Oleh: Dr. Syarif Fauzi Sultan
Pada dasarnya, pernikahan adalah salah satu faktor terbesar yang mendatangkan kebahagiaan, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum: 21).
Perhatikanlah ayat tersebut, ketenteraman, kasih, dan sayang, bukankah ini adalah unsur-unsur kebahagiaan?
Cukup bagimu bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam menjelaskan kepada kita bahwa pernikahan merupakan nikmat besar yang pantas untuk disyukuri. Dalam Shahih Muslim disebutkan bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda:
فَيَلْقَى الْعَبْدُ رَبَّهُ، فَيَقُولُ اللهُ: أَلَمْ أُكْرِمْكَ وَأُسَوِّدْكَ وَأُزَوِّجْكَ، وَأُسَخِّرْ لَكَ الْخَيْلَ وَالْإِبِلَ، وَأَذَرْكَ تَرْأَسُ وَتَرْبَعُ؟ فَيَقُولُ: بَلَى يَا رَبِّ، فَيَقُولُ: أَفَظَنَنْتَ أَنَّكَ مُلَاقِيَّ؟ فَيَقُولُ: لَا، فَيُقَالُ: إِنِّي أَنْسَاكَ كَمَا نَسِيتَنِي
“Lalu hamba itu menemui Tuhannya, maka Allah berfirman: ‘Bukankah Aku telah memuliakanmu, menjadikanmu pemimpin, menikahkanmu, menjinakkan kuda dan unta bagimu, serta membiarkanmu memimpin dan menikmati hasil?’ Ia menjawab: ‘Benar, wahai Tuhanku.’ Maka Allah berfirman: ‘Apakah engkau mengira bahwa engkau akan menemui-Ku?’ Ia menjawab: ‘Tidak.’ Maka dikatakan kepadanya: ‘Sesungguhnya Aku melupakanmu sebagaimana engkau telah melupakan-Ku.’” (HR. Muslim).
Namun kebahagiaan pernikahan ini bersyarat, yaitu apabila istrinya shalihah. Nabi Shalallahu Alaihi Wassalamm bersabda:
ثَلَاثٌ مِنْ سَعَادَةِ ابْنِ آدَمَ: الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، وَالْمَسْكَنُ الصَّالِحُ، وَالْمَرْكَبُ الصَّالِحُ
“Tiga hal yang termasuk kebahagiaan anak Adam: wanita (istri) yang shalihah, tempat tinggal yang baik (nyaman), dan kendaraan yang baik.” (HR. Ahmad, Ath-Thabrani, dan Al-Hakim. Dishahihkan oleh al-Albani).
Sebab wanita yang punya keshalehan ini akan menjadi penyokongnya dalam perkara yang paling agung bagi seorang muslim, yaitu perkara agamanya. Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda:
مَنْ رَزَقَهُ اللهُ امْرَأَةً صَالِحَةً، فَقَدْ أَعَانَهُ عَلَى شَطْرِ دِينِهِ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِي الشَّطْرِ الثَّانِي
“Barang siapa yang dianugerahi oleh Allah seorang istri yang shalihah, maka sesungguhnya Allah telah menolongnya dalam menyempurnakan separuh agamanya, maka hendaklah ia bertakwa kepada Allah dalam (menjaga) separuh sisanya.” (HR. Al-Hakim dan Ath-Thabrani, dan sanadnya shahih).
Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam juga bersabda:
الدُّنْيَا مَتَاعٌ، وَخَيْرُ مَتَاعِهَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ
“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang shalihah.” (HR. Muslim dan lainnya).
Yakni dunia adalah kenikmatan yang sementara, dan kenikmatan terbaik yang ada di dalamnya adalah istri yang shalihah, karena ia akan membahagiakan suaminya di dunia dan membantunya dalam urusan akhiratnya, sehingga ia menjadi kenikmatan yang terbaik dan paling kekal!
Diriwayatkan dari Muhammad bin Wasi’ bahwa Ibnu Yasar berkata: “Tidaklah aku merasakan ghibtah (menginginkan kenikmatan yang serupa) kepadanya kecuali dalam tiga perkara, istri yang shalihah, tetangga yang shaleh, dan tempat tinggal yang luas.”
Al-Ashma’i berkata: “Aku tidak pernah merasakan ghibtah terhadap seorang laki-laki atas sesuatu yang meninggikan derajat dirinya —setelah keimanan kepada Allah Ta’ala— seperti atas istri yang baik, dan tidaklah ia merendahkan derajat dirinya —setelah kekafiran kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala— seperti dengan istri yang buruk perangainya.”
Benarlah orang yang bersyair:
سَعَادَةُ الْمَرْءِ فِي خَمْسٍ إِذَا اجْتَمَعَتْ: صَلَاحِ جِيرَانِهِ وَالْبِرِّ فِي وَلَدِهِ
Kebahagiaan seseorang terletak pada lima hal jika semuanya terkumpul,
Kebaikan tetangganya, bakti anaknya.
وَزَوْجَةٍ حَسُنَتْ أَخْلَاقُهَا وَكَذَا خِلٌّ وَفِيٌّ وَرِزْقُ الْمَرْءِ فِي بَلَدِهِ.
Istri yang mulia akhlaknya, serta,
Sahabat yang setia dan rezeki yang didapat di negerinya sendiri.
Cara mendapatkan istri yang shalihah
Pertama: Doa
Ini merupakan sarana yang sangat berguna di setiap kondisi bagi orang-orang yang hendak menikah, juga yang telah menikah. Mereka yang hendak menikah memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar mengaruniakan kepada mereka istri yang shalihah yang menyokongnya dalam urusan agama dan dunia mereka. Sedangkan mereka yang telah menikah memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar memperbaiki keshalehan istri-istri mereka.
Doa itu bermanfaat untuk memperbaiki hal yang telah terjadi dan yang belum. Adapun manfaatnya untuk hal yang telah terjadi, maka seperti doa Nabi Zakaria kepada Tuhannya:
وَزَكَرِيَّا إِذْ نَادَى رَبَّهُ رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ * فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَى وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ
“Dan (ingatlah kisah) Zakaria, ketika ia berdoa kepada Tuhannya, ‘Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan aku hidup seorang diri (tanpa keturunan) dan Engkaulah pewaris yang paling baik.’ Maka Kami mengabulkan doanya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya, dan Kami jadikan istrinya dapat mengandung (setelah sebelumnya mandul).” (QS. Al-Anbiya: 89-90).
Berkat doa beliau ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengaruniakan kepadanya anak bernama Yahya dan memperbaiki istrinya, dengan menjadikannya dapat mengandung padahal sebelumnya mandul, ia menjadi baik jiwa dan raganya.
Sedangkan manfaat doa untuk hal yang belum terjadi, maka seperti yang Allah Subhanahu wa Ta’ala firmankan tentang para hamba-Nya yang shaleh:
وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Dan di antara mereka ada orang yang berdoa, ‘Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.’” (QS. Al-Baqarah: 201).
Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Yang dimaksud dengan kebaikan di dunia adalah istri yang shalihah, dan kebaikan di akhirat adalah surga.” (Kitab Tafsir Al-Baghawi).
Secara umum, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
“Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.’” (QS. Ghafir: 60).
Dan Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda:
الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ.
“Doa adalah ibadah.” (HR. Ahmad dan para penyusun kitab As-Sunan. Dishahihkan oleh Al-Albani).
Kedua: Mencari wanita yang baik agamanya
Seorang muslim tidak berhenti dengan hanya berdoa saja, tapi juga harus berikhtiar mencari pasangan yang punya keagamaan yang baik, karena wanita seperti ini yang akan membahagiakan suaminya, membuat Tuhannya ridha, dan mendidik anak-anaknya dengan baik.
Yang saya maksud dengan wanita yang punya keagamaan yang baik adalah berkomitmen terhadap perintah Tuhannya, menaati Rasulnya, dan mempelajari Islamnya. Ia wanita yang teguh dengan Islam lahir dan batin, saat sendiri atau terang-terangan. Dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim diriwayatkan bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda:
تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا، وَلِجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ
“Wanita itu dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, karena kedudukan (nasabnya), karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka beruntunglah dengan memilih wanita yang taat beragama, jika tidak, niscaya engkau akan merugi.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Makna dan faedah dari hadis ini:
- Dalam hadis ini, Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam menyebutkan kondisi orang-orang yang hendak melangkah ke pernikahan, dan usaha mereka mencari jodoh berbeda-beda, ada yang mencari berdasarkan harta, ada yang berdasarkan kecantikan, ada yang berdasarkan kedudukan, serta ada yang berdasarkan agamanya. Ada juga yang berdasarkan dua atau tiga dari sifat-sifat tersebut, ada yang mengutamakan suatu sifat dan ada yang mengutamakan sifat lain.
- Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam menyebutkan faktor agama paling akhir, karena pada umumnya orang-orang menjadikannya pilihan terakhir. Sebabnya adalah pendeknya pandangan mereka dan melihat hal yang sementara saja. Ini seperti firman Allah: “Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang banyak bersyukur.” (QS. Saba: 13).
- Setelah Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam menyebutkan realitas pahit ini, beliau mewasiatkan hal yang baik dengan bersabda: “Maka beruntunglah dengan memilih wanita yang taat beragama.”
- Ketika ada banyak orang yang mengabaikan faktor ini dan berkata: “Saya sendiri yang akan menjadikan istriku shalihah dan memerintahkannya memakai hijab” maka kemudian Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam mengabarkan bahwa orang yang mengabaikan faktor ini akan jatuh, sedangkan orang yang mengamalkannya akan naik, beliau bersabda: “jika tidak, niscaya engkau akan merugi.” Yakni kedua tanganmu akan menempel tanah karena tekanan kemiskinan, kemelaratan, dan kesengsaraan.
Wanita yang baik dalam beragama adalah wanita cantik yang hakiki, karena ia cantik jiwanya. Dalam syair disebutkan:
لَيْسَ الْجَمَالُ بِأَثْوَابٍ تُزَيِّنُنَا إِنَّ الْجَمَالَ جَمَالُ الْعِلْمِ وَالْأَدَبِ
Bukanlah kecantikan itu terletak pada pakaian yang menghiasi kita,
Sesungguhnya kecantikan yang sejati adalah keindahan ilmu dan adab.
Ketiga: Melakukan istikharah
Apabila ia menemukan wanita yang baik agamanya, maka hendaklah ia beristikharah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, meminta kepada Allah untuk dipilihkan yang terbaik baginya, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Mengetahui hal-hal yang tersembunyi dan apa yang dirahasiakan hati. Ucapkanlah doa seperti yang disabdakan Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلَا أَقْدِرُ، وَتَعْلَمُ وَلَا أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ. اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ خَيْرٌ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي، فَقَدِّرْهُ لِي وَيَسِّرْهُ لِي، ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيهِ، وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي، وَعَاقِبَةِ أَمْرِي، فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ، وَقَدِّرْ لِيَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ، ثُمَّ ارْضِنِي بِهِ، [وَيُسَمِّي حَاجَتَهُ].
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon pilihan kepada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kekuatan kepada-Mu dengan kekuasaan-Mu, dan aku memohon kepada-Mu sebagian dari karunia-Mu yang agung, karena sesungguhnya Engkau Maha Kuasa sedangkan aku tidak kuasa, Engkau Maha Mengetahui sedangkan aku tidak mengetahui, dan Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini baik bagiku dalam agamaku, penghidupanku, dan akibat urusanku, maka takdirkanlah ia untukku, mudahkanlah ia bagiku, kemudian berkahilah aku di dalamnya. Dan jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini buruk bagiku dalam agamaku, penghidupanku, dan akibat urusanku, maka palingkanlah ia dariku, palingkanlah aku darinya, dan takdirkanlah kebaikan untukku di mana pun ia berada, kemudian jadikanlah aku ridha pilihan itu —dan ia hendaknya menyebutkan hajatnya—.” Doa ini dibaca setelah melaksanakan shalat dua rakaat.
Keempat: Mengajari istri perkara-perkara agama
Hendaklah suami mengajari istrinya tentang hak-hak Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hak-hak suami yang harus ia tunaikan, serta hak keluarga dan masyarakatnya. Mengajarkan kepadanya akhlak-akhlak yang mulia, seperti melindungi hati dari penyakit-penyakit iri dan dengki, melindungi lisan dari gibah, adu domba, celaan, dan dusta. Sang suami mengawasi istrinya dalam perkara-perkara tersebut sebisa mungkin. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6).
Ali Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Maknanya adalah ajarilah mereka (keluargamu) adab dan ilmu.” Sedangkan Mujahid Rahimahullah berkata: “Yakni bertakwalah kepada Allah dan perintahkanlah keluarga kalian untuk bertakwa kepada-Nya.” Adh-Dhahhak berkata: “Wajib bagi setiap muslim untuk mengajari keluarganya apa yang Allah wajibkan kepada mereka dan apa yang Allah larang.”
Demikianlah, dengan berdoa, mencari wanita yang baik agamanya, beristikharah, dan mengajarkan perkara-perkara agama, niscaya istri akan menjadi shalihah, dan terciptalah rasa cinta, sayang, kedamaian, dan kebahagiaan.
Nasihat:
Fokuslah kepada perbaikan istrimu terlebih dulu, niscaya akan baik bagimu urusan dunia dan selamat urusan agamamu.
Sumber:
https://www.alukah.net/sharia/0/107873/الزوجة-الصالحة-في-الإسلام/
🔍 Hadist Malam Nisfu Sya Ban, Puasa Sunah Bulan Rajab, Kencing Unta, Cara Memandulkan Kucing Secara Alami, Kriteria Calon Suami Yang Baik
