Mari bersama untuk kehidupan kita kelak di akhirat.   BSI: 7086882242
a.n. Yayasan Yufid Network  

Seluruh dana untuk operasional produksi konten dakwah di Yufid: Yufid.TV, YufidEDU, Yufid Kids, website dakwah (KonsultasiSyariah.com, Yufid.com, KisahMuslim.com, Kajian.Net, KhotbahJumat.com, dll).

Yufid menerima zakat mal untuk operasional dakwah Yufid

Hadits

Hadis tentang Nabi Yang Menceraikan Istrinya Saat Baru Mau Didekati

السؤال

لدي استفسار بخصوص حديث من أحاديث الرسول عليه أفضل الصلاة والسلام : لما أدخلت على رسول الله صلى الله عليه وسلم ابنة الجون ، ودنا منها ، قالت : أعوذ بالله منك . فقال : لقد عذت بعظيم , الحقي بأهلك . فما صحة هذا الحديث ؟ وما سبب تعوذها من الرسول صلى الله عليه وسلم وهي تعلم بأنه رسول الله ؟ وهل الرسول صلى الله عليه وسلم طلقها مِن تعوذها فقط ، أم هناك حكم أخرى ؟

Pertanyaan:

Saya ingin mengetahui lebih jauh mengenai salah satu hadis Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam yang mengisahkan bahwa ketika putri al-Jaun diantarkan kepada Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, maka beliau mendekatinya, lalu dia berkata, 

“Aku berlindung kepada Allah darimu!” 

Lantas beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Kamu telah berlindung kepada Yang Maha Agung, pulanglah kepada keluargamu.” 

Sahihkah hadis ini? 

Apa alasan dia berlindung kepada Allah dari Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, padahal dia mengetahui bahwa beliau adalah Rasulullah? 

Apakah Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam menceraikannya hanya karena taawuznya itu, ataukah ada perkara lain?

الجواب

الحمد لله.

أولا :

هذه القصة صحيحة ، وردت في أحاديث عدة وسياقات يكمل بعضها بعضا :

فروى البخاري رحمه الله في صحيحه (5254) عن الإمام الأوزاعي قَالَ : سَأَلْتُ الزُّهْرِي أَي أَزْوَاجِ النَّبِي صلى الله عليه وسلم اسْتَعَاذَتْ مِنْهُ ؟

قَالَ : أَخْبَرَنِي عُرْوَةُ ، عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها : ( أَنَّ ابْنَةَ الْجَوْنِ لَمَّا أُدْخِلَتْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَدَنَا مِنْهَا قَالَتْ : أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْكَ . فَقَالَ لَهَا : لَقَدْ عُذْتِ بِعَظِيمٍ ، الْحَقِى بِأَهْلِكِ ) .

Jawaban:

Alhamdulillah. Pertama, kisah ini memang benar, disebutkan dalam beberapa hadis yang redaksinya saling melengkapi satu sama lain. Imam Bukhari —Semoga Allah Merahmatinya— meriwayatkan dalam Shahih-nya (5254) dari Imam al-Auza’i yang mengatakan, “Aku bertanya kepada az-Zuhri tentang siapa istri Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam yang berlindung kepada Allah dari beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam?” 

Dia berkata, “Urwah mengabarkan kepadaku dari Aisyah —Semoga Allah Meridainya— bahwa ketika putri al-Jaun diantarkan kepada Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam (setelah menikahinya, pent.), maka beliau mendekatinya lalu dia berkata, ‘Aku berlindung kepada Allah Tuhan darimu!’ Lantas beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, ‘Kamu telah berlindung kepada Yang Maha Agung, pulanglah kepada keluargamu.'”

وروى البخاري أيضا في صحيحه (5255) عَنْ أَبِى أُسَيْدٍ رضى الله عنه قَالَ :

( خَرَجْنَا مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم حَتَّى انْطَلَقْنَا إِلَى حَائِطٍ يُقَالُ لَهُ الشَّوْطُ ، حَتَّى انْتَهَيْنَا إِلَى حَائِطَيْنِ ، فَجَلَسْنَا بَيْنَهُمَا ، فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم : اجْلِسُوا هَا هُنَا . وَدَخَلَ وَقَدْ أُتِىَ بِالْجَوْنِيَّةِ ، فَأُنْزِلَتْ فِي بَيْتٍ فِي نَخْلٍ فِي بَيْتٍ أُمَيْمَةُ بِنْتُ النُّعْمَانِ بْنِ شَرَاحِيلَ ، وَمَعَهَا دَايَتُهَا حَاضِنَةٌ لَهَا ، فَلَمَّا دَخَلَ عَلَيْهَا النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : هَبِي نَفْسَكِ لِي .

قَالَتْ : وَهَلْ تَهَبُ الْمَلِكَةُ نَفْسَهَا لِلسُّوقَةِ . قَالَ : فَأَهْوَى بِيَدِهِ يَضَعُ يَدَهُ عَلَيْهَا لِتَسْكُنَ . فَقَالَتْ : أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْكَ . فَقَالَ : قَدْ عُذْتِ بِمَعَاذٍ . ثُمَّ خَرَجَ عَلَيْنَا ، فَقَالَ : يَا أَبَا أُسَيْدٍ اكْسُهَا رَازِقِيَّتَيْنِ وَأَلْحِقْهَا بِأَهْلِهَا )

Imam Bukhari juga meriwayatkan dalam Shahih-nya (5255) dari Abu Usaid —Semoga Allah Meridainya— yang berkata, “Kami pergi bersama Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam hingga sampai pada suatu dinding yang disebut ‘asy-Syauṯh’, kami terus berjalan hingga sampai pada dua dinding, lalu duduk di antara keduanya. Lalu Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, ‘Duduklah kalian di sini.’ Beliau pun masuk dan ternyata seorang perempuan dari Bani Jaun diantarkan kepada beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. Dia ditempatkan di sebuah rumah di sebuah kebun kurma, yaitu di rumah Umaimah binti an-Nu’man bin Syarahil, yang saat itu sedang bersama pelayan dan perawatnya. 

Ketika Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam masuk menemuinya, ‘Hibahkan dirimu untukku.’ Wanita itu berkata, ‘Apakah seorang ratu akan menghibahkan dirinya untuk seorang rakyat jelata?’ 

Lantas beliau menjulurkan tangannya dan hendak menyentuhnya untuk menenangkannya, tetapi dia berkata, ‘Aku berlindung kepada Allah darimu,’ maka beliau menimpalinya, ‘Sesungguhnya kamu telah berlindung dengan Zat Yang Maha Melindungi.’ Setelah itu, beliau keluar menemui kami dan berkata, ‘Wahai Abu Usaid, berilah ia dua helai kain Rāziqiyyah, lalu kembalikanlah ia kepada keluarganya.'”

وروى أيضا رحمه الله (رقم/5256) عَنْ عَبَّاسِ بْنِ سَهْلٍ عَنْ أَبِيهِ وَأَبِى أُسَيْدٍ قَالاَ : ( تَزَوَّجَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم أُمَيْمَةَ بِنْتَ شَرَاحِيلَ ، فَلَمَّا أُدْخِلَتْ عَلَيْهِ بَسَطَ يَدَهُ إِلَيْهَا ، فَكَأَنَّهَا كَرِهَتْ ذَلِكَ ، فَأَمَرَ أَبَا أُسَيْدٍ أَنْ يُجَهِّزَهَا وَيَكْسُوَهَا ثَوْبَيْنِ رَازِقِيَّيْنِ ) ثياب من كتان بيض طوال.

وروى أيضا رحمه الله (رقم/5637) عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ رضى الله عنه قَالَ :

( ذُكِرَ لِلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم امْرَأَةٌ مِنَ الْعَرَبِ ، فَأَمَرَ أَبَا أُسَيْدٍ السَّاعِدِيَّ أَنْ يُرْسِلَ إِلَيْهَا ، فَأَرْسَلَ إِلَيْهَا ، فَقَدِمَتْ فَنَزَلَتْ فِي أُجُمِ بَنِي سَاعِدَةَ ، فَخَرَجَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم حَتَّى جَاءَهَا ، فَدَخَلَ عَلَيْهَا ، فَإِذَا امْرَأَةٌ مُنَكِّسَةٌ رَأْسَهَا ، فَلَمَّا كَلَّمَهَا النَّبِيُ صلى الله عليه وسلم قَالَتْ : أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْكَ. فَقَالَ : قَدْ أَعَذْتُكِ مِنِّى . فَقَالُوا لَهَا : أَتَدْرِينَ مَنْ هَذَا ؟ قَالَتْ : لاَ . قَالُوا هَذَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم جَاءَ لِيَخْطُبَكِ . قَالَتْ : كُنْتُ أَنَا أَشْقَى مِنْ ذَلِكَ . فَأَقْبَلَ النَّبي صلى الله عليه وسلم يَوْمَئِذٍ حَتَّى جَلَسَ فِي سَقِيفَةِ بَنِي سَاعِدَةَ هُوَ وَأَصْحَابُهُ ، ثُمَّ قَالَ : اسْقِنَا يَا سَهْلُ . فَخَرَجْتُ لَهُمْ بِهَذَا الْقَدَحِ فَأَسْقَيْتُهُمْ فِيهِ ، فَأَخْرَجَ لَنَا سَهْلٌ ذَلِكَ الْقَدَحَ فَشَرِبْنَا مِنْهُ . قَالَ : ثُمَّ اسْتَوْهَبَهُ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ بَعْدَ ذَلِكَ فَوَهَبَهُ لَهُ ) ورواه مسلم أيضا (2007)، الأجم : الحصون .

Imam Bukhari —Semoga Allah Merahmatinya— juga meriwayatkan dalam hadis nomor (5256) dari Abbas bin Sahl dari ayahnya dan Abu Usaid, yang mengisahkan bahwa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam menikahi Umaimah binti Syarahil. Ketika dia diantarkan kepada beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, dia mengulurkan tangannya padanya, tetapi tampaknya dia tidak menyukai perbuatan beliau itu, maka beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam memerintahkan Abu Usaid untuk mempersiapkan untuknya dua helai kain Rāziqiyyah (yaitu kain katun putih panjang). 

Beliau —Semoga Allah Merahmatinya— juga meriwayatkan dalam hadis nomor (5637) dari Sahl bin Saad —Semoga Allah Meridainya— yang berkata bahwa ketika disampaikan kepada Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tentang salah seorang wanita Arab, maka beliau pun memerintahkan Abu Usaid as-Sāʿidi untuk mengantarkannya kepadanya. Saat sudah sampai kepadanya, wanita itu datang dan tinggal di benteng milik Bani Sa’idah. Lalu Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam keluar, mendatanginya, dan masuk menemuinya. Ternyata wanita itu selalu menundukkan kepalanya. 

Ketika Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam mengajaknya bicara, wanita itu justru berkata, “Aku berlindung kepada Allah darimu.” 

Beliau menjawab, “Baiklah, aku lindungi kamu dari diriku!” 

Setelah itu, mereka (para Sahabat) berkata kepadanya, “Tahukah kamu siapakah orang ini?” 

Wanita itu menjawab, “Tidak.” 

Mereka berkata, “Dia itu adalah Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam yang datang untuk melamarmu.” 

Wanita itu berkata, “Sungguh rugi aku!” Pada hari itu, Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam mendatangi Bani Sa’idah dan duduk bersama para Sahabat beliau di paviliun Bani Sa’idah, kemudian beliau bersabda, “Beri kami minum, wahai Sahl.” 

Sahl bin Saad mengatakan, “Lalu aku keluar membawa mangkuk ini, yang aku pakai untuk memberikan minuman kepada mereka.” Lalu si Sahl mengeluarkan mangkuk tersebut untuk kami dan kami pun meminum air darinya.” 

Perawi berkata, “Kemudian, Umar bin Abdul Aziz meminta agar mangkuk itu dihibahkan kepadanya, maka mangkuk tersebut dihibahkan kepadanya.” (HR. Muslim (2007)).

ثانيا : 

اختلف العلماء في اسم هذه المرأة على أقوال سبعة ، ولكن الراجح منها عند أكثرهم هو :   ” أميمة بنت النعمان بن شراحيل ” كما تصرح رواية حديث أبي أسيد . وقيل اسمها أسماء .

ثالثا :

لماذا استعاذت المرأة الجونية من رسول الله صلى الله عليه وسلم ؟

يمكن توجيه ذلك ببعض الأجوبة الآتية :

Kedua, para ulama berbeda pendapat menjadi tujuh pendapat mengenai nama wanita ini, tetapi yang lebih tepat menurut mayoritas ulama adalah Umaimah binti an-Nu’man bin Syarahil, sebagaimana jelas disebutkan dalam riwayat Abu Usaid. Ada yang bilang namanya Asma’.

Ketiga, mengapa wanita dari Bani Jaun ini meminta perlindungan kepada Allah dari Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam? Hal ini dapat dijawab dengan beberapa jawaban berikut ini:

1- قد يقال إنها لم تكن تَعرِفُ رسولَ الله صلى الله عليه وسلم ، بدليل الرواية الأخيرة من الروايات المذكورة أعلاه ، وفيها : (. فَقَالُوا لَهَا : أَتَدْرِينَ مَنْ هَذَا ؟ قَالَتْ : لاَ . قَالُوا هَذَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم جَاءَ لِيَخْطُبَكِ . قَالَتْ : كُنْتُ أَنَا أَشْقَى مِنْ ذَلِكَ )

يقول الحافظ ابن حجر رحمه الله :

” وقال غيره : يحتمل أنها لم تعرفه صلى الله عليه وسلم ، فخاطبته بذلك .

وسياق القصة من مجموع طرقها يأبى هذا الاحتمال .

  1. Dapat dikatakan bahwa dia belum mengenal Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, dengan dalil riwayat terakhir dari riwayat-riwayat yang disebutkan di atas, di mana disebutkan bahwa mereka (para Sahabat) berkata kepadanya, “Tahukah kamu siapakah orang ini?” Wanita itu menjawab, “Tidak.” Mereka berkata, “Dia itu adalah Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam yang datang untuk melamarmu.” Wanita itu berkata, “Sungguh rugi aku!” Al-Hafiz Ibnu Hajar —Semoga Allah Merahmatinya— berkata bahwa ada pendapat lain mengatakan bahwa kemungkinan dia belum mengenal beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sehingga menanggapi beliau berdasarkan ketidaktahuannya itu. Redaksi cerita ini dengan keseluruhan jalurnya membuat kemungkinan itu tidak mungkin.

نعم سيأتي في أواخر الأشربة من طريق أبي حازم ، عن سهل بن سعد – فذكر الرواية الأخيرة ، ثم قال : –

فإن كانت القصة واحدة فلا يكون قوله في حديث الباب : ( ألحقها بأهلها ) ، ولا قوله في حديث عائشة : ( الحقي بأهلك ) تطليقا ، ويتعين أنها لم تعرفه .

وإن كانت القصة متعددة – ولا مانع من ذلك – فلعل هذه المرأة هي الكلابية التي وقع فيها الاضطراب ” انتهى.

“فتح الباري” (9/358)

Ya, akan disebutkan riwayat terakhir dari Abu Hazim dari Sahl bin Saad—lalu beliau menyebutkan riwayat akhir itu—kemudian berkata bahwa jika memang semua kisah ini satu kesatuan, maka sabda beliau dalam salah satu hadis tentang kisah ini, “Pulangkanlah dia kepada keluarganya,” demikian pula dalam hadis Aisyah, “Pulanglah kepada keluargamu,” tidak berarti talak, kalau begitu baru bisa dipastikan kalau dia belum mengenal beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. Adapun jika hadis-hadis itu adalah kisah yang berbeda, maka kemungkinan itu bisa saja, jadi, bisa jadi wanita ini adalah wanita Kullabiyah yang diperselisihkan para ulama. Selesai kutipan dari Fathul Bari (9/358)

2- ويذكر بعض أهل العلم أن سبب استعاذتها من النبي صلى الله عليه وسلم ما غرها به بعض أزواجه صلى الله عليه وسلم ، حيث أوهموها أن النبي صلى الله عليه وسلم يحب هذه الكلمة ، فقالتها رغبة في التقرب إليه ، وهي لا تدري أن النبي صلى الله عليه وسلم سيعيذها من نفسه بالفراق إن سمعها منه .

جاء ذلك من طرق ثلاثة :

الطريق الأولى :

يرويها ابن سعد في “الطبقات” (8/143-148)، والحاكم في “المستدرك” (4/39)، من طريق محمد بن عمر الواقدي وهو ضعيف في الحديث .

  1. Sebagian ulama menyatakan bahwa alasan dia berlindung dari Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam adalah karena adanya istri Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam yang mengelabuinya dengan mengatakan kepadanya bahwa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam menyukai kalimat tersebut, maka dia mengucapkannya karena ingin lebih akrab dengan beliau, sedangkan dia tidak mengetahui bahwa Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam memang akan melindunginya dari dirinya dengan menceraikannya jika beliau mendengarnya darinya. Disebutkan dalam tiga jalur riwayat;
  • Riwayat pertama, diriwayatkan oleh Ibnu Saad dalam at-Tabaqāt (8/143-148) dan al-Hakim dalam al-Mustadrak (4/39) dari jalur Muhammad bin Umar al-Waqidi, tetapi hadisnya lemah.

والطريق الثانية :

يرويها ابن سعد في الطبقات (8/144) بسنده عن سعيد بن عبد الرحمن بن أبزى قال: (الجونية استعاذت من رسول الله صلى الله عليه وسلم وقيل لها : هو أحظى لك عنده . ولم تستعذ منه امرأة غيرها ، وإنما خدعت لما رؤي من جمالها وهيئتها ، ولقد ذكر لرسول الله من حملها على ما قالت لرسول الله ، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إنهن صواحب يوسف ).

  • Riwayat kedua, diriwayatkan oleh Ibnu Saad dalam at-Tabaqāt (8/144) dengan sanadnya dari Said bin Abdurrahman bin Abza yang berkata bahwa seorang wanita dari Bani al-Jauni berlindung kepada Allah dari Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. Dikatakan kepadanya, “Itu akan membuatmu semakin mulia di sisi beliau,” padahal tidak ada istri-istri lain yang berlindung dari beliau, hanya saja dia telah ditipu, karena dia memang tampak elok kecantikan dan perawakannya. Ketika disampaikan kepada Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam sebab dia mengucapkan ucapan itu kepada beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, maka Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam bersabda, “Mereka memang seperti wanita-wanita di zaman Yusuf.”

الطريق الثالثة :

رواها ابن سعد أيضا في “الطبقات” (8م145) قال : أخبرنا هشام بن محمد بن السائب ، عن أبيه ، عن أبي صالح ، عن بن عباس قال : ( تزوج رسول الله صلى الله عليه وسلم أسماء بنت النعمان ، وكانت من أجمل أهل زمانها وأشبهم ، قال فلما جعل رسول الله يتزوج الغرائب قالت عائشة : قد وضع يده في الغرائب يوشكن أن يصرفن وجهه عنا . وكان خطبها حين وفدت كندة عليه إلى أبيها ، فلما رآها نساء النبي صلى الله عليه وسلم حسدنها ، فقلن لها : إن أردت أن تحظي عنده فتعوذي بالله منه إذا دخل عليك . فلما دخل وألقى الستر مد يده إليها ، فقالت : أعوذ بالله منك . فقال: أمن عائذ الله ! الحقي بأهلك )

  • Riwayat ketiga, diriwayatkan oleh Ibnu Saad dalam at-Tabaqāt (8/145) yang mengatakan, “Hisyam bin Muhammad bin as-Sa’ib mengabarkan kepada kami dari ayahnya dari Abu Shalih dari Ibnu Abbas —Semoga Allah Meridainya— yang mengatakan bahwa Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam menikahi Asma binti an-Nu’man. Dia adalah salah satu wanita paling cantik dan tampak muda pada masanya. Ketika Rasulullah menikahi orang asing (dari suku lain, pent.), Aisyah berkata, “Beliau telah meletakkan tangannya (memilih istri) dari orang-orang asing hingga hampir-hampir wajah beliau berpaling dari kami. Dia melamarnya melalui ayahnya ketika ada delegasi Kindah datang menemui beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam. Ketika istri-istri Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam melihatnya, mereka iri padanya lalu berkata kepadanya, ‘Jika engkau ingin lebih mulia di sisi beliau, maka berlindunglah kepada Allah darinya saat beliau masuk menemuimu.’ Lantas ketika beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam masuk menemuinya dan membuka cadarnya sembari mengulurkan tangannya padanya, tetapi dia malah berkata, ‘Aku berlindung kepada Allah darimu,’ lalu beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam menimpali, ‘Orang yang berlindung kepada Allah telah aman! Pulanglah kepada keluargamu!’”

وروى أيضا قال : أخبرنا هشام بن محمد ، حدثني ابن الغسيل ، عن حمزة بن أبي أسيد الساعدي ، عن أبيه – وكان بدريا – قال : ( تزوج رسول الله أسماء بنت النعمان الجونية ، فأرسلني فجئت بها ، فقالت حفصة لعائشة أو عائشة لحفصة : اخضبيها أنت وأنا أمشطها ، ففعلن ، ثم قالت لها إحداهما : إن النبي، صلى الله عليه وسلم يعجبه من المرأة إذا دخلت عليه أن تقول أعوذ بالله منك . فلما دخلت عليه وأغلق الباب وأرخى الستر مد يده إليها فقالت : أعوذ بالله منك .فقال بكمه على وجهه فاستتر به وقال : عذت معاذا ، ثلاث مرات . قال أبو أسيد ثم خرج علي فقال : يا أبا أسيد ألحقها بأهلها ومتعها برازقيتين ، يعني كرباستين ، فكانت تقول : دعوني الشقية ) .

وهذه الطرق قد يعضد بعضها بعضا ويستشهد بمجموعها على أن لذلك أصلا .

Dia juga meriwayatkan, “Hisyam bin Muhammad mengabarkan kepada kami; Ibnul Ghasil menceritakan kepadaku dari Hamzah bin Abi Usaid as-Sāʿidi dari ayahnya—yang keduanya adalah veteran perang Badar— yang mengatakan, ‘Rasulullah Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam mengawini Asma binti an-Nu’man al-Jauniyah, lalu beliau mengutusku dan aku datang mengantarkannya kepada beliau. Hafsah berkata kepada Aisyah, atau Aisyah yang berkata kepada Hafsah, ‘Kamu warnai rambutnya dan aku yang menyisirnya.’ Mereka lalu melakukannya, dan salah satu di antara mereka berkata kepadanya, ‘Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam menyukai wanita yang apabila beliau menemuinya, dia mengatakan, ‘Aku berlindung kepada Allah darimu.’ Lalu, ketika wanita itu didatangkan kepada beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam, lalu beliau menutup pintu dan menurunkan tirai, kemudian mengulurkan tangannya padanya, si wanita itu berkata, ‘Aku berlindung kepada Allah darimu.’ Beliau lalu berkata dengan meletakkan lengan bajunya pada wajahnya dengan menutupinya dengannya seraya berkata. ‘Kamu telah dilindungi dariku,’ sebanyak tiga kali.” 

Abu Usaid mengatakan, “Kemudian, beliau keluar menemuiku dan berkata, ‘Wahai Abu Usaid, pulangkan dia kepada keluarganya dan berilah dia Mutʿah (semacam hadiah perceraian, pent.) dengan dua kain Rāziqiyyah (yakni kain tebal dari katun).’ Ketika itu dia berkata, ‘Apes sekali nasibku!’” Riwayat dengan jalur-jalur di atas mungkin saling menguatkan dan secara keseluruhan mengindikasikan memang ini yang sebenarnya terjadi.

3- وذكر آخرون من أهل العلم أن سبب استعاذتها هو تكبرها ، حيث كانت جميلة وفي بيت من بيوت ملوك العرب ، وكانت ترغب عن الزواج بمن ليس بِمَلِك ، وهذا يؤيده ما جاء في الرواية المذكورة أعلاه ، وفيها : ( فَلَمَّا دَخَلَ عَلَيْهَا النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : هَبِي نَفْسَكِ لِي . قَالَتْ : وَهَلْ تَهَبُ الْمَلِكَةُ نَفْسَهَا لِلسُّوقَةِ . قَالَ : فَأَهْوَى بِيَدِهِ يَضَعُ يَدَهُ عَلَيْهَا لِتَسْكُنَ . فَقَالَتْ : أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْكَ . فَقَالَ : قَدْ عُذْتِ بِمَعَاذٍ . ثُمَّ خَرَجَ عَلَيْنَا ، فَقَالَ : يَا أَبَا أُسَيْدٍ اكْسُهَا رَازِقِيَّتَيْنِ وَأَلْحِقْهَا بِأَهْلِهَا )

  1. Ulama lain menyebutkan bahwa alasan dia berlindung dari beliau adalah karena kesombongannya, karena dia cantik dan berada di rumah salah satu raja Arab. Dia enggan menikah dengan orang yang bukan raja. Hal ini didukung dengan salah satu riwayat yang disebutkan di atas, yang menyebutkan bahwa ketika Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam masuk menemuinya, beliau berkata, “Hibahkan dirimu untukku.” Wanita itu berkata, “Apakah seorang ratu akan menghibahkan dirinya untuk seorang rakyat jelata?” Lantas beliau menjulurkan tangannya dan hendak menyentuhnya untuk menenangkannya, tetapi dia berkata, “Aku berlindung kepada Allah darimu,” maka beliau menimpalinya, “Sesungguhnya kamu telah berlindung dengan Zat Yang Maha Melindungi.” Setelah itu, beliau keluar menemui kita dan berkata, “Wahai Abu Usaid, berilah ia dua helai kain Rāziqiyyah, lalu kembalikanlah ia kepada keluarganya.”

يقول الحافظ ابن حجر رحمه الله :

” ( السُّوقة ) قيل لهم ذلك لأن الملك يسوقهم فيساقون إليه ، ويصرفهم على مراده ، وأما أهل السوق فالواحد منهم سوقي . قال ابن المنير : هذا من بقية ما كان فيها من الجاهلية ، والسوقة عندهم من ليس بملك كائنا من كان ، فكأنها استبعدت أن يتزوج الملكة من ليس بملك ، وكان صلى الله عليه وسلم قد خير أن يكون ملكا نبيا ، فاختار أن يكون عبدا نبيا ، تواضعا منه صلى الله عليه وسلم لربه ، ولم يؤاخذها النبي صلى الله عليه وسلم بكلامها ، معذرة لها لقرب عهدها بجاهليتها ” انتهى.”فتح الباري” (9/358)

Al-Hafiz Ibnu Hajar —Semoga Allah Merahmatinya— berkata bahwa rakyat jelata disebut Sūqah (orang-orang yang digiring, pent.) karena raja yang mengarahkan mereka dan mereka digiring kepadanya, dan dia menyetir mereka sesuai kemauannya. Adapun orang-orang pasar, bentuk tunggalnya adalah Sūqi. Ibnul Munir mengatakan bahwa ini adalah dari sisa-sisa adat zaman jahiliah mereka. Sūqah menurut mereka adalah orang yang bukan raja, siapa pun dia, sehingga seolah-olah maksudnya adalah bahwa dia adalah seorang ratu yang berlindung agar tidak dinikahi seseorang yang bukan seorang raja, padahal Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam telah diberi pilihan untuk menjadi seorang raja sekaligus nabi, tetapi beliau sendiri yang memilih menjadi seorang hamba sekaligus nabi karena kerendahan hati beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam di hadapan Tuhannya. Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam tidak menghukumnya atas ucapannya, karena memakluminya yang belum lama meninggalkan kejahiliannya. Selesai kutipan. Fathul Bari (9/358)

هذا ما تحصَّل ذكرُه من أسباب جاءت بها الروايات وكلام أهل العلم ، وكله يدل على كريم أخلاقه صلى الله عليه وسلم ، حيث لم يكن يرضى أن يتزوج مَن يشعر أنها لا ترغبه ، وكان يأبى صلى الله عليه وسلم أن يصيب أحدا من المسلمين بأذى في نفسه أو ماله .

والله أعلم .

Inilah alasan-alasan yang disimpulkan dari riwayat dan perkataan para ulama, yang semuanya menunjukkan akhlak mulia beliau Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam di mana beliau tidak memaksakan diri menikah dengan orang yang menurut beliau tidak mau dengan beliau. Beliau juga tidak mau ada satu pun umat Islam yang diganggu jiwa maupun hartanya. Allah Yang lebih Mengetahui.

Sumber:

https://islamqa.info/ar/answers/118282/حديث-المراة-التي-رغبت-عن-اقتراب-رسول-الله-صلى-الله-عليه-وسلم-منها

PDF sumber artikel.

🔍 Hukum Gadai Sawah, Zakat Diberikan Kepada Saudara Kandung, Kasiat Asmaul Husna, Doa Sebelum Berjima, Lafaz Ijab Kabul, 4 Bulan Kehamilan Dalam Islam

QRIS donasi Yufid