Mari bersama menabung pahala amal jariyah untuk kehidupan kita kelak di akhirat.   BSI: 7086882242
a.n. Yayasan Yufid Network  

Seluruh dana untuk operasional produksi konten dakwah di Yufid: Yufid.TV, YufidEDU, Yufid Kids, website dakwah (KonsultasiSyariah.com, Yufid.com, KisahMuslim.com, Kajian.Net, KhotbahJumat.com, dll).

Yufid menerima zakat mal untuk operasional dakwah Yufid

AL-QURAN, Nasehat, Ramadhan, RAMADHAN

Mengapa Kita Tidak Berubah oleh Al-Qur’an?  (Bagian 1)

Al-Qur’an merupakan kitab Allah dan tali-Nya yang terjulur kepada kita. Kita diperintahkan agar berpegang teguh kepadanya. Allah Ta’ala berfirman:

فَاسْتَمْسِكْ بِالَّذِي أُوحِي إِلَيْكَ

“Berpegang teguhlah pada apa yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya engkau berada di jalan yang lurus.” (QS. Az-Zukhruf: 43).

Di dalam Al-Qur’an terdapat pelajaran, petunjuk, penyembuh, dan rahmat, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

“Wahai manusia! Sungguh telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada di dalam dada, petunjuk dan rahmat bagi orang-orang beriman.” (QS. Yunus: 57).

Al-Qur’an merupakan ruh bagi hati. Sebagaimana jasad yang membutuhkan ruh, hati juga membutuhkan Al-Qur’an sebagai cahaya di tengah gelapnya kebodohan dan keraguan.

وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya engkau tidak mengetahui apa itu Kitab dan apa itu iman, tetapi Kami menjadikannya cahaya yang dengannya Kami memberi petunjuk kepada siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sungguh engkau benar-benar membimbing ke jalan yang lurus.” (QS. Asy-Syura: 52).

Di dalam Al-Qur’an terdapat peringatan bagi kita, juga kemuliaan dan kejayaan kita, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

لَقَدْ أَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ كِتَابًا فِيهِ ذِكْرُكُمْ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

“Sungguh, Kami telah menurunkan kepadamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat peringatan bagimu. Maka tidakkah kamu berakal?” (QS. Al-Anbiya: 10).

Al-Qur’an merupakan nikmat yang tidak terukur kadarnya dan tidak ternilai harganya.

وَلَوْ شِئْنَا لَذَهَبْنَا بِالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ

“Dan sungguh, jika Kami menghendaki, niscaya Kami lenyapkan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu…” (QS. Al-Isra: 86).

Al-Qur’an juga mengangkat derajat jiwa kita yang memiliki kecenderungan kepada dunia, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ

“Dan bacakanlah kepada mereka kisah orang yang telah Kami berikan ayat-ayat Kami, lalu dia melepaskan diri darinya, maka setan mengikutinya, lalu dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan jika Kami menghendaki, niscaya Kami tinggikan derajatnya dengan ayat-ayat itu. Tetapi dia cenderung kepada dunia dan mengikuti hawa nafsunya. Maka perumpamaannya seperti anjing; jika kamu menghalaunya, ia terengah-engah (menjulurkan lidahnya); dan jika kamu membiarkannya, ia tetap terengah-engah.” (QS. Al-A’raf: 175–176).

Dengan kata lain, ayat-ayat Allah mengangkat dan meninggikan jiwa, membebaskannya dari kecenderungan terhadap materi duniawi.

Para Sahabat telah mengetahui kedudukan Al-Qur’an yang agung sehingga mereka menjadikannya sebagai kitab petunjuk dan pedoman hidup yang mereka ikuti. Aisyah menuturkan: “Dulu akhlak beliau (Nabi) adalah Al-Qur’an.” Mereka memandang ayat-ayat Al-Qur’an sebagai pesan dari Allah yang ditujukan kepada mereka dan merasa bahwa merekalah yang dimaksud dalam ayat-ayat tersebut.

Oleh karena itu, mereka selalu mengikuti aturan Allah, sebagaimana yang dilakukan Abu Bakar ketika menghentikan pemberian sedekah kepada Misthah karena telah berbicara buruk tentang putrinya, Aisyah, dalam haditsatul ifki (peristiwa ketika Aisyah dituduh berbuat keji).

Namun, setelah membaca firman Allah Ta’ala yang baru turun,

وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَى وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan bersumpah untuk tidak memberi kepada kerabat, orang miskin, dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah. Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kamu ingin Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. An-Nur: 22),
Abu Bakar segera berucap, “Demi Allah! Tentu aku ingin Allah mengampuniku!” Kemudian beliau kembali memberi sedekah kepada Misthah, sebagaimana yang rutin beliau lakukan sebelumnya.

Ketika Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu marah, lalu teringat ayat yang berbunyi:

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“(Yaitu) orang-orang yang berinfak dalam keadaan lapang dan sempit, menahan amarah, dan memaafkan manusia. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali Imran: 134), beliau langsung berhenti dari kemarahannya, mengampuni dan memaafkan orang yang membuatnya marah.

Melalui Al-Qur’an, mereka berubah dari kekafiran menuju keimanan. Al-Qur’an membentuk kembali pola pikir, akal, perasaan, hati, sikap, jasad, ambisi, harapan, nilai, dan moral mereka.

Adapun kita, ketika mendengar firman Allah:

 قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا

“Katakanlah kepada orang-orang beriman agar mereka menundukkan pandangan mereka…” (QS. An-Nur: 30), kita tetap tidak berubah dan tidak menundukkan pandangan.

Kita mendengar firman-Nya:

وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ

“…dan orang-orang yang menahan amarahnya…” (QS. Ali Imran: 134), tetapi kita tidak menahan amarah dan tidak menerapkan akhlak itu.

Kita mendengar Al-Qur’an membahas tentang neraka, tapi kita tidak tergerak dan tidak menganggap diri kita termasuk orang-orang yang dimaksud dalam ayat itu.

Kita mendengar Al-Qur’an menyeru orang-orang beriman, tapi kita tidak memperhatikan apa yang diperintahkan kepada kita setelah seruan itu.

Hal ini terjadi karena kita tidak memandang Al-Qur’an sebagai kitab petunjuk dari Tuhan kita. Sebaliknya, fokus kita hanya tertuju pada upaya menyelesaikan bacaan hingga akhir surah atau mengkhatamkan seluruh Al-Qur’an secepatnya, tanpa berusaha menghayati satu huruf pun atau memahami maknanya yang semestinya dapat menyentuh hati kita dan memberikan pengaruh mendalam.

Kita membacanya seperti membaca koran atau novel. Bahkan sering kali kita lebih fokus saat membaca berita, cerita, dan novel daripada saat mendengarkan atau membaca Al-Qur’an. Kita tidak membacanya dengan tenang dan penuh penghayatan sebagaimana yang telah Allah perintahkan. Sebaliknya, kita membacanya dengan terburu-buru sehingga tidak membawa perubahan pada hati dan perilaku kita. Sungguh amat menyedihkan keadaan kita dalam menyikapi Al-Qur’an.

Masalah kita dengan Al-Qur’an, terutama pada bulan Ramadan, adalah memperlakukannya hanya sebagai kitab untuk memperoleh kebaikan dengan membacanya. Kita belum menjadikannya sebagai kitab petunjuk bagi jiwa, pelembut hati, penerang akal, pengubah perilaku, dan penyembuh bagi jasmani kita.

Buku yang ditulis manusia beragam jenisnya. Ada buku yang berisi informasi dan gagasan, buku yang mengungkapkan perasaan dan emosi, buku yang memuat kisah dan cerita, atau buku yang bertujuan mengubah perilaku manusia.

Al-Qur’an mencakup semua hal tersebut. Di dalamnya terdapat kisah dan sejarah, informasi mengenai perkara gaib dan masa depan, nasihat dan petunjuk yang menyentuh hati, dan berbagai tuntunan yang dapat mengubah perilaku manusia.

Dahulu, orang-orang kafir pun tersentuh ketika mendengarkan Al-Qur’an. Mereka diam-diam mendengarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca Al-Qur’an karena mereka memahami ketinggian gaya bahasanya dan kekuatan pengaruhnya.

Bahkan istri dan anak-anak mereka pun terpengaruh oleh Al-Qur’an. Diriwayatkan bahwa istri dan anak dari orang-orang musyrik mendengarkan lantunan Al-Qur’an yang dibacakan Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Hal inilah yang menyebabkan kaum Quraisy melarang Abu Bakar mendirikan salat dan membaca Al-Qur’an di rumahnya sendiri.

Ketika Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu memutuskan untuk membangun tempat salat di halaman rumahnya di Makkah, beliau biasa melaksanakan salat dan membaca Al-Qur’an dengan suara yang khusyuk dan menyentuh hati. Orang-orang pun berkumpul di sekelilingnya untuk mendengarkan bacaan Al-Qur’an tersebut. Bahkan, istri dan anak kaum Musyrikin turut terpengaruh oleh bacaan beliau.

Hal ini membuat para pemuka kafir Quraisy khawatir. Mereka pergi menemui Ibnu ad-Daghinah, orang yang telah memberikan jaminan keamanan kepada Abu Bakar, lalu memintanya melarang Abu Bakar melakukan hal tersebut. Mereka khawatir istri dan anak-anak mereka akan terpengaruh oleh Al-Qur’an.

Ibnu ad-Daghinah kemudian meminta Abu Bakar berhenti melakukan hal tersebut. Jika tidak, ia tidak lagi dapat memberikan perlindungan kepadanya. Abu Bakar lalu memilih untuk tidak lagi mendapat perlindungannya dan berkata, “Aku rida dengan perlindungan Allah.” Abu Bakar tetap teguh melanjutkan ibadah dan dakwahnya.

Ada juga Jubair bin Muth’im yang bercerita ketika ia masih musyrik: “Aku dahulu mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surat Ath-Thur dalam salat Magrib. Ketika beliau sampai pada ayat berikut:

 أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ 

 ‘Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun, ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?’ (QS. Ath-Thur: 35), hampir-hampir hatiku terbang karenanya.” (HR. al-Bukhari).

Apabila orang-orang musyrik itu tersentuh oleh Al-Qur’an, lalu mengapa kita tidak tersentuh? Apakah hati kita sudah sekeras batu atau bahkan lebih keras lagi? Padahal, gunung-gunung saja merasa tunduk dengan Al-Qur’an, seperti yang telah Allah Ta’ala sebutkan dalam firman-Nya:

لَوْ أَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

“Sekiranya Kami turunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, niscaya engkau akan melihatnya tunduk terpecah-belah karena takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia agar mereka berpikir.” (QS. Al-Hasyr: 21).

Lantas bagaimana kita dapat mengubah cara kita berinteraksi dengan Al-Qur’an serta membangun kedekatan dengannya, baik selama bulan Ramadan maupun setelahnya?

Pertama:

Kita harus bergembira dengan Al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

“Katakanlah, ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.’” (QS. Yunus: 58).

Adakah rahmat dan karunia yang lebih agung daripada Al-Qur’an, yang diturunkan kepada kita sebagai cahaya dan petunjuk menuju jalan yang lurus, memastikan kita tidak tersesat tanpa penerangan yang menuntun ke surga? 

Ketika Ramadan tiba, banyak orang bergembira karena ingin menikmati tayangan sinetron Ramadan dan berbagai program hiburan yang disiapkan untuk menjauhkan manusia dari mendengarkan Al-Qur’an. Hal ini serupa dengan yang dahulu dilakukan kaum kafir Quraisy. Mereka memberi kapas kepada setiap orang yang memasuki kota Makkah agar kapas itu disumbatkan ke telinga mereka, sehingga mereka tidak mendengar Al-Qur’an dan tidak terpengaruh olehnya.

Kita harus bergembira karena berada di bulan di mana Allah menurunkan Al-Qur’an ke bumi setelah Allah murka terhadap penduduk bumi, baik dari bangsa Arab maupun non-Arab. Inilah salah satu rahasia mengapa Allah mengagungkan bulan Ramadan. Di dalamnya terdapat Lailatul Qadar yang pada malam itu diturunkan Al-Qur’an. Oleh karena itu, kita harus memahami kemuliaan bulan ini dan bergembira atas kedatangannya.

Saya teringat pernah mengikuti sebuah seminar di universitas. Ketika doktor yang menjadi pemateri memasuki ruangan, para mahasiswa tetap mengobrol dan tidak menghormati kehadirannya. Beliau kemudian mengambil kembali kertas-kertas materinya, keluar dari ruang seminar, dan membatalkan penyampaian materi. Tindakan tersebut merupakan hukuman bagi kami karena tidak menghormati kehadiran dan perkataan beliau.

Bagi Allah-lah perumpamaan yang paling agung. Di antara bentuk rahmat Allah kepada kita adalah Dia memperdengarkan kalam-Nya yang benar-benar Dia firmankan, serta tidak menghalangi kita darinya karena dosa-dosa, kelalaian, dan kekurangan kita.

Oleh sebab itu, sudah semestinya kita bergembira dengan Al-Qur’an, merindukannya, menyadari betapa besar kedudukan dan keagungannya, mukjizatnya yang luar biasa, serta kemampuannya dalam mengubah diri kita. Untuk itu, kita harus membaca buku-buku yang membahas tentang keagungan dan pengaruh Al-Qur’an.

Bersambung…
Mengapa Kita Tidak Berubah oleh Al-Qur’an?  (Bagian 2)

***

Samar Sameer

Sumber:
https://www.alukah.net/sharia/1001/176672/لماذا-لا-نتغير-بالقرآن؟/ 
PDF Sumber Artikel

🔍 Hari Baik Menurut Islam, Jarang Sholat, Video Kiamat 2012 Menurut Al Quran, Jilbab Besar Syar I, Cerita Wanita Syiah

Visited 1 times, 1 visit(s) today

QRIS donasi Yufid