Mari bersama menabung pahala amal jariyah untuk kehidupan kita kelak di akhirat.   BSI: 7086882242
a.n. Yayasan Yufid Network  

Seluruh dana untuk operasional produksi konten dakwah di Yufid: Yufid.TV, YufidEDU, Yufid Kids, website dakwah (KonsultasiSyariah.com, Yufid.com, KisahMuslim.com, Kajian.Net, KhotbahJumat.com, dll).

Yufid menerima zakat mal untuk operasional dakwah Yufid

Nasehat

Tujuan-Tujuan Turunnya Musibah

Oleh:

Abdul Qadir Daghuti

Allah Subhanahu wa Ta’ala menguji para hamba-Nya dengan berbagai bentuk musibah yang Dia kehendaki, berbagai macam kesulitan dan ujian. Hanya saja itu tidak menjadi tujuan awal dari syariat yang penuh kebijaksanaan ini, tapi merupakan tujuan turunan, atau tujuan yang hanya menjadi sarana bukan tujuan pokok. Sebab, Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Mulia menjadikannya sebagai sarana untuk merealisasikan tujuan-tujuan syariat, dan intinya adalah untuk mewujudkan kebaikan bagi orang-orang beriman, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 216).

فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

“Boleh jadi kalian tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan padanya banyak kebaikan.” (QS. An-Nisa: 19).

Berikut ini adalah beberapa tujuan dari diturunkannya musibah yang disebutkan secara langsung dalam Kitabullah dan sunah Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam:

  1. Menjadi pengingat bagi orang-orang yang lalai

Mungkin ada seorang hamba yang lalai dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengabaikan kewajiban-kewajibannya, sibuk dengan perhiasan kehidupan dunia, dan tenggelam dalam syahwat-syahwatnya, tapi apabila musibah turun menimpanya, ia segera tersadar dari kelalaiannya, merasakan kelemahan dan ketidakberdayaannya, sehingga ia kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan penuh keinsafan dan permohonan ampun, berdiri di pintu-Nya mengharapkan rahmat-Nya. Dalam hal ini Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَبَلَوْنَاهُمْ بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Kami menguji mereka dengan kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan agar mereka kembali (kepada kebenaran).” (QS. Al-A’raf: 168).

Yakni Kami menguji mereka dengan kenikmatan dan musibah, kesulitan dan kelapangan, agar mereka berhenti dari kekafiran dan kemaksiatan. (Shafwah At-Tafasir karya Muhammad Ali Ash-Shabuni” jilid 1 hlm. 443).

Salah satu tujuan dari ujian adalah menyelamatkan para hamba dari tawanan setan, membebaskan mereka dari belenggu hawa nafsu dan syahwat, membangunkan mereka dari lelapnya kelalaian, sehingga mereka kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mendekat kepada-Nya, dan berusaha memperbaiki hubungan mereka dengan-Nya, sehingga keadaan mereka membaik. Ibnu Athaillah As-Sakandari berkata: “Siapa yang tidak mendekat kepada Allah dengan lembutnya kebaikan, ia akan diseret kepada-Nya dengan rantai-rantai ujian.” (Hikam Ibn Athaillah as-Sakandari hlm. 62).

  1. Penyuci orang-orang beriman

Di antara bentuk rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada para hamba-Nya yang beriman adalah apabila Dia hendak menyucikan mereka dari pengaruh-pengaruh dosa mereka, Dia akan menimpakan mereka dengan sedikit musibah, sebagaimana yang disebutkan dalam hadis dari Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam:

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ، وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ، وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةُ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah seorang muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kegelisahan, kesedihan, gangguan, atau kesusahan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan dengan itu Allah akan menghapuskan sebagian dosa-dosanya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Beliau juga bersabda:

مَا يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ، حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ تَعَالَى وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

“Ujian akan terus menimpa seorang mukmin dan mukminah pada dirinya, anaknya, dan hartanya, hingga ia bertemu Allah dalam keadaan tidak memiliki dosa.” (HR. At-Tirmidzi no. 2399).

Diriwayatkan dari seorang salaf, ia berkata: “Kalaulah bukan karena musibah-musibah dunia, niscaya kita akan datang pada hari kiamat dalam keadaan bangkrut.”

  1. Menyaring orang-orang yang bersabar

Allah Subhanahu wa Ta’ala menguji para hamba-Nya untuk menyaring keimanan mereka, memilah kedudukan mereka, dan menampakkan dari mereka siapa orang yang bersabar ketika musibah menimpa. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّى نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ أَخْبَارَكُمْ

“Dan sungguh Kami benar-benar akan menguji kalian, sehingga Kami mengetahui siapa di antara kalian yang berjihad dan bersabar, dan Kami akan menguji (menampakkan) keadaan kalian.” (QS. Muhammad: 31).

Al-Hasan Al-Bashri Rahimahullah berkata: “Orang-orang sama pada kondisi penuh kenikmatan, lalu pada saat turun musibah, tersingkap jelaslah hakikat mereka.” (Shaid Al-Khathir karya Imam Ibnu Al-Jauzi hlm. 139).

Orang-orang yang bersabar ketika musibah menimpa akan diistimewakan dengan banyak karamah ilahi, dan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala yang luas, di antaranya:

Kecintaan Allah bagi mereka dan mereka senantiasa disertai oleh Allah secara khusus

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ

“Karena itu mereka tidak menjadi lemah terhadap apa yang menimpa mereka di jalan Allah, tidak pula mereka menjadi lemah dan tidak (pula) menyerah; dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (QS. Ali Imran: 146). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan dengan sabar dan salat, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153).

وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Dan bersabarlah, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal: 46).

Derajat mereka ditinggikan

Dalam hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda:

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَكُونُ لَهُ الْمَنْزِلَةُ عِنْدَ اللَّهِ، فَمَا يَبْلُغُهَا بِعَمَلٍ، فَلَا يَزَالُ اللَّهُ يَبْتَلِيهِ بِمَا يَكْرَهُ حَتَّى يُبَلِّغَهُ إِيَّاهَا

“Sesungguhnya seseorang memiliki kedudukan di sisi Allah yang tidak dapat ia capai dengan amalnya, sehingga Allah terus mengujinya dengan sesuatu yang ia tidak sukai, sampai Dia menyampaikannya kepada kedudukan tersebut.” (Dishahihkan Al-Albani dalam As-Silsilah ash-Shahihah no. 2599).

Manusia yang paling dekat dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan paling tinggi derajatnya adalah para nabi dan rasul, karena mereka adalah manusia dengan ujian yang paling berat, sebagaimana yang disampaikan oleh Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam.

Mendapatkan kejayaan

Ada seorang lelaki yang bertanya kepada Imam asy-Syafi’i: “Wahai Abu Abdillah! Mana yang lebih baik bagi seseorang, apakah diberi kejayaan atau ujian?” Imam asy-Syafi’i lalu menjawab: “Seseorang tidak akan diberi kejayaan hingga ia diberi ujian terlebih dulu. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi ujian bagi Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad Alaihimussalam, dan ketika mereka bersabar, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi mereka kejayaan, maka jangan ada orang yang mengira akan selamat dari rasa sakit sepenuhnya.” (Al-Fawaid karya Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah hlm. 222).

Mendapat ampunan dosa, pelipatgandaan pahala, dan kabar gembira yang membahagiakan mereka

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ * الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ * أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

“Dan sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka berkata: ‘Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali.’ Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155-157). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

لَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ

“Kecuali orang-orang yang bersabar dan beramal saleh, mereka itu memperoleh ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Hud: 11). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

أُولَئِكَ يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُمْ مَرَّتَيْنِ بِمَا صَبَرُوا

“Mereka itu diberi pahala dua kali lipat karena kesabaran mereka.” (QS. Al-Qasas: 54). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

إِنِّي جَزَيْتُهُمُ الْيَوْمَ بِمَا صَبَرُوا أَنَّهُمْ هُمُ الْفَائِزُونَ

“Sesungguhnya Aku memberi balasan kepada mereka pada hari ini karena kesabaran mereka, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang menang.” (QS. Al-Mu’minun: 111).

Penutup

Ada beberapa perkara yang dapat meringankan beban ujian dari seorang mukmin, dan menguatkan ketabahannya yang disertai bersabar, teguh, ridha, dan yakin sehingga ia tidak marah, berkeluh kesah, dan putus asa, yaitu dengan mengetahui hakikat-hakikat penting berikut, yaitu:

  1. Musibah yang menimpa hamba Allah tidak akan berlangsung selamanya, ketika musibah itu turun, ia telah ditetapkan waktunya, lalu kembali diangkat dan selesai. Ibnu Al-Jauzi Rahimahullah berkata: “Musibah punya akhir yang waktunya diketahui dengan pasti oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga orang yang diberi musibah harus bersabar hingga waktu musibah itu berakhir.” (Shaid Al-Khathir hlm. 155).
  2. Yang memberi ujian kepada seorang hamba adalah Tuhannya Yang Maha Pemurah, Maha Pengasih, dan Maha Penyayang. Dalam musibah yang diturunkan kepada para hamba-Nya, Dia memberi banyak kebaikan bagi mereka yang tidak mungkin ada yang dapat menghitungnya kecuali Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 216).

فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

“Boleh jadi kalian tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan padanya banyak kebaikan.” (QS. An-Nisa: 19).

Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata: “Siapa yang lurus pengetahuannya terhadap Tuhannya, dan memahami makna nama-nama dan sifat-sifat-Nya, niscaya ia mengetahui dengan penuh keyakinan bahwa segala yang ia benci yang menimpanya dan musibah-musibah yang turun kepadanya mengandung banyak bentuk kemaslahatan dan manfaat yang tidak mungkin dapat terhitung olehnya.

Bahkan kemaslahatan seorang hamba dalam hal yang ia benci lebih besar daripada kemaslahatan dalam hal yang ia sukai. Apabila seorang hamba telah mampu memahami hakikat ini, niscaya ia akan hidup tenang di dunia sebelum di akhirat di dalam surga, nikmat ketenangan di dunia itu tidak ada tandingannya kecuali dengan nikmat surga di akhirat kelak, ia akan senantiasa merasa ridha dengan Tuhannya, sedangkan keridhaan merupakan surga dunia dan tempat ketenangan bagi orang-orang arif.

Keridhaan adalah kepuasan jiwa atas takdir-takdir yang berlaku padanya yang merupakan hakikat dari pilihan Allah Subhanahu wa Ta’ala baginya, dan ketenteraman jiwa dengan hukum-hukum agama-Nya. Inilah yang dimaksud dengan ridha kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai Tuhannya, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai Rasul.” (Al-Fawaid hlm. 91).

Ibnu Athaillah As-Sakandari Rahimahullah berkata: “Untuk meringankan musibah darimu, engkau harus mengetahui bahwa Dialah yang sedang mengujimu dan yang mengarahkan takdir-takdir kepadamu. Dia juga yang membiasakanmu dengan pilihan yang terbaik.” (Hikam Ibn Athaillah as-Sakandari hlm. 90).

Sumber:

https://www.alukah.net/sharia/11875/167699/مقاصد-البلاء/

Sumber artikel PDF

🔍 Diganggu Jin Saat Tidur, Arti Mimpi Lagi Sholat, Bacaan Tahiyat Awal Sesuai Sunnah, Ilmu Karomah, Disetubuhi Jin

Visited 1 times, 1 visit(s) today

QRIS donasi Yufid