Mari bersama menabung pahala amal jariyah untuk kehidupan kita kelak di akhirat.   BSI: 7086882242
a.n. Yayasan Yufid Network  

Seluruh dana untuk operasional produksi konten dakwah di Yufid: Yufid.TV, YufidEDU, Yufid Kids, website dakwah (KonsultasiSyariah.com, Yufid.com, KisahMuslim.com, Kajian.Net, KhotbahJumat.com, dll).

Yufid menerima zakat mal untuk operasional dakwah Yufid

Keluarga

Berteman: Metode Terbaik untuk Mendidik Anak

Tidak semua ayah dan ibu bisa mendidik anak-anak mereka dengan baik. Terkadang, kamu dapat melihat kedua orang tua yang menjadikan hadiah dan uang berlimpah sebagai pilar pendidikan mereka bagi anak-anak. Ada juga yang menjadikan kekerasan sebagai bahasa untuk memberi pemahaman. Pada akhirnya, pertemanan dan diskusi tenggelam di tengah tumpahan harta dan kekerasan.

Seorang sosiolog di Pusat Nasional untuk Penelitian Kriminal dan Sosial, Dr. Husain Kasyk berpandangan bahwa tidak mungkin dapat dikatakan bahwa pertemanan telah menghilang di keluarga sepenuhnya, tapi kadarnya berbeda-beda antara satu keluarga dengan keluarga yang lain. Tetap ada para orang tua yang berusaha membangun pertemanan dengan anak-anak mereka, tapi gagasan pertemanan tidak menjadi hal yang dipertimbangkan oleh mayoritas keluarga. Ditambah lagi dengan banyaknya perubahan yang terjadi di masyarakat selama dua puluh lima tahun terakhir, yang berperan besar dalam menghilangnya pertemanan antara orang tua dengan anak.

Kondisi kehidupan

Dr. Husain Kasyk juga menjelaskan bahwa ketidakhadiran sosok ayah pada sebagian besar waktu demi mencari nafkah—dan terkadang karena harus pergi ke luar kota untuk bekerja—membuatnya tidak dapat melihat anak-anaknya, kecuali hanya satu bulan dalam setahun. Ini menjadi batu sandungan tersendiri terhadap gagasan pertemanan dengan anak, karena ayah hanya menjadi pencetak uang atau bank berjalan, dan tidak terbentuknya percakapan yang demokratis.

Ini merupakan fenomena yang banyak dialami oleh masyarakat dalam seluruh lapisannya pada beberapa tahun terakhir, sehingga berpengaruh juga pada keluarga. Namun, tentu tetap ada beberapa pengecualian, di mana sebagian keluarga tetap berusaha membangun pertemanan dengan anak-anaknya.

Kebijakan otoriter

Kepada majalah al-Ahram, Dr. Husain Kasyk menegaskan bahwa masalah yang selalu terjadi antara orang tua dan anak di setiap tempat dan zaman merupakan fenomena yang disebut dengan perselisihan antargenerasi karena setiap generasi punya pemahaman dan pemikiran yang berbeda.

Terlebih lagi budaya yang mengakar di masyarakat kita lebih memopulerkan sikap patriarki, yang menghalangi terbentuknya pertemanan dari pihak ayah karena ia lebih cenderung otoriter, lalu anak laki-laki tertua yang lebih otoriter terhadap saudara-saudaranya, bahkan jika ia punya saudara perempuan yang lebih tua. Begitu juga dengan ibu yang cenderung otoriter dalam berinteraksi dengan anak-anaknya.

Oleh karena itu, masyarakat kita terjerat dalam metode yang salah dalam mengasuh anak, sebagaimana sistem pendidikan kita juga lebih suka mendikte daripada diskusi. Padahal diskusi termasuk cara terbaik dalam membangun pertemanan dan salah satu bentuk demokrasi yang harus diwujudkan.

Kata yang lemah

Dr. Yahya ar-Rakhawi, seorang Guru Besar ilmu kedokteran jiwa di Fakultas Kedokteran Universitas Kairo, berpandangan bahwa pertemanan sudah menjadi hal yang lemah, bahkan di kalangan orang-orang dewasa. Namun, agar pertemanan dapat tumbuh di antara orang tua dan anak maka harus terpenuhi tiga unsur: (1) waktu, (2) ruang untuk saling berinteraksi, (3) saling interaksi yang nyata, jauh dari banyak nasihat dan perintah.

Masalahnya bukan tentang jargon yang bernama pertemanan, atau pengakuan dari ayah, “Anakku, aku adalah temanmu!” tanpa memberi kepercayaan atau sikap yang dapat menumbuhkan pertemanan, seperti dengan mengajak seluruh anggota keluarga setiap minggu ke taman daripada hanya di ruang tertutup di depan layar televisi tanpa ada obrolan sedikit pun.

Dr. ar-Rakhawi juga menambahkan bahwa kedua orang tua harus selalu berusaha membangun pertemanan dengan anak dan terus mencoba karena untuk mendapat kepercayaan anak tidak cukup dengan menyampaikan keinginan untuk menjalin pertemanan, tapi dengan pembiasaan, tidak juga dapat terbangun dalam sehari semalam, tapi dengan usaha berkelanjutan untuk mendapat kepercayaan mereka. Kepercayaan itu tidak mungkin diberikan oleh anak-anak yang merasa orang tua mereka justru meremehkan mereka, mencemooh ide-ide mereka, tidak mendengarkan pendapat mereka, dan tidak memahami kebutuhan mereka.

Guru Besar ilmu kedokteran jiwa ini juga menegaskan bahwa tidak ada kaidah-kaidah paten dalam membangun hubungan di antara manusia kecuali kejujuran, konsistensi, dan perbaikan kesalahan segera melalui penerapan. Adapun ungkapan bahwa anak perempuan akan berteman dengan ibunya dan anak laki-laki akan berteman dengan ayahnya, maka ini adalah ungkapan yang tidak sepenuhnya benar karena seorang ayah bisa saja berteman dengan putrinya sebagaimana ia berteman dengan putranya. Demikian juga dengan ibu, kecuali pada beberapa kondisi yang sangat privat.

Harta bukan berarti kasih sayang

Membanjiri anak-anak dengan hadiah dan harta melimpah tidak termasuk bukti rasa cinta orang tua kepada mereka. Penelitian dalam bidang pendidikan menunjukkan bahwa tujuh puluh lima persen anak-anak tidak memperoleh pengasuhan yang cukup dari kedua orang tuanya. Selain itu, lembaga-lembaga sosial mengaitkan gangguan kejiwaan, kecenderungan bersikap agresif, dan kegagalan dalam belajar pada anak-anak pada tidak adanya orang yang mau mendengarkan mereka.

Oleh sebab itu, Ya’qub asy-Syaruni, peraih penghargaan penulis buku anak terbaik dan pemilik serial Bagaimana Kita Mendidik Anak?, menegaskan pentingnya mengobrol dengan anak-anak dan cara meningkatkan kecerdasan mereka melalui obrolan tersebut. Dalam penelitian yang dia lakukan disebutkan bahwa hanya sepertiga anak-anak yang memperoleh pengasuhan yang cukup dari kedua orang tua. Padahal perlu diketahui bahwa pertumbuhan otak anak bergantung pada tiga unsur utama, yaitu pembekalan anak dengan pengalaman fisik yang beraneka ragam di setiap masa hidupnya, dukungan, dan keikutsertaan.

Sudah menjadi hal yang diketahui bahwa berbicara dengan anak adalah hal yang sangat penting untuk meningkatkan kecerdasannya. Sebab, tidak cukup dengan memberi kesempatan pada pancaindra anak untuk mendapat banyak pengalaman yang beraneka ragam, tapi pengasuh juga harus berbicara dengan anak secara konsisten tentang apa yang dilihat, didengar, disentuh, dicium, atau dirasakan oleh anak.

Apabila komunikasi ini tidak terbentuk atau tidak dikembangkan maka anak tidak akan mendapat haknya untuk didengarkan oleh orang-orang dewasa sehingga ia akan mengalami gangguan psikologis, kegagalan dalam belajar, dan kecenderungan untuk berbuat agresif.

Waktu diskusi

Karena metode paling benar dalam mendidik adalah dengan membangun komunikasi, bukan dengan memanjakan maka Dr. Muhammad Hasib ad-Dafrawi—Guru Besar ilmu psikologi anak dan remaja, dan kepala unit kedokteran jiwa di Universitas Terusan Suez—menjelaskan bahwa membangun pertemanan dengan anak mengharuskan kita untuk memberi waktu yang cukup untuk berdiskusi dan berkomunikasi, lebih banyak mendengarkan mereka alih-alih kita yang banyak bicara, memberi bantuan, berbagi pengalaman, menikmati kebersamaan dengan mereka, dan tidak banyak ikut campur dalam setiap detail kehidupan mereka, serta menghargai jalan hidup mereka.

Dr. ad-Dafrawi memberi beberapa saran bagi para orang tua, agar dapat menjadi pembuka jalan untuk membangun pertemanan yang kuat dengan anak, di antaranya:

  • Memberi rasa aman kepada anak dan memberi keleluasaan bagi mereka untuk mandiri.
  • Mendorong mereka untuk berkontribusi, gotong royong, dan berperan dalam berbagai urusan rumah dan keluarga.
  • Membantu mereka untuk membangun pertemanan dan mengembangkan bakat-bakat seni dan olahraga mereka.
  • Mendorong mereka untuk dapat mengolah emosi dan berbagai rintangan yang mereka hadapi, mengendalikan keinginan dan rasa bangga atas keahlian khusus mereka.
  • Mendorong mereka untuk menghiasi diri dengan nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang baik, dan membantu mereka memperbaiki penampilan dan karakter mereka di depan diri, keluarga, dan masyarakat mereka.
  • Membekali mereka dengan metode-metode yang dapat membantu mereka melawan rasa takut, menempatkan cita-cita mereka sesuai dengan kondisi realitas, dan berusaha meningkatkan keterampilan diri dan potensi akademik mereka.
  • Mengajarkan mereka cara menyelesaikan masalah dan cara menyikapi keinginan dan mimpi di masa depan.
  • Membantu mereka untuk meningkatkan beberapa metode dalam menyikapi kondisi-kondisi menyedihkan atau keadaan buruk yang mengelilingi mereka, serta memberi mereka beberapa contoh nyata.
  • Membangun hubungan yang kuat dan kokoh dengan anggota keluarga dan tetangga.
  • Membantu mereka agar dapat menikmati setiap momen dalam kehidupan.

***

Dr. Naji bin Ibrahim al-Arfaj

Sumber:

https://www.alukah.net/personal_pages/0/95616/الصداقة-الأسلوب-الأفضل-لتربية-الأبناء/

PDF Sumber Artikel

🔍 Zakat Jual Rumah, Doa Di Makam, Niat Mandi Junub Dan Haid Sekaligus, Arti Doa Kunut

Visited 1 times, 1 visit(s) today

QRIS donasi Yufid