أغض للبصر وأحصن للفرج
روى الإمام البخاري ومسلم في صحيحيهما عن ابن مسعود رضي الله عنه قال: كُنَّا مع النبيِّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ شَبَابًا لا نَجِدُ شيئًا، فَقالَ لَنَا رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: (يا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فإنَّه أغَضُّ لِلْبَصَرِ وأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، ومَن لَمْ يَسْتَطِعْ فَعليه بالصَّوْمِ فإنَّه له وِجَاءٌ).
Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam kitab Ash-Shahih mereka dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Dulu kami bersama Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam ketika kami masih muda dan belum punya apa pun. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam kemudian bersabda kepada kami:
يا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فإنَّه أغَضُّ لِلْبَصَرِ وأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، ومَن لَمْ يَسْتَطِعْ فَعليه بالصَّوْمِ فإنَّه له وِجَاءٌ
‘Wahai para pemuda! Barang siapa yang mampu menikah, maka menikahlah! Karena itu lebih menjaga pandangan dan melindungi kemaluan. Namun, siapa yang belum mampu maka hendaklah ia berpuasa, karena ia adalah tameng.’” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
هذه دعوة من النبي صلى الله عليه وسلم للشباب ـ ولمن كان محتاجا للزواج من غيرهم ـ أن يبادروا إليه متى ما وجدوا القدرة على ذلك، والقدرة هنا في الظاهر هي القدرة المادية، لأن النبي صلى الله عليه وسلم يخاطب شبابا ولا شك أن رغبتهم فيه قوية، وكذلك يدل عليه قول ابن مسعود “شبابا لا نجد شيئا”، فكأنه يقول لهم: من وجد شيئا يقدر به على الزواج فليبادر إليه، لما فيه من المنافع الدنيوية والأخروية.
Ini merupakan seruan Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bagi para pemuda dan orang-orang yang butuh menikah agar segera melaksanakannya ketika telah memiliki kemampuan. Sedangkan maksud eksplisit dari kata ‘kemampuan’ di sini adalah kemampuan secara finansial, karena ketika itu Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam berbicara dengan para pemuda yang – tidak diragukan – mereka punya keinginan yang kuat untuk menikah (punya kemampuan secara biologis).
Ini juga ditunjukkan melalui ucapan Ibnu Mas’ud, “ketika kami masih muda dan belum punya apa pun”. Seakan-akan beliau bersabda kepada mereka, “Barang siapa yang memiliki harta yang dapat ia gunakan untuk menikah, maka hendaklah ia bersegera melakukannya, karena menikah mengandung banyak manfaat duniawi dan ukhrawi.”
فالزواج آية من آيات الله الباهرة، ونعمة من نعمه الظاهرة، فيه بيان لقدرة الله تعالى في خلقه، وحكمته في شرعه، قال سبحانه: {وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًا لِّتَسْكُنُوٓاْ إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍۢ يَتَفَكَّرُونَ}[الروم:21].
Pernikahan merupakan salah satu tanda kebesaran Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang menakjubkan dan nikmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang begitu jelas. Di dalamnya terdapat penjelasan tentang kekuasaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala terhadap makhluk-Nya dan kebijaksanaan-Nya dalam syariat-Nya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًا لِّتَسْكُنُوٓاْ إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍۢ يَتَفَكَّرُونَ
“Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah bahwa Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari (jenis) dirimu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum: 21).
والزواج طاعة لأمر الله وأمر رسوله، وقربة:
فقد أمر الله به في قوله: {وَأَنكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ}[النور:42].
وأمر به رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال: (تزوَّجوا الوَدودَ الولودَ فإنِّي مُكاثرٌ بِكُمُ الأُممَ)[صحيح سنن أبي داود، وراه النسائي أيضا]. وكذلك هنا في هذا الحديث: (مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ)، وقد حث كثيرا عليه صلوات الله وسلامه عليه.
Pernikahan merupakan ketaatan kepada perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam, dan amal ibadah
Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memerintahkan menikah dalam firman-Nya:
وَأَنكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ
“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan.” (QS. An-Nur: 32).
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam juga memerintahkan untuk menikah melalui sabda beliau:
تزوَّجوا الوَدودَ الولودَ فإنِّي مُكاثرٌ بِكُمُ الأُممَ
“Nikahilah wanita yang penyayang dan subur, karena sungguh aku membanggakan jumlah kalian yang banyak di antara umat-umat lain.” (Shahih Sunan Abu Dawud dan juga diriwayatkan an-Nasa’i).
Beliau juga memerintahkannya dalam hadis yang kita bahas ini: “Barang siapa yang mampu menikah, maka menikahlah!” Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam banyak mendorong umatnya untuk menunaikan amalan ini.
والزواج سنة المرسلين والنبيين: فقد حكى القرآن عنهم أنهم كان لهم أزواج وكان لهم أولاد وأحفاد: {وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِّن قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَٰجًا وَذُرِّيَّةً}[الرعد:38]. وقد أمرنا الله بالاقتداء بهم والاهتداء بهديهم فقال: {أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهِ}[الأنعام:90].
Pernikahan merupakan sunnah para Nabi dan Rasul
Al-Qur’an telah mengisahkan tentang para Rasul bahwa mereka memiliki istri dan anak keturunan. Allah Ta’ala berfirman:
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِّن قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَٰجًا وَذُرِّيَّةً
“Dan sungguh Kami telah mengutus beberapa rasul sebelum engkau (Muhammad) dan Kami berikan kepada mereka istri-istri dan keturunan.” (QS. Ar-Ra’d: 38).
Allah Ta’ala juga memerintahkan kita untuk mencontoh dan meniti ajaran para Rasul dengan berfirman:
أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهِ
“Mereka itulah (para nabi) yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Maka, ikutilah petunjuk mereka.” (QS. Al-An’am: 90).
وهو هدي إمام المتقين وسيد ولد آدم أجمعين: فقد تزوج عليه الصلاة والسلام وكانت له ذرية، وقد رد التبتل على عثمان بن مظعون وعلي بن أبي طالب ومن أراده معهم من شباب الصحابة، ولما أراد بعض الصحابة أن يدع الزواج لأجل أن يتفرغ للعبادة نهاهم النبي صلى الله عليه وسلم وقال: (أَمَا واللَّهِ إنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وأَتْقَاكُمْ له، لَكِنِّي أصُومُ وأُفْطِرُ، وأُصَلِّي وأَرْقُدُ، وأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فمَن رَغِبَ عن سُنَّتي فليسَ مِنِّي)[متفق عليه وهذا لفظ البخاري].
Pernikahan merupakan tuntunan sang penghulu umat manusia, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam
Dulu Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam menikah dan memiliki keturunan. Beliau juga mengingkari kehidupan membujang yang dilakukan oleh Utsman bin Mazh’un dan Ali bin Abi Thalib serta para pemuda lainnya dari kalangan sahabat. Ketika ada seorang sahabat yang enggan menikah demi memfokuskan diri untuk beribadah, Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam melarang mereka dengan bersabda:
أَمَا واللَّهِ إنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وأَتْقَاكُمْ له، لَكِنِّي أصُومُ وأُفْطِرُ، وأُصَلِّي وأَرْقُدُ، وأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فمَن رَغِبَ عن سُنَّتي فليسَ مِنِّي
“Demi Allah, aku adalah orang yang paling takut kepada Allah di antara kalian dan paling bertakwa kepada-Nya, tapi aku tetap berpuasa dan tidak, aku mendirikan Shalat Malam dan tidur, dan aku tetap menikahi wanita. Barang siapa yang membenci sunnahku, maka bukan bagian dariku.” (HR. al-Bukhari dan Muslim, dan ini dari redaksi riwayat Al-Bukhari).
والزواج فطرة وخلقه: فالله سبحانه خلق الرجال وركَّب فيهم ميلا للنساء، وكذلك خلق النساء وركب فيهن ميلا للرجال؛ حكمةً منه بالغة لعمارة الكون وليخلف الإنسان الأرض، وهذه الخلافة لا تكون إلا بوجود ذرية يخلف بعضهم بعضا.. ولا تكون الذرية إلا من اجتماع الذكر بالأنثى.. وليس هناك سبيل مباح حلال مشروع لهذا اللقاء في زماننا إلا بالزواج الشرعي وتكوين الأسر الطاهرة، أما الزواج اللوطي بين رجل ورجل، أو الزواج السحاقي بين امرأتين فهذا زواج ملعون من قبل السماء وفي جميع الأديان، وهو مخالف للفطر السليمة والأخلاق القويمة المستقيمة، مع ما فيه من مخالفة كاملة لمقاصد الزواج التي جعلها الله فيه..
Pernikahan merupakan fitrah dan kodrat penciptaan
Allah Subhanahu Wa Ta’ala menciptakan kaum laki-laki dan menanamkan dalam diri mereka ketertarikan kepada kaum wanita. Demikian juga Allah Subhanahu Wa Ta’ala menciptakan kaum wanita dan menanamkan dalam diri mereka ketertarikan kepada kaum laki-laki, sebagai kebijaksanaan-Nya yang mendalam untuk memakmurkan alam semesta dan agar manusia menjadi khalifah di muka bumi.
Suksesi di muka bumi ini tidak mungkin dapat terwujud kecuali dengan adanya keturunan yang saling menggantikan generasi demi generasi, dan keturunan itu tidak akan hadir melainkan dengan pertemuan laki-laki dan perempuan. Tidak ada jalan yang dibolehkan, dihalalkan, dan disyaratkan untuk pertemuan antara laki-laki dan perempuan ini pada zaman ini kecuali dengan pernikahan yang sesuai syariat dan pembentukan keluarga yang terhormat.
Adapun pernikahan sesama jenis antara sesama laki-laki atau sesama perempuan, merupakan pernikahan yang dilaknat Tuhan dan terlarang di seluruh agama. Pernikahan seperti ini menyelisihi fitrah yang lurus dan nilai-nilai yang baik dan benar. Selain itu juga menyelisihi sepenuhnya tujuan-tujuan pernikahan yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala tetapkan.
والزواج سنة المرسلين والنبيين: فقد حكى القرآن عنهم أنهم كان لهم أزواج وكان لهم أولاد وأحفاد: {وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِّن قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَٰجًا وَذُرِّيَّةً}[الرعد:38]. وقد أمرنا الله بالاقتداء بهم والاهتداء بهديهم فقال: {أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهِ}[الأنعام:90].
Pernikahan merupakan sunnah para Nabi dan Rasul
Al-Qur’an telah mengisahkan tentang para Rasul bahwa mereka memiliki istri dan anak keturunan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِّن قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَٰجًا وَذُرِّيَّةً
“Dan sungguh Kami telah mengutus beberapa rasul sebelum engkau (Muhammad) dan Kami berikan kepada mereka istri-istri dan keturunan.” (QS. Ar-Ra’d: 38).
Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga memerintahkan kita untuk mencontoh dan meniti ajaran para Rasul dengan berfirman:
أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهِ
“Mereka itulah (para nabi) yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Maka, ikutilah petunjuk mereka.” (QS. Al-An’am: 90).
وهو هدي إمام المتقين وسيد ولد آدم أجمعين: فقد تزوج عليه الصلاة والسلام وكانت له ذرية، وقد رد التبتل على عثمان بن مظعون وعلي بن أبي طالب ومن أراده معهم من شباب الصحابة، ولما أراد بعض الصحابة أن يدع الزواج لأجل أن يتفرغ للعبادة نهاهم النبي صلى الله عليه وسلم وقال: (أَمَا واللَّهِ إنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وأَتْقَاكُمْ له، لَكِنِّي أصُومُ وأُفْطِرُ، وأُصَلِّي وأَرْقُدُ، وأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فمَن رَغِبَ عن سُنَّتي فليسَ مِنِّي)[متفق عليه وهذا لفظ البخاري].
Pernikahan merupakan tuntunan sang penghulu umat manusia, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam
Dulu Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam menikah dan memiliki keturunan. Beliau juga mengingkari kehidupan membujang yang dilakukan oleh Utsman bin Mazh’un dan Ali bin Abi Thalib serta para pemuda lainnya dari kalangan sahabat. Ketika ada seorang sahabat yang enggan menikah demi memfokuskan diri untuk beribadah, Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam melarang mereka dengan bersabda:
أَمَا واللَّهِ إنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وأَتْقَاكُمْ له، لَكِنِّي أصُومُ وأُفْطِرُ، وأُصَلِّي وأَرْقُدُ، وأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فمَن رَغِبَ عن سُنَّتي فليسَ مِنِّي
“Demi Allah, aku adalah orang yang paling takut kepada Allah di antara kalian dan paling bertakwa kepada-Nya, tapi aku tetap berpuasa dan tidak, aku mendirikan salat malam dan tidur, dan aku tetap menikahi wanita. Barang siapa yang membenci sunnahku, maka bukan bagian dariku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dan ini dari redaksi riwayat Al-Bukhari).
والزواج فطرة وخلقه: فالله سبحانه خلق الرجال وركَّب فيهم ميلا للنساء، وكذلك خلق النساء وركب فيهن ميلا للرجال؛ حكمةً منه بالغة لعمارة الكون وليخلف الإنسان الأرض، وهذه الخلافة لا تكون إلا بوجود ذرية يخلف بعضهم بعضا.. ولا تكون الذرية إلا من اجتماع الذكر بالأنثى.. وليس هناك سبيل مباح حلال مشروع لهذا اللقاء في زماننا إلا بالزواج الشرعي وتكوين الأسر الطاهرة، أما الزواج اللوطي بين رجل ورجل، أو الزواج السحاقي بين امرأتين فهذا زواج ملعون من قبل السماء وفي جميع الأديان، وهو مخالف للفطر السليمة والأخلاق القويمة المستقيمة، مع ما فيه من مخالفة كاملة لمقاصد الزواج التي جعلها الله فيه..
Pernikahan merupakan fitrah dan kodrat penciptaan
Allah Subhanahu Wa Ta’ala menciptakan kaum laki-laki dan menanamkan dalam diri mereka ketertarikan kepada kaum wanita. Demikian juga Allah Subhanahu Wa Ta’ala menciptakan kaum wanita dan menanamkan dalam diri mereka ketertarikan kepada kaum laki-laki, sebagai kebijaksanaan-Nya yang mendalam untuk memakmurkan alam semesta dan agar manusia menjadi khalifah di muka bumi.
Suksesi di muka bumi ini tidak mungkin dapat terwujud kecuali dengan adanya keturunan yang saling menggantikan generasi demi generasi, dan keturunan itu tidak akan hadir melainkan dengan pertemuan laki-laki dan perempuan. Tidak ada jalan yang dibolehkan, dihalalkan, dan disyaratkan untuk pertemuan antara laki-laki dan perempuan ini pada zaman ini kecuali dengan pernikahan yang sesuai syariat dan pembentukan keluarga yang terhormat.
Adapun pernikahan sesama jenis antara sesama laki-laki atau sesama perempuan, merupakan pernikahan yang dilaknat Tuhan dan terlarang di seluruh agama. Pernikahan seperti ini menyelisihi fitrah yang lurus dan nilai-nilai yang baik dan benar. Selain itu juga menyelisihi sepenuhnya tujuan-tujuan pernikahan yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala tetapkan.
الزواج باب رزق وأجر:
أما كونه بابَ رزقٍ فقد قال تعالى: {وَأَنكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ ۚ إِن يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ}[النور:32]. وقال صلى الله عليه وسلم: (ثلاثةٌ حقٌّ على اللَّهِ عونُهُم: المُجاهدُ في سبيلِ اللَّهِ، والمُكاتِبُ الَّذي يريدُ الأداءَ، والنَّاكحُ الَّذي يريدُ العفافَ)[رواه أحمد والترمذي والنسائي]. أي: الَّذي يُريدُ أن يتزوَّجَ ليُحصِّنَ نفْسَه مِن الزِّنا.
وأما كونه باب أجر: فقد قال عليه الصلاة والسلام: (وفي بُضْعِ أَحَدِكُم صدقةٌ. قالوا: يارسولَ اللهِ أَيَأْتِي أحَدُنا شَهْوَتَهُ وَيكونُ له فيها أجْرٌ؟ قال: أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي الحرامِ ألَيْسَ كان يكونُ عليْهِ وِزْرٌ؟ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَها فِي الْحَلَالِ يكونُ لَهُ أجرٌ)[رواه مسلم].
Pernikahan merupakan pintu rezeki dan pahala
Adapun pernikahan sebagai pintu rezeki, Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah berfirman:
وَأَنكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ ۚ إِن يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
“Nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu, baik laki-laki maupun perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nur: 32).
Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:
ثلاثةٌ حقٌّ على اللَّهِ عونُهُم: المُجاهدُ في سبيلِ اللَّهِ، والمُكاتِبُ الَّذي يريدُ الأداءَ، والنَّاكحُ الَّذي يريدُ العفافَ
“Ada tiga golongan yang wajib bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk menolong mereka: (1) orang yang berjihad di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, (2) budak yang ingin membayar harga kemerdekaannya, (3) orang yang menikah karena ingin menjaga kehormatan.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, dan an-Nasa’i).
Yakni yang ingin menikah demi menjaga diri dari perzinaan.
Sedangkan pernikahan sebagai pintu pahala, Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:
وفي بُضْعِ أَحَدِكُم صدقةٌ. قالوا: يارسولَ اللهِ أَيَأْتِي أحَدُنا شَهْوَتَهُ وَيكونُ له فيها أجْرٌ؟ قال: أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي الحرامِ ألَيْسَ كان يكونُ عليْهِ وِزْرٌ؟ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَها فِي الْحَلَالِ يكونُ لَهُ أجرٌ
“Dan pada kemaluan kalian terdapat sedekah.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah! Apakah salah satu dari kita menyalurkan syahwatnya (dengan istrinya) dan dia mendapat pahala?” Beliau menjawab, “Bagaimana menurut kalian jika dia menyalurkannya dalam hal yang haram, bukankah dia mendapatkan dosa? Demikianlah jika dia menyalurkannya dalam hal yang halal, dia mendapatkan pahala.” (HR. Muslim).
والزواج سبيل لتحصيل الذرية: يسعد بها الإنسان في حياته، ويدعون له ويتصدقون عنه بعد وفاته، كما قال صلى الله عليه وسلم: (إِذَا مَاتَ الإنْسَانُ انْقَطَعَ عنْه عَمَلُهُ إِلَّا مِن ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِن صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو له)[رواه مسلم].
Pernikahan merupakan jalan untuk memperoleh keturunan
Dengan keturunan itu, seorang insan dapat berbahagia dalam hidupnya, mereka mendoakan kebaikan baginya dan bersedekah atas namanya setelah kematiannya, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam:
إِذَا مَاتَ الإنْسَانُ انْقَطَعَ عنْه عَمَلُهُ إِلَّا مِن ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِن صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو له
“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara, kecuali dari sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim).
أغض للبصر وأحصن للفرج
ومن حكم الزواج التي نص عليها النبي في هذا الحديث أنه (أغَضُّ لِلْبَصَرِ وأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ)، وغض الأبصار وحفظ الفروج مطلب ديني وأمر شرعي قال تعالى: {قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ (30) وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ}[النور:30، 31].[المؤمنون:5-6].
Lebih menjaga pandangan dan lebih melindungi kemaluan
Di antara hikmah pernikahan yang disebutkan secara langsung dalam hadis yang kita bahas ini adalah lebih membantu seseorang untuk menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan merupakan tuntutan agama dan perintah Syariat. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ
“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman hendaklah mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya. Demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada para perempuan yang beriman hendaklah mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya.” (QS. An-Nur: 30-31).
Juga yang difirmankan dalam surat Al-Mu’minun ayat 5-6.
إن الله تعالى أرسل المرسلين وجعل من مقاصد بعثتهم تصحيح عقائدهم، وتزكية نفوسهم، وتطهير مجتمعاتهم، وفي الزواج طهارة للمجتمع، وسلامة للبيوت، وحفظ للأعراض، وصيانة للأنساب؛ لأن هذه الشهوة شهوة جامحة، فإذا لم يجد الإنسان لها مصرفا حلالا يقضي فيه وطره ويصرف فيه شهوته وإلا بحث لها عن مصرف حرام.
Allah Ta’ala mengutus para rasul dan menetapkan salah satu tujuan pengutusan mereka adalah untuk meluruskan akidah, membersihkan jiwa, dan membetulkan masyarakat mereka. Sedangkan pernikahan merupakan pembersihan bagi masyarakat, keselamatan bagi rumah tangga, penjagaan terhadap kehormatan, dan perlindungan terhadap nasab, karena syahwat manusia sangat menggelora, apabila ia tidak mendapatkan objek yang halal untuk menyalurkan syahwatnya maka ia akan mencari objek penyaluran yang haram.
ولهذا من أكبر مفاسد ترك الزواج وإغلاق أبوابه ووضع العراقيل أمام طالبيه، بغلاء المهور وكثرة الطلبات ومبالغ الحفلات وتكاليفه الكثيرة، فيعزف عنه الشباب وأن يسلكوا مسالك أخرى منكرة وهذا فيه فساد للشباب والشابات، وفتح أبواب المحرمات، وانتشار الفواحش والمنكرات.
Oleh sebab itu, di antara kerusakan terbesar yang timbul adalah akibat pengabaian pernikahan, penghambatan jalan menuju pernikahan, penyulitan terhadap orang-orang yang ingin menjalankannya dengan memperbesar mahar, memperbanyak syarat, dan berlebihan dalam resepsi pernikahan, serta tuntutan-tuntutan lain, sehingga pemuda-pemudi berpaling darinya dan lebih memilih jalan-jalan lain yang mungkar. Tentu ini menimbulkan kerusakan pada generasi muda, membuka pintu-pintu yang diharamkan, dan tersebarnya perbuatan-perbuatan keji dan mungkar.
فالزواج باب إعفاف للفرج وصيانة للبصر وغض عن المحارم، وفي هذا إعانة على أداء العبادات والطاعات في حضور قلب وإقبال على الرب، لأن الشهوة إذا غلبت أنطلق البصر وصال وجال، فإذا قلبه صاحبه في وجوه الحسان أفسد القلب، وشتت الفكر، وهيج الشهوة، ودعا إلى الحرام.
كلُّ الحوادثِ مبدأُها من النظر .. .. .. ومُعظَمُ النارِ مِنْ مُستَصْغرِ الشَرِرِ
كْم نظرةٍ فعلتْ في قلب صاحبها .. .. فِعْــلَ السهــامِ بلا قـوسٍ ولا وتـرِ
والمــرءُ مـا دامَ ذا عينٍ يُقَـــلِبُها .. .. في أَعينِ الغِيرِ موقوفٌ على خَطرِ
يَســــرُّ مُقلَــتَهُ ما ضــرَّ مُهجَـتَهُ .. .. . لا مرحباً بســرورِ عــادَ بالضـررِ
Pernikahan merupakan pintu untuk menjaga kemaluan dan menundukkan pandangan dari hal-hal yang diharamkan. Ini juga memberi kemudahan dalam menunaikan ibadah dan ketaatan dengan penuh kehadiran hati dan antusiasme menghadap Tuhan, karena jika syahwat telah menguasai, pandangan mata akan liar dan susah dikendalikan, lalu apabila pemilik mata itu hendak mengarahkannya untuk hal-hal yang baik, maka hatinya menjadi gusar, fokusnya terpecah, syahwatnya terus bergejolak, dan mengajak kepada hal yang haram.
كلُّ الحوادثِ مبدأُها من النظر ومُعظَمُ النارِ مِنْ مُستَصْغرِ الشَرِرِ
Setiap kecelakaan dimulai dari pandangan, Dan sebagian besar api berasal dari percikan.
كْم نظرةٍ فعلتْ في قلب صاحبها فِعْــلَ السهــامِ بلا قـوسٍ ولا وتـرِ
Betapa banyak pandangan yang mencelakakan hati pemiliknya, Seperti anak panah yang menghujam tanpa busur dan tanpa tali.
والمــرءُ مـا دامَ ذا عينٍ يُقَـــلِبُها في أَعينِ الغِيرِ موقوفٌ على خَطرِ
Selama seseorang itu mengumbar matanya, Untuk melihat mata-mata jelita, maka ia berada dalam bahaya.
يَســــرُّ مُقلَــتَهُ ما ضــرَّ مُهجَـتَهُ لا مرحباً بســرورِ عــادَ بالضـررِ
Matanya bahagia tapi membahayakan hatinya, Sungguh tidak berguna kebahagiaan yang menimbulkan bahaya.
ومن لم يستطع فعليه بالصوم
فالزواج سبيل إلى تهدئة النفس والقلب والخاطر وتفريغ القلب والنفس من الشواغل للإقبال على عبادة الله سبحانه وتعالى في أكمل حال. وأما من لم يقدر عليه لضعف ذات يد، أو قلة مال، أو أي سبب فإنما سبيله أن يحاول إضعاف شهوته وتقليلها، بأي سبيل مباح وأفضله الصوم لأنه يضعف الشهوة والفكر فيها فكأنه كالخصاء، ثم إنه طاعة روحانية وعبادة إيمانية تصرف في الغالب صاحبها عن التفكير فيما يحرم، أو الاسترسال في النظر المحرم ودواعي الشهوة..
ولا شك أن الصوم سبيل من السبل وليس كلها، وهناك سبل أخرى كشغل النفس بعمل مفيد، وقضاء الوقت فيما هو نافع، أو تناول الأطعمة الطبيعية المثبطة للشهوة، وكذلك إن استدعى الأمر الأدوية، وأما إن كان الصوم يكفي فهو خير الأدوية، وهذا كله لمن لم يقدر على الزواج فإنه العلاج الناجع والدواء النافع وهو الأصل وما بعده معالجة لداء عدم وجوده.
Yang tidak mampu menikah hendaklah berpuasa
Pernikahan merupakan cara untuk menenangkan jiwa, hati, dan pikiran, menenangkan hati dan jiwa dari pikiran-pikiran yang menyibukkan agar dapat menyelami ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam keadaan paling sempurna.
Adapun orang yang belum mampu menikah karena rendahnya penghasilan, sedikitnya harta, atau sebab-sebab lainnya, maka jalan baginya adalah berusaha melemahkan dan menurunkan syahwatnya dengan cara apa pun yang diperbolehkan, dan cara yang paling afdal adalah puasa, karena puasa dapat melemahkan gejolak syahwat dan pikiran tentangnya, seakan-akan itu seperti kebiri.
Selain itu, puasa juga suatu ketaatan rohani dan ibadah imani yang biasanya dapat mengalihkan pelakunya dari memikirkan hal-hal yang diharamkan, dan mengumbar pandangan kepada hal yang diharamkan dan pemantik syahwat.
Tidak diragukan bahwa puasa merupakan salah satu cara saja, bukan satu-satunya. Terdapat cara-cara lain seperti menyibukkan diri dalam hal-hal yang bermanfaat, menggunakan waktu untuk hal yang berfaedah, mengonsumsi makanan-makanan alami yang menurunkan syahwat, dan – jika dibutuhkan – mengonsumsi obat.
Namun, jika puasa saja sudah cukup, maka itulah sebaik-baik obat. Puasa ini dianjurkan bagi orang yang belum mampu menikah, karena ini merupakan cara yang jitu dan obat yang manjur sekaligus cara utama. Adapun cara lainnya merupakan alternatif tambahan.
Sumber:
https://www.islamweb.net/ar/article/237274/أغض-للبصر-وأحصن-للفرج
🔍 Amalan Bulan Rajab Sesuai Sunnah, Haid Terlalu Lama Dalam Islam, Hukum Ibu Menyusui Berpuasa, Lafadz Ijab Qobul Nikah, Ucapan Ijab
