Mari bersama menabung pahala amal jariyah untuk kehidupan kita kelak di akhirat.   BSI: 7086882242
a.n. Yayasan Yufid Network  

Seluruh dana untuk operasional produksi konten dakwah di Yufid: Yufid.TV, YufidEDU, Yufid Kids, website dakwah (KonsultasiSyariah.com, Yufid.com, KisahMuslim.com, Kajian.Net, KhotbahJumat.com, dll).

Yufid menerima zakat mal untuk operasional dakwah Yufid

Nasehat

Saya Punya Orientasi Seksual Menyimpang, Sudah Berusaha Melawan tapi Tidak Bisa

Oleh: Ridha al-Junaidi

Ringkasan Pertanyaan:

Ada pemuda yang pernah punya penyimpangan seksual, kemudian bertobat. Namun sekarang kembali melakukannya lagi dan tidak mampu melawan dorongannya. Masalah ini memberi pengaruh buruk pada agama dan pendidikannya. Dia bertanya apa solusinya?

Pertanyaan Lengkap:

Saya laki-laki yang punya orientasi seksual yang menyimpang dan kecenderungan suka sesama laki-laki. Masalah ini membuatku hancur. Saya selalu berusaha bertaubat dan merasa takut, tetapi kemudian merasa gelisah ketika teringat bahwa saya orang yang menyimpang. Selain itu, saya juga punya masalah lain, yaitu saya punya seorang sahabat dan sebelumnya saya orang yang banyak menyendiri. Kami kemudian menjadi teman dekat, sehingga saya merasa ketergantungan dengannya. Namun, saya sama sekali tidak punya kecenderungan seksual kepadanya, karena ketika itu telah bertaubat dan membenci perbuatan tersebut. Hanya saja saya merasa sangat sedih saat ia tidak bersamaku dan ketika ia ada di dekatku, saya merasa sangat senang.

Saya ingin tahu masalah mana yang paling berbahaya dari dua hal tersebut? Mana yang harus saya beri fokus lebih banyak, apakah fokus agar sembuh dari ketergantungan dengan teman itu atau dari penyimpangan seksual? Lalu apakah jika saya melihat seseorang dengan syahwat, saya telah berbuat zalim kepadanya? Apakah saya boleh mengonsumsi obat untuk meredam syahwatku selamanya, sehingga saya dapat hidup dengan selamat? Saya sangat benci terhadap diri sendiri akibat dosa-dosa ini. Bahkan mentalku sakit karenanya dan merasa jijik terhadap diriku sendiri. Setiap kali berbuat suatu dosa, saya merasa sangat sedih. Setiap kali saya mengingatnya, saya juga sedih. Masalah ini sangat mengganggu hidup dan pendidikanku, bahkan urusan agamaku, karena saya menjadi malas menjalankan kewajiban-kewajiban. Mohon penjelasannya. Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.

Jawaban:

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Selamat datang wahai anakku di kolom konsultasi website al-Alukah. Saya memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar menjadikan kami mampu memberi bantuan bagimu untuk memperbaiki keadaanmu. Saya juga memohon kepada-Nya agar menguatkanmu untuk terus bertaubat dan teguh dalam ketaatan.

Wahai anakku, engkau masih berusia 17 tahun —seperti yang engkau sebutkan kepada kam— maka di usia ini, engkau masih mungkin —dengan memohon pertolongan kepada Allah ‘Azza wa Jalla— untuk menjadi golongan yang Allah naungi pada hari Kiamat di bawah naungan-Nya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي ظِلِّهِ، يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: إِمَامٌ عَادِلٌ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللَّهِ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ فِي خَلَاءٍ فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ بِالْمَسْجِدِ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ إِلَى نَفْسِهَا، فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا، حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا صَنَعَتْ يَمِينُهُ.

“Ada tujuh golongan yang akan dinaungi Allah pada hari Kiamat di bawah naungan-Nya, pada hari ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya, yaitu: pemimpin yang adil, seorang pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah, seseorang yang mengingat Allah ketika sendirian lalu kedua matanya bercucuran air mata, seseorang yang hatinya terpaut dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah, seseorang yang diajak berbuat maksiat oleh seorang wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan, lalu ia berkata, Aku sungguh takut kepada Allah, dan seseorang yang bersedekah lalu menyembunyikan sedekahnya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh tangan kanannya.” (HR. al-Bukhari).

Wahai anakku, engkau telah melakukan hal yang benar dengan bertaubat kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan konsisten, dan membenci perbuatan yang sangat keji itu, serta memiliki jiwa yang banyak mencerca diri sendiri ketika terjerumus ke dalam perbuatan tersebut, maka lanjutkanlah kebaikan yang telah Allah ‘Azza wa Jalla titipkan dalam dirimu ini, yaitu dengan terus berusaha keras dan berkelanjutan, hingga engkau dapat terlepas sepenuhnya dari dosa yang besar itu, melawan hawa nafsu setelah bertaubat, dan terus istiqamah di atas jalan yang benar.

Faktor yang dapat mendukungmu untuk itu —dengan izin Allah— adalah dengan mengetahui betapa kejinya dosa itu. Allah ‘Azza wa Jalla menyebut orang-orang yang melakukannya dengan kaum yang jahat. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَلُوطًا آتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْقَرْيَةِ الَّتِي كَانَتْ تَعْمَلُ الْخَبَائِثَ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمَ سَوْءٍ فَاسِقِينَ

“Dan kepada Luth Kami berikan hikmah dan ilmu, serta Kami selamatkan dia dari negeri yang penduduknya melakukan perbuatan-perbuatan keji. Sungguh, mereka adalah kaum yang jahat lagi fasik.” (QS. Al-Anbiya: 74).

Allah juga menyebut mereka sebagai orang-orang pendosa melalui firman-Nya:

فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُجْرِمِينَ

“Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu.” (QS. Al-A’raf: 84).

Ketika engkau teringat dengan sifat-sifat ini, jiwamu akan merasa muak dan fitrahmu yang masih lurus akan menolak menjadi seperti orang-orang fasik dan pendosa tersebut. Nuranimu yang hidup akan mengingatkanmu bahwa engkau seorang muslim, dan muslim harus menjaga kesucian jiwa, hati, dan anggota badannya. Engkau tidak sepatutnya mencontoh orang-orang fasik tersebut, tapi mencontoh orang-orang beriman dan berusaha menjadi seperti para sahabat muda yang mengemban di pundak mereka tugas menyebarkan Islam saat mereka masih seusiamu, seperti Usamah bin Zaid dan Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhum.

Faktor pendukung lain yang membantumu untuk menjauhi dosa besar ini adalah menyibukkan diri dengan urusan-urusan yang penting, karena dirimu, waktumu, akalmu, dan hatimu bagaikan wadah yang tidak bisa kosong, jika engkau tidak mengisinya dengan hal yang bermanfaat, maka engkau akan mengisinya dengan hal-hal remeh atau bahkan hal-hal buruk, maka jagalah wadahmu ini, niscaya hidupmu akan menjadi lurus.

Berusahalah untuk menghadiri majelis-majelis ilmu, serta halaqah-halaqah Al-Qur’an dan zikir, karena ini termasuk hal yang dapat membenahi hati, meluruskan jiwa, dan menjadi batas penghalang antara dirimu dan dosa-dosa besar dengan izin Allah. Berusahalah juga untuk melakukan puasa, karena dapat meringankan dan menurunkan gejolak syahwat. Padamkanlah juga syahwatmu dengan rutin berolahraga dan meningkatkan prestasi belajarmu serta segala hal yang dapat membawa kebaikan bagi masa depanmu.

Jauhilah segala hal yang membuatmu ingat dengan kemaksiatan ini atau mendekatkanmu kepadanya, karena setiap kali engkau menjauhi hal-hal yang memicu kemaksiatan, maka dengan izin Allah, itu akan semakin memudahkanmu untuk tidak terjerumus lagi ke dalamnya. Salah satunya adalah dengan menjauhi setiap laki-laki yang kamu merasa punya kecondongan yang tidak normal terhadapnya.

Jagalah pandanganmu dari melihat hal-hal yang diharamkan Allah ‘Azza wa Jalla, karena pandangan merupakan pembangkit utama bagi syahwat dan kezaliman yang besar bagi jiwa karena ia membuka pintu yang menjerumuskan kepada kemaksiatan. 

Jagalah pikiranmu agar tidak memikirkan hal-hal yang diharamkan oleh Allah, karena ketika kita melepas tali kendali dari pikiran kita, bisa jadi itu akan berubah menjadi keinginan, kemudian keinginan itu seiring berjalannya waktu bisa menjadi perbuatan. Oleh sebab itu, tutuplah pintu-pintu ini dari awal. Lalu seiring dengan berjalannya waktu, engkau akan mendapati dirimu sudah menjadi orang yang lebih baik dan lebih dekat kepada Allah, dan mendapati dosa itu tidak lagi punya tempat di hidupmu, dengan izin Allah. Lalu hubunganmu dengan laki-laki akan menjadi hubungan yang normal dan biasa.

Adapun ketergantunganmu dengan teman laki-lakimu itu, maka kita akui saja bahwa engkau sedang berada dalam kondisi yang lemah, sedangkan ketergantunganmu dengan temanmu itu bisa membuatmu semakin lemah di hadapan kemaksiatanmu. Jadikanlah hubunganmu dengannya sebagai hubungan pertemanan biasa yang seimbang, tidak terlalu dekat sehingga membuatmu semakin tergantung kepadanya. Hendaklah kalian berdua saling membantu untuk mendekat kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan menjalankan ketaatan-Nya.

Latihlah dirimu untuk agar hatimu tidak terpaut dengan siapa pun selain Allah, dan hubunganmu dengan orang-orang di sekitarmu adalah hubungan yang berimbang, tidak terlalu dekat dan tidak pula terlalu jauh. Setiap kali engkau merasa ketergantungan dengan seseorang atau sesuatu, maka berusahalah untuk menyibukkan diri darinya dengan hal-hal yang bermanfaat bagi akhiratmu, agar perasaanmu terhadapnya menjadi perasaan yang normal. Perbanyaklah berdoa agar kecintaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla adalah kecintaan yang terbesar dalam hatimu.

Terakhir, percayalah bahwa terlepas dari dosa ini bukanlah hal yang mustahil. Jangan beri kesempatan bagi setan untuk menimpakanmu ke dalam kegelisahan, kesedihan, dan kegalauan hati serta menjadikanmu putus asa terhadap dirimu sendiri, yang pada akhirnya membuatmu menjauh dari Allah ‘Azza wa Jalla, lalai terhadap hak-hak diri sendiri, dan tak acuh terhadap ibadah dan pendidikanmu. Berhati-hatilah dari segala tipu daya setan, ingatkanlah dirimu bahwa Allah Maha Menerima taubat, Maha Penyayang, Maha Pengampun, dan Maha Pengasih. Sebesar apa pun dosa yang telah engkau perbuat, Allah ‘Azza wa Jalla tetap memberimu kesempatan untuk bertaubat. Yang penting, engkau memanfaatkan kesempatan ini untuk menjadi golongan orang-orang yang bertaubat dan terus teguh di atas jalan yang lurus, meskipun jiwa sedang lemah dan godaan di sekeliling kita sedang begitu masif.

Wahai anakku, mendekatlah kepada Tuhanmu, mintalah kepada-Nya agar memberi pertolongan dalam melawan hawa nafsu, serta melindungimu dari keburukan nafsu dan keburukan setan. Janganlah berputus asa terhadap dirimu sendiri, karena Allah ‘Azza wa Jalla tidak akan menolak orang yang datang kepada-Nya dalam keadaan bertaubat. Sebaliknya, Dia senang dengan taubatnya dan menolongnya untuk memperbaiki diri.

Saya memohon kepada Allah agar menjadikanmu mencintai keimanan dan menghiasinya di dalam hatimu, serta menjadikanmu membenci kekafiran, kefasikan, dan kemaksiatan, juga menjadikanmu termasuk pemuda-pemuda terbaik di kalangan kaum Muslimin.

Sumber:

https://www.alukah.net/fatawa_counsels/0/181026/أقاوم-الشذوذ-لكن-لا-أستطيع/

Sumber artikel PDF

🔍 Berdoa Saat Haid, Bacaan Niat Puasa Mulud, Surat Yang Pertama Kali Diturunkan, Pendeta Kalah Debat Masuk Islam, Doa Diberikan Jodoh

Visited 1 times, 1 visit(s) today

QRIS donasi Yufid