Mari bersama menabung pahala amal jariyah untuk kehidupan kita kelak di akhirat.   BSI: 7086882242
a.n. Yayasan Yufid Network  

Seluruh dana untuk operasional produksi konten dakwah di Yufid: Yufid.TV, YufidEDU, Yufid Kids, website dakwah (KonsultasiSyariah.com, Yufid.com, KisahMuslim.com, Kajian.Net, KhotbahJumat.com, dll).

Yufid menerima zakat mal untuk operasional dakwah Yufid

AL-QURAN, Nasehat, Ramadhan, RAMADHAN

Mengapa Kita Tidak Berubah oleh Al-Qur’an? (Bagian 2)

Kedua:
Kita harus menaruh perhatian besar pada upaya memahami Al-Qur’an, sebagaimana kita menaruh perhatian pada upaya menghafal lafal-lafalnya. Hal ini karena pengetahuan kita tentang bahasa Arab sangat lemah sehingga kita tidak memahami banyak kosakata yang sulit dalam Al-Qur’an. Sebagai langkah awal, hendaklah kita berusaha memahami kosakata yang sulit dalam Al-Qur’an melalui buku-buku ringkas yang membahas hal ini.

Ketiga:
Hendaklah kita membaca Al-Qur’an dengan perlahan dan berusaha memahami setiap ayatnya. Apabila kita tidak memahaminya, hendaklah kita merujuk pada buku-buku tafsir yang ringkas sebagai langkah pertama.

Keempat:
Mengosongkan jiwa dan pikiran dari segala hal yang mengganggu serta membebaskan hati dari segala kemaksiatan agar hati bersih dan siap menampung makna-makna Al-Qur’an yang agung. Sebab, kemaksiatan dapat menutup hati dari penghayatan terhadap Al-Qur’an, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

“Maka tidakkah mereka mentadabburi Al-Qur’an, ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 24).
Utsman bin Affan berkata: “Seandainya hati kalian bersih, niscaya ia tidak akan merasa kenyang dengan firman Tuhan kalian.”

Kelima:
Mendengar dan menyimak Al-Qur’an dengan fokus dan saksama.

 أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٞ

“…atau yang mendengarkan dengan sungguh-sungguh sedang dia hadir (dengan penuh perhatian).” (QS. Qaf: 37).
Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Mas’ud, “Hendaknya ia tidak menyibukkan pikirannya dengan hal lain selain Al-Qur’an.” Dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga senang mendengarkan bacaan Al-Qur’an dari orang lain.

Keenam:
Hendaklah kita mengetahui bagaimana dahulu Nabi dan para Sahabat berinteraksi dengan Al-Qur’an. Apakah fokus mereka hanya tertuju pada tilawah saja, ataukah mereka juga berupaya memahami, mentadaburi, menghadirkan hati, dan menghayati ayat-ayatnya?

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendirikan salat hanya dengan membaca satu ayat (setelah Al-Fatihah) yang beliau ulang-ulang hingga subuh. Diriwayatkan dari Abu Dzar al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendirikan salat malam dengan membaca satu ayat yang beliau ulang-ulang hingga subuh. Ayat tersebut adalah: 

إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Jika Engkau mengazab mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu; dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sungguh Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Maidah: 118). (HR. an-Nasa’i dan Ibnu Majah; disahihkan oleh al-Albani).

Dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga beberapa kali membaca surah-surah panjang. Namun, beliau tetap menghayati dan berinteraksi dengan ayat-ayat yang dibacanya, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Diriwayatkan dari Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu ‘anhu, ia menceritakan,

“Aku pernah mendirikan salat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu malam. Beliau memulainya dengan membaca Al-Baqarah. Aku pun berkata dalam hati, ‘Beliau mungkin akan rukuk setelah membaca seratus ayat.’ Tapi, ternyata beliau melanjutkan bacaannya dan aku pun bergumam, ‘Beliau akan membaca seluruh surah Al-Baqarah dalam satu rakaat.’ Tapi, beliau kembali melanjutkan bacaannya dan aku pun bergumam, ‘Setelah ini pasti rukuk.’

Ternyata beliau lalu membaca surah An-Nisa, lalu surah Ali Imran hingga selesai. Beliau membacanya dengan tenang. Apabila melewati ayat yang berisi tasbih, beliau bertasbih. Apabila melewati ayat yang berisi doa, beliau berdoa. Apabila melewati ayat yang berisi permohonan perlindungan, beliau memohon perlindungan kepada Allah.” (HR. Muslim).

Begitu juga dengan para Sahabat radhiyallahu ‘anhum. Dulu ada dari mereka yang mendirikan salat hanya dengan membaca satu ayat semalam suntuk, tanpa beralih ke ayat lainnya karena begitu besar pengaruh ayat itu terhadapnya dan begitu kuat ikatan dengannya. Diriwayatkan bahwa Tamim ad-Dari radhiyallahu ‘anhu mengulang-ulang firman Allah Ta’ala:

أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ اجْتَرَحُوا السَّيِّئَاتِ أَنْ نَجْعَلَهُمْ كَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ

“Apakah orang-orang yang berbuat kejahatan itu mengira bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan beramal saleh, yakni sama dalam kehidupan dan kematian mereka? Alangkah buruknya penilaian mereka itu.” (QS. Al-Jatsiyah: 21). Beliau terus mengulang ayat tersebut hingga subuh.

Dikisahkan juga bahwa Umar bin Khattab pernah membaca satu ayat hingga membuatnya jatuh tersungkur. Beliau sakit selama satu bulan, hingga orang-orang menjenguknya. Mari kita cermati lagi: beliau hanya membaca satu ayat, bukan satu surah!

Abdullah bin Mas’ud berkata, “Janganlah kalian membaca Al-Qur’an dengan tergesa-gesa seperti membaca syair. Jangan pula membacanya dengan asal-asalan seperti menebarkan kurma yang buruk. Berhentilah sejenak untuk merenungi keajaiban Al-Qur’an dan biarkan hati tergerak olehnya. Jangan ada seorang pun di antara kalian yang tujuannya hanya untuk menyelesaikan surah hingga akhir.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang Abdullah bin Amr bin al-Ash mengkhatamkan Al-Qur’an selama kurang dari tiga hari pada bulan Ramadan. Beliau bersabda kepadanya:

لَا يَفْقَهُهُ مَنْ يَقْرَؤُهُ فِي أَقَلَّ مِنْ ثَلَاثٍ

“Tidak akan memahami Al-Qur’an orang yang mengkhatamkannya dalam waktu kurang dari tiga hari.”

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata: “Al-Qur’an diturunkan untuk direnungkan dan diamalkan. Namun, orang-orang menjadikan Al-Qur’an hanya untuk dibaca.”
Sayangnya, itulah yang kita lakukan. Kita menjadikan membaca Al-Qur’an sebagai amalan, tetapi tidak mengamalkan kandungannya.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa ia berkata, “Kami mempelajari keimanan sebelum mempelajari Al-Qur’an, kemudian kami baru mempelajari Al-Qur’an sehingga keimanan kami bertambah karenanya.” (Diriwayatkan ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir).
Lalu, apakah keimanan kita bertambah setelah membaca Al-Qur’an? Ataukah sama saja antara sebelum dan setelah membacanya?

Imam al-Ajurri mengatakan dalam kitabnya Akhlaq Hamalah Al-Qur’an, “Mempelajari Al-Qur’an meski sedikit, tetapi disertai dengan perenungan dan tadabur lebih aku sukai daripada membaca Al-Qur’an dalam jumlah banyak pada bulan Ramadan tanpa mentadaburi dan merenungkannya.”

Beliau juga menyebutkan dalam kitab tersebut sejumlah pertanyaan yang semestinya ada dalam benak seseorang ketika membaca Al-Qur’an. Beliau berkata:

“Mempelajari Al-Qur’an harus dengan menghadirkan pemahaman dan akal pikirannya. Tujuan utamanya adalah memahami apa yang Allah ‘Azza wa Jalla wajibkan kepadanya, yaitu menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Tujuannya bukanlah, ‘Kapan aku mengkhatamkan surah ini?’ Melainkan, yang menjadi tujuannya adalah:

‘Kapan aku bisa bersandar sepenuhnya kepada Allah, bukan kepada makhluk? Kapan aku menjadi orang bertakwa? Kapan aku menjadi orang yang baik? Kapan aku menjadi orang yang bertawakal? Kapan aku menjadi orang yang khusyuk? Kapan aku menjadi orang yang sabar? Kapan aku menjadi orang yang jujur? Kapan aku menjadi orang yang senantiasa takut kepada Allah? Kapan aku menjadi orang yang selalu berharap kepada Allah?

Kapan aku mulai bersikap zuhud terhadap dunia? Kapan aku bisa lebih mengejar akhirat? Kapan aku bertobat dari dosa-dosa? Kapan aku menyadari nikmat yang berlimpah ini dan kapan mensyukurinya? Kapan aku dapat memahami firman Allah? Kapan aku bisa memahami apa yang kubaca?

Kapan aku dapat mengalahkan hawa nafsu? Kapan aku dapat berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benarnya? Kapan aku dapat menjaga lisanku? Kapan aku bisa menundukkan pandanganku? Kapan aku menjaga kemaluanku? Kapan aku bisa benar-benar malu kepada Allah? Kapan aku mulai sibuk dengan aib-aib sendiri? Kapan aku memperbaiki hal yang buruk dari diriku?

Kapan aku akan menyiapkan bekal untuk akhiratku? Kapan aku bisa rida kepada Allah? Kapan aku bisa lebih percaya kepada Allah? Kapan aku dapat mengambil pelajaran dari peringatan dalam Al-Qur’an? Kapan aku bisa lebih sibuk mengingat Allah daripada selain-Nya? Kapan aku bisa menyukai apa yang Allah sukai dan membenci apa yang Dia benci? Kapan aku bisa tulus kepada Allah? Kapan aku bisa mengikhlaskan amalan hanya untuk-Nya?

Kapan aku memendekkan anganku? Kapan aku bersiap menghadapi ajalku, padahal waktunya disembunyikan dariku? Kapan aku akan memakmurkan kuburku? Kapan aku merenungkan peristiwa berkumpulnya manusia (pada Hari Kiamat) beserta kedahsyatannya? Kapan aku menyendiri dengan Tuhanku? Kapan aku benar-benar takut terhadap apa yang telah diperingatkan oleh Rabbku ‘Azza wa Jalla, yaitu api neraka yang sangat panas dan dasarnya begitu dalam?’” Dan seterusnya hingga akhir perkataan Imam Al-Ajurri rahimahullah.

Ibnu Umar berkata, “Di antara keutamaan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mereka hanya menghafal Al-Qur’an satu atau beberapa surah saja, tetapi mereka diberi rezeki untuk mengamalkan Al-Qur’an. Lalu generasi akhir umat ini akan mampu menghafal Al-Qur’an, bahkan dari mereka ada anak-anak dan orang buta, tetapi mereka tidak diberi rezeki untuk mengamalkannya.”

Ibnu Mas’ud berkata, “Janganlah kalian membaca Al-Qur’an dengan tergesa-gesa seperti membaca syair. Jangan pula membacanya dengan asal-asalan seperti menebarkan kurma yang buruk. Berhentilah pada ayat-ayat yang menakjubkan dan gerakkanlah hati kalian dengannya.”
Dalam riwayat lain juga disebutkan, “…dan janganlah tujuan salah seorang di antara kalian hanyalah ingin menyelesaikan akhir surah.”

Ibnu al-Qayyim menjelaskan bahwa menghayati satu ayat Al-Qur’an lebih baik daripada mengkhatamkan Al-Qur’an tanpa disertai tadabur. Beliau berkata,

“Tidak ada hal yang lebih bermanfaat bagi hati daripada membaca Al-Qur’an dengan penghayatan dan tadabur. Sebab, Al-Qur’an mencakup seluruh tahapan perjalanan orang-orang yang menempuh jalan menuju Allah, keadaan orang-orang yang beramal, serta kedudukan orang-orang yang mengenal Allah.

Membaca Al-Qur’an dengan penuh penghayatan akan menumbuhkan rasa cinta, rindu, takut, harap, insaf, tawakal, rida, penyerahan diri, syukur, sabar, dan segala hal lain yang menjadi sumber kehidupan dan kesempurnaan hati. Selain itu, ia juga dapat mencegah pelakunya dari segala sifat dan perilaku tercela yang merusak dan membinasakan hati.

Seandainya manusia mengetahui apa yang ada di balik membaca Al-Qur’an dengan tadabbur, niscaya mereka akan menyibukkan diri dengannya dan meninggalkan kesibukan lainnya. Apabila seseorang membaca Al-Qur’an sambil merenungkannya, lalu melewati suatu ayat yang ia butuhkan untuk menyembuhkan hatinya, ia akan terus mengulang-ulang ayat itu hingga seratus kali atau bahkan semalam suntuk. Sebab, membaca satu ayat yang disertai penghayatan dan perenungan jauh lebih baik daripada mengkhatamkan Al-Qur’an tanpa menghayati dan merenungkannya. Hal itu lebih bermanfaat bagi hati, lebih meningkatkan keimanan, dan lebih mudah baginya untuk bisa merasakan manisnya Al-Qur’an.”

Akan tetapi, ini bukan berarti kita tidak perlu banyak membaca dan mengkhatamkan Al-Qur’an, terutama pada bulan Ramadan. Justru sebaliknya, membaca Al-Qur’an merupakan kunci untuk mendekatkan diri dengannya, mendapat pengaruhnya, dan mengamalkannya. Bahkan dulu para Sahabat membagi bacaan Al-Qur’an menjadi beberapa bagian agar dapat mengkhatamkannya dalam sepekan.

Tujuan pembahasan ini adalah agar kita tidak terpaku dengan kuncinya saja, yakni membaca Al-Qur’an, tanpa membuka pintu dan memasuki taman Al-Qur’an yang begitu indah, menikmati hembusan anginnya yang segar, dan memetik buahnya yang ranum melalui tadabur serta penghayatan terhadap firman Allah. 


Artikel terkait: Mengapa Kita Tidak Berubah oleh Al-Qur’an? (Bagian 1)

***

Samar Sameer

Sumber:

https://www.alukah.net/sharia/1001/176672/لماذا-لا-نتغير-بالقرآن؟/ 


PDF Sumber Artikel

🔍 Mengambil Keuntungan Dalam Islam, Penulisan Allah Subhanahu Wa Ta'ala Yang Benar, Ebook Hadits Pdf, Doa Untuk Anak Yang Rewel, Doa Untuk Orang Sombong Dan Angkuh

Visited 4 times, 4 visit(s) today

QRIS donasi Yufid