Tidak Berpuasa Selama Haid, Apa Kewajibannya?

1769

Pertanyaan:

Syakih Shalih Al-Fauzan ditanya:

Ibuku berumur enam puluh tahun, ia tidak meng-qadha puasanya selama hari-hari haid di bulan Ramadhan yang telah ia tinggalkan sejak ia bersuamikan ayahku, hal itu dikarenakan ayahku berkata kepada ibuku agar ber-kaffarah dengan memberi makan fakir miskin setiap hari sebagai pengganti qadha puasa, karena ia adalah seorang ibu yang telah memiliki beberapa orang anak, hal itu dilakukannya selama dua puluh tahun, dengan tujuh hari masa haid di setiap bulan Ramadhan, apa yang wajib ia lakukan? Apakah ia harus berpuasa selama hari-hari yang telah ditinggalkan itu atau ia harus bersedekah? Dan berapakah ukuran sedekahnya itu?

Jawaban:

Yang wajib dilakukan oleh ibu Anda adalah meng-qadha hari-hati puasa yang telah ia tinggalkan dengan tidak berpuasa di bulan Ramadhan selama masa haid, sekalipun itu terjadi berulang-ulang selama beberapa kali bulan Ramadhan. Hendaklah ia menghitung hari-hari tersebut dan meng-qadha puasa sejumlah hari-hari itu, bersamaan dengan meng-qadha puasa itu ia diwajibkan memberi makan seorang miskin setiap hari selama hari-hari puasa yang di-qadha, sebesar satu setengah sha’ setiap harinya sebagai kaffarah (penebus) penundaan qadha puasa dari waktu yang seharusnya, dan boleh baginya meng-qadha puasa itu secara berurutan atau tidak berurutan sesuai dengan kondisinya.

Yang penting, bahwa tidak boleh baginya meninggalkan qadha puasa itu, dan ayah Anda telah melakukan kesalahan besar dengan mengeluarkan fatwa tanpa didasari ilmu.

Sumber: Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Jilid 1, Darul Haq, Cetakan VI, 2010
Dipublikasikan oleh: KonsultasiSyariah.com