Oleh:
Abu Hatim Said al-Qadhi
Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Luas ampunan-Nya, Dia mengampuni para hamba-Nya atas segala dosa dan sebesar apa pun dosanya apabila mereka memohon ampun dan bertaubat kepada-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Beritahukanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa sesungguhnya Aku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hijr: 49).
“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53).
Perhatikan seruan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya: “Wahai hamba-hamba-Ku” suatu seruan lembut dan penuh kasih sayang. Kemudian Dia berfirman: “yang melampaui batas terhadap diri mereka” ini untuk menunjukkan kepadamu bahwa sebanyak apa pun dosa-dosa seorang hamba, Allah Subhanahu wa Ta’ala tetap akan mengampuninya. Kemudian Allah menegaskannya dengan firman-Nya: “Janganlah kalian berputus asa” dan juga dengan firman-Nya: “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni dosa-dosa semuanya.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
“Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Furqan: 70).
Dan kata “كَانَ” dalam ayat ini bukan kata yang menunjukkan makna masa lampau saja, tetapi di masa lampau dan seterusnya. Dia selalu dan terus menjadi Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
“Sesungguhnya Tuhanmu Maha Luas ampunan-Nya.” (QS. An-Najm: 32).
Ampunan-Nya mampu meliputi seluruh hamba-Nya apabila mereka bertaubat, dan dapat mencakup seluruh dosa sebesar apa pun itu.
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
“Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran kecuali jika Allah menghendaki. Dialah yang berhak ditakuti (ditaati) dan berhak memberi ampunan.” (QS. Al-Muddassir: 56).
“Setan menjanjikan kalian kemiskinan dan menyuruh kalian berbuat keji, sedangkan Allah menjanjikan kalian ampunan dari-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 268).
Apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjanjikan sesuatu kepadamu, maka yakinlah bahwa janji-Nya pasti benar dan Dia tidak akan mengingkari janji.
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
“Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar memiliki ampunan bagi manusia atas kezaliman mereka, dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar sangat keras siksa-Nya.” (QS. Ar-Ra’d: 6).
Meskipun dosa-dosa mereka banyak, Allah Subhanahu wa Ta’ala tetap mengampuni dosa-dosa mereka dan menghapus keburukan-keburukan mereka apabila mereka memohon ampun dan insaf.
Seorang ulama mengatakan bahwa nama Allah Al-Ghafur (Maha Pengampun) dan semua turunan katanya dan sifat ampunan-Nya disebutkan sebanyak lebih dari seratus lima puluh kali dalam Al-Qur’an.
Diriwayatkan dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda:
“Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: Barang siapa datang dengan satu kebaikan, maka baginya sepuluh kali lipatnya dan Aku tambah lagi. Dan barang siapa datang dengan satu keburukan, maka balasannya satu keburukan yang semisalnya atau Aku ampuni. Barang siapa mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Barang siapa mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Barang siapa datang kepada-Ku berjalan, Aku datang kepadanya berlari. Dan barang siapa menemui-Ku dengan dosa sepenuh bumi, tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu pun, Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula.” (HR. Muslim no. 2687).
Bayangkanlah seandainya engkau berjumpa dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan membawa dosa-dosa sepenuh, seberat, seluas, dan seukuran bumi. Hanya saja engkau tidak boleh menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala, agar Dia mengampuni dosa-dosamu seluruhnya jika memang engkau menghendaki ampunan-Nya.
Wahai Tuhanku, apabila dosa-dosaku begitu besar dan banyak, Sungguh aku tahu ampunan-Mu jauh lebih besar.
Jika tidak ada yang berharap kepada-Mu kecuali orang baik, Lalu kepada siapa pelaku dosa akan berdoa dan berharap?
Wahai Tuhanku, aku berdoa kepada Engkau penuh ketundukan seperti yang Engkau perintahkan, Maka jika Engkau menolak tanganku, siapa lagi yang akan mengasihi?
Tidak ada perantara bagiku menuju Engkau kecuali rasa harap, Juga keindahan ampunan-Mu serta aku sebagai seorang Muslim.
Seorang hamba tidak boleh mengucapkan: “Ampunilah aku jika Engkau menghendaki.” Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda:
“Janganlah salah seorang di antara kalian berkata: ‘Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau mau; Ya Allah, rahmatilah aku jika Engkau mau.’ Hendaklah ia bersungguh-sungguh dalam memohon, karena tidak ada yang dapat memaksa-Nya.” (HR. Al-Bukhari no. 6339 dan Muslim no. 2679).
Allah Ta’ala mendorong Nabi-Nya untuk beristighfar
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga memerintahkan Nabi-Nya Shalallahu Alaihi Wassalam untuk beristighfar yang Dia sampaikan dalam lebih dari satu ayat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 106).
“Maka bersabarlah, sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampun untuk dosamu, serta bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi.” (QS. Ghafir: 55).
“Maka ketahuilah bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan mohonlah ampun untuk dosamu serta untuk orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan.” (QS. Muhammad: 19).
Seorang ulama mengatakan: “Pujian (kepada Allah) yang paling mendalam adalah dengan engkau mengatakan: La ilaha illallah, dan doa yang paling mendalam adalah dengan engkau mengatakan: Astaghfirullah.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia masuk ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat.” (QS. An-Nashr: 1-3).
Saya bertanya kepada engkau, wahai saudaraku! Menurutmu apa dosa yang telah dilakukan Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam sehingga beliau memohon ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala? Dan jikalau Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam telah melakukan dosa, bukankah Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengampuni dosa beliau yang telah lalu dan yang akan datang? Sesungguhnya ini merupakan risalah bagimu agar memperbanyak istigfar, meskipun engkau tidak mengetahui dosa apa yang telah engkau perbuat.
Perintah Allah Ta’ala kepada para hamba-Nya agar segera beristighfar
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan bersegeralah kalian menuju ampunan dari Tuhan kalian.” (QS. Ali Imran: 133). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
“Berlomba-lombalah kalian menuju ampunan dari Tuhan kalian.” (QS. Al-Hadid: 21).
Perhatikanlah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak hanya sekedar memerintahkan untuk beristigfar, tetapi mengajak untuk bersegera dan bergegas beristigfar, maka bersegera dan bergegaslah, wahai Muslim! Jangan menunda dan menangguhkan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
“Dan Allah mengajak (manusia) menuju surga dan ampunan dengan izin-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 221).
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
“Dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Muzzammil: 20).
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
“Katakanlah: Sesungguhnya aku ini hanyalah manusia seperti kalian, yang diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Esa. Maka tetaplah kalian di jalan yang lurus menuju-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan celakalah bagi orang-orang musyrik.” (QS. Fussilat: 6).
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
“Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Maidah: 74).
Perhatikanlah dengan seksama firman Tuhanmu ini, lalu katakanlah: “Kami mendengar dan kami akan menaati.” Hendaklah hati dan lisanmu senantiasa beristigfar memohon ampun kepada Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Jangan pernah bosan atau putus harapan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menyeru para hamba-Nya: “Apakah ada orang yang memohon ampun?”
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda:
“Apabila telah berlalu separuh malam – atau dua pertiganya – maka Allah Tabaraka wa Ta’ala akan turun ke langit dunia, lalu berfirman: ‘Adakah orang yang meminta untuk Kuberi? Adakah orang yang berdoa untuk Kukabulkan? Adakah orang yang memohon ampun untuk Kuampuni?’ dan terus seperti itu hingga waktu fajar.” (HR. Muslim no. 758).
Maha Suci Engkau, wahai Tuhanku! Betapa agung, mulia, dan pengasihnya Engkau! Maha Kaya terhadap makhluk-Nya, Maha Esa dalam kerajaan-Nya, tidak mendatangkan mudharat bagi-Nya kekafiran orang-orang yang ingkar, tidak mendatangkan manfaat bagi-Nya keimanan orang-orang yang bersyukur. Namun, meskipun begitu Dia menyeru para hamba-Nya setiap malam: Apakah ada yang memohon ampun? Apakah ada yang bertaubat? Dia membuka bagi mereka keluasan rahmat-Nya, mengajak mereka untuk bertaubat dan memohon ampun.
Ketika hatiku telah keras dan usaha-usahaku seakan tak berarti lagi, Aku jadikan harapanku kepada ampunan-Mu sebagai tangga.
Dosaku terasa begitu besar bagiku, tetapi ketika aku bandingka, Dengan ampunan-Mu, wahai Tuhanku, ternyata ampunan-Mu jauh lebih besar.
Sumber:
https://www.alukah.net/sharia/11875/125313/إن-ربك-واسع-المغفرة/
🔍 Hukum Shalat Tarawih Berjamaah Di Rumah, Dalil Puasa 1 Muharram, Azab Istri Yang Selingkuh, Cerita Mentrubasi, Ilmu Tenaga Dalam Menurut Islam
