Mari bersama menabung pahala amal jariyah untuk kehidupan kita kelak di akhirat.   BSI: 7086882242
a.n. Yayasan Yufid Network  

Seluruh dana untuk operasional produksi konten dakwah di Yufid: Yufid.TV, YufidEDU, Yufid Kids, website dakwah (KonsultasiSyariah.com, Yufid.com, KisahMuslim.com, Kajian.Net, KhotbahJumat.com, dll).

Yufid menerima zakat mal untuk operasional dakwah Yufid

Nasehat

Hari-Hari Terbaik di Dunia

Oleh:

Abu Aiman Ahmad bin Imam

Segala puji hanya bagi Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Pemberi karunia, yang telah mengaruniakan kepada para hamba-Nya setiap saat segala hal yang dapat mendekatkan mereka kepada keridhaan-Nya, dan menjauhkan mereka dari kemurkaan dan neraka-Nya. 

Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang tidak memiliki sekutu. Saya juga bersaksi bahwa Nabi kita Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, manusia pilihan dan kekasih-Nya, yang menyeru kepada agama yang benar dan menuntun menuju jalan yang lurus dengan izin Tuhannya. 

Amma ba’du:

Di antara bentuk kemurahan Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi para hamba-Nya yang beriman adalah mensyariatkan bagi mereka hal-hal yang baik bagi kehidupan dunia dan akhirat mereka, mengaruniakan kepada mereka dari waktu ke waktu peningkatan karunia dan anugerah, dalam bentuk rahmat yang dicurahkan dan kebaikan yang dilimpahkan, maka orang bahagia sepenuhnya adalah orang yang mengambil bagian darinya. 

Tidak ada hal yang lebih mulia dan agung daripada karunia Tuhan dan rahmat ilahi pada hari-hari ini, yaitu sepuluh hari bulan Zulhijah, inilah hari-hari terbaik di dunia, penghias seluruh bulan dan hari.

Inilah sepuluh hari yang keutamaannya tidak lain karena di dalamnya ada satu hari terbaik, yaitu hari Arafah. Cukuplah menjadi keutamaannya bahwa berpuasa pada hari itu dapat menggugurkan dua tahun, satu tahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang, sebagaimana yang disampaikan Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam dalam riwayat Imam Muslim. Ia adalah hari terbaik di dunia secara mutlak, seperti yang diriwayatkan Ibnu Hibban dalam kitabnya Ash-Shahih dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda:

أَفْضَلُ الْأَيَّامِ يَوْمُ عَرَفَةَ

“Hari yang paling utama adalah hari Arafah.” (HR. Ibnu Hibban).

Ia adalah hari haji akbar menurut banyak salaf, termasuk Umar Radhiyallahu ‘anhu.

وهو يوم المغفرة والتجاوز والعِتق من النيران، والمباهاة بأهل الموقف؛ روى مسلم في صحيحه عن عائشة – رضي الله عنها – عن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: ((ما من يومٍ أكثر من أن يَعتِقَ الله فيه عبيدًا من النار من يوم عَرَفة، وإنه ليدنو ثم يُباهي بهم الملائكة، فيقول: ما أرادَ هؤلاء؟)).

Ia juga merupakan hari ampunan, pemaafan, dan pembebasan dari neraka. Allah mengelu-elukan orang-orang yang sedang wukuf di Arafah. Imam Muslim meriwayatkan dalam kitabnya Ash-Shahih dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda:

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يَعْتِقَ اللّٰهُ فِيهِ عَبِيدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِي بِهِمُ الْمَلَائِكَةَ، فَيَقُولُ: مَا أَرَادَ هَؤُلَاءِ؟

“Tidak ada hari di mana Allah lebih banyak membebaskan para hamba-Nya dari neraka daripada di hari Arafah. Sesungguhnya Allah mendekat lalu membanggakan mereka di hadapan para malaikat seraya berfirman: ‘Apa yang mereka inginkan?’” (HR. Muslim).

Doa yang dulu paling banyak dibaca Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam pada hari Arafah —disebutkan dalam riwayat At-Tirmidzi—:

خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِي: لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah, dan sebaik-baik apa yang aku ucapkan maupun para nabi sebelumku adalah: Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariika lahu, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ‘ala kulli syai-in qadir (Tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu).” (HR. At-Tirmidzi. Hadis hasan dengan jalur-jalur periwayatannya).

Di antara keutamaan hari-hari ini telah disebutkan dalam riwayat Al-Bukhari dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيْهَا أَحَبُّ إِلَى اللّٰهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ – يَعْنِي: أَيَّامَ الْعَشْرِ – قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ، وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللّٰهِ؟ قَالَ: وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللّٰهِ، إِلَّا رَجُلًا خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ، ثُمَّ لَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذٰلِكَ بِشَيْءٍ

“Tidak ada hari-hari di mana amal saleh di dalamnya lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yakni sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Para sahabat bertanya: ‘Wahai Rasulullah, tidak juga jihad di jalan Allah?’ Beliau menjawab: ‘Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali seorang laki-laki yang pergi berjihad dengan diri dan hartanya, kemudian ia tidak kembali lagi dengan membawa sesuatu pun dari padanya (mati syahid).’” (HR. Al-Bukhari). 

Beramal di hari-hari ini lebih utama dan lebih dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta lebih besar pahalanya daripada hari-hari lainnya sepanjang tahun. Meskipun ada amalan yang bukan paling utama, tapi pada hari-hari yang diberkahi ini amalan itu menjadi lebih utama daripada amalan-amalan paling utama yang dilakukan di hari lainnya, bahkan jihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam tidak mengecualikan amalan apa pun kecuali jihad yang terbaik, seperti yang pernah ditanyakan kepada beliau: “Jihad apa yang paling utama?” Beliau menjawab: 

مَنْ عَقَرَ جَوَادَهُ، وَأُهْرِيقَ دَمُهُ

“Orang yang berjihad lalu kudanya tersembelih (di medan perang), dan ia sendiri darahnya tertumpah (mati syahid).” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i. Hadis hasan).

Sedangkan jenis jihad yang lain dan amalan-amalan utama lainnya masih kalah utama dan tidak lebih dicintai daripada amalan di sepuluh hari pertama Zulhijah. Di antara amalan yang sepatutnya dijadikan seorang Muslim untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya adalah puasa, karena diriwayatkan dari beberapa istri Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bahwa beliau tidak meninggalkan puasa pada sembilan hari pertama Zulhijah. (Diriwayatkan Abu Dawud). Dan di antara sahabat yang berpuasa pada hari-hari ini adalah Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma.

Adapun hadis Aisyah yang diriwayatkan Imam Muslim: “Aku tidak pernah melihat sama sekali Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam berpuasa pada sepuluh hari Zulhijah” maka dapat disangkal dengan beberapa jawaban. Pertama, hadis dari istri-istri Nabi yang lain yang menetapkan bahwa Nabi berpuasa pada hari-hari ini lebih diutamakan daripada hadis Aisyah yang menafikan puasa, karena orang yang menetapkan punya pengetahuan lebih daripada orang yang menafikan. Kedua, mungkin yang dimaksud Aisyah Radhiyallahu ‘anha adalah Nabi tidak berpuasa sepuluh hari penuh, sedangkan maksud dari orang yang menetapkan adalah Nabi berpuasa pada mayoritas hari-hari itu.

Di antara amal saleh lainnya yang dapat dikerjakan pada hari-hari ini adalah Salat Malam. Dulu Said bin Jubair —yang merupakan perawi hadits dari Ibnu Abbas ini— apabila telah memasuki sepuluh hari pertama Zulhijjah, beliau beribadah dengan kesungguhan luar biasa, sampai-sampai beliau hampir tidak kuat lagi melakukannya.

Di antara amal lainnya adalah banyak berzikir. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ

“Dan agar mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan.” (QS. Al-Hajj: 28).

Mayoritas para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah sepuluh hari pertama bulan Zulhijah.

Secara umum, orang yang berakal tidak sepatutnya melewatkan diri dari hari-hari yang penuh berkah ini, dengan memanfaatkan setiap momennya untuk menggapai keridhaan Tuhannya melalui berbagai bentuk ibadah, seperti salat, puasa, zikir, silaturahim, berbuat baik kepada orang lain, berinfak di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan membaca Al-Qur’an. Hendaklah ia mengerahkan segenap tenaganya untuk hari-hari ini sebagaimana yang ia lakukan pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, atau bahkan lebih dari itu.

Sebab pada bulan Ramadhan, ia membutuhkan usaha yang lebih besar, karena ketika itu ia punya banyak faktor pendukung untuk beramal ketaatan, seperti orang-orang yang sedang berpuasa dan salat Tarawih, mencari Malam Lailatul Qadar, dan iktikaf. Sedangkan pada bulan Zulhijah, hanya sedikit orang yang mengetahui urgensinya dan mengagungkannya dengan sepatutnya, sehingga orang yang hendak beribadah dengan sungguh-sungguh di dalamnya lebih terlihat asing daripada orang lainnya, karena itulah hari-hari ini benar-benar hari-hari terbaik sepanjang tahun.

Saya memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar mengaruniakan taufik kepada saya dan kaum Muslimin seluruhnya untuk memanfaatkan hari-hari ini, tidak mengharamkan kita dari pahalanya, dan menjadikan kita dan semua orang yang beriman termasuk orang-orang yang Dia selamatkan dari neraka.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima ibadah dari kita semua.

Sumber:

https://www.alukah.net/spotlight/0/27359/خير-أيام-الدنيا/

Sumber artikel PDF

🔍 Penulisan In Syaa Allah, Doa Masuk Rumah Baru Menurut Islam, Go Food Menurut Ustadz Erwandi, Hukum Istri Meninggalkan Suami Dalam Islam, Batas Waktu Sholat Magrib

Visited 1 times, 1 visit(s) today

QRIS donasi Yufid