Renungan Surat al-Kahfi (bagian 03)

6735
bacaan alquran

Renungan Surat al-Kahfi (bagian 03)

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Pada pembahasan sebelumnya kita telah mengupas berbagai pelajaran berharga dari surat al-Kahfi. Kita akan kembali melanjutkan beberapa pelajaran penting yang bisa kita gali dari surat al-Kahfi,

Pertama, kuasa Allah untuk menidurkan manusia selama 309 tahun, tanpa makan, tanpa minum, namun mereka bangun tetap dalam kondisi sehat bugar, dan tidak berubah raut mukanya. Semacam ini tidak perlu dibenturkan dengan ilmu kedokteran. Karena di luar kapasitas manusia.

وَلَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلَاثَ مِئَةٍ سِنِينَ وَازْدَادُوا تِسْعًا

“Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi)”

Catatan:

Dalam ayat dinyatakan: 300 + 9 tahun. Sebagian orang membuat perhitungan bahwa setiap perhitungan 300 tahun masehi sama dengan 309 tahun hijriyah. Atau dalam satu tahun masehi sama dengan 1 tahun hijriyah + 11 hari.

Kedua, mengembalikan pengetahuan hanya kepada Allah. Ini diantara adab yang Allah ajarkan ketika seseorang membicarakan sesuatu terkait masa silam atau terkait ajaran syariat. Tidak lupa mengucapkan ‘Allahu a’lam’. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dilarang untuk bertanya masalah ashabul kahfi kepada orang yahudi, Allah berikan wahyu kepada beliau, sebagian cerita tentang ashabul kahfi. Kemudian Allah perintahkan beliau untuk mengembalikan pengetahuan masalah ghaib itu kepada Allah semata.

قُلِ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثُوا لَهُ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَبْصِرْ بِهِ وَأَسْمِع

Katakanlah: “Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua); Hanya milik-Nya semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya;

Ketiga, membaca al-Quran yang sempurna adalah dengan memahami makna dan mengikuti isinya. Dan itulah makna tilawah al-Quran

وَاتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنْ كِتَابِ رَبِّكَ

Dan bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu kitab Tuhanmu (Al Quran).

Jika makna membaca hanya diartikan membaca dengan lisan, tanpa ada respon, tentu perintah ini tidak ada manfaatnya.

Keempat, berkawan dengan orang baik, butuh kesabaran

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ

“Bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya …”

Kelima, setiap manusia butuh komunitas yang baik, sekalipun dia manusia paling sempurna. Karena komunitas baik akan menjadi proteksi bagi lahir dan batin orang yang beriman.

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ

“Bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap wajah-Nya..”

Allah perintahkan Nabi-Nya – manusia paling mulia – untuk bersabar bersama orang yang mengisi hidupnya dengan ketaatan.

Catatan :

Pagi dan sore adalah waktu yang istimewa untuk berdzikir

Dalam al-Quran, Allah sering kali menyebut orang yang berdzikir di waktu pagi dan sore, beribadah ketika pagi dan sore, dst.

Dari Abu Umamah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَلأَنْ أَقْعُدَ غُدْوَةً إِلَى أَنْ تُشْرِقَ الشَّمْسُ أَحَبُّ إِلَىَّ مِنْ أَنْ أُعْتِقَ أَرْبَعَ رِقَابٍ وَبَعْدَ الْعَصْرِ حَتَّى تَغْرُبَ الشَّمْسُ أَحَبُّ إِلَىَّ مِنْ أَنْ أُعْتِقَ أَرْبَعَ رِقَابٍ

Aku duduk berdzikir setelah subuh hingga terbit matahari, lebih aku sukai dari pada membebaskan 4 budak. Dan berdzikir setelah asar sampai terbenam matahari, lebih aku sukai dari pada membebaskan 4 budak. (HR. Ahmad 22914, dan para perawinya dinilai Tsiqah).

Keenam, Diantara manfaat besar ketika berkumpul dengan komunitas orang baik,

1. Mengurangi rasa tamak terhadap dunia dan mengingatkan akan akhirat

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا

bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini;

2. Memutus peluang untuk mengikuti para ahli maksiat atau penganut kesesatan

وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَن ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

“dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya..”

Ketujuh, orang yang jauh dari peringatan Allah, pasti menjadi budak hawa nafsunya

وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ

“dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya..”

Kedelapan, kebenaran dan kesesatan telah jelas. Sehingga manusia bisa berfikir, di posisi mana dia harus memilih. Yang semua itu akan dipertanggung jawabkan kelak di akhirat.

وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا

Katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka

Catatan:

Ayat ini sama sekali bukan dalil tentang kebebasan beragama, sebagaimana anggapan JIL. Dengan alasan,

1. Ayat di atas hanya mengembalikan pilihan antara: beriman dan kafir. Sementara tidak  ada satupun agama yang bersedia disebut kafir, meskipun hakekatnya kafir.

وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ

“Katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”

2. Adanya ancaman neraka di lanjutan ayat,

إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا

“Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka.”

3. Siapapun yang memilih selain islam, dia kafir dan berhak mendapat ancaman itu.

Kesembilan, iman seringkali digandegkan dengan amal soleh

Karena iman mewakili syahadat laa ilaaha illallah, sementara amal soleh mewakili syahadat Muhammad Rasulullah. Karena itu, satu amal tidak bisa disebut soleh, kecuali jika sesuai dengan petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

إِنَّ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجْرَ مَنْ أَحْسَنَ عَمَلا

Sesunggunya mereka yang beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala mereka.

Kesepuluh, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal hamba dan jaminan pahala dari Allah bagi orang yanng beramal kebaikan.

إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجْرَ مَنْ أَحْسَنَ عَمَلًا ( ) أُولَئِكَ لَهُمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ

Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan yang baik. ( ) Mereka itulah (orang-orang yang) bagi mereka surga ‘Adn (kekal).

Demikian, Allahu a’lam

Bersambung insyaaAllah..

Baca sebelumnya:

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial