Mari bersama menabung pahala amal jariyah untuk kehidupan kita kelak di akhirat.   BSI: 7086882242
a.n. Yayasan Yufid Network  

Seluruh dana untuk operasional produksi konten dakwah di Yufid: Yufid.TV, YufidEDU, Yufid Kids, website dakwah (KonsultasiSyariah.com, Yufid.com, KisahMuslim.com, Kajian.Net, KhotbahJumat.com, dll).

Yufid menerima zakat mal untuk operasional dakwah Yufid

Nasehat

Saya Lelah dengan Beban-Beban Hidup

Oleh: Syaikh Khalid bin Abdul Mun’im Ar-Rifa’i

Ringkasan Pertanyaan:

Ada pemuda yang terhimpit oleh urusan dunia, tidak punya harta atau pekerjaan, ia bertanya, “Apa yang harus saya lakukan?”

Pertanyaan Lengkap:

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Saya pemuda berusia 20 tahun. Saya hidup dalam keadaan yang sulit sekali, dengan masalah-masalah mental, keluarga, dan finansial. Saya tidak ingat pernah mendapatkan apa yang saya inginkan, baik itu dari sisi materi, mental, dan perasaan.

Ayahku tidak peduli dengan kami, tidak memberi bantuan apa pun kepada kami. Dia ada tapi seperti tidak ada. Masa remaja dan masa mudaku penuh kegagalan. Saya tidak bisa sukses karena kondisi finansial dan mentalku.

Saya orang yang pemalu, tidak bisa menghadapi kenyataan dan tidak puas dengannya. Saya selalu melihat diriku lebih rendah dari orang lain. Faktor terpenting yang menyebabkan hal ini adalah karena mataku juling. Namun sekarang, Alhamdulillah setelah semakin dewasa, saya sudah tidak peduli lagi dengan apa pun, meskipun saya masih merasa frustrasi dan putus asa akibat mata juling serta kemiskinan parah ini.

Sekarang saya tinggal bersama salah satu teman, tapi saya tidak bisa memenuhi kebutuhan pokok untuk kehidupanku, bahkan dokter telah menyuruhku membeli kacamata medis, tapi saya tidak mampu membelinya karena tidak punya uang.

Saya sudah mencari pekerjaan ke mana-mana, dan saya sudah berpikir untuk menyerah saja, karena saya hanya pemuda yang tidak punya uang dan ketampanan, tidak berhasil dalam pekerjaan dan pendidikan, dan hidupku tersia-siakan di hadapanku.

Semua temanku mendapatkan bantuan dan dukungan dari keluarga mereka, sedangkan saya sendiri yang semua pintu tertutup di depanku!

Kehidupan telah membuatku hancur lebur. Saya memandang bahwa umur dan harta adalah asas kesuksesan dalam hidup ini. Saya punya keinginan besar untuk belajar, tekad yang kuat, dan kesungguhan. Namun, urusan uang menghalangiku. Apakah saya masih bisa sukses? Apakah menerima bantuan finansial bagi pelajar adalah aib?

Jawaban:

Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam, juga kepada keluarga, para sahabat, dan para pengikut beliau. Amma ba’du:

Tenangkan dirimu, wahai anakku tercinta! Meskipun rezekimu sempit. Jangan sedih dan putus asa! Jangan menyerah pada kelemahan, serta bisikan dirimu dan setan! Lawanlah kesedihan dan kesempitan dada dengan yakin kepada keadilan Allah Subhanahu wa Ta’ala! Bersandarlah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata! Bersabarlah sekuat tenaga! Tingkatkanlah ketakwaanmu, perbaiki amalanmu, dan berikhtiarlah! Jangan sampai menyerah dengan godaan dan tipu daya setan! Jauhkan dari dirimu perasaan gagal! Bersungguh-sungguhlah, karena kesungguhan adalah salah satu jalan terbesar untuk meraih kebaikan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۗ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, niscaya Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sungguh, Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat ihsan.” (QS. Al-Ankabut: 69).

Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda:

إِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ، وَإِنَّمَا الْحِلْمُ بِالتَّحَلُّمِ، وَمَنْ يَتَحَرَّ الْخَيْرَ يُعْطَهُ، وَمَنْ يَتَّقِ الشَّرَّ يُوقَهُ.

“Sesungguhnya ilmu diperoleh dengan belajar, dan sikap santun diperoleh dengan melatih diri untuk bersikap santun. Barang siapa berusaha mencari kebaikan, niscaya ia akan diberinya. Dan barang siapa berusaha menghindari keburukan, niscaya ia akan dilindungi darinya.” (HR. Ad-Daruquthni. Dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jami).

Wahai anakku! Buanglah jauh-jauh pandangan pesimis dan minder dengan melakukan interaksi positif dengan orang-orang di sekitarmu, mendekat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan tulus, dan berbaik sangka kepada-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam hadits qudsi:

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا دَعَانِي

“Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya ketika ia berdoa kepada-Ku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Dan dalam riwayat lain disebutkan: 

إِنْ ظَنَّ خَيْرًا فَخَيْرٌ، وَإِنْ ظَنَّ شَرًّا فَشَرٌّ

“Jika ia berprasangka baik, maka baginya kebaikan. Dan jika ia berprasangka buruk, maka baginya keburukan.” 

Laksanakanlah salatmu dengan sepenuh hati, menghayati Al-Qur’an dan zikir-zikir yang engkau baca, menghadirkan dalam hati keagungan Tuhanmu, berpaling dari dunia dan segala hiruk-pikuknya, penuh keyakinan bahwa seorang hamba tidak punya kuasa apa pun terhadap dirinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menetapkan segala sesuatu dengan kebijaksanaan dan rahmat-Nya, baik itu kesehatan, rezeki, kenikmatan, kebaikan, musibah, atau kesempitan rezeki. Namun, pahala akan semakin besar jika diiringi kesabaran.

Ketahuilah —semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberimu keselamatan dan melapangkan dadamu— bahwa salah satu hikmah Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah menjadikan hari-hari silih berganti dan keadaan selalu berubah. Kesulitan akan disusul kemudahan, kemiskinan akan diganti kekayaan, dan begitu seterusnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ

“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia.” (QS. Ali Imran: 140).

Dan jiwa yang beriman adalah yang bersabar atas kesulitan dan tidak terbuai oleh kesenangan. Ia tetap menghadap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam dua kondisi itu, yakin bahwa kebaikan dan keburukan yang menimpanya adalah dengan izin Allah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ

“Setiap waktu Dia berada dalam kesibukan (mengatur urusan makhluk-Nya).” (QS. Ar-Rahman: 29). 

Allahlah yang membuat orang miskin menjadi kaya, memulihkan hati yang terluka, melimpahkan karunia kepada suatu kaum dan menahannya dari kaum yang lain, serta yang memuliakan dan menghinakan. Maha Suci Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Pemberi. Dia memberi jalan keluar setelah kesempitan, kemudahan setelah kesulitan, keluasan setelah keterbatasan.

Wahai anakku! Berusahalah agar pintu-pintu harapan akan berubahnya keadaan selalu terbuka, agar jiwamu tetap tergerak oleh harapan itu, tetap basah oleh asa. Percayalah dengan rahmat, keadilan, hikmah, dan ilmu Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena Dialah satu-satunya tempat berlindung yang aman. Janganlah engkau menutup setiap pintu atau mengurung dirimu dalam penjara masa sekarang, karena kondisi masa depan bisa jadi membawa hal yang di luar perkiraanmu.

“Engkau tidak mengetahui, boleh jadi setelah itu Allah mengadakan suatu ketentuan yang baru.” (QS. At-Talaq: 29).

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).

Wahai anakku! Janganlah engkau memandang orang yang kedudukannya lebih di atasmu, tapi lihatlah yang ada di bawahmu, niscaya engkau akan memahami bagaimana nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala terlimpah kepadamu. Engkau pasti menemukan orang yang lebih buruk kondisinya daripada dirimu. Ada orang yang lebih miskin dan terlilit banyak utang. Meskipun harta yang ada di tanganmu itu sedikit, tapi ada orang lain yang kehilangan harta, kesehatan, dan anak sekaligus. Bahkan ada orang yang tidak punya lagi Tanah Air, maka serahkanlah urusanmu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya engkau akan selamat.

Tidak diragukan bahwa habisnya kesabaran dan lemahnya diri dalam memikul beratnya kemiskinan adalah kondisi yang menunjukkan kelemahan manusia, tapi janganlah itu menyeretmu kepada keluh kesah, sehingga timbangan nilai-nilai diri menjadi runtuh, dan ini tentu menjadi musibah yang besar, semakin seret rezeki, semakin besar juga ujiannya.

Apabila kondisi sudah sangat menghimpitmu dan berbagai usaha tidak memberi hasil dengan semestinya, maka sebenarnya masih ada tempat berlindung yang terkuat, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka berlarilah kepada-Nya dengan ketaatan, taubat, dan banyak istighfar, karena ini dapat mendatangkan rezeki, disertai dengan menghindari segala hal yang menghalangi terkabulnya doa. Tuluslah dalam menghadap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan doa dan ketundukan pada waktu-waktu yang mustajab, seperti pada sepertiga terakhir malam ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala turun ke langit dunia dan berfirman: “Siapa yang berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mengabulkannya. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku akan memberinya. Dan siapa yang memohon ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya.”

Tumpahkanlah segala masalahmu di hadapan-Nya, mintalah keluasan rezeki yang halal. Tidak akan kecewa, orang yang berdoa kepada-Nya, Tangan-Nya selalu penuh dengan karunia, tidak pernah berkurang karena memberi. Dia selalu melimpahkan karunia siang dan malam. Sebagaimana yang diriwayatkan Imam Al-Bukhari bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda:

أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْفَقَ مُنْذُ خَلَقَ السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ، فَإِنَّهُ لَمْ يَغِضْ مَا فِي يَدِهِ

“Tidakkah kalian memperhatikan berapa banyak yang telah Dia nafkahkan sejak Dia menciptakan langit dan bumi? Sungguh, semua itu tidaklah mengurangi sedikit pun apa yang ada di tangan-Nya. (HR. Al-Bukhari).

Selalu baca doa yang dulu dibaca Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam ketika hendak berbaring di tempat tidurnya:

اللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ وَرَبَّ الْأَرْضِ، وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْفُرْقَانِ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ، اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ، وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ

“Ya Allah, Tuhan langit dan Tuhan bumi, Tuhan ‘Arsy yang agung, Tuhan kami dan Tuhan segala sesuatu, Yang membelah biji-bijian dan biji kurma, Yang menurunkan Taurat, Injil, dan Al-Furqan (Al-Qur’an). Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan segala sesuatu yang ubun-ubunnya berada dalam kekuasaan-Mu. Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Awal, tidak ada sesuatu pun sebelum-Mu. Engkaulah Yang Maha Akhir, tidak ada sesuatu pun sesudah-Mu. Engkaulah Yang Maha Zhahir, tidak ada sesuatu pun di atas-Mu. Engkaulah Yang Maha Batin, tidak ada sesuatu pun yang lebih dekat daripada-Mu. Lunasilah utang kami dan cukupkanlah kami sehingga terhindar dari kefakiran.”

Adapun menerima bantuan finansial, baik itu berupa hibah atau sedekah, itu tentu dibolehkan. Bahkan ada dari imam empat mazhab dan ulama lainnya yang membolehkan penyaluran zakat kepada penuntut ilmu, dan ini tentu sah. Dengan demikian, engkau boleh menerima sedekah atau zakat jika engkau tidak punya harta yang mencukupi kebutuhanmu —sebagaimana yang telah engkau sebutkan— meskipun engkau mampu untuk bekerja. Pendapat ini disebutkan oleh Imam Ibnu Al-Abidin dalam kitab Ad-Durr Al-Mukhtar dan Hasyiyah Ibnu Abidin atau Radd al-Muhtar jilid 2 hlm. 340: “Tidak boleh membayar zakat kepada orang yang punya harta yang mencapai nisab, kecuali kepada penuntut ilmu, mujahid di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan orang yang kehabisan bekal dalam perjalanan haji.” 


Imam an-Nawawi juga berkata dalam Al-Majmu Syarh Al-Muhadzdzab jilid 6 hlm. 190: “Adapun tentang penghasilan, maka para ulama mazhab kami berkata bahwa disyaratkan agar seseorang berhak menerima bagian zakat golongan orang miskin adalah ia tidak memiliki penghasilan yang mencukupi kebutuhan hidupnya, sebagaimana yang telah kami jelaskan terkait harta. Namun tidak disyaratkan ketidakmampuan dalam mencari penghasilan sama sekali. Mereka mengatakan bahwa yang menjadi patokan adalah penghasilan yang sesuai dengan keadaan dan martabatnya. Adapun jika pekerjaannya tidak sesuai dengan keadaan dan martabatnya, maka dianggap seolah-olah tidak punya pekerjaan. Mereka juga berkata bahwa seandainya ia mampu memperoleh pekerjaan yang sesuai keadaannya, tapi ia sibuk menuntut ilmu syariat, sehingga jika ia bekerja maka ia harus berhenti menuntut ilmu, maka halal baginya menerima zakat, karena menuntut ilmu adalah fardhu kifayah.”

Saya memohon kepada Allah Yang Maha Pemurah, Maha Mulia, lagi Maha Pemberi karunia, agar menghilangkan kesusahanmu, mencukupkanmu dari kefakiran, dan memulihkan segala kepedihan.

Sumber:

https://www.alukah.net/fatawa_counsels/0/129553/أرهقتني-متاعب-الحياة/

Sumber artikel PDF

🔍 Masa Nifas Setelah Keguguran, Doa Datang Dari Umroh, Amalan Untuk Wanita Hamil, Celana Syar'i Wanita, Arti Valentine Day

Visited 1 times, 1 visit(s) today

QRIS donasi Yufid