Kitab al-Funun Ibnu Aqil – Kitab Paling Tebal dalam Sejarah Islam

735
mengenal kitab al funun ibnu aqil
Ilustrasi perpustakaan nasional Qatar

Mengenal Kitab al-Funun Ibnu Aqil

Benarkah kitab al-Funun adl kitb paling tebal di dunia? Mohon pencerahannya…

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Meskipun kami belum bisa memastikan, benarkah kitab ini terpanjang dalam sejarah karya para ulama, namun kitab ini layak untuk kita sebut sebagai salah satu keajaiban dunia. Karena sebagian referensi menyebutkan, kitab ini tebalnya 800 jilid.

Berikut keterangan mereka tentang kitab al-Funun..

[1] Keterangan ad-Dzahabi dalam Siyar A’lam,

كتاب ((الفنون))، وهو أزيد من أربع مئة مجلد، حشد فيه كلَّ ما كان يجري له مع الفضلاء والتلامذة، وما يسنح له من الدقائق والغوامض، وما يسمعه من العجائب والحوادث

Kitab al-Funun, lebih dari 400 jilid. Penulis mengumpulkan semua kejadian yang beliau alami bersama para gurunya dan murid-muridnya. Dan catatan penting dan perkara yang jarang disinggung yang muncul dalam pikiran beliau, serta kejadian aneh yang beliau dengar.

Beliau juga mengatakan,

لم يُصنف في الدنيا أكبر من هذا الكتاب ، حدثني من رأى منه المجلد الفلاني بعد الأربعمائة

Di dunia ini belum pernah ditulis yang lebih besar dibandingkan kitab ini. Orang yang pernah menjumpai kitab ini menceritakan bahwa dia menemukan jilid ke-empat ratus sekian…

[2] Keterangan Ibnul Jauzi

وهذا الكتاب مائتا مجلد . وقع لي منه نحو من مائة وخمسين مجلدة

Kitab ini – yaitu al-Funun – terdiri dari 200 jilid. Dari 200 jilid itu, yang saya miliki sekitar 150 jilid.

[3] Keteragan Abdurrazaq ar-Rus’ani dalam tafsirnya,

Abul Baqa’ – seorang ahli bahasa –

سمعتُ الشيخ أبا حكيم النهرواني يقول : وقفتُ على السفر الرابع بعد الثلاثمائة من كتاب الفنون

Aku mendengar Syaikh Abu Hakim an-Nahrawani mengatakan, “Saya membaca kitab al-Funun sampai jilid ke-304.

[4] Keterangan Ibnu Rajab,

وأخبرني أبو حفص عمر بن علي القزويني ببغداد ، قال : سمعتُ بعض مشايخنا يقول : هو ثمانمائة مجلدة

Abu Hafs, Umar bin Ali al-Qazwani – di Baghdad – pernah menyampaikan kepadaku, ‘Aku mendengar sebagian guru kami menyebutkan, kitab al-Funun ada 800 jilid.’

Kendati ada banyak versi para ulama yang menyebutkan tebal kitab al-Funun, yang paling pendek 200 jilid. Jika satu jilid tebalnya 5cm, berarti kitab al-Funun setidaknya 1000cm atau 10m. Jika kita menerima riwayat 800 jilid, berarti kitab itu bisa mencapai 40 meter. Subhanallah…

kitab al funun ibnu aqil
Cover kitab al funun ibnu aqil

Isi Kitab al-Funun

Kitab ini dinamakan al-Funun, dari kata al-Fannu, yang artinya cabang ilmu. al-Funun berarti banyak cabang ilmu.

[1] Imam Ibnu Utsaimin mengatakan – dalam as-Syarh al-Mumthi’ –,

الفنون كتاب لابن عقيل – رحمه الله – ، وسمي فنوناً لأنه جمع فيه الفنون كلها

Kitab al-Funun karya Ibnu Aqil – rahimahullah – dinamakan al-Funun, karena kitab ini menggabungkan semua cabang ilmu.

[2] Haji Khalifah – penulis kitab Kasyf ad-Dzunun menyebutkan,

كتاب الفنون لعلي بن عقيل البغدادي جمع فيه ازيد من أربعمائة فن

Kitab al-Funun karya Ali bin Aqil al-Baghdadi, di sana mencakup lebih dari 400 cabang ilmu.

[3] Keterangan Ibnu Rajab dalam Dzail at-Thabaqat,

كتاب كبيرٌ جداً فيه فوائد كثيرة جليلة في الوعظ والتفسير والفقه والأصلين والنحو واللغة والشعر والتاريخ والحكايات وفيه مناظراته ومجالسه التي وقعت له وخواطره ونتائج فكره قيدها فيه

Kitab ini tebal sekali, ada banyak sekali pelajaran luar biasa di sana, baik berupa nasehat, dalam masalah tafsir, fiqh, al-Quran dan sunah, nahwu, bahasa, Syair, sejarah, dan kisah-kisah. Di sana juga ada dialog dan diskusi yang beliau alami. Serta hal-hal aneh yang terlintas dalam pikiran beliau, lalu beliau tulis dalam al-Funun.

Siapa Ibnu Aqil?

Beliaulah penulis kitab al-Funun. Abul Wafa’, Ali bin Aqil bin Muhammad bin Aqil, lebih masyhur dengan sebutan Ibnu Aqil. Dilahirkan tahun 431 H dan wafat tahun 513 H. Berasal dari Baghdad, termasuk ulama besar Hambali – gurunya para ulama, dan banyak lagi pujian ulama yang diberikan kepada beliau.

Beliau sangat menghargai waktu, dan menghabiskan waktu beliau dengan membaca, berfikir, dan menulis.

Dalam kitab Dzail Thabaqat al-Hanabilah disebutkan pernyataan Ibnu Aqil,

إني لا يحل لي أن أضيع ساعة من عمري، حتى إذا تعطل لساني عن مذاكرة ومناظرة، وبصري عن مطالعة، أعملت فكري في حالة راحتي وأنا مستطرح، فلا أنهض إلا وقد خطر لي ما أسطره

Aku tidak menghalalkan diriku untuk menyia-nyiakan waktu sesaatpun dari usiaku. Ketika lisanku kosong dari aktivitas belajar dan dialog, saya gunakan pikiranku ketika aku istirahat, aku rebahan. Dan tidaklah aku bangun, kecuali aku telah memiliki bahan yang terlintas dalam diriku untuk aku tulis.

Beliau juga mengatakan,

أنا أقصر بغاية جهدي أوقات أكلي، حتى أختار سف الكعك وتحسية بالماء على الخبز، لأجل مابينهما من تفاوت المضغ، توفرا على مطالعة، أو تسطير فائدة لم أدركها فيه

Aku membatasi semampu-ku waktu makanku. Hingga aku sengaja memilih potongan roti ka’ka, dan roti yang direndam air, karena selisih waktu melembeknya keduanya, cukup untuk muthala’ah (belajar) atau adanya manfaat yang belum pernah kudapatkan.

Berbeda dengan budak kuliner zaman now.. waktu mereka hanya habis untuk satu makanan.

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !!

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
  • KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989