Mari bersama menabung pahala amal jariyah untuk kehidupan kita kelak di akhirat.   BSI: 7086882242
a.n. Yayasan Yufid Network  

Seluruh dana untuk operasional produksi konten dakwah di Yufid: Yufid.TV, YufidEDU, Yufid Kids, website dakwah (KonsultasiSyariah.com, Yufid.com, KisahMuslim.com, Kajian.Net, KhotbahJumat.com, dll).

Yufid menerima zakat mal untuk operasional dakwah Yufid

AKHLAK, Nasehat

Keterasingan Digital: Komunikasi Tanpa Hubungan, Hiruk-Pikuk Tanpa Keakraban

Pada saat terakhir aku menutup pintu kamarku, untuk lari dari hingar-bingar jalanan, tuntutan keluarga, dan riuhnya berbagai detail kehidupan sehari-hari, aku mengira telah berada di dunia yang lain. Aku meraih ponselku, membuka aplikasi-aplikasi yang tidak asing lagi dan berpindah-pindah dari kehidupan demi kehidupan orang lain.

Di tengah gemerlap itu, aku merasakan sebuah kepedihan yang sepertinya tidak asing. Di sini tampak teman lama yang membagikan kenaikan jabatan yang baru. Di sana ada seorang blogger yang memamerkan detail paginya yang sempurna dan jauh dari gangguan. Semua orang terlihat bahagia, sukses, dan berhasil meraih keinginannya.

Tiba-tiba, kebisingan jalanan yang aku hindari tadi menjadi kebisingan batin yang jauh lebih berat dan hebat. Kamarku yang tenang mulai terasa seperti ruang bawah tanah yang terisolasi. Hidupku yang tenang-tenang saja berubah menjadi seperti kegagalan yang tidak pernah diumumkan.

Ini bukan tentang kehidupanku seorang diri, tapi juga cerita sehari-hari dari seluruh generasi sekarang, generasi yang mendapati dirinya terjerat di antara dua sisi yang menghimpitnya, antara realitas yang bising yang terus menuntutnya untuk terus berlari mencari validasi diri, dan dunia maya yang menampilkan di depannya berbagai versi kesuksesan mutlak yang penuh polesan.

Hasilnya adalah penarikan diri secara perlahan dan pengasingan diri sebagai sikap yang dipilih. Fenomena yang dimulai dengan kecenderungan untuk mencari ketenangan, tapi berakhir dengan kegelisahan dan keterasingan spiritual secara penuh dari realitas dan keluarga.

Hubungan antara membandingkan diri dengan orang lain melalui internet dan antara keterasingan anak muda adalah hubungan fisik. Sebab, kita tidak mengasingkan diri dari masyarakat karena membenci manusia, tapi mengasingkan diri darinya karena kita sudah lelah dengan perasaan rendah diri yang dicekoki oleh layar.

Ketika anak muda membandingkan kamarnya yang sederhana dengan rumah-rumah mewah yang ada di ponselnya, atau ketika seorang gadis membandingkan harinya yang biasa-biasa saja yang penuh dengan keletihan dengan foto wajah-wajah yang terlihat tanpa cela, maka ketika itu seseorang dapat mengalami kondisi yang menyerupai keletihan eksistensi, sehingga realitas nyata terasa menyakitkan, dan masalah-masalahnya—bahkan yang sederhana sekali pun—terasa begitu berat dan tidak tertahankan.

Akibatnya, yang dianggap sebagai solusi terbaik adalah menarik diri sembari terus menatap apa yang ada di balik layar sebagai bius sementara, serta membandingkan detail kehidupannya sehari-hari dengan jepretan-jepretan yang telah diedit dengan cermat di berbagai platform.

Paradoks menyakitkannya adalah fenomena penarikan diri ini terjadi di tengah hiruk-pikuk sosial. Orang yang menyendiri di kamar sebenarnya bukanlah orang yang sedang tidak sendirian dalam pengertian klasik. Ia justru sedang dikelilingi ribuan pengikut dan pesan. Hanya saja, itu adalah komunikasi tanpa hubungan dan ingar-bingar tanpa keakraban.

Inilah keterasingan digital yang menciptakan kebisuan sosial di dalam rumah. Engkau dapat menemukan keluarga yang sedang berkumpul di satu ruangan, tapi tiap orang dari mereka sedang memelototi secercah cahaya biru yang terpancar dari telapak tangannya. Masing-masing hidup di dunia lain yang membangun tembok tak kasatmata antara dirinya dengan orang terdekatnya, sehingga ia mengalami apa yang disebut oleh para psikolog dengan keletihan eksistensi.

Angka yang dikeluarkan oleh lembaga-lembaga penelitian tidak berbohong. Penelitian terbaru yang diterbitkan oleh Pusat Nasional Penelitian Sosial dan Kriminal di Kairo pada tahun 2024 menegaskan bahwa 68 persen pemuda yang menjadi responden mengalami gejala kecemasan sosial dan depresi yang disebabkan oleh sikap membandingkan dengan orang yang lebih tinggi derajatnya melalui internet.

Perasaan yang semakin menguat ini membuat pemuda memandang realitas kita sebagai monster ganas yang tidak mungkin dapat dilawan, sehingga ia melarikan diri di kamar dan memilih untuk akrab dengan hantu-hantu digital daripada menghadapi manusia hakiki, seperti orang yang meminta perlindungan kepada abu demi menyelamatkan diri dari api.

Jika kita ingin membedah keterasingan ini dari sisi budaya, kita akan mendapati bahwa masyarakat modern telah mengubah budaya perilakunya. Dulu nilai seseorang diukur dengan kesungguhan dan hubungan yang ia bangun dalam menghadapi kesulitan, dengan mengatur waktu dan hidup, dengan kontribusi yang ia berikan kepada lingkungan sekitar.

Sedangkan saat ini, platform-platform virtual telah menjadikan nilai seseorang terbatas pada jumlah tanda suka di media sosialnya dan kemewahan semu yang ia pamerkan. Rumah-rumah telah kosong dari majelis-majelis keluarga dan forum-forum diskusi yang nyata, sehingga timbul keterputusan kontak emosional dari keluarga; kontak fisik masih terjadi, tapi pikiran tidak sepenuhnya hadir, dan komunikasi verbal semakin terputus.

Keluarga termasuk fondasi utama untuk membangun masyarakat yang sehat. Keluarga yang baik akan membuat masyarakat baik juga. Namun, pada tahun-tahun terakhir ini, dunia telah mengalami ledakan teknologi yang begitu besar, yang mengubah jalan hidup kita sehari-hari.

Di satu sisi, media sosial menyediakan komunikasi super cepat lintas benua, tapi di sisi lain media sosial memaksakan realitas baru di dalam rumah kita, yang mana pertemuan keluarga yang hangat berubah menjadi forum-forum yang penuh keheningan dan perhatian yang tertuju pada layar. Penampakan ini menjadi perkumpulan anggota keluarga di satu ruangan tanpa ada percakapan yang benar-benar terjalin.

Sudah menjadi hal yang lumrah sekali, ada orang tua yang duduk bersama anaknya dengan intensitas yang tinggi, tapi hubungan dan perhatian mereka terpecah di antara postingan dan aplikasi yang beraneka ragam. Jenis kebisuan rumah tangga atau keterputusan keluarga yang terselubung menyebabkan lemahnya ikatan emosional dan lenyapnya bahasa dialog yang berperan dalam membentuk kepribadian anak dan memberi mereka ketenangan mental di dalam rumah. 

Jarak sosial di dalam satu keluarga ini menimbulkan dampak-dampak negatif dan merosotnya pendidikan interaktif, sehingga anak kehilangan kesempatan untuk belajar dari pengalaman orang tuanya secara langsung melalui dialog sehari-hari, dan muncul penyakit-penyakit sosial yang serius, seperti:

  1. Meningkatnya kesenjangan antargenerasi

Orang tua kesulitan memahami pola pikir anak, dan anak kesulitan menerima pendapat orang tua. Meningkatnya tingkat depresi yang disebabkan oleh tergantinya interaksi manusia secara nyata dengan interaksi maya melalui berbagai platform.

  1. Fobia sosial

Yaitu sikap mengelak untuk hadir di acara-acara sosial atau diskusi nyata karena hal itu menuntut seseorang untuk berhadapan secara langsung dan tidak memberi pilihan untuk menghapus atau mengedit komentarnya sebagaimana yang dia bisa lakukan di internet.

  1. Terkikisnya kepercayaan diri

Kepercayaan diri semakin berkurang akibat perbandingan yang dilakukan terus-menerus dengan kehidupan orang lain yang terlihat sempurna di internet atau dunia nyata.

  1. Kerapuhan psikologis

Pemuda menjadi tidak mampu untuk produktif, kemampuannya juga menurun dalam memikul berbagai guncangan, kekecewaan, dan kegagalan yang merupakan hal normal dalam hidup.

  1. Menyendiri

Keterasingan digital membunuh keterampilan sosial dan lainnya secara umum yang dibutuhkan seseorang untuk membangun masa depan di dunia nyata.

Di sini, hadirlah tuntunan agama untuk memulihkan kompas yang pecah dan mempersembahkan penawar mujarab untuk penyakit tersebut. Islam tidak membiarkan jiwa manusia terombang-ambing dalam gelapnya sikap membanding-bandingkan. Islam justru meletakkan aturan baginya untuk menjaga keselamatan jiwanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadis sahih,

اُنْظُرُوا إِلَىٰ مَنْ هُوَ أَسْفَلُ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَىٰ مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهَٰذَا أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ

“Lihatlah orang yang berada di bawah kalian, dan janganlah kalian melihat orang yang berada di atas kalian. Hal itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepada kalian.” (HR. Muslim)

Tuntunan Nabi ini merupakan mukjizat psikologi yang sangat mendalam, karena ia menghentikan sepenuhnya sikap membanding-bandingkan yang dapat menimbulkan ketidakpuasan dan mengembalikan manusia ke medan kerelaan dan rasa keberuntungan.

Betapa banyak orang yang menarik diri dari keluarganya dan tidak terima dengan rezekinya hanya karena melihat pembuat konten yang memamerkan mobil mewahnya, atau melihatnya berpenampilan kaya raya, tapi ia lalai dari kenyataan bahwa layar hanya menunjukkan sisi terbaik dari kehidupan, tapi menyembunyikan berton-ton kelelahan dan kepedihan di balik tabir.

  1. Ilusi kebahagian yang sempurna

Uang dan penampilan dapat membeli banyak hal, tapi tidak dapat membeli ketenangan pikiran, kesehatan mental, dan kehangatan keluarga. Banyak sekali pemilik mobil mewah yang hidup dalam neraka tersembunyi akibat kegelisahan yang tidak ada habisnya.

Sampai kapan kondisi ini berlanjut?

Kondisi ini akan terus terjadi hingga seorang insan menyadari nilai dari “terjaganya aib dan ketenangan”. Rezeki bukan pada mobil mewah yang dikendarai di depan kamera, tapi kesehatan badan, ketenangan jiwa, dan makanan yang tersedia pada hari yang tenang, jauh dari ingar-bingar kepalsuan.

Ketika akal berhenti mengukur kesuksesan dengan standar media sosial dan memahami bahwa usaha yang nyata dan terhormat—sekecil apa pun itu—tetap jauh lebih suci dan tulus daripada terus berdiam di balik layar yang merampas bertahun-tahun umur terindah, yang sebenarnya dapat digunakan seseorang untuk melakukan berbagai hal dan merealisasikan banyak prestasi besar, yang meninggalkan warisan kebaikan dan ketenangan nurani. Hanya ketika itulah pesona penampilan palsu dapat runtuh dan manusia kembali menghargai berbagai nikmat Allah yang ada di sekelilingnya yang nilainya tidak dapat diukur dengan apa pun.

Bagaimana cara mendamaikan pemuda dengan realitas yang penuh hiruk-pikuk ini?

Mengatasi keterasingan ini bukan dengan mengingkari sulitnya realitas hidup atau dengan melarang internet sepenuhnya, tapi dengan memperbaiki keseimbangan melalui upaya pengembalian kehangatan dalam rumah, menjaga jalinan sosial kita, menciptakan kesadaran hakiki, melatih mereka agar memahami bahwa apa yang disebarkan di internet adalah unggahan potongan kehidupan yang dipoles dan diedit, bukan kehidupan sepenuhnya. Ia hanyalah sebagian kecil dari kehidupan pemiliknya yang disuguhkan secara menyilaukan dan semenarik mungkin.

Setiap keluarga harus menciptakan lingkungan dialog yang fleksibel di dalam rumah, yang mampu mencakup semua tekanan yang didapatkan pemuda, mewadahi mimpi dan cita-cita mereka tanpa meremehkannya atau membandingkannya dengan orang lain.

Kesuksesan hakiki, wawasan, dan keberhasilan adalah hal yang mulia dan bernilai tinggi. Namun, itu sudah menjadi jalan hidup yang harus kita tempuh. Kemampuan untuk menahan saat-saat yang membosankan dan bersabar atas kegagalan adalah hal yang wajar.

Membangun hubungan nyata yang mampu bertahan ketika berhasil maupun gagal menjadi bukti bahwa keberhasilan kita hari ini lebih baik daripada waktu-waktu sebelumnya. Kenyataan dan tantangan membentuk keteguhan karakter dan memberi pengalaman. Media sosial diciptakan untuk melayani manusia dan mendekatkan jarak, bukan untuk mengubah rumah menjadi pulau-pulau yang terisolasi dan penuh kesunyian seperti kesunyian kuburan.

***

Huda Walid al-Khasyt

Sumber:

https://www.alukah.net/culture/0/184178/الاغتراب-الرقمي..-اتصال-بلا-تواصل-وضجيج-بلا-ونس/ 

PDF Sumber Artikel

🔍 Zabaniyah Adalah Nama Lain Dari Malaikat, Bolehkah Tahajud Sebelum Tidur, Panduan Ibu Hamil Dalam Islam, Doa Keluar Rumah Dan Artinya, Bacaan Rukuk Dan Sujud

Visited 3 times, 3 visit(s) today

QRIS donasi Yufid