Mimpi Dusta untuk Mendakwahi Keluarga

4280
mimpi melihat akhirat
Ilustrasi @unsplash

Mengaku Mimpi Melihat Akhirat ?

Bolehkah dusta menceritakan mimpi untuk menasehati suami atau anak-anak yang malas ibadah.. misalnya, berpura-pura mimpi bahwa suami atau anak-anak dihukum di akhirat, agar dia mau rajin shalat. Mohon pencerahannya.

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Termasuk diantara dosa besar, mengaku bermimpi padahal tidak pernah mengalami mimpi itu.

Dari Watsilah bin al-Asqa’ Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ مِنْ أَفْرَى الفِرَى أَنْ يُرِيَ عَيْنَيْهِ مَا لَمْ تَرَ

“Sungguh termasuk kedustaan yang paling besar adalah menceritakan mimpi yang tidak pernah dia alami.” (HR. Bukhari 7043 dan Ahmad 16980).

Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan ancaman khusus bagi orang yang mengaku bermimpi, padahal tidak pernah mengalaminya.

Dalam hadis dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَحَلَّمَ بِحُلْمٍ لَمْ يَرَهُ كُلِّفَ أَنْ يَعْقِدَ بَيْنَ شَعِيرَتَيْنِ، وَلَنْ يَفْعَلَ

“Siapa yang mengaku bermimpi, padahal dia tidak mengalaminya, maka kelak di hari kiamat dia akan dibebani perintah untuk mengikat 2 biji gandum, dan tidak mungkin bisa melakukannya.” (HR. Bukhari 7042).

Mengapa ancamannya sangat besar?

Al-Hafidz Ibnu Hajar mengutip keterangan at-Thabari,

أما الكذب في المنام: فقال فيه الطبري: إنما اشتد فيه الوعيد مع أن الكذب في اليقظة قد يكون أشد مفسدة منه؛ إذ قد تكون شهادة في قتل أو حد أو أخذ مال؛ لأن الكذب في المنام كذب على الله أنه أراه ما لم يره، والكذب على الله أشد من الكذب على المخلوقين

Berdusta menceritakan mimpi, dijelaskan oleh at-Thabari, mengapa dusta dalam hal mimpi ada ancaman besar, padahal dusta terkait kehidupaan riil bisa jadi kerusakannya lebih besar. Karena dusta itu bisa terkait pembunuhan atau mengambil harta orang lain. (jawabannya) karena dusta terkait mimpi adalah kedustaan atas nama Allah, bahwa dia bermimpi sesuatu padahal dia tidak pernah mengalaminya. Sementara berdusta atas nama Allah lebih berat dosanya dibandingkan berdusta atas nama makhluk.

Kemudian at-Thabari melanjutkan,

وإنما كان الكذب في المنام كذبا على الله لحديث الرؤيا جزء من النبوة، وما كان من أجزاء النبوة فهو من قبل الله تعالى

Berdusta terkait mimpi termasuk berdusta atas nama Allah, karena hadis yang menyebutkan bahwa mimpi itu bagian dari nubuwah. Sementara apapun yang merupakan bagian dari nubuwah, berarti itu datang dari Allah. (Fathul Bari, 12/428).

Bagaimana jika tujuannya untuk dakwah?

Dalam islam kita diajarkan bahwa kita tidak boleh menilai sesuatu hanya berdasarkan niat dan tujuannya. Karena islam untuk menilai cara dan amalnya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan,

إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَ أَمْوَالِكُمْ وَ لَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَ أَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa kalian, juga tidak kepada harta kalian, akan tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian.” (HR. Muslim 2564, Ibn Majah 4143, dan yang lainnya)

Karena itu, jika ada amal yang tujuannya baik, niatnya baik, namun caranya jelek, tetap dihukumi jelek.

Ingin menyadarkan suami atau istri dan anak-anak agar mau shalat, memang tujuan yang baik. Namun jika ini dilakukan dengan mengaku-ngaku bermimpi padahal itu dusta, jelas ini dilarang dan bahkan dosa besar.

Imam Ibnu Utsaimin pernah ditanya tentang orang yang mengaku bermimpi mengalami kejadian tertentu, untuk menakut-nakuti suami tentang neraka agar mau shalat.

Jawaban beliau,

الكذب في الحلم حرام، بل من كبائر الذنوب؛ لأن الإنسان إذا كذب في الحلم، أي: قال: إني رأيت في المنام كذا. وهو لم يره، فإنه يعذب يوم القيامة، يكلف بأن يعقد بين شعيرتين وليس بعاقد، ولا يقال: إنه إذا كان هناك مصلحة جاز الكذب؛ لأنه لا يمكن أن يدعى إلى الله بمعصية الله أبدًا، ولكن يكفينا ما في القرآن والسنة من المواعظ

Berdusta tentang mimpi hukumnya haram, bahkan dosa besar. Karena ketika seseorang berdusa tentang mimpinya, dimana dia mengatakan, saya bermimpi seperti ini, padahal dia tidak mengalaminya, maka kelak di hari kiamat dia akan dihukum dengan dibebani perintah untuk mengikat 2 biji gandum, dan tidak mungkin bisa melakukannya. Kita tidak boleh mengatakan, jika di sana ada maslahatnya maka boleh berdusta. Karena selamanya kita tidak mungkin mengajak orang kembali kepada Allah dengan cara bermaksiat kepada Allah. Namun cukup kita nasehati dengan al-Quran dan sunah. (Fatawa Nur ala ad-Darb, volume 9).

Anda bisa ajak keluarga – suami dan anak-anak – untuk ikut kajian sunah. karena ketika manusia memiliki komunitas yang baik, semoga dia bisa ketularan jadi baik.

Demikian.

Semoga bermanfaat..

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
  • KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989