungkan lonceng atau semacamnya di leher onta. (Shahih Bukhari, 4/59)

Al-Hafidz Ibnu Hajar menjelaskan perkataan Bukhari dalam kitabnya Syarah Shahih Bukhari,

أي من الكراهة، وقيده بالإبل لورود الخبر فيها بخصوصها

Maksud Bukhari adalah makruh. Beliau menyebutkan onta, karena hadis ini disampaikan untuk kasus yang terjadi pada onta. (Fathul Bari, 6/141)

Diantara dalil lain yang menunjukkan larangan memasang lonceng di leher binatang adalah hadis dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا تَصْحَبُ الْمَلَائِكَةُ رُفْقَةً فِيهَا جَرَسٌ

Malaikat tidak akan mengiringi rombongan yang membawa lonceng. (HR. Ahmad 8337, Thabrani dalam al-Kabir 475 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Dalam riwayat lain, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْجَرَسُ مِزْمَارُ الشَّيْطَانِ

Lonceng adalah musiknya setan. (HR. Ahmad 8783 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)

Ibnu Hajar menyimpulkan beberapa riwayat tentang ini, dan beliau mengatakan,

وهو دال على أن الكراهية فيه لصوته؛ لأن فيها شبها بصوت الناقوس وشكله، قال النووي وغيره: الجمهور على أن النهي للكراهة

Hadis ini menunjukkan makruhnya menggunakan lonceng, karena suaranya. Karena suaranya sama dengan suara genta gereja atau yang semacamnya. An-Nawawi dan ulama lainnya mengatakan, Jumhur ulama mengatakan bahwa larangan ini makruh. (Fathul Bari, 6/142).

Al-Qadhi As-Safarini dalam Ghidzaul Albab mengatakan,

يكره تعليق جرس أو قلادة على الدابة

Makruh mengalungkan lonceng atau kalung lainnya di binatang. (Ghidzaul Albab, 2/38)

Saatnya melakukan perubahan, menghindari semua yang dibenci para ulama, setahap demi setahap…

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Hukum Memberi Makanan Haram untuk Hewan https://konsultasisyariah.com/29498-hukum-memberi-makanan-haram-untuk-hewan.html Wed, 17 May 2017 02:23:45 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29498 Mengolah Daging Tikus Dicampur Pelet untuk pakan Ikan

Mau tanya bagaimana hukumnya mengolah daging tikus (dagingnya dibuat tepung kemudian dicampur bahan lain,dibuat pelet) untuk dijadikan pakan/makanan ikan?apakah ikan dari hasil pakan tsb halal?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Ada 2 hal yang perlu dibedakan terkait makanan haram,

[1] Dikonsumsi manusia, hukumnya haram, kecuali jika dalam kondisi darurat

[2] Dimanfaatkan, seperti dijadikan pupuk atau diberikan ke binatang yang dagingnya haram dimakan.

Kaidah yang berlaku, menurut jumhur ulama, tidak semua yang haram dikonsumsi manusia, haram untuk dimanfaatkan.

Berbeda dengan pendapat sebagian hanafiyah, menurut mereka, semua yang haram dikonsumsi, seperti bangkai, haram dimanfaatkan untuk kepentingan apapun. Sehingga harus dibuang.

Al-Jashas mengatakan,

قال أصحابنا لا يجوز الإنتفاع بالميتة على وجه ولا بطعمها الكلاب والجوارح لأن ذلك ضرب من الإنتفاع بها وقد حرم الله الميتة تحريما مطلقا

Para ulama madzhab kami mengatakan, tidak boleh memanfaatkan bangkai untuk kepentingan apapun, baik diberikan ke anjing atau binatang buas lainnya, karena ini termasuk bentuk pemanfaatan sesuatu yang diharamkan. Sementara Allah telah mengharamkan bangkai secara mutlak. (Ahkam al-Quran, 1/132).

Sementara pendapat jumhur, termasuk sebagian hanafiyah, membolehkan memanfaatkan makanan haram, untuk selain dikonsumsi manusia. Diantara bentuk pemanfaatan itu adalah memberikan makanan haram untuk binatang yang haram dimakan, seperti diberikan ke anjing atau kucing.

Al-Kasani mengatakan,

وعند أبي حنيفة: لا يؤكل – يعني الدقيق المعجون بماء وقعت فيه نجاسة – وإذا لم يؤكل، ماذا يصنع به؟ قال مشايخنا: يطعم للكلاب؛ لأن ما تنجس باختلاط النجاسة به – والنجاسة معلومة – لا يباح أكله، ويباح الانتفاع به

Menurut Abu Hanifah, adonan basah yang kejatuhan najis, tidak boleh dimakan. Jika tidak boleh dimakan, apa yang harus dilakukan? Para ulama kami mengatakan, ‘Bisa dikasihkan ke anjing.’ Karena makanan halal yang tercampur najis, tidak boleh dimakan, tapi boleh dimanfaatkan. (Bada’i as-Shana’i, 1/78).

Penjelasan ini berlaku untuk binatang yang haram dimakan. Bolehkah diberikan kepada hewan yang halal dimakan, seperti lele, sapi atau ayam. Beberapa masyarakat menggunakan darah untuk campuran makanan sapi.

Ulama berbeda pendapat dalam masalah ini,

[1] Boleh memberikan najis untuk hewan yang halal dimakan. Ini merupakan madzhab Imam Ahmad. (simak al-Furu’, Ibnu Muflih, 6/272)

[2] Makruh memberikan makanan haram ke binatang yang halal dimakan. Tapi jika makanan haram itu dicampur  dengan air atau semacamnya, hukumnya boleh. Ini merupakan madzhab Syafiiyah. (simak al-Majmu’, 9/27).

[3] Boleh memberikan makanan najis ke hewan yang halal dimakan, jika hewan ini tidak hendak disembelih atau diperah susunya. Misalnya, hewan yang ditunggangi atau dijadikan hiasan seperti ikan hias. Ini merupakan pendapat Imam Ahmad dalam salah satu riwayat. (simak al-Furu’, 6/272)

Tarjih:

Pendapat yang lebih mendekati dalam hal ini adalah pendapat yang membolehkan. Namun dengan tetap memperhatikan hukum jallalah jika hewan ini mau dimakan atau diambil hasil susunya. Penjelasan mengenai Jalalah bisa anda pelajari di: Budi Daya Lele dengan Pakan Kotoran Manusia

Diantara dalil yang mendukung hal ini adalah hadis dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma, bahwa ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para rombongan melewati negeri kaum Tsamud – al-Hijr –, ada sebagian sahabat  mengambil air di sumur kampung itu dan ada yang digunakan untuk membuat adonan. Sementara beliau perintahkan agar mempercepat langkah dan melarang mengambil air di sana. Karena negeri ini pernah diadzab.

Lalu beliau perintahkan,

أَنْ يُهَرِيقُوا مَا اسْتَقَوْا مِنْ بِئْرِهَا، وَأَنْ يَعْلِفُوا الإِبِلَ العَجِينَ

Buang air yang sudah diambil dari sumur kampung ini dan adonan yang sudah dibuat dikasihkan ke onta. (HR. Bukhari 3379, Ibnu Hibban 6202 dan yang lainnya).

Rasulullah melarang mengkonsumsi adonan yang dibuat dengan campuran air sumur daerah kaum Tsamud, artinya itu haram. Namun beliau memerintahkan untuk diberikan ke binatang yang halal dimakan, yaitu onta.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Dialog dengan Allah ketika Membaca Surat al-Fatihah https://konsultasisyariah.com/29491-dialog-dengan-allah-ketika-membaca-surat-al-fatihah.html Tue, 16 May 2017 02:01:52 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29491 Membaca Surat al-Fatihah

Benarkah ketika shalat kita berdialog dengan Allah? Lalu bagaimana itu bs terjadi…

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Kita akan simak hadis berikut.

Hadis dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda,

قَالَ اللهُ تَعَالَى: قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ: {الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ} ، قَالَ اللهُ تَعَالَى: حَمِدَنِي عَبْدِي، وَإِذَا قَالَ: {الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ}، قَالَ اللهُ تَعَالَى: أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي، وَإِذَا قَالَ: {مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ}، قَالَ: مَجَّدَنِي عَبْدِي – وَقَالَ مَرَّةً فَوَّضَ إِلَيَّ عَبْدِي – فَإِذَا قَالَ: {إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ} قَالَ: هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ: {اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ} قَالَ: هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَل

Allah berfirman, “Saya membagi shalat antara diri-Ku dan hamba-Ku menjadi dua. Untuk hamba-Ku apa yang dia minta.

Apabila hamba-Ku membaca, “Alhamdulillahi rabbil ‘alamin.”

Allah Ta’ala berfirman, “Hamba-Ku memuji-Ku.”

Apabila hamba-Ku membaca, “Ar-rahmanir Rahiim.”

Allah Ta’ala berfirman, “Hamba-Ku mengulangi pujian untuk-Ku.”

Apabila hamba-Ku membaca, “Maaliki yaumid diin.”

Apabila hamba-Ku membaca, “Hamba-Ku mengagungkan-Ku.” Dalam riwayat lain, Allah berfirman, “Hamba-Ku telah menyerahkan urusannya kepada-Ku.”

Apabila hamba-Ku membaca, “Iyyaka na’budu wa iyyaaka nasta’in.”

Allah Ta’ala berfirman, “Ini antara diri-Ku dan hamba-Ku, dan untuk hamba-Ku sesuai apa yang dia minta.”

Apabila hamba-Ku membaca, “Ihdinas-Shirathal mustaqiim….dst. sampai akhir surat.

Allah Ta’ala berfirman, “Ini milik hamba-Ku dan untuk hamba-Ku sesuai yang dia minta.”

(HR. Ahmad 7291, Muslim 395 dan yang lainnya)

Keterangan hadis:

[1] Hadis ini menunjukkan bahwa al-Fatihah adalah rukun Shalat, karena Allah menyebut al-Fatihah dengan kata shalat.

[2] Al-Fatihah disebut shalat, karena surat ini dibaca saat shalat. Dan seorang hamba yang membaca surat ini ketika shalat, dia hakekatnya sedang melakukan dialog dengan Rabnya.

[3] Allah membagi bacaan al-Fatihah dalam shalat menjadi 2, setengah untuk Allah dan setengah untuk hamba. Setengah untuk Allah ada di bagian awal, bentuknya adalah pujian untuk Allah. Mulai dari ayat, ‘Alhamdulillahi rabbil ‘alamin’ sampai ‘Maliki yaumiddin.

Sementara setengahnya untuk hamba, yaitu doa memohon petunjuk agar seperti orang yang telah mendapat nikmat.

[4] ada satu ayat yang dibagi dua, yaitu ayat iyyaaka na’budu wa iyyaka nasta’in. setengah untuk hamba, setengah untuk Allah. Iyyaka na’budu, ini untuk Allah, dan iyyaka nasta’in, ini untuk hamba.

Itulah dialog antara hamba dengan Allah saat dia membaca surat al-Fatihah. Semoga semakin meningkatkan rasa khusyu’ kita ketika menjalani ibadah shalat…

Mengenai pertanyaan, bagaimana itu bias terjadi? Bukankah yang membaca surat al-Fatihah itu ribuan manusia? Lalu bagaimana cara Allah berdialog dengan mereka semua…

Pertanyaan ini bukan urusan kita. Allah Maha Kuasa untuk melakukan apapun sesuai yang Dia kehendaki. Dan tidak semua perbuatan Allah, bisa dinalar oleh logika manusia. Kewajiban kita adalah meyakini bahwa itu terjadi secara hakiki, sementara bagaimana prosesnya, Allah yang Maha Tahu.

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Haid di 60 tahun, Apakah Tetap Shalat? https://konsultasisyariah.com/29488-haid-di-60-tahun-apakah-tetap-shalat.html Mon, 15 May 2017 02:00:56 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29488 Nenek Haid, Bagaimana Shalatnya?

Jika ada wanita yang mengeluarkan darah di usia 60 tahun atau lebih, selama sepekan. Apakah dia tidak boleh shalat?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Ada beberapa jenis wanita terkait kondisi reproduksinya yang berhubungan dengan hukum syar’i,

[1] Wanita yang belum mengalami haid – anak perempuan yang belum baligh

[2] Wanita produktif – bisa mengalami haid secara normal

[3] Wanita dalam kondisi hamil

[4] Wanita yang tidak bisa haid lagi – wanita yang mengalami menapause

Kondisi mereka Allah sebutkan di surat at-Thalaq,

وَاللَّائِي يَئِسْنَ مِنَ الْمَحِيضِ مِنْ نِسَائِكُمْ إِنِ ارْتَبْتُمْ فَعِدَّتُهُنَّ ثَلَاثَةُ أَشْهُرٍ وَاللَّائِي لَمْ يَحِضْنَ وَأُولَاتُ الْأَحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَنْ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ

“Perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya), maka masa iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid. Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya.” (QS. at-Thalaq: 4)

Kepentingan kita dari kesimpulan ini bahwa ada wanita yang tidak lagi mengalami haid karena sudah menapause. Artinya ada batas maksimal usia, di mana tidak lagi disebut wanita yang mengalami haid (sinnul ya’si).  (Tafsir al-Qurthubi, 18/162).

Apakah ada batas usia maksimal untuk haid?

Ulama berbeda pendapat dalam masalah ini.

[1] Jumhur ulama berpendapat, ada batas usia maksimal untuk haid. Sehingga jika ada darah keluar melebihi dari batas usia itu maka tidak terhitung sebagai darah haid.

[2] Tidak ada batas usia maksimal untuk haid. Artinya, selama ada darah yang keluar maka terhitung haid, meskipun sudah melebihi usia menapaus.

Ini merupakan pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Imam Ibnu Utsaimin.

Syaikhul Islam mengatakan,

ولا حد لسن تحيض فيه المرأة ، بل لو قدر أنها بعد ستين أو سبعين رأت الدم المعروف من الرحم لكان حيضا

Tidak ada batasan usia untuk masa haid wanita. Sehingga andai ada wanita dengan usia di atas 60 atau 70 tahun mengeluarkan darah dengan ciri yang umumnya dari rahim, maka terhitung haid. (Majmu’ Fatawa, 19/240)

Keterangan Imam Ibnu Utsaimin,

التي يأتيها دم على صفته المعروفة يكون دَمها دم حيض صحيح على القول الراجح ، إذ لا حَدّ لأكثر سِن الحيض

Wanita yang keluar darah seperti ciri darah haid, maka terhitung sebagai haid menurut pendapat yang benar. karena tidak ada batasan maksimal usia haid. (Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin, 11/201).

Sementara untuk pendapat jumhur yang menyatakan ada batasan maksimal usia haid, mereka berbeda pendapat berapa batas maksimalnya. Dalam Mawahib al-Jalil – kitab Malikiyah – dinyatakan,

وأما الآيسة فاختلف في ابتداء سن اليأس فقال ابن شعبان خمسون قال ابن عرفة: ولم يحك الباجي غيره  ووجه قول عمر بن الخطاب رضي الله عنه ابنة خمسين عجوز في الغابرين وقول عائشة رضي الله عنها قَلَّ امرأة تجاوز خمسين سنة فتحيض إلا أن تكون قرشية وقال ابن شاس سبعون وقال في التوضيح: وقال ابن رشد: والستون

Untuk kasus menapaus, para ulama berbeda pendapat mengenai batasan usia menapause. Ibnu sya’ban mengatakan, 50 tahun. kata Ibnu Arafah, “Imam Al-Baji menyatakan sama.” Alasan mereka adalah pernyataan Umar bin Khatab bahwa wanita di usia 50 tahun adalah ajuz (nenek), dan keterangan Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Sangat jarang ada wanita melebihi  usia 50 tahun yang mengalami haid, selain wanita quraisy.”

Ibnu Syas mengatakan, batasnya 70 tahun. dalam at-Taudhih disebutkan, menurut Ibnu Rusyd, 60 tahun.

(Mawahib al-Jalil Syarh Mukhtashar Khalil, 1/540)

Sementara itu, menurut ulama hambali, keberadaan haid di usia menapaus, kembali kepada kondisi apakah masih memungkinkan untuk mengalami haid ataukah tidak. Masih memungkinkan mengalami haid, dan mereka batasi antara 50 sampai 60 tahun, maka darah yang keluar terhitung haid. Jika lebih dari itu, maka darah yang keluar tidak terhitung haid.

Ibnu Qudamah mengatakan,

وإن رأت الدم بعد الخمسين على العادة التي كانت تراه فيها فهو حيض في الصحيح، لأن دليل الحيض الوجود في زمن الإمكان، وهذا يمكن وجود الحيض فيه، وإن كان نادراً، وإن رأته بعد الستين فقد تيقن أنه ليس بحيض لأنه لم يوجد ذلك

Jika wanita di atas usia 50 tahun melihat darah dengan ciri sesuai kebiasaan yang pernah dia alami sebelumnya, maka terhitung haid menurut pendapat yang benar. karena bukti adanya haid terjadi di waktu yang memungkinkan baginya mengalami haid. Dan di usia itu, masih memungkinkan adanya haid. Meskipun jarang. Namun jika keluar di atas 60 tahun, dia bisa yakini bahwa itu bukan haid, karena tidak ada haid di atas itu. (al-Mughni, 9/87).

Dan insyaaAllah inilah pendapat yang lebih mendekati. Karena itu, bagi wanita yang normalnya tidak mungkin mengalami haid, kemudian dia mengeluarkan darah maka tidak terhitung haid. Sehingga dihukumi sebagai wanita suci yang mengalami istihadhah.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
Hukum Cashback dalam Transaksi https://konsultasisyariah.com/29485-hukum-cashback-dalam-transaksi.html Fri, 12 May 2017 02:06:04 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29485 Cashback dalam Transaksi

Bagaimana hukumnya ketika penjual memberi cashback jika konsumen bisa melunasi lebih cepat.. apakah ini termasuk riba?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Dalam kajian fiqh muamalah maaliyah, permasalahan ini sering disebut dengan istilah dha’ wa ta’ajjal [ضَع وتَعجَّل] artinya, segerakan waktu pelunasan, kamu akan saya beri potongan. Sehingga bentuknya adalah kesepakatan kedua belah pihak yang bertransaksi untuk mengurangi nilai utang, ketika gharim (debitur) bisa melunasi lebih cepat.

Perbedaan Pendapat Ulama

Ada 3 pendapat mengenai masalah dha’ wa ta’ajjal, kesepakatan memberikan potongan karena pelunasan pembayaran lebih cepat.

Pertama, kesepakatan ini dilarang

Ini merupakan pendapat jumhur ulama. Pendapat Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam as-Syafi’I, dan pendapat yang masyhur dari Imam Ahmad.

Pertimbangan yang mereka sampaikan bahwa bentuk transaksi ini tidak berbeda dengan menambah nilai utang karena ada penundaan. dan ulama sepakat, menambah nilai utang karena penundaan, hukumnya haram.

Sebagai ilustrasi,

Si A membeli barang X kepada si B seharga 100jt secara kredit 1 th. Si B menjanjikan, jika si A bisa melunasi 6 bln lebih cepat, ada cash back 5jt.

Menurut pendapat jumhur, hakekat dari transaksi yang terjadi, si A membeli barang X dengan harga berbeda untuk masa cicilan yang berbeda;

[1] harga 95 jt untuk masa cicilan 6 bln

[2] harga 100 jt untuk masa cicilan 1 thn.

Sehingga selisih nilai 5jt merupakan pengganti dari masa percepatan cicilan selama 6 bln.

Dan menurut ulama Hambali, percepatan maupun keterlambatan cicilan, tidak boleh digantikan dengan uang (dijual).

Ibnu Rusyd – Malikiyah – menyimpulkan Ta’lil ini (alasan yang menunjukkan hukum) dalam pernyataannya,

وعمدة من لم يجز ضع وتعجل أنه شبيه بالزيادة مع النظرة المجتمع على تحريمها ووجه شبهه بها أنه جعل للزمان مقدارا من الثمن

Inti alasan ulama yang melarang ‘dha’ wa ta’ajjal’ sebab ini serupa dengan tambahan karena penundaan yang disepakati haramnya. Sisi miripnya, dalam kesepakatan ini, pelaku akad menetapkan adanya bayaran untuk waktu pelunasan cicilan. (Bidayatul Mujtahid, 2/144)

Dalam al-Inayah Syarh al-Hidayah  – kitab Hanafiyah – dinyatakan,

لِأنَّ المُعجَّل خَير مِن المُؤجَّل وهو غير مستحق بالعقد، فَيكون بِإزاء ما حَطَّه عنه وذلك اعتِياض عن الأَجَل وهو حَرام

Karena disegerakan lebih baik dari pada yangg tertunda. Dan potongan itu tidak akan dia dapatkan seketika melakukan akad. Sehingga sebanding dengan potongan harga yang dia berikan kepadanya, dan itu sebagai pengganti dari penundaan bayaran, dan itu haram. (al-Inayah Syarh Hidayah, 12/94)

Ta’lil juga disampaikan Syafi’iyah. Dalam Mughni al-Muhtaj dinyatakan,

أن صالح من عشرة مؤجلة على خمسة حالة (لغا) الصلح؛ لأن صفة الحلول لا يصح إلحاقها، والخمسة الأخرى إنما تركها في مقابلة ذلك، فإن لم يحصل الحلول لا يصح الترك

Ketika orang membuat kesepakatan, harga 10 dirham kredit, dan ada potongan 5 dirham, jika lunas lebih cepat, maka  kesepakatan ini tidak diberlakukan. Karena pelunasan tidak sah untuk digantikan. Sementara 5 dirham ditinggalkan penjual sebagai ganti dari pelunasan itu. Sehingga jika tidak terjadi pelunasan lebih cepat, penjual tidak akan memberikan potongan. (Mughni al-Muhtaj, 3/165).

Demikian pula dalam madzhab Hambali, ta’lil semacam ini juga menjadi alasan untuk melarang adanya cash back yang disepakati di awal. Dalam al-Mubdi’ Syarh al-Muqni’ dinyatakan,

ولو صالح عن المؤجل ببعضه حالا؛ لم يصح؛ نقله الجماعة لأنه يبذل القدر الذي يحطه عوضا عن تعجيل ما في ذمته وبيع الحلول والتأجيل لا يجوز

Ketika orang membuat kesepakatan potongan sebagian harga karena pelunasan, kesepakatan ini tidak sah. Sebagaimana keterangan sekelompok ulama. Karena penjual memberikan potongan sebagai ganti dari percepatan pelunasan utang yang menjadi tanggungannya. Sementara menjual percepatan atau penundaan utang tidak dibolehkan. (al-Mubdi’, 4/163)

Disamping ta’lil di atas, ada beberapa dalil yang menjadi acuan pendapat jumhur,

Dari al-Miqdad bin Aswad radhiyallahu ‘anhu, beliau bercerita,

Saya memberi utang seseorang sebesar 100 dinar, lalu aku sampaikan kepadanya, “Segera bayar 90 dinar, saya potong yang 10 dinar.”

Orang ini setuju. Lalu aku ceritakan hal ini kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau bersabda,

أَكلْتَ رِبا مِقْداد وأَطعَمتَه

“Kamu telah makan riba dari Miqdad dan memberikan riba itu kepadanya.” (HR. al-Baihaqi dalam sunannya dan kata Ibnul Qayim dalam sanadnya ada yang lemah).

Dalam riwayat lain dari Abu Solih – mantan budak as-Saffah – beliau mengatakan,

Aku menjual bur ke seseorang di pasar secara kredit. Kemudian saya ingin safar ke Kufah. Lalu mereka menawarkan, agar mereka diberi potongan harga dan mereka akan segera lunasi. Aku tanyakan hal itu ke Zaid bin Tsabit. Jawab Zaid,

لا آمُرك أنْ تَأكُل هذا ولا تُوكِله

Aku tidak memerintahkanmu untuk mengambil potongan ini dan tidak pula untuk menyerahkan potongan ini. (HR. Imam Malik dalam al-Muwatha’, no. 1178).

Kedua, kesepakatan ini dibolehkan

Ini merupakan pendapat Imam Ahmad dalam salah satu riwayat, Ibnul Qoyim, dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Ibnul Qoyim menyebutkan bahwa ini adalah pendapat Ibnu Abbas dan Zufar dari Hanafiyah.

Dinyatakan dalam al-Ikhtiyarat,

ويصح الصلح عن المؤجل ببعضه حالاً وهو رواية عن أحمد وحكى قولاً للشافعي

Boleh membuat kesepakatan potongan pembayaran cicilan yang dan ini merupakan pendapat Imam Ahmad dalam satu riwayat dan satu keterangan dari Imam as-Syafi’i. (al-Ikhtiyarat al-Fiqhiyah, 1/478).

Alasan Ibnul Qoyim yang membolehkan hal ini, karena kesepakatan ini kebalikan dari riba. Dalam transaksi riba, waktu pelunasannya ditambah dan nilai utang dinaikkan.

Ibnul Qoyim mengomentari ta’lil yang disampaikan jumhur,

لان هذا عكس الربا فإن الربا يتضمن الزيادة في احد العوضين في مقابلة الاجل وهذا يتضمن براءة ذمته من بعض العوض في مقابلة سقوط الاجل

Karena kesepakatan ini kebalikan dari riba. Dalam transaksi riba, ada tambahan pembayaran sebagai ganti dari penundaan. Sementara kesepakatan ini bentuknya mengurangi beban pembayaran, sebagai ganti dari pengurangan waktu pelunasan.

Beliau melanjutkan,

فانتفع به كل واحد منهما ولم يكن هنا ربا لا حقيقة ولا لغة ولا عرفا فإن الربا الزيادة وهي منتفية ههنا

Sehingga masing-masing mendapat manfaat, dan di sana tidak ada riba, baik secara hakiki, bahasa, maupun urf. Karena riba itu tambahan, dan di sini itu tidak ada.

Beliau juga membantah pendapat jumhur yang melarang, dengan alasan itu mirip riba. kata Ibnul Qoyim,

والذين حرموا ذلك إنما قاسوه على الربا ولا يخفى الفرق الواضح بين قوله إما أن تربي وإما أن تقضي وبين قوله عجل لي وأهب لك مائة فأين احدهما من الاخر فلا نص في تحريم ذلك ولا اجماع ولا قياس صحيح

Mereka yang mengharamkan kesepakatan ini, meng-qiyas-kan kesepakatan ini dengan riba. Padahal sangat jelas perbedaan antara orang mengatakan, “Lunasi sekarang atau ditunda dan ada ribanya.” dengan orang mengatakan, “Lunasi segera, nanti saya kasih potongan 100rb.” Bagaimana ini bisa disamakan. Sehingga tidak ada dalil yang menunjukkan haramnya, tidak pula ijma’, maupun qiyas yang shahih. (I’lamul Muwaqqi’in, 3/359).

Sementara riwayat yang menjadi acuan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma,

أن النَّبيّ صَلَّى اللَّه عَليه وسلَّم لمَّا أَمَر بإخْرَاج بَني النَّضير جَاء نَاس مِنهم فَقالوا : يَا نَبيّ اللَّه إنَّك أَمرْتَ بِإخراجِنا ولنا على النَّاس دِيون لم تَحِل

Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika memerintahkan untuk mengusir Bani Nadhir, datang beberapa orang diantara mereka dan mengatakan, ‘Wahai Nabi Allah, engkau memerintahkan untuk mengusir kami, sementara kami masih punya urusan utang piutang yang belum lunas.’

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi saran,

ضَعوا وتَعجَّلوا

Berikan potongan dan segerakan pembayarannya. (HR. Daruquthni dan Baihaqi dalam al-Kubro dan dalam sanadnya ada yang dhaif. Ibnul Qoyim mengatakan, hadis ini sesuai syarat kitab sunan, sanadnya tsiqah)

Juga disebutkan dalam riwayat lain dari Ka’ab radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau menagih utang dari Ibnu Abi Hadrad di masjid, sampai teriak-teriak, hingga terdengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau keluar rumah memanggil Ka’ab,

يا كعبُ ضع من دَينك هذا، فأومأ إليه: أي الشَّطرَ، قال: لقد فعلتُ يا رسولَ اللهِ، قال: قمْ فاقضِه

“Wahai Ka’ab, berikan potongan untuk utangnya,” beliau berisyarat setengah.

Ka’ab berkata, ‘Aku lakukan Ya Rasulullah.’ Beliau perintahkan kepada orang ini, “Lunasi utangnya.” (Muttafaq ‘alaih).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta kawannya Ka’ab untuk segera melunasi utangnya dan sebagai gantinya, diberi potongan setengahnya.

Ketiga, ketentuan ini dibolehkan khusus untuk akad mukatabah, sementara untuk akad yang lain tidak dibolehkan. Ini merupakan pendapat Imam Syafii dan Imam Abu Hanifah dalam salah satu riwayat.

Akad mukatabah adalah menjanjikan budak untuk merdeka jika bisa membayar sekian dinar selama rentang waktu sekian. Dianjurkan jika bisa melunasi lebih cepat untuk diberi potongan. Karena berarti menyegerahkan pembebasan budak yang itu dianjurkan. (I’lamul Muwaqqi’in, 3/359).

Tarjih:

Beberapa lembaga fatwa kontemporer, seperti Lajnah Daimah, Baitut Tamwil Kuwait, dan Majma’ al-Fiqh al-Islami – konferensi Fiqh di bawah al-Muktamar al-Islami pada muktamar ke-7 thn 1412 – mereka membolehkan kesepakatan adanya potongan karena percepatan pelunasan cicilan (dha’ wa ta’ajjal).

Pertimbangan terbesar mereka adalah bahwa dalam kesepakatan ini tidak ada riba sama sekali. Justru ini kebalikan dari riba. Sehingga hukum asalnya dibolehkan.

Demikian, Allahu a’lam.

Sumber: http://www.alifta.net/Fatawa/fatawaDetails.aspx?BookID=2&View=Page&PageNo=1&PageID=1450

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>
5 Artikel Berharga Seputar Nisfu Sya’ban https://konsultasisyariah.com/29482-5-artikel-berharga-seputar-nisfu-syaban.html Thu, 11 May 2017 02:31:48 +0000 https://konsultasisyariah.com/?p=29482 Nisfu Sya’ban

Bismillahirrahmanirrahiim…

Pembaca yang budiman, untuk memudahkan anda dalam mencari artikel seputar bulan sya’ban dan nisfu sya’ban, berikut kami haturkan 5 artikel penting seputar nisfu sya’ban,

[1] Keutamaan malam nisfu Sya’ban

Terdapat beberapa dalil yang menyebutkan keutamaan malam nisfu sya’ban. Namun untuk memahami itu, anda butuh keterangan para ulama. Silahkan simak penjelasannya di artikel berikut: Shalat Nisfu Sya’ban

[2] Nisfu Sya’ban, Amalan diangkat?

Sebagian masyarakat meyakini bahwa pada saat malam nisfu sya’ban, amal para hamba diangkat menuju Allah dan selanjutnya catatan amal ditutup. Apakah ini benar? kita perlu waspada, karena ini masuk ke masalah keyakinan. Jangan sampai salah, karena tidak dipandu dalil.

Simak penjelasannya di artikel berikut: Malam Nisfu Sya’ban Catatan Amal Ditutup

[3] Adakah Puasa setelah nisfu Sya’ban

Jika malamnya nisfu Sya’ban, apakah siangnya kita dianjurkan untuk puasa?

Agar kita tidak salah dalam beramal, harus tau panduannya. Simak artikel berikut: Adakah Puasa Nisfu Sya’ban

[4] Hukum puasa sunah setelah nisfu sya’ban

Katanya puasa setelah nisfu sya’ban dilarang? Kok bisa dilarang kenapa? Mana dalilnya?

Di sini dalilnya…: Hukum Puasa Setelah Nisfu Sya’ban

[5] Qadha puasa setelah masuk nisfu sya’ban

Jika setelah nisfu sya’ban dilarang puasa sunah, lalu bagaimana yang masih punya utang puasa? Boleh gak dia qadha setelah nisfu sya’ban? Baca Artikelnya di: Hukum Qadha Puasa Setelah Pertengahan Sya’ban

Semoga sajian artikel di atas bermanfaat…

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
]]>