Oleh: Sahar Abdul Qadir al-Labban
Pertanyaan:
Saya wanita yang sudah bercerai dan punya beberapa anak, sedangkan mereka tinggal di tempat yang jauh dariku. Bagaimana cara menanamkan kesadaran beragama dalam diri anak-anakku? Bagaimana cara agar bisa membuat mereka saling mendukung dan mencintai? Bagaimana cara menanamkan kepercayaan diri pada mereka dan mengembangkan karakter mereka?
Saya sangat mengkhawatirkan mereka dari pelecehan seksual. Bagaimana cara melindungi mereka dan membuat mereka dapat memilih orang yang dapat dipercaya?
Selain itu, saya juga meminta penjelasan tentang metode-metode baru yang dapat saya pakai untuk mendidik anak-anakku. Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.
Jawaban:
Bismillahirrahmanirrahim
Saudariku yang mulia, terima kasih atas kepercayaanmu kepada kami dan selamat datang di kolom konsultasi.
Pertama-tama, saya memohon kepada Allah Yang Maha Agung agar menjaga anak-anakmu dan menjadikan mereka penyejuk matamu.
Wahai saudariku, anak-anak merupakan nikmat dari Allah Ta’ala. Mereka adalah tunas bangsa. Pada merekalah harapan umat tertuju. Oleh sebab itu, perhatian terhadap mereka dan pendidikan mereka merupakan salah satu amal terbaik. Agama Islam telah mendorong untuk mendidik anak dan berusaha melindungi mereka dari neraka. Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6).
Allah Ta’ala juga berfirman:
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا
“Dan perintahkanlah keluargamu untuk melaksanakan salat dan bersabarlah dalam mengerjakannya.” (QS. Thaha: 132).
Allah Ta’ala juga berfirman:
يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلَادِكُمْ
“Allah mewasiatkan kepadamu tentang pembagian warisan untuk anak-anakmu.” (QS. An-Nisa: 11).
Dan Allah memuji para hamba-Nya yang berdoa:
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan-pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk mata kami, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga telah bersabda:
الرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَمَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْؤُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا.
“Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” Juga bersabda:
مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعٍ
“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk melaksanakan salat ketika mereka berusia tujuh tahun.”
Para salaf memberi perhatian yang sangat besar terhadap pendidikan anak-anak mereka. Dulu mereka menghadirkan pendidik khusus bagi anak-anak mereka dan kisah mereka tentang ini sangat banyak.
Tidak diragukan bahwa pendidikan punya pengaruh besar dalam kesalehan anak-anak, karena mereka dilahirkan di atas fitrah, kemudian di sinilah peran pendidikan dalam menjaga fitrah tersebut atau justru membuatnya menyimpang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”
Anak akan menjadi sesuai dengan apa yang dibiasakan oleh kedua orang tuanya kepadanya, jika kedua orang tua membiasakan mereka untuk melakukan kebaikan, mereka akan terbiasa dengannya, dan jika kedua orang tua membiasakan mereka dengan keburukan, mereka juga akan terbiasa dengannya.
Kita hidup di zaman kemajuan dan keterbukaan. Keterbukaan inilah yang memberi banyak batu sandungan di hadapan pendidikan, sehingga jalannya menjadi sulit. Sebaliknya, jalan yang menyimpang menjadi lancar dan dihiasi dengan ribuan hiasan dan warna. Inilah yang menjadikan tanggung jawab yang ada di pundak keluarga semakin berat dan susah. Keluarga adalah benteng kokoh yang harus melindungi anak-anak dari segala fitnah yang mengepung mereka dan kerusakan yang menutup masyarakat kita.
Saudariku yang mulia, pendidikan merupakan pekerjaan berat dan usaha yang membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Apalagi dengan kondisimu saat ini, keadaannya menjadi semakin sulit. Anak-anak jauh darimu, perbedaan kota memisahkan kalian, sehingga susah untuk mengawasi mereka, tetapi ini tidak menjadi alasan. Alhamdulillah sekarang kita hidup di zaman yang penuh dengan kemudahan dalam berkoneksi, tidak hanya antar kota, tetapi antar bahkan antar benua. Alhamdulillah, sekarang sudah memungkinkan untuk mengikuti kabar terbaru mereka melalui gawai, internet, dan media-media sosial yang dapat menjamin koneksi terus-menerus dengan biaya yang ringan.
Wahai saudariku yang mulia, maka dari itu hal terpenting yang bisa engkau lakukan adalah terus menjalin hubungan dengan anak-anakmu. Jadikan dirimu bagian dari kehidupan mereka. Biasakanlah mereka untuk berterus terang, menyampaikan kepadamu segala yang mereka lalui selama seharian, meskipun itu hanya hal yang remeh. Dengarkanlah perkataan mereka dan berdiskusilah dengan mereka tentangnya. Pujilah mereka atas hal yang baik dan terus semangati mereka. Berilah pencerahan kepada mereka atas hal yang buruk, nasihatilah mereka. Tanamkanlah mereka kesadaran beragama dengan mendorong mereka untuk melaksanakan semua kewajiban agama, seperti salat dan berhijab. Doronglah mereka untuk bersikap jujur dan menjauhi dosa-dosa. Buatlah mereka menyukai program-program menghafal Al-Qur’an dan pantaulah progres mereka dalam menghafal.
Ajarkanlah kepada mereka pengorbanan. Latihlah mereka untuk saling mementingkan saudaranya dan saling melindungi. Sampaikan kepada mereka bahwa mereka akan kuat jika bersama, dan lemah saat tercerai berai.
Tanyalah kepada anak laki-lakimu setiap Jum’at tentang isi khutbahnya dan peristiwa yang terjadi. Buatlah dia merasa bahwa engkau selalu menunggu mereka pulang agar ia dapat menceritakannya kepadamu.
Jelaskanlah kepada anak perempuanmu arti baligh dan datang bulan, obrolkanlah dengannya seputar makna pelecehan seksual dan sampaikanlah beberapa kisah kepadanya tentang tema ini. Peringatkanlah ia jangan sampai keluar sendirian hanya ditemani sopir, jangan bergaul dengan laki-laki yang bukan mahram, bahkan dengan sepupunya, dan jangan masuk ke tempat-tempat para pekerja laki-laki, seperti tukang, pembantu, atau tukang masak.
Sampaikanlah kepadanya tentang rasa malu dan pandangan mata yang halal. Doronglah anak-anakmu untuk tidak menonton saluran-saluran televisi yang menayangkan cuplikan-cuplikan yang cacat adab. Mintalah kepada anak perempuanmu untuk tidak memakai pakaian pendek atau setengah telanjang di rumah, bahkan saat di depan ayah atau saudaranya. Berilah ia pemahaman pentingnya menjauhi teman-teman di sekolah yang selalu berusaha menempel-nempelkan tubuh, memegang tangan, atau memeluk. Jelaskanlah padanya bahwa di antara sifat remaja muslimah yang punya akhlak mulia adalah tidak berbicara dengan pemuda yang tidak dikenal yang ingin berkenalan dengannya.
Tanamkanlah pada diri anak-anakmu kepercayaan diri dan kemampuan mengambil keputusan. Latihlah mereka membuat keputusan sendiri dengan memberi mereka pilihan, berilah mereka kebebasan dalam memilih keputusan yang sesuai diri mereka.
Wahai saudariku, ada perkara yang sangat penting, yaitu teladan yang baik. Engkau bagi mereka adalah sosok yang paling dihormati, maka jadilah teladan yang baik bagi mereka. Jangan menyuruh mereka sesuatu yang engkau sendiri tidak melakukannya dan jangan larang mereka sesuatu yang engkau sendiri melakukannya.
Sebagai penutup, saya nasihatkan kepadamu wahai saudari yang mulia, untuk membaca buku-buku tentang pendidikan yang benar dan metode-metodenya yang sudah terbukti berhasil.
Saya memohon kepada Allah Yang Maha Agung agar menjaga anak-anakmu dan anak-anak kaum Muslimin.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Sumber:
https://www.alukah.net/fatawa_counsels/0/44946/كيف-أزرع-في-أبنائي-الوازع-الديني؟/
🔍 Arti Ucapan Salam, 8 Pintu Surga, Ayat Pertama Dan Terakhir Diturunkan, Marah Dalam Pandangan Islam, Jadwal Sholat Bsd
