AQIDAH

Hukum Membersihkan Makam

Pertanyaan:

Apakah diperbolehkan membersihkan makam orang tua saya? Semisal hanya sekedar mencabuti rumput yang ada di sana atau membersihkan dedaunan dan sampah-sampah yang ada di sana? Apakah terlarang dan termasuk kesyirikan?

Jawaban:

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu wassalamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in, amma ba’du.

Wajib untuk menjaga kehormatan mayit, tidak boleh melakukan perbuatan yang merendahkan mayit. Sebagaimana kita wajib menjaga kehormatan orang yang masih hidup. Oleh karena itu kita dilarang untuk menduduki kuburan. Dalam hadits dari Jabir radhiyallahu’anhu, beliau berkata:

نَهَى أن يقعدَ على القَبرِ، وأن يُقصَّصَ ويُبنَى علَيهِ زادَ في روايةٍ أو يُزادَ علَيهِ، وفي أخرى أو أن يُكْتبَ علَيهِ

“Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam melarang kuburan diduduki, dikapur, dan dibangun. Dalam riwayat lain, beliau melarang kuburan ditinggikan. Dalam riwayat yang lain, beliau melarang kuburan ditulis.” (HR. Muslim no. 970).

Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan, “Siapa yang mentadabburi tentang larangan duduk di atas kuburan, atau bersandar pada kuburan, atau menginjak kuburan, maka ia akan mengetahui bahwa semua larangan tersebut dalam rangka menghormati penghuninya (yaitu si mayit). Agar para peziarah tidak menginjak kepala penghuni kubur tersebut dengan sandalnya” (Dinukil dari Al-Mulakhos Al-Fiqhi, hal 165).

Dengan demikian, jika membersihkan kuburan itu dalam rangka menjaga kehormatan mayit, sehingga kuburannya tidak terinjak dan tidak diduduki, ini perkara yang baik. 

Begitu pula, jika kuburan dibersihkan agar tidak ada gangguan bagi orang yang berziarah kubur, maka ini adalah kebaikan. Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan,

ينبغي هذا؛ لأنها تؤذي الزوار فينبغي قطعها إذا وجد شجر على المقابر ولاسيما ذات الشوك ينبغي إزالتها، وهكذا إذا كانت قد يظن منها أن صاحبها ولي عند بعض العامة أو صاحبها يعني يدعى من دون الله، ينبغي أن تزال حتى لا يظن في صاحب القبر خلاف الحق، فإذا كان وجود أشياء قد يسبب شراً

“Membersihkan kuburan hendaknya dilakukan, karena adanya tanaman liar akan mengganggu orang-orang yang berziarah. Maka hendaknya dipotong jika ada tanaman yang berada di atas pemakaman. Lebih lagi tanaman yang berduri, maka sudah semestinya dihilangkan. Demikian juga jika ada keyakinan tahayul bahwa penghuni kubur telah memerintahkan seseorang untuk membersihkan kuburnya, atau meyakini bahwa kuburnya boleh dijadikan tujuan berdoa selain Allah, maka hendaknya dibersihkan sendiri tanamannya untuk mencegah adanya keyakinan yang tidak benar. Karena segala sesuatu yang bisa menyebabkan keburukan hendaknya dihilangkan.” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi, no. 146).

Dewan Fatwa Islamweb juga menjelaskan:

أما تنظيف المقابر من الأشجار والنباتات فلم نطلع على ما يدل على أنه مطلوب ولا على ما يدل على أنه ممنوع، فيبقى على الإباحة وخاصة إذا كان فيه منفعة.

“Adapun membersihkan kuburan dari pepohonan dan rerumputan, kami tidak mendapat adanya perintah syariat dan tidak mendapati adanya larangan syariat. Sehingga hukumnya kembali kepada mubah (boleh), terlebih lagi jika ada manfaatnya” (Fatwa Islamweb no. 61833).

Namun membersihkan kuburan tidak boleh berlebihan sehingga sampai menghiasi kuburan dengan pepohonan dan hiasan yang indah. Karena hal tersebut akan membuat peziarah mengagungkan kuburan dan menjerumuskan kepada keyakinan-keyakinan yang tidak benar. Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu’anhuma, beliau mengatakan,

لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ زَائِرَاتِ الْقُبُوْرِ وَالْمُتّخِذِيْنَ عَلَيْهَا الْمَسَاجِدَ وَالسّرُجَ

“Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam melaknat para wanita yang sering berziarah kubur, serta orang-orang yang membuat kuburan sebagai tempat ibadah dan yang memberi lampu penerangan pada kuburannya.” (HR. Abu Daud no. 3236, At-Tirmidzi no. 320, An-Nasai no. 2043, dishahihkan Ahmad Syakir dalam Takhrij Musnad [4/354]).

Asy-Syaukani rahimahullah mengatakan:

الوقف على القبور إن كان لرفعها أو تزيينها فلا شك في بطلانه ، وأشد من ذلك ما يجلب الفتنة على زائرها كوضع الستور الفائقة والأحجار النفيسة ونحو ذلك ؛ فإن هذا مما يوجب أن يعظم صاحب ذلك القبر في صدر زائره من العوام فيعتقد فيه ما لا يجوز

“Wakaf harta untuk kuburan, jika digunakan untuk meninggikan kuburan atau menghiasi kuburan, maka tidak ragu lagi kebatilannya. Dan lebih parah lagi, perkara yang menimbulkan fitnah (penyimpangan) pada para peziarah, seperti menaruh tirai tebal pada kuburan, atau menaruh batu-batu berharga pada kuburan, dan semisalnya, dan perkara-perkara yang membuat penghuni kubur menjadi diagungkan di hati para peziarah yang awam, sehingga mereka meyakini keyakinan yang tidak benar” (Ad-Darari Al-Mudhiyyah, 2/301).

Syaikh Muhammad bin Ibrahim juga menjelaskan:

أما تشجير المقبرة فهو لا يجوز ، وفيه تشبه بعمل النصارى الذين يجعلون مقابرهم أشبه ما تكون بالحدائق ، فيجب إزالتها ، وإزالة صنابير الماء التي وضعت لسقيها ، ويبقى من الصنابير ما يحتاج إليه للشرب وتليين التربة .وأما إضاءة المقبرة فيخشى أن يجر ذلك إلى إسراج القبور الذي لعن رسول الله صلى الله عليه وسلم فاعله ، ولا سيما ونفوس الجهال تتعلق كثيراً بالخرافات ، فتزال هذه الأنوار سداً للذريعة

“Adapun menanam pohon di kuburan, ini hukumnya tidak boleh. Dalam perbuatan ini juga terdapat unsur tasyabbuh kepada orang-orang Nasrani yang mereka menjadikan kuburan seperti taman-taman. Maka wajib menghilangkan pepohonan yang demikian. Dan menghilangkan keran-keran air yang digunakan untuk mengairi pepohonan tersebut. Namun yang boleh adalah keran yang digunakan untuk minum atau untuk melembutkan tanah. Demikian juga tidak boleh menerangi kuburan dengan lampu-lampu hias, sehingga dikhawatirkan hal ini akan termasuk perbuatan menerangi kuburan yang pelakunya dilaknat oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Terlebih lagi bagi orang-orang awam, akan timbul keyakinan-keyakinan khurafat pada diri mereka. Maka hendaknya menghilangkan lampu-lampu tersebut untuk menutup celah kepada keburukan.” (Fatawa wa Rasail Syaikh Muhammad bin Ibrahim, 3/161).

Demikian juga tidak diperbolehkan mengkhususkan waktu untuk membersihkan kuburan pada hari-hari tertentu, seperti menjelang Ramadhan atau menjelang hari raya. Karena perbuatan seperti ini didasari atas keyakinan tertentu yang tidak ada dasarnya dalam syariat. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan:

 ولم يرد أنه صلى الله عليه وسلم يخص المقبرة بزيارةٍ بعد صلاة العيد وعلى هذا فتخصيصها بهذا اليوم أو الذهاب إلى المقبرة في هذا اليوم يعتبر من البدع التي لا يجوز للمرء أن يتقيد بها وإن كان الأصل أن الزيارة مشروعة ولكن تخصيصها في هذا اليوم أو فيما بعد الصلاة هو من البدع

“Tidak terdapat riwayat bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhususkan waktu tertentu untuk berziarah kubur setelah shalat ‘id. Berdasarkan hal ini, maka mengkhususkan ziarah kubur di hari itu atau pergi ke pemakaman di hari itu, termasuk perbuatan bid’ah yang tidak boleh bagi seseorang untuk meyakininya. Walaupun pada asalnya, ziarah kubur itu adalah perbuatan disyariatkan. Akan tetapi, ketika ziarah kubur tersebut dikhususkan di hari ‘id atau setelah shalat ‘id, maka ini termasuk kebidahan” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi, 3/40).

Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik.

Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in.

***

Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

REKENING DONASI:

BANK SYARIAH INDONESIA
7086882242
a.n. YAYASAN YUFID NETWORK (Kode BSI: 451)

🔍 Hukum Menjual Mas Kawin, Mandi Nifas Dan Wiladah, Gambar Wanita Sujud, Waktu Yang Baik Untuk Sholat Dhuha, Artikel Cara Mengeluarkan Air Mani Wanita, Innalillahiwainnailaihirojiun Arti, Niat Mandi Wajib Perempuan

QRIS donasi Yufid