Mari bersama menabung pahala amal jariyah untuk kehidupan kita kelak di akhirat.   BSI: 7086882242
a.n. Yayasan Yufid Network  

Seluruh dana untuk operasional produksi konten dakwah di Yufid: Yufid.TV, YufidEDU, Yufid Kids, website dakwah (KonsultasiSyariah.com, Yufid.com, KisahMuslim.com, Kajian.Net, KhotbahJumat.com, dll).

Yufid menerima zakat mal untuk operasional dakwah Yufid

Nasehat

Lalai dalam Amal Ketaatan dan Meremehkan Pelaksanaan Sunnah

Oleh:

Dr. Thalib bin Umar bin Haidarah Al-Katsiri

Salah satu sebab intikasah (berpaling dari hidayah setelah mendapatkannya) adalah lalai dalam amal ketaatan dan meremehkan pelaksanaan sunnah. Sebab ini punya beberapa tanda, engkau mendapati pelakunya tidak peduli dengan batinnya, sehingga ia tidak merealisasikan ibadah, kekhusyukan, ketulusan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan amal-amal sunnah yang rahasia. Yang ia lakukan hanyalah keistiqamahan permukaan dan tampilan saja yang berlainan dengan isi batinnya tanpa ia sadari.

Ia melalaikan sunnah-sunnah rawatib, terkadang tidak mengikuti shalat berjamaah, berlalu beberapa masa tanpa ia mendirikan salat malam, tidak khusyuk dalam salatnya, dan tidak mengkhatamkan Al-Qur’an. Hal ini terus berlanjut dalam kemunduran, lalu berlanjut dengan penurunan, mulai dari abai dalam mengingkari kemungkaran yang ia dengar dan lihat, hingga ikut serta dalam menyaksikan dan melakukan hal-hal yang diharamkan, lalu berlanjut lagi dengan rasa ketergantungan dengan hiburan, kemaksiatan, dan rasa sedih jika meninggalkannya, dan pada akhirnya sampai pada keberpalingan dari jalan hidayah. Na’udzubillah.

Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata dalam kitab Al-Fawaid halaman 128: “Disebutkan dalam Al-Qur’an berkali-kali bahwa amalan-amalan yang terbangun melalui hati dan anggota badan bisa menjadi sebab hidayah dan kesesatan. Hati dan anggota badan menjalankan suatu amalan lalu membuahkan hidayah, seperti keterikatan antara akibat dengan sebabnya dan pengaruh dengan dampaknya. Demikian pula yang berlaku dalam kesesatan.” Jadi, ini —wahai saudaraku seiman— adalah ikatan sebab-akibat yang saling berkaitan satu sama lain.

Abu Mahmud Abdullah bin Muhammad bin Manazil an-Naisaburi mengatakan dalam kitab Syadzarat Adz-Dzahab jilid 1 hlm. 330: “Tidaklah seseorang melalaikan suatu amalan wajib kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengujinya dengan pelalaian sunnah-sunnah. Dan tidaklah seseorang diuji dengan pelalaian sunnah-sunnah melainkan ia akan terancam diuji dengan bid’ah-bid’ah.”

Hassan bin Athiyah Rahimahullah berkata: “Tidaklah suatu kaum melakukan suatu bid’ah dalam agama mereka melainkan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mencabut dari mereka satu sunnah yang serupa, lalu tidak mengembalikannya kepada mereka hingga hari kiamat.” (Diriwayatkan oleh Al-Lalika’i no. 129 dan Ad-Darimi no. 98 dengan sanad yang sahih).

Di antara akibat yang paling masyhur dari intikasah adalah melakukan bid’ah setelah berpegang pada sunnah, kembali bodoh setelah berilmu, dan terombang-ambing dalam keraguan setelah memiliki keyakinan. Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: “Tatkala aku sedang berdiri di telaga, tiba-tiba muncul sekelompok orang, hingga saat aku mengenali mereka, sesosok malaikat muncul di antara aku dan mereka lalu berkata: ‘Kemarilah’. Aku lalu bertanya: ‘Ke mana?’ Ia menjawab: ‘Demi Allah! Ke neraka.’ Aku pun bertanya: ‘Ada apa dengan mereka?’ Ia menjawab: ‘Mereka telah murtad, berbalik ke belakang.’ Kemudian muncul lagi sekelompok orang lainnya, hingga saat aku mengenali mereka, sesosok malaikat muncul di antara aku dan mereka lalu berkata: ‘Kemarilah’. Aku lalu bertanya: ‘Ke mana?’ Ia menjawab: ‘Demi Allah! Ke neraka.’ Aku pun bertanya: ‘Ada apa dengan mereka?’ Ia menjawab: ‘Mereka telah murtad, berpaling ke belakang.’ Lalu aku tidak melihat ada yang selamat dari mereka kecuali hanya seperti hewan ternak yang terlepas dari kawanannya (sangat sedikit).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Lalu dalam riwayat Imam Muslim dari Aisyah disebutkan tambahan redaksi: “Lalu aku berkata: ‘Wahai Tuhanku, mereka umatku!’ Kemudian Allah berfirman: ‘Engkau tidak mengetahui apa yang mereka perbuat setelahmu, mereka terus berpaling di atas tumit-tumit mereka.’” (HR. Muslim).

Maka, wahai saudara-saudara, waspadalah dari keberpalingan!

Jalan keselamatan

Disebutkan dalam hadis riwayat Abdullah bin Amru Radhiyallahu ‘anhuma bahwa pernah disebutkan kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam tentang kaum yang sangat bersungguh-sungguh dalam ibadah. Kemudian beliau bersabda:

تِلْكَ ضَرُورَةُ الْإِسْلَامِ وَشِرَّتُهُ، وَلِكُلِّ عَمَلٍ شِرَّةٌ، فَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى اقْتِصَادٍ فَنِعْمَ مَا هُوَ، وَمَنْ كَانَتْ إِلَى الْمَعَاصِي فَأُولَئِكَ هُمُ الْهَالِكُونَ

“Itu adalah masa semangat dalam Islam, dan setiap amal punya masa semangatnya masing-masing. Dan barang siapa yang masa lemah semangatnya tetap berada pada tingkat pertengahan (tetap menjaga kewajiban) maka alangkah baiknya hal itu, tapi barang siapa yang masa lemah semangatnya membawanya kepada kemaksiatan, maka mereka itulah orang-orang yang binasa.” (HR. Ath-Thabrani).

Syaikhul Islam Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata: “Masa-masa semangat melemah yang sering kali menghampiri para penempuh jalan menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan hal yang pasti. Namun, siapa yang masa lemahnya itu condong kepada kebenaran dan pendekatan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tanpa keluar dari kewajiban dan tidak memasukkannya ke dalam perkara haram, maka diharapkan ia akan kembali dalam keadaan lebih baik daripada sebelumnya, tapi ibadah yang mengundang cinta Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah yang dilakukan seorang hamba secara konsisten.” (Kitab Madarij As-Salikin jilid 3 hlm. 126).

Wahai saudaraku yang mulia, hendaklah engkau ketahui bahwa langkah pertama dalam intikasah terjadi setelah terjadi kelemahan semangat. Oleh sebab itu, berusahalah selalu dalam mengingat hadis yang diriwayatkan Abdullah bin Amru bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda:

إِنَّ الْإِيمَانَ لَيَخْلَقُ فِي جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلَقُ الثَّوْبُ فَاسْأَلُوا اللَّهَ تَعَالَى أَنْ يُجَدِّدَ الْإِيمَانَ فِي قُلُوبِكُمْ

“Sungguh iman benar-benar bisa menjadi usang di dalam tubuh salah seorang dari kalian sebagaimana usangnya sebuah pakaian, maka memohonlah kepada Allah Ta’ala agar Dia memperbarui iman di dalam hati kalian.” (HR. Al-Hakim jilid 1 hlm. 45. Lihat juga As-Silsilah Ash-Shahihah no. 1585).

عن حذيفة بن اليمان رضي الله عنه قال: ” القلوب أربعة: قلب أجرد كأنما فيه سراج يزهر فذلك قلب المؤمن، وقلب أغلف فذلك قلب الكافر، وقلب مصفح فذلك قلب المنافق، وقلب فيه إيمان ونفاق، ومثل الإيمان فيه كمثل شجرة يسقيها ماء طيب، ومثل النفاق فيه كمثل قرحة يمدها قيح ودم فأيهما غلب عليه غلبه” وجاء عن معاذ رضي الله عنه أنه قال:” اجلسوا بنا نؤمن ساعة، يعني نذكر الله تعالى” وعن علقمة أنه كان يقول لأصحابه: “امشوا بنا نزدد إيماناً”[و راجع هذه الأثار وغيرها في الإيمان لابن أبي شيبة 104- 107]

Hudzaifah bin Al-Yaman Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Hati itu ada empat jenis; (1) hati yang jernih seolah-olah di dalamnya terdapat pelita yang bersinar, dan inilah hati orang beriman. (2) hati yang tertutup, dan inilah hati orang kafir. (3) hati yang terbalik, dan inilah hati orang munafik. (4) hati yang di dalamnya terdapat keimanan dan kemunafikan, keimanan di dalamnya bagaikan pohon yang disirami air yang baik, sedangkan kemunafikan di dalamnya bagaikan luka borok yang terus dialiri nanah dan darah, mana saja yang lebih dominan maka itulah yang akan menguasai.” 

Diriwayatkan dari Muadz Radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata: “Marilah duduk bersama kami untuk sejenak mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Diriwayatkan juga dari Alqamah bahwa beliau pernah berkata kepada murid-muridnya: “Marilah kita berjalan bersama untuk meningkatkan keimanan.” (Riwayat-riwayat tersebut dapat dirujuk dalam kitab Al-Iman karya Ibnu Abi Syaibah, hlm. 104-107).

Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata dalam kitab Madarij As-Salikin jilid 2 hlm. 423 tentang keutamaan berzikir: “Ia adalah kedudukan agung bagi kaum (sholihin) yang darinya mereka mengambil bekal, di dalamnya mereka berniaga, dan kepadanya mereka selalu kembali. Zikir adalah tanda kewalian, barang siapa yang dianugerahi tanda ini maka ia akan tersambung dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan barang siapa yang terhalang darinya maka ia akan terjauhkan. Zikir merupakan nutrisi utama bagi hati orang-orang saleh ini, yang apabila mereka mengabaikannya, maka jasad hanya menjadi kuburan bagi hatinya.

Zikir juga merupakan pemakmur negeri mereka, yang apabila terlepas darinya, maka akan menjadi negeri yang tandus. Zikir adalah senjata yang mereka pakai untuk melawan para penghadang jalan, air yang mereka gunakan untuk memadamkan kobaran api di perjalanan, obat bagi penyakit mereka yang apabila mereka meninggalkannya maka hati akan semakin terpuruk, juga tali penghubung antara diri mereka dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Mengetahui perkara gaib. Apabila kami sakit, kami berobat dengan mengingat-Mu, tapi terkadang kami mengabaikan zikir sehingga kami pun sakit kembali.” (Lihat juga kitab Al-Wabil ash-Shayyib hlm. 99).

Kisah orang-orang teguh saat imannya diuji

Malik meriwayatkan dari Abdullah bin Abi Bakar bahwa pernah ada seorang lelaki dari kaum Anshar yang mendirikan salat di kebunnya di daerah Al-Quf pada musim panen kurma. Tangkai-tangkai kurma itu telah merunduk karena beratnya buah yang dihasilkan. Lelaki itu memandanginya dan takjub dengan buah-buah itu, lalu ia kembali fokus pada salatnya. Hanya saja ia lupa salatnya sudah berapa rakaat. Ia lalu bergumam: “Aku telah tertimpa ujian dengan hartaku ini!” Kemudian ia mendatangi Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu yang saat itu menjadi Khalifah, lalu menceritakan kejadian itu kepada beliau dan berkata: “Sungguh kebun ini aku sedekahkan, maka pakailah untuk hal-hal yang baik.” Utsman lalu menjualnya seharga 50 ribu dirham, sehingga harta itu mendapat julukan Al-khamsun (lima puluh).” (Lihat: Mu’jam Ma Ista’jama jilid 3 hlm. 1087).

Seandainya engkau mengetahui dari arah mana engkau akan diserang (mengetahui celah kelemahanmu), niscaya setan tidak akan berhasil menangkapmu begitu saja dalam keadaan lalai.

Sumber:

https://www.alukah.net/sharia/0/103411/التقصير-في-الطاعات-والتهاون-في-تضييع-السنن/

Sumber artikel PDF

🔍 Bolehkah Memotong Rambut Saat Haid, Shalawat Nabi Yang Benar Dan Shahih, Hukum Mengucapkan Salam Kepada Non Muslim, Mimpi Berpuasa, Doa Bahasa Indonesia Setelah Sholat

Visited 1 times, 1 visit(s) today

QRIS donasi Yufid