Mari bersama menabung pahala amal jariyah untuk kehidupan kita kelak di akhirat.   BSI: 7086882242
a.n. Yayasan Yufid Network  

Seluruh dana untuk operasional produksi konten dakwah di Yufid: Yufid.TV, YufidEDU, Yufid Kids, website dakwah (KonsultasiSyariah.com, Yufid.com, KisahMuslim.com, Kajian.Net, KhotbahJumat.com, dll).

Yufid menerima zakat mal untuk operasional dakwah Yufid

Nasehat

Kelembutan Allah yang Meliputimu di Kala Sakit

Oleh: Dr. Shalah Abdusy Syakur

Ketika engkau terkena satu penyakit, atau bahkan dua atau tiga, apakah engkau mengetahui berapa penyakit yang telah Allah jauhkan darimu, Dia menjagamu sehingga engkau tidak terkena penyakit itu tanpa kamu sadari? 

Apakah pernah engkau saksikan bagaimana sebagian orang dapat selamat dari kecelakaan maut, mereka sudah berada di jurang kematian yang hampir pasti, tapi dalam sekejap mata, Allah Yang Maha Lembut menyelamatkan mereka dengan sebab yang tidak masuk akal atau tidak terkira sebelumnya? 

Apakah engkau pernah mendengar kasus malpraktik, terlebih lagi kasus-kasus malpraktik yang mematikan, bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala melindungimu dari hal itu, menetapkan bagimu tim dokter yang punya kompetensi dan kemampuan yang baik, dan engkau tentu merasakan sakit yang sangat berat akibat penyakit atau terkena sesuatu, lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala memberimu kelembutan dengan menyediakan bagimu penawar atau pereda sakit, sehingga rasa sakitmu berangsur hilang, kengiluanmu mulai pergi, dan engkau kembali ke kehidupanmu yang baru. Bagaimana pereda nyeri itu bisa bereaksi terhadap rasa sakitmu, hingga akhirnya rasa itu hilang dan lenyap? 

Bahkan di keadaan sakitmu yang paling berat, engkau masih berada dalam kelembutan Sang Maha Lembut, menjaga dan melindungimu, menghadirkan bagimu obat dan dokter, mengaruniakan kepadamu kesabaran, dan memberimu kesembuhan. Dialah Yang Maha Lembut. 

Kemarilah, saya akan menemanimu dalam perjalanan menelusuri makna salah satu nama suci dari nama-nama Allah ini, agar kita dapat mengenali-Nya, mengetahui karunia, kemurahan, dan kebaikan-Nya.

Nama Al-Lathif secara bahasa maknanya adalah Yang Maha Baik terhadap para hamba-Nya, yang selalu melimpahkan kebajikan kepada makhluk-Nya dengan memberi banyak manfaat bagi mereka dengan penuh kelembutan dan kehalusan. Perhatikanlah kalimat “dengan penuh kelembutan dan kehalusan”. 

Al-Lathif adalah Yang Maha Mengetahui detail-detail segala hal dan rahasia-rahasianya. Makna asal kata “kelembutan” yakni, tersembunyinya cara dan halusnya pendekatan. Allah Subhanahu wa Ta’ala melimpahkan kebaikan kepada para hamba-Nya dalam ketersembunyian dan kerahasiaan sehingga mereka tidak mengetahuinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyiapkan bagi mereka sebab-sebab penghidupan dan keberhasilan dari arah yang tidak mereka duga. Dialah Yang Maha Lembut, Tersembunyi, dan Teliti dalam karunia dan kebaikan-Nya.

وَهُوَ اللَّطِيفُ بِعَبْدِهِ وَلِعَبْدِهِ وَاللُّطْفُ فِي أَوْصَافِهِ نَوْعَانِ

Dia Maha Lembut kepada hamba-Nya dan untuk hamba-Nya. Dan kelembutan dalam sifat-Nya ada dua macam.

إِدْرَاكُ أَسْرَارِ الْأُمُورِ بِخِبْرَةٍ وَاللُّطْفُ عِنْدَ مَوَاقِعِ الْإِحْسَانِ

Mengetahui rahasia segala urusan dengan penuh ketelitian. Dan kelembutan pada sumber-sumber karunia-Nya.

فَيُرِيكَ عِزَّتَهُ وَيُبْدِي لُطْفَهُ وَالْعَبْدُ فِي الْغَفَلَاتِ عَنْ ذَا الشَّأْنِ

Dia memperlihatkan keagungan-Nya dan menampakkan kelembutan-Nya. Sementara hamba dalam lengah terhadap hal yang agung ini.

Di antara bentuk kelembutan Allah Subhanahu wa Ta’ala

Siapa yang selamat dari kecelakaan atau musibah, atau kembali pulang dengan selamat setelah lama pergi, atau sembuh dari penyakit kronis, maka hendaklah ia mengetahui bahwa itu adalah bagian dari kelembutan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadanya. 

Lihatlah Nabi Yusuf Alaihissalam, apa yang beliau katakan ketika kembali berkumpul dan bersatu dengan keluarganya setelah terpisah puluhan tahun? “Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Yusuf: 100). 

Beliau melewati banyak musibah besar sejak kecil, saudara-saudaranya bersekutu untuk membuat makar terhadapnya, membuatnya tidak bisa bersama kedua orang tuanya, ujian-ujian yang silih berganti, seandainya beliau selamat dari salah satunya, beliau tetap kesulitan untuk selamat dari ujian berikutnya, masuk ke dalam gelapnya dasar sumur, menjadi budak, mendapat tuduhan zalim yang menyeretnya ke penjara, sebatang kara jauh dari keluarga dan kenalan. Namun, Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Lembut kepada beliau, semua skenarionya bukan skenario manusia, tapi skenario ilahi.

Sumur menjadi pelindung baginya dari pembunuhan, perbudakan menjadi pelindung baginya dari tersesat di gurun pasir, penjara menjadi pelindung baginya dari kemaksiatan, selamat dari godaan istri pembesar Mesir dan teman-temannya dan di penjara berkenalan dengan lelaki yang akhirnya menyampaikannya ke raja Mesir, ini merupakan kelembutan-kelembutan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada beliau. Di antara kelembutan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang lain kepada beliau adalah Dia menjadikan pengetahuan beliau tentang takwil mimpi sebagai jalan keselamatannya, menjadi penanggung jawab perbendaharaan negara, bersatunya kembali keluarganya, pertaubatan saudara-saudaranya, serta ketenangan hati ayahnya dan kesembuhan matanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan ucapan beliau: “Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Yusuf: 100).

Kelembutan-kelembutan yang tersembunyi

Di antara bentuk kelembutan Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Lembut kepada hamba-Nya ketika ia sedang sakit adalah dengan mengaruniakan kepadanya rasa berserah diri kepada ketetapan-Nya dan ridha dengan takdir-Nya. Di antara bentuk kelembutan-Nya yang lain adalah dengan mengilhamkan rasa sabar dan harapan terhadap pahala atas musibah yang menimpanya, memberinya taufik untuk bertaubat sebenar-benarnya, dan kembali berpegang pada tali Allah Subhanahu wa Ta’ala yang kokoh dan teguh pada syariat-Nya. Di antara bentuk kelembutan-Nya yang lain adalah melapangkan dadanya dengan keyakinan akan janji Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi orang-orang yang sabar, memudahkan baginya mendapatkan teman yang baik dan tulus, menjadikan hatinya selalu terpaut dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, dan tidak menganggap suatu sebab-sebab duniawi kecuali sekedar untuk dipakai dan dikonsumsi semata.

Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata tentang faktor-faktor yang dapat membantu orang yang tertimpa musibah dan cobaan untuk bersabar: “Di antara faktornya adalah senantiasa menunggu datangnya ruh jalan keluar, yakni kedamaian, ketenteraman, dan kenikmatan dari jalan keluar. Karena dengan menunggu dan menantinya akan meringankan beban kesulitan, terlebih lagi jika diiringi dengan kuatnya harapan atau keyakinan pasti jalan keluar itu akan datang. Jika sudah demikian, di sela-sela musibah itu ia akan merasakan ruh, kedamaian, dan ketenteraman jalan keluar, yang di antaranya merupakan bentuk halusnya kelembutan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan di antaranya menjadi jalan keluar yang disegerakan. Dengan hal itu dan lainnya dapat diketahui makna nama Allah al-Lathif.” 

سَتُمْطِرُنَا الْبَشَائِرُ ذَاتَ يَوْمٍ وَيَعْظُمُ رَبُّنَا لِلصَّبْرِ أَجْرًا

Suatu hari nanti kabar-kabar gembira akan menghujani kita. Dan Tuhan kita akan melipatgandakan pahala atas kesabaran.

نُؤَمِّلُ بِاللَّطِيفِ ظُنُونَ خَيْرٍ وَنُوقِنُ أَنَّ بَعْدَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Kita berharap kepada Yang Maha Lembut dengan sangkaan yang baik. Dan meyakini bahwa setelah kesulitan ada kemudahan.

فَمَا خَابَتْ قُلُوبٌ فِي عَظِيمٍ وَمَا رَجَعَ الدُّعَا وَالْكَفُّ صِفْرًا

Hati yang berharap kepada Yang Maha Agung tidak akan kecewa. Dan doa tidak akan kembali dengan tangan yang hampa.

Sembuh tanpa sebab yang jelas

Penulis kita “Li-annaka Allah” menceritakan sebuah kisah bahwa ada salah satu orang kaya yang mengidap gagal ginjal. Anak-anaknya membawanya ke Mesir untuk transplantasi ginjal. Anak-anaknya sepakat dengan keluarga seorang anak perempuan yang masih kecil untuk membayar ginjalnya seharga seratus ribu riyal. Pada pagi hari, semua orang sudah berada di rumah sakit. Sebelum operasi dilakukan, orang tersebut ingin berjumpa dengan anak perempuan yang sepakat untuk menjual ginjal untuknya itu. Anak perempuan itu masuk menemuinya dengan canggung dan malu-malu. Lelaki itu bertanya: “Apa yang membuatmu menjual ginjalmu kepada seorang lelaki tua sepertiku?” Ia menjawab: “Karena himpitan kebutuhan, keluargaku miskin, saudara-saudaraku sedang menempuh kuliah. Saya harus melakukan sesuatu untuk membantu mereka.” 

Jawaban ini seakan-akan menamparnya dan menyadarkannya dari keterlenaannya. Seakan-akan ia lupa dengan darah kotor yang telah menumpuk dalam tubuhnya. Ia bertanya-tanya pada dirinya: Apakah masuk akal ada manusia yang rela kehilangan sebagian anggota tubuhnya dan sebagian dari hidupnya demi bisa makan dan hidup? Ia kemudian segera memanggil anak-anaknya. Ketika mereka datang, ia memerintahkan mereka untuk memulangkannya ke Saudi. Ia membatalkan rencana transplantasi ginjalnya dan mengatakan kepada mereka bahwa uang seratus ribu riyal telah ia anggap sebagai sedekah untuk anak perempuan itu, jangan mengambil kembali darinya satu riyal pun. Setelah penolakan dari sebagian anak-anaknya dan kemarahan dari sebagian lainnya, mereka pun akhirnya mau menuruti kemauan ayahnya. 

Setelah kembali ke Saudi, ia pergi ke rumah sakit seperti rutinitas biasanya untuk cuci darah. Pada pemeriksaan rutin, para dokter menemukan dengan penuh keheranan bahwa ginjalnya kembali dapat bekerja. Sebuah kuasa dari Sang Maha Raja untuk memberi kesembuhan tanpa membutuhkan pisau bedah. Dialah Yang Maha Kuasa yang melihat dari atas kerajaan-Nya, lalu menyembuhkan orang sakit, membahagiakan orang yang kesusahan, mengembalikan orang yang lama pergi, dan memulihkan orang yang terluka.

Di sini saya bertanya-tanya: Siapa selain Al-Lathif Yang Maha Lembut yang dapat mengatur alur yang menakjubkan dalam cerita ini, yang menyembuhkan orang tua itu berkat sedekahnya, dan di waktu yang sama menjadikan kaya anak perempuan yang miskin itu dengan sedekahnya orang kaya yang menghampirinya dari jauh dengan raga dan hartanya, tanpa harus menjual ginjalnya?! Betapa lembutnya Engkau, ya Allah!

وَتَضِيقُ دُنْيَانَا فَنَحْسَبُ أَنَّنَا سَنَمُوتُ يَأْسًا أَوْ نَمُوتُ نَحِيبًا

Ketika dunia kita terasa sempit dan kita telah merasa. Kita akan binasa karena putus asa atau mati oleh tangisan.

وَإِذَا بِلُطْفِ اللَّهِ يَهْطِلُ فَجْأَةً يُرَبِّي مِنَ الْيَبَسِ الْفُتَاتِ قُلُوبًا

Tiba-tiba kelembutan Allah turun bagaikan hujan. Menumbuhkan kembali hati yang kering kerontang dan berhamburan.

قُلْ لِلَّذِي مَلَأَ التَّشَاؤُمُ قَلْبَهُ وَمَضَى يُضَيِّقُ حَوْلَنَا الْآفَاقَا

Katakanlah kepada orang yang mengisi hatinya dengan pesimisme. Dan terus menyempitkan ruang hidup di sekitar kita.

سِرُّ السَّعَادَةِ حُسْنُ ظَنِّكَ بِالَّذِي خَلَقَ الْحَيَاةَ وَقَسَّمَ الْأَرْزَاقَا

Rahasia kebahagiaan adalah berbaik sangka kepada-Nya. Yang telah menciptakan kehidupan dan membagi rezeki.

Sumber:

https://www.alukah.net/sharia/0/180257/ألطاف-الله-تحوطك-في-مرضك/

Sumber artikel PDF

🔍 Isi Suhuf Nabi Adam, Hukum Puasa 1 Suro, Doa Ruqyah Syariah, Surat Al Jinn Latin, Jin Islam Sholat

Visited 191 times, 1 visit(s) today

QRIS donasi Yufid