Mari bersama menabung pahala amal jariyah untuk kehidupan kita kelak di akhirat.   BSI: 7086882242
a.n. Yayasan Yufid Network  

Seluruh dana untuk operasional produksi konten dakwah di Yufid: Yufid.TV, YufidEDU, Yufid Kids, website dakwah (KonsultasiSyariah.com, Yufid.com, KisahMuslim.com, Kajian.Net, KhotbahJumat.com, dll).

Yufid menerima zakat mal untuk operasional dakwah Yufid

Nasehat

Kalimat-Kalimat Mutiara Ibnu Al-Qayyim tentang Menjaga Lisan

Oleh:

Fahd bin Abdul Aziz Abdullah Asy-Syuwairikh

Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi dan Rasul yang paling mulia, Nabi kita Muhammad, juga kepada keluarga dan para sahabat beliau seluruhnya. Amma ba’du:

Menjaga lisan termasuk tema yang dibahas Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah dalam banyak bukunya, dan saya telah menghimpun —berkat karunia dan kemurahan Allah— beberapa kalimat yang beliau sebutkan tentang itu. Saya memohon kepada Allah agar ini dapat bermanfaat bagi semua orang.

[Dalam buku: Zad Al-Ma’ad fi Hadyi Khair al-Ma’ad]

Ketenangan lisan

Tsabit bin Qurrah berkata: “Ketenangan jasad ada dalam sedikit makan, ketenangan hati ada pada sedikit dosa, dan ketenangan lisan ada pada sedikit bicara.” 

[Dalam buku: Uddah ash-Shabirin wa Dzakhirah asy-Syakirin]

Kesabaran dalam menjauhi kemaksiatan lisan

“Oleh karenanya, kesabaran dalam menjauhi kemaksiatan lisan dan kemaluan merupakan salah satu jenis kesabaran yang tersulit, karena kuatnya dorongan dan begitu mudahnya untuk dilakukan. Kemaksiatan-kemaksiatan lisan adalah kudapan nikmat bagi manusia, seperti namimah (adu domba), ghibah (menggunjing), dusta, debat kusir, memuji diri sendiri secara langsung atau tidak, menyebarkan ucapan orang lain, menuduh orang yang dibenci, memuji orang yang dicintai, dan lain sebagainya.

Apabila kemaksiatan lisan sudah menjadi kebiasaan seorang hamba, maka sudah baginya untuk bersabar menghindarinya. Oleh sebab itu, engkau dapat temukan orang yang mampu melaksanakan salat tahajjud di malam hari dan berpuasa di siang hari, tapi ia mengumbar lisannya dalam ghibah, namimah, bersenang-senang dengan membicarakan kehormatan orang lain, dan berbicara atas nama Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa landasan ilmu.”

[Dalam buku: Ash-Shawaiq al-Mursalah ‘ala al-Jahmiyah wa al-Mu’aththilah]

Kerusakan lisan 

“Adakah kerusakan yang lebih besar daripada kerusakan lisan yang berhenti berzikir kepada Allah dan kandungannya, membaca firman-Nya, menasihati dan membimbing para hamba-Nya, serta mengajak mereka kepada-Nya?!”

[Dalam buku: At-Tibyan fi Ayman Al-Qur’an]

Bahaya lisan

“Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan bagi lisan dua penutup, yang pertama adalah gigi, dan kedua adalah bibir, menciptakan satu penutup bagi mata, dan tidak menciptakan penutup bagi telinga. Hal ini karena begitu bahaya dan urgensi dari lisan serta bahaya gerak-geriknya. Dalam hal ini ada hikmah tersembunyi, bahwa bahaya ucapan lebih banyak daripada bahaya penglihatan, dan bahaya penglihatan lebih banyak daripada bahaya pendengaran, sehingga yang paling banyak bahayanya diberi dua penutup, yang bahayanya sedang diberi satu penutup, dan yang lebih sedikit bahayanya dibuat tanpa penutup.

[Dalam buku: Tuhfah Al-Maudud Bi-Ahkam al-Maulud]

Musibah terikat oleh ucapan

Di antara musibah yang terjadi akibat ucapan adalah ucapan dari seorang lansia sengsara yang dijenguk oleh Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam. Beliau melihatnya mengalami demam, sehingga beliau bersabda kepadanya: “Tidak mengapa, semoga menjadi pembersih dosa, insya Allah.” Tapi orang itu berkata: “Justru ini adalah demam yang meluap pada seorang lansia, yang menggiringnya ke alam kubur.” Rasul Shalallahu Alaihi Wassalam lalu bersabda: “Kalau begitu memang akan seperti itu.”

Dalam hal ini kita juga telah melihat banyak pelajaran dari diri kita sendiri atau orang lain, dan yang kita lihat baru satu tetes dari lautan yang luas. 

Seorang penyair berkata:

شَفَّ الْمُؤَمَّلَ يَوْمَ النَّقْلَةِ النَّظَرُ لَيْتَ الْمُؤَمَّلَ لَمْ يُخْلَقْ لَهُ الْبَصَرُ 

Pandangan mata telah membuat al-Muammal sengsara pada hari perpisahan (dengan kekasihnya), (Hingga ia bergumam) andai saja al-Muammal itu tidak diberi penglihatan.

فَلَمْ يَلْبَثْ أَنْ عَمِيَ فَحِفْظُ الْمَنْطِقِ وَتَخَيُّرُ الْأَسْمَاءِ مِنْ تَوْفِيقِ اللَّهِ لِلْعَبْدِ

Tidak berselang lama ia benar-benar menjadi buta. Maka sungguh menjaga tutur kata, Serta memilih nama yang baik termasuk taufik Allah bagi seorang hamba.

Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu pernah mengungkapkan bait syair:

احْذَرْ لِسَانَكَ أَنْ يَقُولَ فَتُبْتَلَى إِنَّ الْبَلَاءَ مُوَكَّلٌ بِالْمَنْطِقِ

Waspadalah terhadap lisanmu agar jangan sampai ia berucap sesuatu yang membuatmu tertimpa musibah , karena sesungguhnya musibah itu terikat dengan ucapan.

[Buku: Ad-Da’ wa ad-Dawa’]

Mudah bagi manusia menjauhi harta haram, tapi sulit baginya menjaga lisan

Suatu hal yang mengherankan, manusia mudah untuk menjaga diri dan menjauhi harta haram, kezaliman, zina, mencuri, minum khamr, melihat hal yang diharamkan, dan lain sebagainya, tapi susah baginya menjaga diri dari gerakan lisannya. Bahkan kamu dapat melihat ada orang yang dikenal beragama baik, zuhud, dan ahli ibadah, tapi ia mengucapkan ucapan-ucapan yang membuat Allah Subhanahu wa Ta’ala murka tanpa ia pedulikan. Ia tergelincir dengan satu kata dari ucapannya lebih jauh daripada timur dan barat. Betapa banyak kamu dapat temui orang yang menjaga diri dari hal-hal keji dan kezaliman, tapi lisannya menodai kehormatan orang-orang yang masih hidup bahkan yang sudah meninggal, tanpa ia mempedulikan apa yang ia katakan.

Apabila engkau ingin mengetahui hal itu, lihatlah hadis yang telah diriwayatkan Imam Muslim dalam Ash-Shahih dari riwayat Jundub bin Abdullah bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda:

قَالَ رَجُلٌ وَاللَّهِ لَا يَغْفِرُ اللَّهُ لِفُلَانٍ فَقَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مَنْ ذَا الَّذِي يَتَأَلَّى عَلَيَّ أَنِّي لَا أَغْفِرُ لِفُلَانٍ قَدْ غَفَرْتُ لَهُ وَأَحْبَطْتُ عَمَلَكَ

“Ada orang yang berucap: ‘Demi Allah, Dia tidak akan mengampuni si fulan!’ Allah ‘Azza wa Jalla lalu berfirman: ‘Siapakah yang bersumpah atas nama-Ku bahwa Aku tidak akan mengampuni si fulan? Sungguh Aku telah mengampuninya dan menghapus amalanmu!’” (HR. Muslim).

Lihatlah hamba tersebut, ia beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam kurun waktu yang Allah Subhanahu wa Ta’ala kehendaki, lalu satu kalimat tersebut menghapus seluruh amalannya.

Diriwayatkan juga dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bahwa beliau bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَرْفَعُهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ

“Sungguh ada seorang hamba yang mengucapkan satu kalimat yang diridhai Allah tanpa ia pedulikan (menganggapnya biasa), tapi dengan kalimat itu Allah mengangkat derajatnya. Dan sungguh ada seorang hamba yang mengucapkan satu kalimat yang dimurkai Allah tanpa ia pedulikan, tapi karena kalimat itu ia terjerumus ke dalam neraka Jahannam.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). 

Dalam riwayat Imam Muslim menggunakan redaksi:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيهَا يَهْوِي بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

“Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan suatu kalimat yang tidak ia pikirkan (dampaknya), namun karenanya ia terperosok ke dalam neraka yang dalamnya lebih jauh daripada jarak antara timur dan barat.” (HR. Muslim). 

Dan dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim juga ada riwayat dari Abu Hurairah yang beliau sandarkan ke Nabi (hadis marfu):

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” 

Dulu ada orang dari generasi salaf yang berintrospeksi diri dari ucapannya: “Hari ini panas!” dan “Hari ini dingin!”

Gerakan anggota badan yang paling mudah adalah gerakan lisan, tapi ia justru yang paling berbahaya bagi seorang hamba. Dulu Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu pernah memegang lisannya lalu berkata: “Inilah yang menjerumuskanku ke dalam banyak masalah.”

Ucapan merupakan tawananmu, tapi apabila telah keluar dari lisanmu, kamu yang menjadi tawanannya.

Dua bahaya besar pada lisan

Terdapat dua bahaya besar pada lisan, apabila seseorang dapat selamat dari salah satunya, mungkin ia tidak selamat dari yang lain, yaitu bahaya bicara dan bahaya diam.

Bisa jadi salah satunya lebih besar dosanya daripada yang lain dalam satu waktu. Orang yang diam terhadap kebenaran yang dilanggar adalah setan yang bisu, pelaku kemaksiatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, orang yang riya, dan penjilat. Sebab, ia tidak khawatir terhadap dirinya. Sedangkan orang yang mengucapkan kebatilan adalah setan yang bicara dan pelaku kemaksiatan. Mayoritas manusia tidak bersikap yang benar dalam ucapan dan diam mereka, karena mereka berada di salah satu dari dua jenis tersebut.

Adapun orang yang ada di pertengahan —yaitu orang-orang yang menempuh jalan yang lurus— akan menahan lisan mereka dari kebatilan, lalu menggerakkannya dalam hal yang mendatangkan manfaat bagi mereka di akhirat, sehingga tidak terlihat salah seorang dari mereka berbicara dengan kalimat yang sia-sia tanpa manfaat, apalagi yang membahayakan akhiratnya.

Sungguh ada hamba yang akan datang pada hari kiamat dengan pahala-pahala kebaikan sebesar gunung-gunung, tapi lisannya telah meleburkan semua itu. Ada juga hamba yang datang dengan dosa-dosa keburukan sebenar gunung-gunung, tapi lisannya juga telah meleburkan semua itu dengan banyaknya berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hal-hal yang berhubungan dengan lisan.

Menjaga setiap ucapan

Hendaklah menjaga ucapan dengan tidak mengeluarkan satu kata pun yang sia-sia. Tidak berbicara kecuali dalam hal yang ia harapkan mengandung keuntungan dan peningkatan dalam agamanya. Apabila ia hendak berbicara, ia mencermati dulu: Apakah ada keuntungan dan faedahnya atau tidak? Apabila tidak ada faedahnya, ia memilih untuk menahan ucapan itu. Dan jika ada keuntungannya, ia kembali mencermatinya: Apakah kalimat itu membuatnya kehilangan hal yang lebih menguntungkan atau tidak, sehingga ia tidak menyia-nyiakannya.

Ucapan lisan menggambarkan apa yang ada dalam hati

Apabila engkau ingin mengetahui apa yang ada dalam hati, maka ketahuilah itu dengan ucapan lisan, karena lisan pasti akan mengeluarkan isi hati, baik itu pemilik lisan menghendaki itu atau tidak.

Ucapan yang mengandung mudharat adalah jebakan setan

Allah Subhanahu wa Ta’ala menguji manusia dengan musuh yang tidak pernah meninggalkannya meski sekejap mata. Manusia tersebut tidur, tapi musuhnya tidak. Ia lalai, tapi musuhnya tidak. Musuh itu dan bala tentaranya dapat melihatnya, tapi ia tidak dapat melihat mereka. Musuh itu mengerahkan segenap usahanya dalam permusuhan itu setiap saat. Sama sekali tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk memberi tipu daya yang ia mampu berikan kepadanya, melainkan ia akan memberikannya. Musuh itu telah memasang tali-talinya, juga jeratan dan jebakannya. Ia berkata kepada bala tentaranya: “Inilah musuh kalian dan musuh nenek moyang kalian! Jangan sampai ia lolos! Jangan sampai ia mendapat surga tapi kalian mendapat neraka! Ia mendapat rahmat tapi kalian mendapat laknat! Kalian telah mengetahui kehinaan, laknat, dan pengusiran dari rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menimpa diriku dan kalian adalah karenanya. Oleh sebab itu, kerahkanlah usaha kalian agar ia bersama kita dalam kehinaan ini! Bangkitlah menuju celah lisan, karena ini adalah celah yang paling besar! Setelah ia kepada ucapan yang memberinya mudharat dan tidak bermanfaat! Halangilah ia dari hal yang membawa manfaat baginya! Teruslah berjaga di celah ini! Hiasilah untuknya ucapan batil dengan segala cara! Dan takut-takutilah ia dari ucapan yang benar dengan segala cara!”

Sumber:

https://www.alukah.net/sharia/0/173583/من-درر-العلامة-ابن-القيم-عن-حفظ-اللسان/

Sumber artikel PDF

🔍 Doa Nazar, Membela Islam, Gambaran Kematian Menurut Islam, Niat Puasa Kifarat, Video Desahan Saat Berhubungan Intim

Visited 1 times, 1 visit(s) today

QRIS donasi Yufid