AL-QURAN

Dalam Surat Al-Fath Ayat 10, Mengapa Dibaca “alaihu”?

Pertanyaan:

Ustadz, dalam surat Al-Fath ayat 10:

وَمَنْ أَوْفَىٰ بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

“Siapa yang menunaikan janji kepada Allah maka Allah akan mendatangkan ganjaran yang besar baginya”.

Mengapa dalam ayat ini dibaca عَلَيْهُ (alaihu) bukan عَلَيْهِ (alaihi)? 

Jawaban:

Alhamdulillah, ash-shalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi wa man walah, amma ba’du,

Mayoritas qurra’ (ulama ahli qira’at) membaca ayat ini dengan huruf ha’ dikasroh yaitu عَلَيْهِ. Namun dalam riwayat Hafsh dari ‘Ashim, memang dibaca dengan عَلَيْهُ (alaihu). 

Artinya, Imam Hafsh bin Sulaiman al-Kufi ketika mendengarkan bacaan ayat di atas dari Imam Ashim bin Bahdalah al-Kufi, beliau mendengarnya dengan bacaan عَلَيْهُ (alaihu). Dan bacaan ini termasuk qira’ah yang shahih dan mu’tabar (diakui). Dan juga qira’ah Hafsh dari ‘Ashim adalah qira’ah yang paling masyhur digunakan oleh banyak kaum Muslimin di berbagai negara, termasuk di Indonesia.

Dan bacaan عَلَيْهُ (alaihu) tidaklah keliru dari sisi ilmu nahwu. Hal ini dijelaskan oleh Al-Alusi dalam Ruhul Ma’ani (13/252):

وقرأ الجمهور عليه بكسر الهاء ، كما هو الشائع . وضمها حفص هنا، قيل: وجه الضم : أنها هاء هو ، وهي مضمومة ، فاستصحب ذلك ، كما في : له ، وضربه. ووجه الكسر رعاية الياء ، وكذا في : إليه ، وفيه 

Jumhur qurra’ (ahli qira’at) membaca ayat ini dengan ha’ dikasroh (yaitu ‘alaihi). Sebagaimana banyak bacaan yang tersebar. Namun dalam riwayat Hafsh dibaca dengan ha’ didhommah. 

Sebagian ulama mengatakan, alasannya karena huruf ha’ dalam عَلَيْهُ itu berasal dari kata هُوَ. Dan huruf ha’ dalam kata هُوَ itu didhommah. Sehingga عَلَيْهُ didhommah karena mempertahankan harokat aslinya. Seperti dalam kata لَهُ atau ضَرَبَهُ. 

Sedangkan ulama yang membaca dengan kasroh alasannya karena memperhatikan adanya huruf ya’ sebelumnya. Demikian juga dalam kata إِلَيْهِ dan فِيهِ”. 

Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik.

Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.

Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom. 

***

URUNAN MEMBUAT VIDEO DAKWAH YUFID.TV

Yufid.TV membuka kesempatan untukmu, berupa amal jariyah menyebarkan ilmu yang bermanfaat. Kami namakan “Gerakan Urunan Membuat Video Yufid.TV”. Anda dapat menyumbang dalam jumlah berapa pun untuk membuat video Yufid.TV, Yufid Kids, dan Yufid EDU. Anda boleh sumbangan Rp 5.000,- atau kurang itu. Semoga ini menjadi tabungan amal jariyahmu, menjadi peninggalan yang pahalanya tetap mengalir kepadamu di dunia dan ketika kamu sudah di alam kubur.

Anda dapat kirimkan sumbangan urunanmu ke:

BANK SYARIAH INDONESIA 
7086882242
a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
Kode BSI: 451 (tidak perlu konfirmasi, karena rekening di atas khusus untuk donasi)

PayPal: [email protected]

Mari kita renungkan Surat Yasin Ayat ke-12 ini:

إِنَّا نَحْنُ نُحْىِ ٱلْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا۟ وَءَاثَٰرَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَىْءٍ أَحْصَيْنَٰهُ فِىٓ إِمَامٍ مُّبِينٍ

Artinya: 

“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan KAMI MENULISKAN APA YANG TELAH MEREKA KERJAKAN DAN BEKAS-BEKAS YANG MEREKA TINGGALKAN. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Yasin: 12)

Apa bekas-bekas kebaikan yang akan kita tinggalkan sehingga itu akan dicatat sebagai kebaikan oleh Allah?

🔍 Allahumma Innaka Afuwwun, Mengapa Islam Membolehkan Poligami, Cara Membaca Shalawat, Shalat Jama Takhir, Debat Islam Vs Kristen Terbaru, Rukyah Syariah

QRIS donasi Yufid