Oleh:
Syaikh Muhammad bin Abdullah as-Sabil
Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, Pemilik karunia dan Pemberi kenikmatan. Dia mengaruniakan kepada para hamba-Nya nikmat-nikmat besar dan memerintahkan mereka untuk menunaikan haji di Baitul Haram.
Saya ucapkan salawat dan salam kepada penghulu segenap manusia, Muhammad bin Abdullah, dan kepada keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan sebaik-baiknya.
Amma ba’du:
Imam Ahmad dan Ibnu Majah meriwayatkan dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda:
“Barang siapa yang ingin berhaji maka hendaklah ia menyegerakannya, karena sesungguhnya seseorang bisa saja jatuh sakit, hewan tunggangan bisa hilang, dan muncul berbagai kebutuhan.”
Said bin Manshur meriwayatkan dalam As-Sunan dan Al-Baihaqi dari Al-Hasan bahwa Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu pernah berkata: “Saya bertekad untuk mengutus beberapa orang ke negeri-negeri ini, untuk mencari setiap orang yang punya kemampuan tapi belum berhaji, lalu mereka mewajibkan kepada mereka membayar jizyah, karena mereka bukan kaum Muslimin, mereka bukan kaum Muslimin!”
Riwayat-riwayat tersebut menunjukkan betapa pentingnya segera melaksanakan kewajiban ibadah haji, ibadah yang termasuk ketaatan yang paling utama dan mulia. Bahkan sebagian ulama berdalil dengan riwayat-riwayat tersebut dan riwayat lainnya tentang kewajiban menunaikan haji segera, dan tidak boleh bagi seorang Muslim menunda apabila telah mampu berhaji dan belum pernah menunaikan kewajiban rukun Islam ini. Wajib baginya untuk berusaha menunaikan haji wajibnya, tidak boleh ditunda-tunda tanpa alasan yang dibenarkan.
Dalil-dalil tersebut juga menjadi dalil dianjurkannya bersegera melaksanakan amal ketaatan secara umum, dan terkhusus lagi ibadah haji, karena haji sering kali tidak semua orang mampu melaksanakannya, lain halnya dengan ibadah-ibadah lain, baik itu ibadah yang harus mengerahkan raga, seperti salat dan puasa, atau harus mengerahkan harta, seperti zakat, sedekah, dan lain sebagainya.
Oleh sebab itu, engkau harus bersegera menunaikan kewajiban dan ibadah yang mulia ini, sebagaimana yang ditunjukkan oleh dalil-dalil tersebut, juga sebagai pengamalan dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Dan bersegeralah kamu menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 133).
Engkau harus berhati-hati dari mereka yang berusaha menghalangi dari ketaatan, mencegah orang lain dari jalan-jalan kebaikan yang mengantarkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena mayoritas manusia terbagi dalam dua jenis, manusia yang menjadi kunci-kunci pembuka kebaikan dan penutup keburukan. Dan jenis lainnya, manusia yang menjadi kunci-kunci pembuka keburukan dan penutup kebaikan, kita berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari termasuk golongan mereka.
Orang-orang yang menutup jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan ketaatan kepada-Nya serta pengamalan perintah-perintah-Nya, mereka adalah jenis manusia yang menjadi kunci-kunci pembuka keburukan dan penutup kebaikan. Ketika musim haji datang, engkau mendapati banyak dari mereka yang menyebarkan jargon-jargon mereka untuk mencegah orang berhaji ke Baitullah, seakan-akan mereka mendapat upah atas iklan yang mereka gencarkan untuk melawan kebaikan, melawan ibadah yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dianjurkan oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam.
Setan dan bala tentaranya menggerakkan lisan mereka dengan ucapan yang didikte oleh hawa nafsu dan setan mereka, menakut-nakuti orang lain untuk melakukan perjalanan ke Baitullah. Mereka berkata: “Jemaah haji banyak sekali, nanti akan sesak sekali. Sedangkan di masa depan masih ada waktu, tahun depan atau setelahnya.”
Pada hakikatnya ini merupakan penggembosan semangat dan hembusan keraguan dari setan, dan pengerahan pasukan dari kalangan manusia. Andai mereka mencermati firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap-siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (QS. Ali Imran: 200).
Juga ayat-ayat lainnya, niscaya mereka yang luluh dengan godaan-godaan itu akan mengetahui bahwa itu semua sekadar bujukan dan pelemahan dari setan. Karena keimanan bukanlah sekedar hiasan dan angan-angan, tapi apa yang tertanam kuat dalam hati dan dibuktikan dengan amal perbuatan.
Ketika orang yang beriman mendengar atau membaca firman-firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Di sana terdapat tanda-tanda yang jelas, (di antaranya) maqam Ibrahim. Barang siapa memasukinya (Baitullah) amanlah dia. Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, (yaitu bagi) orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam.” (QS. Ali Imran: 97).
Juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh. Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka dan agar mereka menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Dia berikan kepada mereka berupa hewan ternak. Maka makanlah sebagian darinya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir. Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka, menyempurnakan nazar-nazar mereka dan melakukan tawaf sekeliling rumah tua (Baitullah). Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan apa yang terhormat di sisi Allah (hurumatullah) maka itu lebih baik baginya di sisi Tuhannya. Dan menghalalkan bagi kamu semua hewan ternak, kecuali yang diterangkan kepadamu (keharamannya), maka jauhilah olehmu (penyembahan) berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan dusta.” (QS. Al-Hajj: 27-30).
Ketika orang yang beriman menghayati ayat-ayat yang mulia ini, niscaya ia akan mendapati hatinya penuh dengan kerinduan kepada Baitullah, ingin segera menjawab seruan mulia ini, seakan-akan ia sedang melihat para jemaah haji menghampirinya seperti yang digambarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh.” Ia membayangkan kedatangan mereka yang berduyun-duyun ke Masjidil Haram sambil menggaungkan kalimat talbiyah, tahlil, dan takbir. Datang kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan meninggikan suara mereka:
“Aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah, aku memenuhi panggilan-Mu. Aku memenuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, aku memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat, dan kerajaan adalah milik-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, aku memenuhi panggilan-Mu.”
Ia bersedih ketika mereka datang menjadi tamu Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan kondisi seperti yang digambarkan tanpa keikutsertaannya. Ia harus tertinggal dari peristiwa agung akibat keraguan yang dihembuskan orang-orang yang membisikkannya, bujukan orang-orang yang menggodanya, dan pelemahan dari orang-orang munafik.
Ketika hari Arafah tiba, saat jamaah haji berwukuf di tempat yang agung yang dieluh-eluhkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada para malaikat-Nya: “Wahai para malaikat-Ku, lihatlah kepada para hamba-Ku. Mereka datang kepada-Ku dengan rambut yang berdebu demi mengharap ampunan-Ku. Aku persaksikan kalian bahwa Aku telah mengampuni mereka!” Ketika momen ini diingat oleh orang yang melewatkan ibadah haji tanpa sebab padahal ia mampu dan segala kemungkinan untuk berhaji telah terpenuhi olehnya, penyesalannya semakin besar. Ia merasa rugi telah melewatkan peristiwa agung, yang sebagian dari mereka pulang dalam keadaan telah dibebaskan dari neraka, dikabulkan doa mereka, dan pulang dalam keadaan lepas dari semua dosa mereka seperti saat baru dilahirkan ibu mereka.
Imam Al-Bukhari dan Muslim Rahimahumallahu Ta’ala meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda:
“Barang siapa yang berhaji lalu tidak berkata-kata keji dan tidak berbuat fasik, maka ia keluar dari dosa-dosanya seperti pada hari ia dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim juga diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam pernah ditanya: “Amalan apa yang paling utama?” Beliau Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: “Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Beliau ditanya lagi: “Lalu apa?” Beliau menjawab: “Berjihad di jalan Allah.” Beliau ditanya lagi: “Lalu apa?” Beliau menjawab: “Haji yang mabrur.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Diriwayatkan juga dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda:
“Ibadah umrah ke umrah berikutnya adalah penggugur dosa di antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Wahai Muslim! Bersegeralah melaksanakan amal-amal saleh, selagi engkau masih mampu, bisa, sehat, dan hidup, karena engkau tidak tahu kapan engkau akan kehilangan salah satu hal tersebut. Apabila engkau telah kehilangan salah satunya, engkau akan menyesali kelalaian, kelengahan, dan penundaanmu. Ketika engkau telah mengetahui bahwa nafsu itu selalu mengajak kepada keburukan dan susah untuk menjalankan amal ketaatan, engkau harus berjihad melawan nafsumu dan bersabar dalam menjalankan ketaatan. Oleh sebab itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut: 69).
Berjihad melawan hawa nafsu untuk menjalankan ketaatan dan bersabar dalam meninggalkan kemaksiatan merupakan sebab hidayah menuju jalan terbaik, jalan yang mengantarkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan keridhaan-Nya.
Ya Allah, berilah kami petunjuk menuju jalan-Mu yang lurus, dan jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang berbuat baik.
Sumber:
https://www.alukah.net/sharia/0/182308/المبادرة-إلى-أداء-فريضة-الحج/
🔍 Hukum Meniup Makanan, Arti Mimpi Memakai Mukena, Subliminal Message Adalah, Sarung Bolong, Dhoif Artinya
