Mari bersama menabung pahala amal jariyah untuk kehidupan kita kelak di akhirat.   BSI: 7086882242
a.n. Yayasan Yufid Network  

Seluruh dana untuk operasional produksi konten dakwah di Yufid: Yufid.TV, YufidEDU, Yufid Kids, website dakwah (KonsultasiSyariah.com, Yufid.com, KisahMuslim.com, Kajian.Net, KhotbahJumat.com, dll).

Yufid menerima zakat mal untuk operasional dakwah Yufid

Nasehat

Wahai Kaum Muslimin! Berhati-hatilah dari Buta Mata dan Buta Hati Akibat Melihat Ponsel dan Sejenisnya

Bismillahirrahmanirrahim.

Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Selawat, salam, dan keberkahan semoga selalu tercurah kepada hamba dan rasul-Nya, Nabi kita Muhammad, dan kepada para keluarga, sahabat, dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan sebaik-baiknya hingga hari kiamat.

Amma ba’du.

Kenikmatan paling besar yang dikaruniakan oleh Allah kepada kaum muslimin adalah Dia memberi hidayah Islam kepada mereka dan mengeluarkan mereka dari kegelapan (kesesatan) menuju cahaya (hidayah). Ini merupakan kenikmatan yang tiada kenikmatan lain yang dapat menandingi dan menyainginya. 

Kemudian di antara kenikmatan terbesar dari Allah kepada seorang Muslim setelah kenikmatan Islam adalah kenikmatan akal dan kesehatan. Barang siapa yang bersyukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla atas kenikmatan-kenikmatan ini, maka hendaklah dia menggunakannya untuk ketaatan kepada Allah dan hal-hal yang dapat mendatangkan kebahagiaan baginya di dunia dan akhirat. Bukan sebaliknya, menjadikan kenikmatan-kenikmatan ini untuk bermaksiat kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan perkara-perkara yang mendatangkan musibah baginya di dunia dan akhirat.

Pada zaman ini telah tersebar luas penggunaan gadget dan sejenisnya. Ini merupakan sebuah kenikmatan bagi orang yang menggunakannya dalam kebaikan, dan sebaliknya menjadi musibah bagi orang yang menggunakannya untuk keburukan. 

Adapun orang yang berakal dan peduli terhadap dirinya, akan menggunakannya untuk perkara-perkara yang mendatangkan kebaikan baginya di dunia dan akhirat, sehingga dia menggunakannya untuk berkomunikasi yang mubah dan untuk mengakses ilmu-ilmu bermanfaat yang mungkin dia bisa dapatkan melalui gadget dengan mudah.

Sedangkan penggunaan gadget untuk kepentingan lain yang dapat mendatangkan mudarat bagi seorang muslim di dunia dan akhirat, maka itu adalah hal yang harus dijauhi, agar dia dapat selamat dari kebutaan mata dan hati. Sebab, penggunaan perangkat gadget dan sejenisnya ini secara terus menerus dapat melemahkan penglihatan. Bahkan, ini dapat merusak penglihatan secara total, sehingga dia harus kehilangan kenikmatan besar tersebut.

Dan yang lebih besar daripada itu, dia dapat kehilangan penglihatan hati, yang dapat mendatangkan berbagai penyakit syahwat bagi seorang muslim, sehingga merusak akhlaknya, juga berbagai penyakit syubhat yang dapat merusak akalnya. Allah ‘Azza wa Jalla telah menjelaskan bahaya hilangnya penglihatan hati dalam firman-Nya,

فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى ٱلْأَبْصَٰرُ وَلَٰكِن تَعْمَى ٱلْقُلُوبُ ٱلَّتِى فِى ٱلصُّدُورِ

“Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.” (QS. Al-Hajj: 46)

Makna dari ayat tersebut adalah bahwa kebutaan hati adalah kebutaan hakiki yang dapat menyebabkan kerugian di dunia dan akhirat. Karena orang yang buta hatinya akan berpaling dari jalan hidayah dan justru menempuh jalan kesesatan. Sebagaimana yang Allah Ta’ala firmankan tentang kaum Nabi Saleh,

وَأَمَّا ثَمُودُ فَهَدَيْنَاهُمْ فَاسْتَحَبُّوا الْعَمَىٰ عَلَى الْهُدَىٰ

“Dan adapun kaum Tsamud, maka mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai kebutaan (kesesatan) daripada petunjuk itu.” (QS. Fussilat: 17)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang.” (HR. al-Bukhari no. 6412)

Ini adalah hadis pertama yang disebutkan Imam al-Bukhari dalam bab ar-Riqaq (kelembutan hati). Makna dari hadis yakni barang siapa yang menggunakan kesehatan dan waktu luangnya untuk perkara yang mendatangkan kebaikan baginya, maka dia adalah orang yang beruntung.  Adapun orang yang menggunakannya untuk selain kebaikan, maka dia adalah orang yang merugi. 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ 

“Surga diliputi dengan hal-hal yang dibenci, dan neraka diliputi dengan hal-hal yang disukai syahwat.” (HR. al-Bukhari no. 6478 dan Muslim no. 7130, dan lafaz ini berasal dari riwayat Muslim)

Makna dari hadis ini yakni jalan menuju surga mengandung kesulitan dan kesukaran, dibutuhkan perlawanan terhadap setan dan nafsu jahat dalam menempuhnya. Sehingga seorang muslim harus bersabar di atas ketaatan meskipun berat bagi jiwa, karena kesudahan yang akan diperoleh adalah kebaikan.

Sedangkan jalan menuju neraka diliputi dengan syahwat-syahwat yang disukai oleh nafsu, di antaranya ada yang haram dan ada juga yang mubah yang diiringi dengan sikap berlebih-lebihan. Oleh sebab itu, seorang muslim harus bersabar dalam menjauhi kemaksiatan, meskipun sangat disukai oleh hawa nafsu, karena terjerumus ke dalamnya menimbulkan akibat yang buruk.

Ada ungkapan yang menyatakan bahwa ketaatan terasa berat bagi jiwa karena pahitnya terasa, sedangkan manisnya tidak. Sebaliknya, kemaksiatan terasa ringan bagi jiwa karena manisnya terasa, sedangkan pahitnya tidak.

Penggunaan gadget dan semacamnya oleh kaum laki-laki untuk melihat kaum perempuan dan sebaliknya, serta perbuatan-perbuatan keji yang timbul akibat itu semua, telah disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai bentuk zina.

Diriwayatkan dalam Shahih Muslim no. 6754 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda,

كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنْ الزِّنَا مُدْرِكٌ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالْأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الِاسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلَامُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ

“Sesungguhnya manusia itu telah ditentukan bagian perzinaannya yang tidak mustahil dan pasti akan dijalaninya. Zina kedua mata adalah melihat, zina kedua telinga adalah mendengar, zina lidah adalah berbicara, zina kedua tangan adalah menyentuh, zina kedua kaki adalah melangkah, dan zina hati adalah berkeinginan dan berangan-angan, sedangkan semua itu akan ditindaklanjuti atau ditolak oleh kemaluan.” (HR. Muslim no. 6754)

Fitnah dan syubhat yang ada dalam gadget dan sejenisnya sangat besar dan berbahaya, karena ia dapat dijangkau siapa saja, baik itu orang dewasa maupun anak-anak, dan kapan saja baik itu siang atau malam. Oleh sebab itu, kepedulian setiap orang tua dan wali atas orang yang berada di bawah tanggung jawabnya adalah perkara yang diharuskan. 

Hal ini berdasarkan firman Allah ‘Azza wa Jalla,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka, dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)

Juga berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ 

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Imam adalah pemimpin yang akan diminta pertanggungjawaban atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas keluarganya.” (Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari no. 893 dan Imam Muslim no. 4724 dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma).

Saya memohon kepada Allah Ta’ala agar memberi taufik kepada kaum muslimin di setiap tempat—baik mereka itu sebagai pemerintah, rakyat, laki-laki, wanita, orang dewasa, atau anak kecil—untuk meraih segala kebaikan dan menjaga mereka dari segala keburukan yang lahir dan yang batin. Sungguh Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa. Semoga selawat, salam, dan keberkahan senantiasa tercurah kepada Nabi kita, Muhammad, dan kepada para keluarga, dan sahabat beliau.

***

Abdul Muhsin bin Hamd al-Abbad al-Badr

Sumber: 

https://al-abbaad.com/articles/677810

PDF Sumber Artikel

🔍 Mimpi Shalat, Doa Mengelakkan Kecacatan Bayi, Bacaan Setelah Sholat Fardhu Menurut Rasulullah, Jawaban Ucapan Lebaran, Hari Raya Kartini

Visited 1 times, 1 visit(s) today

QRIS donasi Yufid