FIKIH, Halal Haram

Hukum Memanfaatkan Barang Milik Orang Kafir

Pertanyaan:

Bagaimana hukum memanfaatkan hal-hal yang dimiliki orang-orang kafir tanpa ikut terjerumus ke dalam bahaya? Apakah mashalih mursalah (adanya kemaslahatan sampingan) dapat dijadikan dasar dalam hal ini?

Jawaban:

Yang dilakukan oleh musuh-musuh Allah dan musuh kita, yakni kaum kafir terbagi menjadi tiga: pertama, ibadah; kedua, kebiasaan/tradisi; ketiga, produk dan jasa.

Tentang ibadah, sebagaimana telah diketahui, seorang muslim tidak boleh menyerupai mereka dalam beribadah. Barangsiapa yang menyerupai mereka dalam beribadah berarti ia telah terjerumus ke dalam petaka yang besar, dan bisa jadi itu menggiringkan kepada kekufuran dan mengeluarkannya dari Islam.

Tentang kebiasaan/tradisi, seperti pakaian dan sebagainya, seorang muslim diharamkan untuk menyerupai mereka dalam hal ini, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, berarti ia dari golongan mereka.” (HR. Ahmad: 2/50, 92)

Tentang produk-produk dan jasa yang mengandung kemaslahatan umum, tidak apa-apa jika mempelajari barang-barang yang mereka produksi dan memanfaatkannya. Hal ini tidak termasuk tasyabbuh (menyerupai), tapi termasuk ikut serta dalam produk-produk bermanfaat yang pelakunya tidak dianggap menyerupai mereka.

Adapun ungkapan penanya, “Apakah mashalih mursalah bisa dijadikan dasar dalam hal ini?” Kami katakan bahwa mashalih mursalah tidak pantas dijadikan dalil tersendiri. Bahkan, kami katakan bahwa jika mashalih mursalah itu terbukti sebagai maslahat, maka syariat membenarkan bahwa itu benar dan ia diterima serta termasuk perkara yang disyariatkan.

Namun, jika terbukti bahwa itu batil, maka itu tidak termasuk maslahat- maslahat sampingan, walaupun pelakunya mengklaim demikian. Jika tidak termasuk ini dan tidak juga yang itu, maka dikembalikan kepada asalnya: Jika bukan merupakan ibadah, maka pada dasarnya halal. Dengan demikian jelaslah bahwa akibat-akibat sampingan itu tidak bisa dijadikan sebagai dalil tersendiri. (Fatawa al-Aqidah, hlm. 255–256, Syekh Ibnu Utsaimin)

Sumber: Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 2, Darul Haq, Cetakan V, 2008.
(Dengan beberapa pengubahan tata bahasa oleh redaksi www.konsultasisyariah.com)
Artikel www.konsultasisyariah.com

🔍 Bacaan Sholat Setelah Ruku, Persiapan Pernikahan Menurut Islam, Saat Haid Tidak Boleh Keramas, Puasa Yang Wajib Dikerjakan Di Hari Selain Ramadhan Sebagai Ganti Puasa Ramadhan Disebut Puasa, Subhannallah, Penyebab Onani

QRIS donasi Yufid