Mari bersama untuk kehidupan kita kelak di akhirat.   BSI: 7086882242
a.n. Yayasan Yufid Network  

Seluruh dana untuk operasional produksi konten dakwah di Yufid: Yufid.TV, YufidEDU, Yufid Kids, website dakwah (KonsultasiSyariah.com, Yufid.com, KisahMuslim.com, Kajian.Net, KhotbahJumat.com, dll).

Yufid menerima zakat mal untuk operasional dakwah Yufid

FIKIH

Menjadi Imam Salat di Perusahaan, Dapat Gaji dan Hadiah dari Karyawan, Bagaimana Hukumnya?

السؤال

جزاكم الله خيرا على ما تقومون به من هذه الخدمة التي ينتفع بها المسلمون إن شاء الله تعالى. سؤالي هو أن رجلا يتقدم بترخيص من مديرية الأوقاف لأداء صلاة التراويح في شركة كبيرة ذات نظام داخلي في رمضان، بعد طلب الشركة من الأوقاف بترشيح إمام لذلك، فتقوم الشركة بأداء راتب للإمام وفق عقد تستحدثه الشركة نفسها مع هذا الإمام، مع العلم أنه لا يتقاضى من مديرية الأوقاف شيئا، وفي نهاية رمضان يقوم العمال في الشركة من تلقاء أنفسهم بجمع مبلغ آخر للإمام ويعطونه إياه، مع العلم أن هذا الجمع بعلم من الشركة وبصورة علنية فيها. فهل هذا الفعل الذي يفعله هذا الرجل صحيح؟ وما حكم أجره من الشركة؟ وما حكم المال الذي يجمعه العمال له في نهاية رمضان؟

Pertanyaan:

Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan atas dedikasi Anda dalam khidmah yang insya Allah bermanfaat bagi umat Islam. 

Pertanyaan saya, ada seorang laki-laki yang mengajukan izin kepada Direktorat Wakaf untuk melaksanakan Salat Tarawih pada bulan Ramadan di sebuah perusahaan besar, yang memiliki aturan internal sendiri. 

Setelah perusahaan tersebut meminta kepada Direktorat Wakaf untuk menunjuk seorang imam untuk pelaksanaan itu, lalu perusahaan tersebut akan membayar gaji kepada imam tersebut sesuai dengan kontrak yang dibuat oleh perusahaan itu sendiri dengan imam tersebut. 

Perlu diketahui bahwa dia tidak menerima gaji dari Direktorat Wakaf sedikit pun. Di akhir Ramadan, dengan inisiatif para karyawan sendiri yang bekerja di perusahaan tersebut, mereka mengumpulkan sejumlah uang untuk imam tersebut dan memberikannya kepadanya. Perlu diketahui bahwa pengumpulan uang ini adalah dengan sepengetahuan perusahaan dan dilakukan secara terang-terangan di tengah perusahaan. 

Apakah perbuatan yang dilakukan orang ini benar? Apa hukum gaji yang ia terima dari perusahaan? Bagaimana juga hukumnya uang yang dikumpulkan oleh para karyawan untuknya di akhir Ramadan tersebut?

الجواب

الحمد لله. أولا : اختلف العلماء في جواز أخذ الأجرة على العبادات، ومنها: الإمامة. فذهب بعضهم إلى تحريم ذلك. قال ابن قدامة رحمه الله في “المغني” (2/9): “وَرُوِيَ عَنْهُ [أي عن الإمام أحمد] أَنَّهُ قَالَ : “لَا تُصَلِّ خَلْفَ مَنْ يُشَارِطُ، وَلَا بَأْسَ أَنْ يَدْفَعُوا إلَيْهِ مِنْ غَيْرِ شَرْطٍ ” انتهى. والقول بأنه لا يصح الاستئجار على الإمامة، ولو في نافلة كالتراويح: هو مذهب الشافعية. وعللوه بأن الإمام يصلي لنفسه، ومنفعة عمله المستأجر عليه، إنما تعود إليه، لا إلى المستأجِر.

Jawaban:

Alhamdulillah. 

Pertama, bahwa para ulama berbeda pendapat mengenai kebolehan mengambil upah dari ibadah, termasuk menjadi imam. 

Sebagian dari mereka berpandangan bahwa hukumnya haram. 

Ibnu Qudamah —Semoga Allah Merahmatinya— berkata dalam al-Mughni (2/9) bahwa ada riwayat dari beliau (maksudnya Imam Ahmad) bahwa beliau berkata, “Janganlah kalian salat di belakang orang yang mensyaratkan (bayaran, pent.), tapi tidak mengapa jika orang-orang membayarnya tanpa ada syarat.” Selesai kutipan. 

Pendapat yang menyatakan bahwa akad menyewa seseorang menjadi imam tidaklah sah, meskipun hanya untuk salat sunah, seperti Salat Tarawih adalah pendapat dalam mazhab Syafii. Mereka beralasan bahwa hakikatnya imam itu salat untuk dirinya sendiri, sehingga manfaat sewa yang untuk tujuan itu dia disewa sebenarnya kembali kepada dirinya sendiri, bukan kepada orang yang menyewa jasanya.

قال الشيخ زكريا الأنصاري، رحمه الله في “أسنى المطالب” (2/ 410): «(ولو استأجر) شخص آخر (للإمامة ولو لنافلة كالتراويح لم يصح) لأن فائدتها من تحصيل فضيلة الجماعة لا تحصل للمستأجر بل للأجير”. وينظر أيضا: “تحفة المحتاج” لابن حجر الهيتمي (6/155). 

Syekh Zakaria al-Anshari —Semoga Allah Merahmatinya— berkata dalam Asnā Maṯālib (2/410): “(Jika dia menyewa) orang lain (untuk menjadi imam salat, walaupun hanya untuk salat sunah, semisal Salat Tarawih, maka tidaklah sah) karena manfaat berupa mendapatkan fadilah memimpin jamaah tidak didapatkan oleh orang yang menyewanya, melainkan oleh orang yang disewa jasanya.” Lihat juga Tuẖfatu al-Muẖtāj karya Ibnu Hajar al-Haitami (6/155). 

وذهب جماعة من العلماء إلى جواز أخذ الأجرة على الإمامة، لمن كان محتاجا، أما الغني فلا يجوز له ذلك. وهو مذهب المتأخرين من الحنفية، وبعض الحنابلة، وهو المعمول به عند المالكية. واختار هذا القول شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله .

Sebagian ulama berpandangan bolehnya mengambil upah sebagai imam salat jika dia dalam keadaan membutuhkan. Adapun bagi yang kaya, maka tidak boleh. Demikianlah dalam mazhab Hanafi kontemporer, sebagian ulama Hanbali, dan itu juga yang diamalkan dalam mazhab Maliki. Ini juga pendapat yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah —Semoga Allah Merahmatinya.

قال ابنُ عَابدين الحنفي رحمه الله : “على أنَّ المُفتَى به : مذهب المتأخِّرين، من جواز الاستئجار على تعليم القرآن، والإمامة، والأذان؛ للضرورة” انتهى من “حاشية ابن عابدين” (1/562). وقال ابن نجيم الحنفي رحمه الله: “على المختار للفتوى في زماننا: فيجوز أخذ الأجر للإمام والمؤذن والمعلم والمفتي، كما صرحوا به في كتاب الإجارات” انتهى من “البحر الرائق” (1/268).

Ibnu Abidin al-Hanafi —Semoga Allah Merahmatinya— berkata bahwa pendapat yang difatwakan para ulama kontemporer adalah diperbolehkannya pekerjaan mengajarkan al-Quran, mengimami salat, dan azan, karena alasan darurat. Selesai kutipan dari H̱āsyiyah Ibni ʿĀbidīn (1/562). 

Ibnu Najim al-Hanafi —Semoga Allah Merahmatinya— berkata, “Berdasarkan fatwa terpilih di zaman kami, boleh hukumnya mengambil upah menjadi imam, muazin, guru, dan mufti, sebagaimana mereka menyatakannya dalam kitab al-Ijārāt.” Selesai kutipan dari al-Baẖr ar-Rāʾiq (1/268).

وقال الملا علي القاري، رحمه الله – عند قول صاحب “النُّقاية”: ” ولا تَصِحُّ للعِبَادَاتِ: كالأَذَانِ والإِمَامَةِ وتَعْلِيم القُرْآنِ) -: ” (ويُفْتَى اليَّوْمَ بِصِحَّتِهَا): أَي الإِجارة على الأَذَان والإِمامة وتعليم القرآن، لأن المتقدِّمِينَ إِنَّما مَنَعُوا منها لرغبة الناس في زمانهم في فِعْلها احتساباً، وفي مجازاة فاعلها بالإِحْسان بلا شَرْط. وفي هذا الزمان: قد زال المعنيان، ففي عدم صحة الإِجارة عليها تَضْيِيعُهَا، ولا يَبْعُد أَنْ يختلف الحكم باختلاف الأَزْمِنة، أَلا ترى أَنَّ النِّسَاءُ كُنَّ يَخْرجن إِلى الجماعات في زمنه عليه الصلاة والسلام وأَبي بكر حتى مَنَعَهن عُمَرُ عن ذلك.

Mullā Ali al-Qārī —Semoga Allah Merahmatinya— ketika mengomentari perkataan pengarang kitab an-Nuqāyah mengatakan, “(Tidak sah jika untuk ibadah, seperti azan, mengimami salat, dan mengajarkan al-Quran.)” – “(Sekarang difatwakan bahwa itu benar, …)” yakni menyewa jasa untuk azan, mengimami salat, dan mengajarkan al-Quran, karena ulama klasik melarang hal itu di zaman mereka untuk memotivasi orang agar melakukannya hanya karena mengharap pahala dari Allah dan agar orang yang melakukannya dibalas dengan kebaikan tanpa ada syarat di awal. 

Adapun di zaman ini, dua hal itu sudah tidak ada, sehingga jika pekerjaan tersebut dinilai tidak sah, maka justru mempersempit ibadah-ibadah itu. Selain itu, tidak menutup kemungkinan bahwa hukum bisa berbeda-beda seiring dengan perubahan zaman. Tidakkah Anda perhatikan bagaimana para wanita dahulu keluar salat berjamaah di zaman Nabi Ṣallallāhu ʿAlaihi wa Sallam dan Abu Bakar sampai Umar melarang mereka melakukannya?

وفي: «الهداية»: وبعض مشايخنا استحسنوا الاستئجار على تعليم القرآن اليوم، وعليه الفتوى. وفي «النهاية»: يُفْتى بجواز الاستئجار على تعليم الفقه أَيضاً في زماننا. وفي «المجمع»: وقيل: يُفْتَى بجوازِهِ، أَي الاستئجار على التعليم والإِمامة والفقه. وفي «الذخيرة» و«الروضة»: عن بعض أَصحابنا: يجوز في زماننا للإِمام، والمؤذن، والمعلم أَخْذُ الأُجرة”. انتهى، من “فتح باب العناية بشرح النقاية” (2/ 436). وقال ابن عبد البر المالكي رحمه الله في “الكافي” (2/155): “واختلف في جواز إجارة الإمام ليؤم الناس في الفريضة والنافلة فكرهه مالك … وأجازه بعض أصحابه وطائفة من أهل المدينة، وهو المعمول به” انتهى.

Dalam kitab al-Hidāyah disebutkan, “Sebagian syekh kami memandang baiknya menyewa seseorang untuk mengajar al-Quran di zaman ini. Inilah yang difatwakan.” 

Dalam kitab an-Nihāyah juga difatwakan bolehnya mempekerjakan seseorang untuk mengajar fikih di zaman sekarang. Dalam kitab al-Majmaʿ dikatakan bahwa ada  yang mengatakan bahwa ada fatwa yang menyatakan kebolehannya, yakni mempekerjakan orang untuk mengajar, menjadi imam, dan mengajari fikih. Dalam kitab adz-Dzakhīrah dan ar-Rauḏah diriwayatkan dari sebagian sahabat kami, “Di ​​zaman kita ini diperbolehkan mengambil upah jika untuk mengimami salat, muazin, dan guru.” Selesai kutipan dari Fatẖu Bābi al-ʿInāyah fi Syarẖi an-Nuqāyah (2/436). 

Ibnu Abdul Barr al-Maliki —Semoga Allah Merahmatinya— dalam al-Kāfī (2/155) menyatakan adanya perbedaan pendapat mengenai bolehnya mempekerjakan seorang imam untuk mengimami orang-orang dalam salat wajib dan sunah. Malik menilainya makruh. Sebagian sahabat beliau dan sebagian penduduk Madinah membolehkannya, dan inilah yang diamalkan. Selesai kutipan.

بل نُقل عن الإمام أحمد رحمه الله رواية: أخرى أنه يجوز أخذ الأجرة للفقير والغني. قال المرداوي الحنبلي رحمه الله: “ونص الإمام أحمد على أنه يصح [يعني : أخذ الأجرة على العبادات، ومنها الإمامة]، كأخذه بلا شرط … وقيل : يصح للحاجة ، ذكره الشيخ تقي الدين ابن تيمية واختاره” انتهى من “الإنصاف” (14/378). وما أشار إليه المرداوي، من اختيار شيخ الإسلام، نصه – كما في “مجموع الفتاوى” (30/207) -: “ومَن فرَّق بين المحتاج وغيره- وهو أقربُ-  

Namun, ada riwayat lain yang diriwayatkan dari Imam Ahmad —Semoga Allah Merahmatinya— tentang bolehnya mengambil upah, baik bagi orang miskin atau kaya. Al-Mardawi al-Hanbali —Semoga Allah Merahmatinya— berkata bahwa Imam Ahmad menyatakan bahwa itu sah (yakni mengambil upah atas ibadah, termasuk menjadi imam) sebagaimana menerima upah tanpa disyaratkan. … Ada yang mengatakan sah jika memang dia membutuhkan. Syekh Taqiyuddin Ibnu Taimiyyah memilih pendapat ini. Selesai kutipan dari al-Inṣhāf (14/378). 

Apa yang disinggung oleh al-Mardawi tentang pendapat yang dipilih oleh Syaikhul Islam, beliau berkata —sebagaimana tersebut dalam Majmūʿ al-Fatāwā (30/207)— bahwa ulama yang membedakan antara orang yang fakir dan tidak adalah pendapat yang lebih dekat dengan kebenaran.

قال: المحتاجُ إذا اكتسَب بها، أمكنه أن ينويَ عملها لله، ويأخذ الأجرة؛ ليستعينَ بها على العبادة; فإنَّ الكسب على العيال واجبٌ أيضًا، فيؤدِّي الواجبات بهذا، بخلاف الغنيِّ؛ لأنَّه لا يحتاج إلى الكسب، فلا حاجةَ تدعوه أن يعملَها لغير الله؛ بل إذا كان الله قد أغناه، وهذا فرضٌ على الكفايةِ: كان هو مخاطبًا به، وإذا لم يَقُمْ [أي: الفرضُ] إلَّا به [أي: بهذا الغني]، كان ذلك واجبًا عليه عينًا، والله أعلم” انتهى من “مجموع الفتاوى” (30/207).

Mereka berkata bahwa orang yang membutuhkan jika menjadikannya sebagai pendapatan, maka masih mungkin dia meniatkan amalannya karena Allah, dan mengambil upahnya, sehingga itu bisa membantunya dalam menegakkan ibadah. Selain itu, mencari nafkah untuk keluarganya juga wajib baginya, sehingga dengan itu dia juga sedang menunaikan kewajiban tersebut. 

Keadaan ini tentu berbeda dengan orang kaya, yang tidak memerlukan pendapatan. Dia (orang fakir) tidak punya hajat yang mendorongnya untuk melakukannya karena selain Allah, bahkan seandainya Allah telah Memberinya kekayaan, sementara ini adalah fardu kifayah, yang mana perintah ini juga ditujukan kepadanya, maka jika dia tidak bisa melakukannya (yakni amalan fardu kifayah tersebut) kecuali dengannya (yakni kekayaan tersebut), maka itu menjadi Fardu ʿAin (kewajiban personal) baginya. Selesai kutipan dari Majmūʿ al-Fatāwā (30/207).

وسئل الشيخ عبد العزيز بن باز، رحمه الله: ” ما حكم تحديد الإمام أجرة لصلاته بالناس، خصوصًا إذا كان يذهب لمناطق بعيدة ليُصلي بهم التراويح؟ فأجاب: ” التحديد ما ينبغي، وقد كرهه جمعٌ من السلف، فإذا ساعدوه بشيءٍ غير محدد فلا حرج في ذلك. أما الصلاة فصحيحة لا بأس بها -إن شاء الله- ، ولو حدَّدوا له مساعدةً؛ لأن الحاجة قد تدعو إلى ذلك. لكن ينبغي ألا يفعل ذلك، وأن تكون المساعدة بدون مشارطة، هذا هو الأفضل والأحوط كما قاله جمعٌ من السلف رحمة الله عليهم.” انتهى. 

Syekh Abdul Aziz bin Baz —Semoga Allah Merahmatinya— pernah ditanya, “Apa hukum menetapkan upah bagi imam untuk mengimami salat orang-orang, apalagi jika ia harus pergi ke tempat yang jauh untuk mengimami mereka salat Tarawih?” 

Beliau menjawab bahwa penetapan upah itu tidaklah patut dilakukan. Sebagian Salaf membencinya. Jika orang-orang membantunya tanpa ditetapkan sebelumnya, maka tidak masalah. Adapun salatnya tersebut, sah dan tidak mengapa, Insya Allah. Jika mereka menetapkannya sebagai bentuk bantuan untuknya, karena mungkin ada tuntutan kebutuhan, hanya saja, seyogianya dia tidak melakukannya. Bantuan itu hendaknya tanpa disyaratkan sebelumnya. Inilah yang afdal dan lebih selamat, sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian Salaf —Semoga Allah Merahmatinya. Selesai kutipan.

وعلى هذا ؛ فلا حرج على هذا الإمام أن يأخذ أجرًا من الشركة على إمامته في صلاة التراويح ، إذا كان محتاجا لذلك . وما رجحه شيخ الإسلام من الترخيص فيها للمحتاج: ظاهر، وبهذا تقوم مصلحة الإمامة، وإلا، تكافها الناس، ولم ينضبط أمر المساجد، وعليه عمل الناس أيضا. وقد خرج بعض فقهاء الشافعية جواز ما جرت به العادة من إعطاء الأئمة أرزاقا لأجل إمامتهم؛ خرجوها على أنها من باب “الجعالة”، وهي أوسع من “الإجارة”؛ وفي هذا خروج من إشكال أن نفع الإجارة لا يعود إلى المستأجِر؛ فلا تصح الإجارة عليها. بل نقل عن الغزالي التصريح بجواز الإجارة على الإمامة.

Dengan demikian, tidak mengapa imam ini mengambil upah dari perusahaan tersebut atas pekerjaannya memimpin Salat Tarawih, jika memang dia membutuhkan. Pendapat yang dikuatkan oleh Syaikhul Islam yang membolehkan hal itu bagi orang yang membutuhkan sangat kuat, yang dengan demikian maslahat mengimami salat dapat terwujud, yang apabila tidak terwujud, maka akan menghambat masyarakat dan urusan masjid menjadi terbengkalai. Ini juga yang sudah menjadi praktik umum masyarakat. 

Sebagian ulama mazhab Syafii juga membolehkan adat kebiasaan masyarakat yang biasa memberikan sesuatu kepada imam karena telah mengimami salat. Mereka menganggapnya sebagai akad Juʿālah (memberi upah), yang lebih luas cakupannya daripada akad Ijārah (sewa-menyewa). Ini menjadi solusi atas masalah bahwa manfaat pekerjaannya (jasanya yang disewa) tidak kembali kepada orang yang mempekerjakannya (yang menyewa jasanya), yang membuatnya menjadi akad yang tidak sah, bahkan ada kutipan pernyataan al-Ghazali yang menyatakan bolehnya  menyewa jasa mengimami salat.

قال الشيخ عبد الرحمن الشربيني، رحمه الله، في حاشيته على الغرر البهية في شرح البهجة الوردية: (3/ 320): «(قوله: والإمامة) قال م ر في شرح المنهاج: وما جرت به العادة من جعل جامِكِيّة على ذلك: فليس من باب الإجارة، وإنما هو من باب الإرزاق، والإحسان، والمسامحة، بخلاف الإجارة، فإنها من باب المعاوضة. اهـ. وقال ح ل: إن ذلك جعالة لا إجارة. اهـ. ولعل الفرق: أن الإجارة تُملك بها المنفعة، فيلزم أن تقع للمستأجِر، بخلاف الجعالة. فتأمل هذا. ونقل الشيخ عميرة على المحلي، عن الغزالي: أنه يصح ‌الاستئجار على ‌الإمامة، وله الأجرة في مقابلة إتعاب نفسه بالحضور إلى موضع معين، والقيام بها في وقت معين”. انتهى. و(الجامكية): هي الراتب الذي يتقاضاه الموظف. انظر: “معجم تيمور الكبير” (3/47)، وأيضا: ” معجم المصطلحات المالية والاقتصادية في لغة الفقهاء”، د. نزيه حماد (161-162). وما قاله الغزالي: ظاهر، متجه.

Syekh Abdurrahman asy-Syirbini —Semoga Allah Merahmatinya— dalam H̱āsyiyah-nya terhadap al-Ghurar al-Bahiyyah fī Syarẖi al-Bahjati al-Wardiyyah (3/320) menyatakan bahwa “Perkataannya: adapun masalah menjadi imam salat, maka M.R. berkata dalam Syarẖ al-Minhāj: dikatakan bahwa kebiasaan yang ada di masyarakat yang mana mereka memberi Jāmikiyyah atas hal itu (mengimami salat), bukan termasuk akad Ijārah, melainkan pemberian, kedermawanan, dan kasih sayang, yang berbeda dengan akad Ijārah yang merupakan akad timbal balik. Selesai kutipan. H.L. berkata bahwa itu adalah akad Juʿālah (memberi upah), bukan Ijārah (sewa-menyewa). Mungkin bedanya adalah bahwa dalam akad Ijārah manfaatnya harus dimiliki dan didapat oleh penyewa, berbeda dengan Juʿālah. Coba perhatikan hal ini! Syekh ʿAmīrah Ali al-Maẖalli mengutip dari al-Ghazali bahwa menyewa jasa imam salat boleh, dia mendapat upah atas timbal balik atas usahanya datang ke suatu tempat tertentu dan mengerjakannya pada waktu tertentu. Selesai kutipan. Jāmikiyyah adalah gaji yang diterima oleh seorang karyawan. Lihat: Muʿjam Taimur al-Kabīr (3/47) dan juga Muʿjam Muṣṯalaẖā al-Māliyyah wal Iqtiṣādiyyah fī Lughati al-Fuqahāʾ karya Dr. Nazih Hammad (161-162). Apa yang dikatakan oleh al-Ghazali sangat jelas dan gamblang.

وقد سئل شيخ الإسلام ابن تيمية، رحمه الله، عن رجل أوقف وقفا على مدرسة وشرط فيها أن ريع الوقف للعمارة؛ والثلثين يكون للفقهاء؛ وللمدرسة؛ وأرباب الوظائف. وشرط أن الناظر يرى بالمصلحة؛ والحال جاريا كذلك مدة ثلاثين سنة؛ وإن حصر المدرسة وملء الصهريج يكون من ‌جامكية الفقهاء؛ لأن لهم غيبة؛ وأماكن غيرها؛ وأن معلوم الإمام في كل شهر من الدراهم عشرون درهما؛ وكذلك المؤذن؛ فطلب الفقهاء بعد هذه المسألة أرباب الوظائف أن يشاركوهم فيما يؤخذ من جوامكهم؛ لأجل الحصر؛ وملء الصهريج؛ وأن أرباب الوظائف قائمون بهذه الوظيفة، ولو لم يكن لهم غيرها: هل يجب للناظر موافقة الفقهاء على ما طلبوه، ونقص هؤلاء المساكين عن معلومهم اليسير؟ أم لا؟ 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah —Semoga Allah Merahmatinya— pernah ditanya tentang seseorang yang memberikan wakaf untuk sebuah sekolah dan mensyaratkan bahwa hasil wakaf itu dialokasikan untuk pembangunan, sementara dua pertiganya untuk para guru fikih, sekolah, dan para pegawai sekolah, dengan ketentuan bahwa pengawas wakaf tetap memperhatikan maslahat. 

Keadaan seperti ini berjalan selama tiga puluh tahun. Adapun operasional sekolah dan pengisian tangki diambil dari gaji para guru fikih, karena mereka yang biasanya tidak berada di tempat dan punya tanggung jawab di tempat-tempat lain. Sudah maklum bahwa imam setiap bulan mendapat dua puluh dirham, begitu pula muazinnya. Setelah masalah ini, para guru fikih meminta agar para pegawai sekolah yang lain ikut serta bersama mereka di mana gaji pegawai yang lain juga dikurangi untuk operasional dan pengisian tangki, dan agar para pegawai tersebut juga ikut menanggung beban biaya sekolah ini, meskipun mereka tidak memiliki pemasukan yang lain. 

Apakah pengawas wakaf harus menyetujui permintaan para guru fikih ini dan memotong pendapatan mereka yang miskin yang sudah diketahui bahwa nominalnya hanya sedikit, atau tidak?

فأجاب: ، إذا رأى الناظر تقديم أرباب الوظائف الذين يأخذون على عمل معلوم – كالإمام؛ والمؤذن – فقد أصاب في ذلك؛ إذا كان الذي يأخذونه لا يزيد على جعل مثلهم في العادة؛ كما أنه يجب أن يقدم الجابي والحامل والصانع والبناء، ونحوهم ممن يأخذ على عمل يعمله في تحصيل المال؛ أو عمارة المكان؛ يقدمون بأخذ الأجرة. والإمامة والأذان شعائر لا يمكن إبطالها؛ ولا تنقيصها بحال؛ فالجاعل جعل مثل ذلك لأصحابها، يقدم على ما يأخذه الفقهاء؛ وهذا بخلاف المدرس والمفيد والفقهاء؛ فإنهم من جنس واحد …” انتهى، من “مجموع الفتاوى” (31/22).

Beliau menjawab bahwa jika pengawas wakaf memandang bahwa para pegawai sekolah yang mengambil pekerjaan yang sudah diketahui —seperti imam dan muazin— haruslah diprioritaskan, maka dia sudah benar, asalkan nominal yang mereka terima tidaklah melebihi apa yang biasanya diterima oleh pegawai yang seperti mereka. Sementara dia juga harus memprioritaskan para tukang pungut, pengangkut, pegawai produksi, dan kuli bangunan, dan pihak-pihak lain yang melakukan pekerjaan mengumpulkan dana atau pembangunan, maka hendaknya mereka diprioritaskan untuk pengalokasian upah. 

Adapun menjadi imam dan mengumandangkan azan, ini merupakan syiar yang tidak bisa dihentikan, maka jangan dikurangi karena alasan itu. Pihak pemberi upah hendaknya memberikan yang serupa bagi yang lain, dengan memprioritaskan mereka daripada apa yang diterima para guru fikih. Hal ini berbeda dengan para guru, ustaz, dan guru fikih, mereka semua sama. Selesai kutipan dari Majmūʿ al-Fatāwā (31/22).

ثانيا : أما ما يجمعه العمال له في نهاية رمضان ، فهذا لا إشكال في جوازه ، لأنه أخذه من غير مشارطة ، بل هو تبرع منهم للإمام . وقد تقدم قول الإمام أحمد رحمه الله : “لا بأس أن يدفعوا إليه من غير شرط” . وقال ابن نجيم الحنفي رحمه الله : ” قالوا : فإن لم يشارطهم على شيء ، لكن عرفوا حاجته فجمعوا له في كل وقت شيئا : كان حسنا ، ويطيب له ” انتهى من  “البحر الرائق” (1/268) . وينظر جواب السؤال (294681 ) والله أعلم .        

Kedua, adapun apa yang dikumpulkan oleh para karyawan untuknya di akhir bulan Ramadan, maka ini boleh tanpa ada permasalahan, karena ia menerimanya tanpa disyaratkan, melainkan atas dasar kesukarelaan dari mereka untuk si imam. 

Tadi telah disampaikan perkataan Imam Ahmad —Semoga Allah Merahmatinya— sebelumnya, “Tidak mengapa jika orang-orang membayarnya tanpa disyaratkan.” 

Ibnu Najim al-Hanafi —Semoga Allah Merahmatinya— berkata, “Mereka berkata bahwa jika dia tidak mempersyaratkan apa pun, sementara mereka mengetahui bahwa dia membutuhkan lalu mereka mengumpulkan sesuatu untuknya setiap saat, maka itu baik dan baik baginya.” Selesai kutipan dari al-Baẖr ar-Rāʾiq (1/268). Lihat juga jawaban atas pertanyaan no. 294681. Allah Yang lebih Mengetahui.

Sumber:

www.islamqa.info/ar/answers/497513/ما-حكم-اخذ-الاجرة-على-الامامة-في-الصلاة

PDF sumber artikel.

🔍 Jin Qorin, Hukum Dagang Dalam Islam, Doa Agar Terhindar Dari Fitnah, Kakak Ipar Genit, Memasukkan Jari Ke Vagina, Beda Keputihan Dan Air Ketuban

QRIS donasi Yufid