Shalat Tarawih Bagi Musafir

2355
tarawih ketika safar

Shalat Tarawih bagi Musafir

Bagaimana cara shalat tarawih bagi musafir? Matur nuwun…

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Shalat tarawih di bulan ramadhan merupakan qiyam lail, yang Allah puji mereka melalui firman-Nya,

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ . آخِذِينَ مَا آتَاهُمْ رَبُّهُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُحْسِنِينَ. كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam taman-taman (syurga) dan mata air-mata air, sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam. (QS. Ad-Dzariyat: 15 – 17)

Diantara rutinitas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau selalu menjaga kebiasaan shalat malam baik ketika mukim maupun safar. .

Ibnu Umar menceritakan,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِي السَّفَرِ عَلَى رَاحِلَتِهِ حَيْثُ تَوَجَّهَتْ بِهِ يُومِئُ إِيمَاءً ، صَلَاةَ اللَّيْلِ ، إِلَّا الْفَرَائِضَ ، وَيُوتِرُ عَلَى رَاحِلَتِهِ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat di atas tunggangannya ketika safar dengan menghadap mengikuti arah tunggangannya., dan beliau shalat dengan cara isyarat. Beliau melakukan shalat malam di atas kendaraan, namun selain wajib. Beliau juga witir di atas kendaraan. (HR. Bukhari 945)

Praktek semacam ini juga dilakukan Ibnu Umar. Diceritakan oleh anaknya, Salim,

كَانَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يُصَلِّي عَلَى دَابَّتِهِ مِنْ اللَّيْلِ وَهُوَ مُسَافِرٌ

Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma melakukan shalat malam di atas tunggangannya ketika beliau safar. (HR. Bukhari 1034)

Riwayat di atas menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat, mereka tetap merutinkan shalat malam ketika safar.

Mengenai tata caranya, seorang musafir bisa shalat malam sendiri di kendaraan atau di kamar hotelnya. Bisa juga berjamaah di masjid sekitarnya, jika memungkinkan.

Shalat Sunah yang Ditinggalkan

Salah satu rutinitas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat ketika safar, mereka meninggalkan shalat semua shalat rawatib, selain qabliyah subuh.

Hafs bin Ashim (keponakan Ibnu Umar) menceritakan,

Kami pernah melakukan safar bersama Ibnu Umar. Ketika datang waktu dzuhur di sebuah jalan menuju Mekah, beliau mengimami shalat dzuhur dengan qashar. Ketika sedang persiapan untuk melanjutkan perjalanan, beliau melihat ada beberapa orang yang melakukan shalat sunah ba’diyah. Kemudian Ibnu Umar mengatakan,

لَوْ كُنْتُ مُسَبِّحًا لَأَتْمَمْتُ صَلَاتِي ، يَا ابْنَ أَخِي ، إِنِّي صَحِبْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي السَّفَرِ ، فَلَمْ يَزِدْ عَلَى رَكْعَتَيْنِ حَتَّى قَبَضَهُ اللَّهُ ، وَصَحِبْتُ أَبَا بَكْرٍ فَلَمْ يَزِدْ عَلَى رَكْعَتَيْنِ حَتَّى قَبَضَهُ اللَّهُ ، وَصَحِبْتُ عُمَرَ فَلَمْ يَزِدْ عَلَى رَكْعَتَيْنِ حَتَّى قَبَضَهُ اللَّهُ ، ثُمَّ صَحِبْتُ عُثْمَانَ فَلَمْ يَزِدْ عَلَى رَكْعَتَيْنِ حَتَّى قَبَضَهُ اللَّهُ

Kalau tadi saya shalat sunah, lebih baik saya genapkan shalat dzuhurku. Hai keponakanku, saya pernah menyertai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika safar. Beliau tidak shalat lebih dari 2 rakaat, hingga Allah mewafatkan beliau. Saya pernah menyertai Abu Bakr ketika safar. Beliau tidak shalat lebih dari 2 rakaat, hingga Allah mewafatkan beliau. Saya pernah menyertai Umar ketika safar. Beliau tidak shalat lebih dari 2 rakaat, hingga Allah mewafatkan beliau. Saya pernah menyertai Utsman ketika safar. Beliau tidak shalat lebih dari 2 rakaat, hingga Allah mewafatkan beliau. (HR. Muslim 1112)

Allahu a’lam 

Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
  • DONASI hubungi: 087 882 888 727
  • Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial