Mari bersama untuk kehidupan kita kelak di akhirat.   BSI: 7086882242
a.n. Yayasan Yufid Network  

Seluruh dana untuk operasional produksi konten dakwah di Yufid: Yufid.TV, YufidEDU, Yufid Kids, website dakwah (KonsultasiSyariah.com, Yufid.com, KisahMuslim.com, Kajian.Net, KhotbahJumat.com, dll).

Yufid menerima zakat mal untuk operasional dakwah Yufid

Puasa

Bolehkah Berbuka Puasa karena Merasa Pusing? 

Pertanyaan:

Ustadz, ada kasus yang sedang ramai diperbincangkan oleh netizen. Ada selebritis yang dianggap ustadzah dia membatalkan puasanya karena alasan merasa pusing. Kemudian netizen pun pro dan kontra menanggapi fenomena ini. Sebenarnya bolehkah berbuka puasa Ramadhan karena alasan pusing? 

Jawaban:

Alhamdulillah, ash-shalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi wa man walah, amma ba’du,

Sebelumnya, kita tidak akan membahas secara khusus tentang selebritis tersebut. Karena kita tidak tahu bagaimana kondisi sebenarnya dari sang selebritis. Namun, sekedar merasa pusing, merasa lapar, atau merasa haus, tidaklah membolehkan berbuka puasa. Bahkan ini termasuk dosa besar. Pusing, lapar, dan haus itulah memang inti dari cobaan puasa. 

Bisa dikatakan hampir semua orang yang berpuasa tentu merasakan pusing, lapar, dan haus. Maka hendaknya bersabar, menahan pusing, lapar, dan hausnya, serta berharap pahala darinya. 

Yang dibolehkan berbuka adalah jika pusing, lapar, atau haus itu dikhawatirkan membahayakan diri. An-Nawawi rahimahullah mengatakan :

قال أصحابنا وغيرهم : من غلبه الجوع والعطش ، فخاف الهلاك : لزمه الفطر

“Ulama mazhab kami dan yang lainnya mengatakan: siapa yang tidak bisa menahan haus dan lapar sehingga ia khawatir dirinya binasa, maka wajib baginya untuk berbuka” (Al-Majmu’, 6/258).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan: 

إذا خاف العطش ، لكن ليس المراد مجرد العطش ؛ بل العطش الذي يُخاف منه الهلاك ، أو يُخاف منه الضرر

“Jika seseorang haus, namun bukan sekedar haus. Namun haus yang dikhawatirkan membuat dirinya binasa atau bahaya, maka boleh berbuka” (Ta’liqat ‘alal Kafi, 3/124).

Kesimpulannya, tidak boleh bermudah-mudahan membatalkan puasa karena pusing, lapar, atau haus. Kecuali khawatir akan terkena bahaya berupa sakit parah atau kematian. Hendaknya bersabar menahan pusing, lapar, dan haus tersebut.

Bahkan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam saja sampai mengguyur badannya untuk menahan haus yang luar biasa. Beliau tidak membatalkan puasanya. Disebutkan oleh seorang sahabat Nabi :

لقد رأيتُ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ بالعرجِ يصبُّ علَى رأسِهِ الماءَ ، وَهوَ صائمٌ منَ العطشِ ، أو منَ الحرِّ

“Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu’alahi wa sallam ketika di Al-‘Urj beliau menyiram kepalanya dengan air dalam keadaan sedang berpuasa. Beliau lakukan demikian karena saking hausnya atau saking panasnya” (HR. Abu Daud no.2365, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Abu Daud).

Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik.

Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.

Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. 

***

URUNAN MEMBUAT VIDEO DAKWAH YUFID.TV

Yufid.TV membuka kesempatan untukmu, berupa amal jariyah menyebarkan ilmu yang bermanfaat. Kami namakan “Gerakan Urunan Membuat Video Yufid.TV”. Anda dapat menyumbang dalam jumlah berapa pun untuk membuat video Yufid.TV, Yufid Kids, dan Yufid EDU. Anda boleh sumbangan Rp 5.000,- atau kurang itu. Semoga ini menjadi tabungan amal jariyahmu, menjadi peninggalan yang pahalanya tetap mengalir kepadamu di dunia dan ketika kamu sudah di alam kubur.

Anda dapat kirimkan sumbangan urunanmu ke:

BANK SYARIAH INDONESIA 
7086882242
a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
Kode BSI: 451 (tidak perlu konfirmasi, karena rekening di atas khusus untuk donasi)

PayPal: [email protected]

Mari kita renungkan Surat Yasin Ayat ke-12 ini:

إِنَّا نَحْنُ نُحْىِ ٱلْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا۟ وَءَاثَٰرَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَىْءٍ أَحْصَيْنَٰهُ فِىٓ إِمَامٍ مُّبِينٍ

Artinya: 

“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan KAMI MENULISKAN APA YANG TELAH MEREKA KERJAKAN DAN BEKAS-BEKAS YANG MEREKA TINGGALKAN. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Yasin: 12)

Apa bekas-bekas kebaikan yang akan kita tinggalkan sehingga itu akan dicatat sebagai kebaikan oleh Allah?

🔍 Bersetubuh, Hukum Dagang Dalam Islam, Hukum Mendoakan Orang Yang Sudah Meninggal, Syekh Siti Jenar Sesat, Cara Sholat Taubat Lengkap, Kisah Cinta Ali Dan Fatimah Lengkap

QRIS donasi Yufid