Mari bersama menabung pahala amal jariyah untuk kehidupan kita kelak di akhirat.   BSI: 7086882242
a.n. Yayasan Yufid Network  

Seluruh dana untuk operasional produksi konten dakwah di Yufid: Yufid.TV, YufidEDU, Yufid Kids, website dakwah (KonsultasiSyariah.com, Yufid.com, KisahMuslim.com, Kajian.Net, KhotbahJumat.com, dll).

Yufid menerima zakat mal untuk operasional dakwah Yufid

Nasehat

Tiga Amalan Penyelamat: Kunci Keselamatan dan Keberhasilan

Oleh:

Dr. Abdussalam Hamud Ghalib

Kita akan membahas tiga amalan penyelamat yang disebutkan dalam hadis Rasul Shallallahu Alaihi Wa Sallam yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar. Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam:

ثَلَاثُ مُهْلِكَاتٍ، وَثَلَاثُ مُنْجِيَاتٍ، وَثَلَاثُ كَفَّارَاتٍ، وَثَلَاثُ دَرَجَاتٍ؛ فَأَمَّا الْمُهْلِكَاتُ: فَشُحٌّ مُطَاعٌ، وَهَوًى مُتَّبَعٌ، وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ، وَأَمَّا الْمُنْجِيَاتُ: فَخَشْيَةُ اللَّهِ فِي السِّرِّ وَالْعَلَانِيَةِ، وَالْقَصْدُ فِي الْفَقْرِ وَالْغِنَى، وَالْعَدْلُ فِي الْغَضَبِ وَالرِّضَا، وَأَمَّا الْكَلَّافَرَاتُ: فَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ، وَإِسْبَاغُ الْوُضُوءِ فِي السَّبَرَاتِ، وَنَقْلُ الْأَقْدَامِ إِلَى الْجَمَاعَاتِ، وَأَمَّا الدَّرَجَاتُ: فَإِطْعَامُ الطَّعَامِ، وَإِفْشَاءُ السَّلَامِ، وَالصَّلَاةُ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ.

“Tiga perkara yang membinasakan, tiga yang menyelamatkan, tiga yang menghapus dosa, dan tiga yang mengangkat derajat, adapun yang membinasakan adalah: kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan kekaguman seseorang terhadap dirinya sendiri, dan yang menyelamatkan adalah: takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala baik secara sembunyi maupun terang-terangan, bersikap hemat ketika miskin dan kaya, serta berlaku adil ketika marah maupun rida, dan yang menghapuskan dosa adalah: menunggu salat setelah salat, menyempurnakan wudhu di saat sulit, dan melangkahkan kaki menuju jamaah, dan yang mengangkat derajat adalah: memberi makan, menyebarkan salam, dan salat malam ketika manusia sedang tidur.” (HR. Al-Baihaqi dan Ath-Thabrani).

Hadis ini diriwayatkan Imam Al-Baihaqi dalam kitab Syu’ab Al-Iman dari hadis Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, dan diriwayatkan Imam Ath-Thabrani dalam kitab Al-Mu’jam Al-Awsath. Sebagian ulama menilai hadis ini hasan dengan seluruh jalur dan riwayat-riwayat penguatnya.

Hadis Nabi yang mulia ini tidak hanya mengungkap penyakit-penyakit kronis hati, tapi juga menyebutkan obat mujarabnya, karena amalan-amalan penyelamat itu merupakan lawan yang dapat menangani amalan-amalan yang membinasakan, dan perkara yang dapat mengembalikan keseimbangan pada kehidupan manusia.

Berikut ini adalah amalan-amalan penyelamat tersebut:

  1. Takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala di saat sendiri atau di keramaian

Definisi dan penjelasan: Takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala merupakan asas keimanan dan penghias amal saleh. Dan maksudnya adalah seorang insan merasa diawasi oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam setiap keadaannya, baik itu ketika sedang dalam kesendirian, atau bersama orang lain di keramaian. Rasa takut inilah yang dapat mencegah seseorang dari terjerumus ke dalam dosa dan mendorongnya untuk berbuat kebaikan. Barang siapa yang takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala saat sedang sendiri, maka ia tidak akan terbuai dengan amalannya, mengikuti hawa nafsunya, dan tidak tunduk kepada kebakhilannya, karena ia mengetahui bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala Maha Melihatnya. Rasa takut inilah obat manjur untuk penyakit ujub (merasa takjub dengan diri sendiri) dan hawa nafsu. Ini juga yang dapat meneguhkan sifat rendah hati dan ketundukan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala di dalam hati.

Ciri-ciri dan manfaat-manfaat darinya

  • Merasa diawasi Allah Subhanahu Wa Ta’ala: Muncul rasa takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam sikap dan perilaku seseorang, sehingga ia tetap menjauhi kemaksiatan meskipun sedang berada jauh dari pandangan mata manusia, karena hatinya telah dipenuhi ketakutan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan harapan kepada rahmat-Nya.
  • Rendah hati dan pengakuan atas karunia Allah Subhanahu Wa Ta’ala: Sifat ini menjadikan pemiliknya selalu menganggap setiap keberhasilan dan prestasinya berasal dari karunia Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepadanya, bukan karena usaha pribadinya, dan sifat ini dapat mencegahnya dari terjerumus ke dalam sifat ujub.
  • Istiqamah/konsisten di atas jalan yang benar: Hal ini dapat menjauhkan seseorang dari menuruti hawa nafsunya, dan mengedepankan hukum Syariat atas segala kepentingan pribadi, karena ia takut tersesat dari jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Perkataan ulama tentangnya

Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengatakan dalam kitab Madarij As-Salikin: “Rasa takut ini merupakan rasa takut yang diiringi dengan ma’rifatullah, karena jika tidak, maka bisa jadi itu hanya rasa takut biasa yang tidak diiringi dengan ma’rifatullah, karena rasa takut ini merupakan hasil dari ilmu dan pengetahuan tentang Allah Subhanahu Wa Ta’ala.”

Ini menegaskan bahwa ia bukan hanya rasa takut sementara, tapi hasil dari pengetahuan yang mendalam tentang keagungan dan kekuasaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan inilah rasa takut yang membuahkan kerendahan hati dan keinsafan.

  1. Hemat saat miskin atau kaya

Hemat yakni sikap moderat dan pertengahan. Ia merupakan solusi langsung bagi penyakit pelit yang diperturutkan. Seorang mukmin akan berjalan di atas keseimbangan dalam setiap keadaan finansialnya, tidak boros dan mubazir saat dalam keadaan kaya, dan tidak juga putus asa dan berkeluh kesah saat dalam keadaan miskin. Keseimbangan ini akan membebaskan manusia dari penghambaan terhadap harta, menjadikannya bos bagi harta itu, alih-alih sandera, membebaskannya dari ketamakan sifat pelit, dan mengokohkan dalam hatinya sifat rida dan kepuasan.

Ciri-ciri dan manfaat-manfaat darinya

  • Pengeluaran yang seimbang: saat dalam keadaan kaya, sikap hemat seorang mukmin akan terlihat dari pengeluarannya yang ditujukan ke kebutuhan yang tepat, tanpa bersikap boros atau pelit. Ia bersedekah, berzakat, dan memberi bantuan kepada keluarganya.
  • Menerima ketetapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala: saat dalam keadaan miskin, sikap hemat seorang mukmin akan terlihat dari kesabaran dan keridhaannya dengan ketetapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, tidak murka atau berkeluh kesah. Ia mengetahui dengan baik bahwa kemiskinan tidak akan mengurangi derajatnya di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
  • Membebaskan diri dari ketamakan: sikap hemat dapat membebaskan hati dari ketamakan dan kerakusan yang menjadi hakikat dari sifat pelit. Sikap hemat membuatnya puas dengan rezeki yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala bagi untuknya.

Perkataan ulama tentangnya

Imam Al-Ghazali mengatakan dalam kitab Ihya Ulum Ad-Din: “Berhemat dalam hidup merupakan jalan hidup orang-orang terdahulu dan belakangan, serta sifat para Nabi dan shiddiqin. Ia merupakan salah satu ciri keimanan dan termasuk sifat orang-orang baik.” Beliau juga menambahkan bahwa sikap hemat dapat melindungi manusia dari dampak-dampak kemiskinan ataupun kekayaan dengan tingkat yang sama.

  1. Adil saat marah atau ridha

Adil merupakan puncak dari budi pekerti, tapi untuk menjadi orang yang adil, baik itu ketika ia berada di puncak kemurkaan atau puncak keridhaan, maka ini merupakan bukti kekuatan iman dan kebersihan hati. Ia merupakan obat bagi hawa nafsu yang dituruti, karena kemarahan dapat membutakan hati, dan hawa nafsu bisa menyesatkan akal. Namun, seorang mukmin hakiki akan tetap menerapkan hukum sesuai syariat dan keadilan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, bahkan ketika ia berada dalam kondisi psikologis yang paling berat sekalipun, ia tidak mungkin menzalimi seseorang hanya karena ia marah kepadanya, atau berbuat baik kepada seseorang hanya karena ia mencintainya. Sifat ini membebaskan manusia dari kendali hawa nafsu, menjadikannya lebih mengutamakan kebenaran daripada gejolak jiwa dan mengutamakan keadilan daripada kepentingan pribadi.

Ciri-ciri dan manfaat-manfaat darinya

  • Objektif dalam menetapkan hukum: Sifat adil dapat terlihat jelas saat dalam keadaan marah atau rida melalui sikap objektif seseorang bahkan terhadap musuh-musuhnya. Kebenciannya tidak membuatnya menzalimi orang lain dan kecintaannya tidak menggiringnya untuk pilih kasih kepada teman-temannya.
  • Bijak dalam mengambil keputusan: Sifat adil dapat mengokohkan prinsip kebenaran di dalam hati, mencegah manusia dari mengambil keputusan secara terburu-buru atas dasar perasaan atau kemarahan, sehingga sifat ini dapat mendukung keberlangsungan hubungan.
  • Pengambilan keputusan berdasarkan syariat, bukan hawa nafsu: Bersikap adil saat marah ataupun senang merupakan pengaplikasian langsung terhadap sikap tidak menuruti hawa nafsu, karena pelakunya akan menjadikan syariat sebagai penentu keputusan, bukan karena dorongan pribadi.

Perkataan ulama tentangnya

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam kitab Majmu Al-Fatawa: “Sesungguhnya sikap adil itu wajib diterapkan oleh setiap orang terhadap setiap orang dan dalam setiap keadaan. Apabila ada orang yang menyukai seseorang atau justru membencinya, maka ia tetap harus bersikap adil terhadapnya.” 

Ini menegaskan bahwa keadilan tidak boleh gugur meski terdapat banyak kepentingan pribadi yang terlibat, dan ini merupakan obat yang manjur untuk menangani hawa nafsu yang diperturutkan.

Kesimpulan: hadis ini merupakan metode nabawi untuk membenahi jiwa

Hadis Nabi yang mulia ini merupakan metode aplikatif dan komprehensif untuk membersihkan hati dan jiwa, karena tiga amalan yang membinasakan tersebut dapat merusak manusia dan menjauhkannya dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sedangkan tiga amalan yang menyelamatkan ini dapat membenahi jiwa dan mendekatkannya kepada Tuhannya.

Keselamatan tersembunyi dalam keputusan untuk mengganti sifat pelit kita dengan kedermawanan, hawa nafsu kita dengan jalan kebenaran, kesombongan diri kita dengan ketundukan dan kerendahan hati, dan menghiasi diri dengan rasa takut, sikap moderat, dan keadilan dalam setiap keadaan dan kondisi.

Sumber:

https://www.alukah.net/sharia/11875/179209/المنجيات-الثلاث-مفاتيح-النجاة-والفلاح/

Sumber artikel PDF

🔍 Amalan Bulan Rajab Sesuai Sunnah, Haid Terlalu Lama Dalam Islam, Hukum Ibu Menyusui Berpuasa, Lafadz Ijab Qobul Nikah, Ucapan Ijab

Visited 393 times, 1 visit(s) today

QRIS donasi Yufid