Mari bersama menabung pahala amal jariyah untuk kehidupan kita kelak di akhirat.   BSI: 7086882242
a.n. Yayasan Yufid Network  

Seluruh dana untuk operasional produksi konten dakwah di Yufid: Yufid.TV, YufidEDU, Yufid Kids, website dakwah (KonsultasiSyariah.com, Yufid.com, KisahMuslim.com, Kajian.Net, KhotbahJumat.com, dll).

Yufid menerima zakat mal untuk operasional dakwah Yufid

AQIDAH, Bid'ah, Firqoh, MANHAJ

Mereka Inilah Ahlusunah Waljamaah yang Sebenarnya

Bismillahirrahmanirrahim

Segala puji hanya bagi Allah semata. Selawat, salam, dan keberkahan semoga selalu tercurah kepada Nabi terakhir, Nabi kita Muhammad, dan kepada keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka hingga hari kiamat.

Amma ba’du:

Telah diselenggarakan konferensi di Chechnya selama tiga hari dan berakhir pada hari Sabtu, 24 Zulkaidah 1437 H, yang mengusung tema “Siapakah Ahlusunah waljamaah?” Konferensi ini dihadiri oleh orang-orang dari kalangan Asy’ariyah dan Maturidiyah. Mereka mencapai kesimpulan bahwa Ahlusunah waljamaah adalah orang-orang Asy’ariyah dan Maturidiyah.

Saya tidak akan menulis secara khusus tentang konferensi ini, tetapi saya hanya akan menghadirkan kembali tulisan saya dahulu tentang akidah Ahlusunah waljamaah yang sesungguhnya. Tulisan ini telah saya tulis jauh bertahun-tahun sebelum diselenggarakannya konferensi itu. Namun, orang yang membacanya akan mengira bahwa tulisan itu saya tulis setelah konferensi tersebut.

Tulisan itu merupakan mukadimah dari bukuku Qathf al-Jany ad-Dani Syarh Muqaddimah Risalah Ibn Abi Zaid al-Qairawani yang dicetak pada tahun 1423 H dan kemudian dicetak ulang dalam kumpulan buku dan risalahku pada tahun 1428 H.

Saya akan mencantumkan tulisan yang menjadi mukadimah buku saya tersebut setelah pendahuluan singkat ini, agar orang yang membacanya dapat mengetahui akidah Ahlusunah waljamaah yang sebenarnya dan mengetahui bahwa akidah tersebut bersumber dari wahyu, bukan dari pendapat-pendapat manusia yang hidup setelah tiga generasi pertama, generasi terbaik dari umat ini.

Imam Ibnu Abi Zaid al-Qairawani rahimahullah wafat pada tahun 386 Hijriah. Imam adz-Dzahabi telah menulis biografi beliau dalam kitab Siyar A’lam an-Nubala jilid 17, hlm. 10. Di awal biografi ini, Imam adz-Dzahabi berkata, “Beliau adalah imam, ulama besar, panutan, ahli fikih, ulamanya para penduduk Maroko.”

Lalu, pada akhir biografinya, beliau berkata, “Dahulu beliau rahimahullah berada di atas jalan para salaf dalam perkara ushul (akidah), tidak mengenal filsafat dan tidak melakukan takwil (atas sifat-sifat Allah). Kita memohon taufik kepada Allah.”

Saya katakan, seandainya Imam Ibnu Abi Zaid al-Qairawani rahimahullah hidup pada zaman ini, niscaya beliau tidak akan mengikuti konferensi yang diadakan di Chechnya tersebut karena konferensi itu khusus bagi orang-orang Asy’ariyah dan Maturidiyah, sedangkan beliau tidak berada di atas akidah mereka. Justru beliau akan seperti orang lainnya dari kalangan Ahlusunah waljamaah yang hakiki, yang berada di atas akidah para sahabat radhiyallahu ‘anhum.

Patut diketahui bahwa Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari rahimahullah (pendiri aliran Asy’ariyah), akidahnya yang terakhir berada di atas manhaj para salaf, sebagaimana yang jelas disebutkan dalam kitabnya al-Ibanah yang merupakan buku terakhir atau di antara buku terakhir yang beliau tulis.

Di antara ulama yang menulis kitab tentang akidah Ahlusunah waljamaah adalah Imam Abu Ja’far ath-Thahawi al-Hanafi rahimahullah, yang wafat pada tahun 321 Hijriah. Beliau memiliki risalah singkat tentang akidah Ahlusunah waljamaah. Risalah ini kemudian dijelaskan oleh Ibnu Abi al-Izz al-Hanafi dalam kitabnya Syarh ath-Thahawiyah.

Ulama lain yang menulis kitab tentang akidah Ahlusunah waljamaah adalah Imam Abu Utsman ash-Shabuni asy-Syafi’i rahimahullah, yang wafat pada tahun 449 Hijriah. Kitabnya berjudul ‘Aqidah as-Salaf wa Ashhab al-Hadits. Juga Imam Ibnu Qudamah al-Maqdisi rahimahullah, yang wafat pada tahun 620 Hijriah. Kitabnya berjudul Lum’ah al-I’tiqad. 

Ada juga kitab yang berjudul al-‘Aqidah al-Wasithiyah yang ditulis oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, yang wafat pada tahun 728 Hijriah. Juga kitab berjudul at-Tauhid alladzi Huwa Haqq Allah ‘ala al-‘Abid yang ditulis oleh Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah, yang wafat pada tahun 1206 Hijriah. Kitab ini menghimpun ayat-ayat, hadis-hadis, dan atsar-atsar dari para salaf.

Pada awal penjelasan kitabku tersebut, saya menyebutkan sepuluh perkara yang menerangkan akidah para salaf yang bersumber dari Al-Qur’an, as-Sunnah, dan keyakinan yang diikuti oleh para sahabat dan generasi setelah mereka. Berikut ini adalah judul dari sepuluh perkara tersebut:

  • Perkara pertama: Manhaj Ahlusunah waljamaah dalam akidah adalah mengikuti Al-Qur’an dan as-Sunnah berdasarkan pemahaman para salafus saleh.
  • Perkara kedua: Manhaj pertengahan Ahlusunah waljamaah dalam akidah di antara aliran-aliran lain yang sesat.
  • Perkara ketiga: Akidah Ahlusunah waljamaah selaras dengan fitrah.
  • Perkara keempat: Pembahasan tentang sifat-sifat Allah adalah bagian dari pembahasan tentang Zat Allah dan ucapan terhadap sebagian sifat-sifat Allah sama saja dengan ucapan terhadap sebagian sifat Allah lainnya.
  • Perkara kelima: Para salaf bukanlah golongan yang melakukan takwil atau tafwidh (menyerahkan sepenuhnya makna sifat-sifat Allah kepada-Nya).
  • Perkara keenam: Golongan musyabbihah dan mu’atthilah telah melakukan penyerupaan terhadap sifat-sifat Allah dan menafikan sifat-sifat itu.
  • Perkara ketujuh: Para ahli ilmu kalam (filsafat) akhirnya mencela ilmu itu dan menunjukkan kebingungan serta penyesalan mereka.
  • Perkara kedelapan: Apakah benar mayoritas kaum Muslimin pada zaman ini berakidah Asy’ariyah?
  • Perkara kesembilan: Akidah para imam empat mazhab dan para ulama lain yang menganut mazhab mereka.
  • Perkara kesepuluh: Kitab-kitab akidah yang sesuai dengan manhaj para ulama salaf.

Betapa bagus yang dikatakan oleh Imam Abu Umar Ibnu Abdil Barr rahimahullah (wafat 463 H) dalam kitabnya at-Tamhid jilid 7, hlm. 145,

“Adapun para pelaku bid’ah, penganut aliran Jahmiyah, seluruh penganut Mu’tazilah, dan Khawarij, mereka semua mengingkari sifat-sifat Allah dan tidak memaknainya sedikit pun sebagaimana makna hakikatnya. Mereka menganggap bahwa orang yang mengakui makna itu menjadi musyabbih (orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya). Padahal, menurut orang yang menetapkan sifat Allah, mereka adalah orang-orang yang mengingkari Tuhan.” 

Ucapan ini dinukil oleh Imam adz-Dzahabi dalam pembahasan tentang sifat ketinggian Allah. Kemudian Imam adz-Dzahabi mengomentarinya dengan berkata,

“Demi Allah, beliau benar! Sebab, barang siapa yang menakwilkan sifat-sifat Allah dan memahaminya dengan makna majas, maka pengguguran makna hakiki itu dapat menghasilkan sikap pengingkaran terhadap Tuhan dan menyerupakan-Nya dengan sesuatu yang tidak ada.

Hal ini sebagaimana yang dinukil dari Hammad bin Zaid yang berkata, ‘Perumpamaan orang-orang Jahmiyah itu seperti suatu kaum yang berkata, “Di rumah kami ada pohon kurma!”

Lalu dia ditanya, “Pohon kurma itu punya pelepah?” Mereka menjawab, “Tidak.”

Lalu ditanya lagi, “Jadi pohon itu punya pangkal pelepah?” Mereka menjawab, “Tidak.”

Lalu ditanya lagi, “Tapi pohon itu punya buah kurma muda dan tandan?” Mereka menjawab, “Tidak”.

Lalu ditanya lagi, “Pohon itu punya batang?” Mereka menjawab, “Tidak.”

Lalu dikatakan kepada mereka, “Kalau begitu, di rumah kalian tidak ada pohon kurma!”’”

Barang siapa yang menafikan sifat-sifat dari Allah Ta’ala, maka pada hakikatnya dia telah menafikan Tuhan. Sebab, tidak dapat dibayangkan adanya sesuatu yang tidak mempunyai sifat sedikit pun.

Selawat, salam, dan keberkahan semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan para sahabat beliau.

Berikut adalah teks pendahuluan dari kitab Qathf al-Janiy ad-Dani Syarh Muqaddimah Risalah Ibn Abi Zaid al-Qairawani:

Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Maha Menguasai hari pembalasan. Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, Yang tidak memiliki sekutu, Tuhan bagi orang-orang terdahulu dan sekarang, Yang Maha Menegakkan langit-langit dan bumi.

Saya juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya, penghulu para rasul, pemimpin orang-orang bertakwa, panglima bagi umat yang bercahaya wajah, kaki, dan tangannya, serta Rasul yang diutus sebagai rahmat bagi semesta alam.

Semoga selawat, salam, dan keberkahan selalu terlimpah kepada beliau dan keluarga beliau yang suci, para sahabat beliau yang mulia, yang dengan mereka Allah menjaga dan memenangkan agama Islam, serta para pengikut mereka yang mengikuti mereka dengan sebaik-baiknya dan mengikuti jalan mereka hingga hari kiamat.

Amma ba’du:

Akidah Ahlusunah waljamaah memiliki ciri khas berupa kejernihan, kejelasan, serta terbebas dari kerancuan dan kerumitan. Akidah ini bersumber dari teks-teks wahyu, baik Al-Qur’an maupun as-Sunnah. Akidah yang dipegang oleh generasi salaf umat ini. Akidah yang sesuai dengan fitrah manusia dan dapat diterima oleh akal sehat yang terbebas dari penyakit-penyakit syubhat. 

Berbeda dengan akidah-akidah lain yang diambil dari pendapat-pendapat tokoh-tokoh tertentu dan ucapan-ucapan para ahli kalam. Akidah-akidah itu penuh dengan kerancuan, kerumitan, kontradiksi, dan tidak konsisten.

Bagaimana mungkin perbedaannya tidak besar dan jauh antara akidah yang diturunkan Jibril dari Allah kepada Rasul-Nya yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan akidah-akidah yang beraneka ragam yang dibuat dan diada-adakan oleh makhluk yang berasal dari tanah dan diciptakan oleh Allah dari air yang hina?

Akidah Ahlusunah waljamaah muncul dan hadir bersamaan dengan diutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan diturunkannya wahyu kepada beliau oleh Allah Ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berjalan di atas akidah tersebut. Demikian juga dengan para sahabat beliau yang mulia dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan sebaik-baiknya.

Adapun akidah-akidah lain belum muncul pada zaman Nabi, dan para sahabat yang mulia tidak menganut akidah-akidah tersebut. Namun, sebagian akidah ini muncul pada zaman para sahabat, sedangkan sebagian lainnya muncul setelah zaman mereka berakhir. Oleh sebab itu, akidah-akidah ini termasuk perkara baru yang diperingatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda:

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ, فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَة بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“… dan berhati-hatilah kalian dari perkara-perkara yang diada-adakan, karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bidah, dan setiap bidah itu sesat.” 

Tidak masuk akal dan tidak dapat diterima jika kebenaran tertutup dari para sahabat yang mulia radhiyallahu ‘anhum, lalu kebenaran itu disimpan bagi orang-orang yang ada setelah zaman mereka. Akidah-akidah menyimpang itu, seandainya ada yang baik, niscaya para sahabat akan bergegas menganutnya.

Akan tetapi, akidah-akidah itu buruk sehingga Allah menjaga para sahabat darinya dan menjadikannya musibah bagi orang-orang setelah mereka. Dalam kitab Jami’ Bayan al-Ilm wa Fadhlihi karya Ibnu Abdil Barr (jilid 2, hlm. 97), Ibrahim an-Nakha’i berkata, “Tidak ada sesuatu (ilmu) yang disimpan bagi kalian dan disembunyikan dari para sahabat karena keutamaan yang kalian miliki.” 

Hakikat yang jelas dan terang benderang adalah bahwa perbedaan antara akidah Ahlusunah waljamaah yang bersumber dari wahyu dan akidah-akidah ahli kalam yang dibangun di atas pendapat dan pemikiran mereka adalah seperti perbedaan antara Allah dan makhluk-Nya.

Demikian pula dalam bidang hukum dan aturan, dapat dikatakan bahwa perbedaan antara syariat Islam yang mulia yang diturunkan oleh Allah Ta’ala kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan hukum-hukum buatan rendahan yang dibuat oleh manusia adalah seperti perbedaan antara Allah dan makhluk-Nya. Allah Ta’ala berfirman:

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

“Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al-Ma’idah: 50).

Namun, mengapa akal banyak orang lalai dari hakikat yang begitu jelas dan terang benderang berkaitan dengan akidah mereka ini, juga hakikat yang jelas dan terang benderang berkaitan dengan hukum yang mereka terapkan, sehingga mereka mengganti yang terbaik ini dengan sesuatu yang buruk?

Ya Allah, berikanlah petunjuk kepada kaum Muslimin yang tersesat menuju jalan-jalan keselamatan dan keluarkanlah mereka dari  berbagai kegelapan menuju cahaya. Sungguh, Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa.

Para ulama Ahlusunah terdahulu dan kontemporer telah menulis banyak buku yang menjelaskan tentang akidah Ahlusunah waljamaah. Ada yang pembahasannya ringkas dan ada pula yang panjang lebar. Di antara buku-buku yang ringkas adalah Muqaddimah al-Imam Ibn Abi Zaid al-Qairawani al-Maliki, yaitu sebuah pendahuluan bagi buku tersebut. Buku pendahuluan ini ditulis dengan ringkas dan penuh manfaat sesuai dengan akidah para salaf.

Penulisan perkara-perkara akidah dan fikih dalam satu buku sekaligus jarang sekali dilakukan oleh para penulis lainnya. Padahal, metode ini bagus karena memungkinkan orang yang sedang mempelajari fikih ibadah dan muamalat dapat sekaligus mempelajari fikih akbar, yakni akidah yang benar sesuai dengan pemahaman para ulama salaf.

Meskipun buku pendahuluan ini ringkas dan singkat, buku ini cukup menjelaskan dengan terang akidah yang benar, sesuai dengan fitrah, dan berdasarkan nas-nas Al-Qur’an dan as-Sunnah. Bahkan, buku ini menjadi bukti jelas atas ungkapan yang banyak tersebar luas, “Sesungguhnya ucapan para salaf itu ringkas, tetapi punya banyak keberkahan, sedangkan ucapan para ahli kalam itu banyak, tetapi sedikit keberkahannya.”

Di antara contoh penafian yang terkandung dalam mukadimah ini, yang sekaligus menetapkan kesempurnaan bagi Allah Ta’ala, adalah perkataan penulis pada awal mukadimah tersebut,

“Sesungguhnya Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain-Nya. Dia tidak memiliki tandingan, tidak memiliki padanan, tidak memiliki bapak dan anak, tidak memiliki istri, dan tidak memiliki sekutu.”

Seluruh kalimat penafian tentang Allah ‘Azza wa Jalla ini bersumber dari Al-Qur’an dan as-Sunnah. 

Hal ini berbeda dengan penafian yang dilakukan oleh para ahli kalam karena dibangun di atas pemaksaan dan kerancuan. Sebagai contoh, dalam kitab al-Aqaid an-Nasfiyah, penulisnya berkata,

“Allah bukanlah ‘aradh (zat non-esensial), bukan jism (berjasad), bukan jauhar (zat esensial), tidak tergambar, tidak terbatas, tidak terhitung, tidak terbagi, tidak terpisah, tidak tersusun dari sesuatu, dan tidak ada ujungnya.”

Seluruh kalimat penafian ini tidak ada dalilnya dari Al-Qur’an dan as-Sunnah. Padahal, wajib untuk menahan diri dan tidak membahas hal yang tidak ditunjukkan oleh dalil wahyu serta harus meyakini bahwa Allah memiliki segala sifat kesempurnaan dan terbebas dari segala kekurangan.

Metode ahli kalam yang demikian tidak dapat dipahami oleh orang-orang awam dan tidak sesuai dengan fitrah yang mereka miliki. Namun, itu adalah bentuk sikap berlebihan dan pemaksaan dari para ahli kalam. Di dalamnya terkandung kerancuan dan pengelabuan.

Hal ini dapat tergambar jelas ketika kita mengupas salah satu ucapan mereka yang menafikan jism (jasad) dari Allah. Kalimat ini dapat mengandung kemungkinan bahwa yang dimaksud adalah zat yang menyerupai zat makhluk. Dengan demikian, menurut kemungkinan ini, lafaz dan makna dari kalimat tersebut tertolak seluruhnya karena Allah tidak ada yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Namun, jika yang dimaksud adalah zat yang berdiri sendiri, berbeda dari makhluk, dan memiliki sifat kesempurnaan, maka makna ini benar dan tidak boleh dinafikan dari Allah. Dengan demikian, kalimat penafian jism tersebut tidak dapat diterima karena mengandung dua kemungkinan makna, yaitu makna yang benar dan makna yang salah.

Dalam perkataan Al-Maqrizi (hlm. 14–15) yang akan disebutkan nanti, beliau berkata tentang para sahabat:

“Para sahabat radhiyallahu ‘anhum menetapkan sifat-sifat Allah tanpa menyerupakan. Mereka menyucikan Allah tanpa menafikan sifat-sifat-Nya. Kendati demikian, tidak ada seorang pun dari mereka yang menakwilkan sedikit pun dari hal ini (sifat-Nya). Mereka semua memandang harus memahami sifat-sifat Allah sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an dan as-Sunnah.

Tidak ada seorang pun dari mereka yang menggunakan dalil atas keesaan Allah Ta’ala dan penetapan kenabian Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kecuali dengan Al-Qur’an. Tidak ada satu pun dari mereka yang diketahui menggunakan metode ahli kalam maupun mengenal masalah filsafat.”

Akan dibahas juga pada halaman 16 (dalam buku pendahuluan tersebut) ucapan Abu al-Muzhaffar as-Sam’ani tentang penjelasan rusaknya metode ahli kalam:

“Di antara hal yang diperintahkan (kepada Nabi) untuk beliau sampaikan adalah tauhid. Bahkan, tauhid adalah inti dari hal yang diperintahkan kepada beliau sehingga beliau tidak meninggalkan satu pun dari perkara agama, baik itu dasar-dasarnya, kaidah-kaidahnya, maupun syariat-syariatnya, kecuali telah beliau sampaikan.

Kemudian, Nabi juga tidak menyeru untuk berdalil dengan perkara yang dipegang oleh para ahli kalam, seperti jauhar dan ’aradh. Bahkan, tidak ada satu kata ataupun lebih yang keluar dari beliau maupun salah seorang sahabat beliau mengenai hal itu.

Dengan demikian, dapat diketahui bahwa para ahli kalam itu telah menempuh jalan yang berbeda dari jalan Nabi dan para sahabat, dan menapaki jalur yang tidak mereka tapaki, yaitu jalur yang bid’ah dan dibuat-buat, yang tidak dilalui oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum.

Konsekuensi dari jalan yang mereka pilih ini adalah mereka kemudian mencela dan menjelekkan para salaf serta menuduh mereka kurang pengetahuan dan bingung dalam mencari jalan. Oleh sebab itu, berhati-hatilah dari mempelajari ucapan mereka dan memedulikan pendapat mereka karena semua ucapan dan pendapat-pendapat itu cepat sekali runtuh dan banyak sekali kontradiksinya.”

Ucapan Abu al-Muzhaffar as-Sam’ani ini disebutkan juga oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dalam kitab Fath al-Bari fi Syarh Qaul al-Bukhari pada bab firman Allah Ta’ala:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلرَّسُولُ بَلِّغْ مَآ أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ

“Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu” (QS. Al-Ma’idah: 67).

Dalam kitab Fath al-Bari ini juga dinukil ucapan al-Hasan al-Bashri, “Seandainya yang diucapkan oleh al-Ja’d (bin Dirham) itu benar, niscaya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menyampaikannya.”

Al-Ja’d bin Dirham adalah pendiri aliran Jahmiyah. Adapun nama Jahmiyah sendiri dinisbatkan kepada al-Jahm bin Shafwan karena dialah yang telah menampakkan dan menyebarkan mazhab yang batil ini.

Lalu, di sini saya ucapkan sebagaimana yang diucapkan oleh al-Hasan al-Bashri rahimahullah, “Seandainya yang diucapkan oleh orang-orang Asy’ari dan ahli kalam lainnya itu benar, niscaya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menyampaikannya.”

Saya berpandangan bahwa mukadimah ini perlu dijelaskan untuk menambah kejelasannya dan menerangkan makna-makna yang dikandungnya. Saya juga berpandangan bahwa penjelasan ini perlu dimulai dengan menyebutkan sepuluh perkara dalam akidah para salaf.

Selain itu, Syaikh Ahmad bin Musyarraf al-Ahsa-i al-Maliki (wafat 1285 H) telah menyusun Muqaddimah Risalah Ibn Abi Zaid al-Qairawani dalam bentuk bait-bait yang bagus dan rapi sehingga saya berpandangan untuk sekaligus menyebutkan bait-bait ini ke dalam teks mukadimah sebelum memulai penjelasannya. Saya memberi judul buku penjelasan ini Qathf al-Janiy ad-Dani Syarh Muqaddimah Risalah Ibn Abi Zaid al-Qairawani.

Saya memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar menjadikan buku ini bermanfaat sebagaimana Dia telah menjadikan buku aslinya bermanfaat serta memberi taufik kepada kaum Muslimin untuk memahami agama mereka dan berjalan di atas mazhab para salaf dalam akidah dan amal, serta memberi saya taufik agar selamat dari kesalahan dan mengaruniakan kepada saya kebenaran dalam ucapan dan keikhlasan dalam amalan.

Sungguh, Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa. Semoga selawat, salam, dan keberkahan selalu tercurah kepada hamba dan rasul-Nya, Nabi kita Muhammad, serta keluarga dan seluruh sahabat beliau.

Sumber:

https://al-abbaad.com/articles/174492

PDF Sumber Artikel

🔍 Dalil Tentang Perceraian, Apakah Anak Tiri Dapat Warisan, Keutamaan Hari Jumat Rumaysho, Ahlan Bik, Sejarah Abu Hurairah

Visited 1 times, 1 visit(s) today

QRIS donasi Yufid