Mari bersama menabung pahala amal jariyah untuk kehidupan kita kelak di akhirat.   BSI: 7086882242
a.n. Yayasan Yufid Network  

Seluruh dana untuk operasional produksi konten dakwah di Yufid: Yufid.TV, YufidEDU, Yufid Kids, website dakwah (KonsultasiSyariah.com, Yufid.com, KisahMuslim.com, Kajian.Net, KhotbahJumat.com, dll).

Yufid menerima zakat mal untuk operasional dakwah Yufid

AQIDAH, Firqoh, MANHAJ

Tidak Sama antara Ahlusunah Waljamaah dengan Para Penganut Akidah-Akidah Sesat

Bismillahirrahmanirrahim

Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Selawat, salam, dan keberkahan semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabat beliau, serta orang-orang yang menapaki jalan mereka dan menjalankan tuntunan mereka hingga hari kiamat.

Amma ba’du:

Saya telah mendengar rekaman suara dari Syaikh Shalih bin ‘Awad al-Maghamisi. Di antara ucapannya adalah sebagai berikut:

“Saya katakan dengan jelas dan penuh kelugasan kalimat yang mungkin sebagian ulama lain tidak mungkin berani mengatakannya.

Sekali lagi saya katakan dengan jelas bahwa Ahlusunah, Syiah, Ismailiyah, dan Ibadhiyah, mereka semua beriman bahwa Allah sebagai Tuhan mereka, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai nabi mereka, Islam adalah agama mereka, Al-Qur’an adalah kitab suci mereka.

Mereka juga mengimani hari kiamat sebagai janji yang pasti datang, surga sebagai pahala bagi orang-orang yang taat, neraka sebagai ganjaran bagi orang-orang yang kafir, dan Ka’bah sebagai kiblat mereka. Jika mereka mendirikan salat, mereka menghadap ke arah Ka’bah. Mereka juga menyembelih kurban.”

Saya tidak akan sibuk membantah ucapan ini. Saya cukup menyebutkan beberapa perkataan yang ada dalam sekte-sekte yang menyelisihi keyakinan Ahlusunah waljamaah, yaitu keyakinan para sahabat yang mulia radhiyallahu ‘anhum dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka hingga hari kiamat.

Syiah Itsna ‘Asyariah

Adapun Syiah Itsna ‘Asyariah (Syiah yang meyakini adanya 12 Imam), di antara sikap berlebihan terhadap 12 Imam mereka adalah sikap yang disebutkan dalam kitab Ushul al-Kafi karya al-Kulaini.

Ini adalah salah satu kitab utama mereka. Di dalamnya terdapat bab-bab yang menghimpun hadis-hadis khusus mereka. Di antara bab dalam kitab ini adalah:

  • Bab: Para Imam ‘alaihissalam merupakan para khalifah Allah ‘Azza wa Jalla di bumi-Nya, dan pintu-pintu-Nya yang menjadi jalan untuk menghadap-Nya. (Jilid 1, hlm. 193).
  • Bab: Para Imam ‘alaihissalam adalah tanda-tanda yang Allah ‘Azza wa Jalla sebutkan dalam kitab-Nya. (Jilid 1, hlm. 206).

Dalam bab ini terdapat tiga hadis dari mereka yang mengandung tafsir firman Allah Ta’ala,

وَعَلَٰمَٰتٍ ۚ وَبِٱلنَّجْمِ هُمْ يَهْتَدُونَ

“Dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl: 16).

Hadis-hadis itu menyatakan bahwa yang dimaksud dengan ‘bintang-bintang’ adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan yang dimaksud dengan ‘tanda-tanda’ adalah para imam mereka.

  • Bab: Para Imam ‘alaihissalam adalah cahaya Allah ‘Azza wa Jalla. (Jilid 1, hlm. 194).

Bab ini mengandung hadis-hadis dari mereka, di antaranya adalah hadis yang sanadnya berakhir kepada Abu Abdillah—atau dikenal juga dengan nama Ja’far ash-Shadiq—tentang tafsir firman Allah ‘Azza wa Jalla:

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ ۖ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ ۖ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ ۚ نُورٌ عَلَىٰ نُورٍ ۗ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar.

Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api.

Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. An-Nur: 35). 

Mereka menafsirkan kalimat-kalimat ayat ini sebagai berikut:

  •  مِشْكَاةٍ (sebuah lubang yang tak tembus), yakni Fatimah ‘alaihassalam.
  • مِصْبَاحٌ (pelita besar), yakni Hasan bin Ali.
  • زُجَاجَةٍ (kaca), yakni Husein bin Ali.
  • كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ (bintang (yang bercahaya) seperti mutiara), yakni Fatimah yang bak bintang yang bercahaya seperti mutiara jika dibandingkan dengan wanita-wanita di dunia lainnya. 
  •  شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ (pohon yang berkah), yakni Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.
  • زَيْتُونَةٍ لَا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ (pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat), yakni bukan dari golongan Yahudi dan bukan juga Nasrani.
  • يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ (minyaknya hampir-hampir menerangi), yakni hampir-hampir ilmunya meledak karena sangat banyak.
  • نُورٌ عَلَىٰ نُورٍ (cahaya di atas cahaya), yakni hadirnya Imam setelah Imam sebelumnya.
  • يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَنْ يَشَاءُ (Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki), yakni Allah membimbing kepada para Imam bagi siapa saja yang Dia kehendaki.
  • Bab: Yang dimaksud dengan tanda-tanda yang Allah ‘Azza wa Jalla sebutkan dalam kitab-Nya adalah para Imam. (Jilid 1, hlm. 207).

Dalam bab ini disebutkan tafsir firman Allah ‘Azza wa Jalla:

وَمَا تُغْنِي الْآيَاتُ وَالنُّذُرُ عَنْ قَوْمٍ لَا يُؤْمِنُونَ

“… Tidaklah bermanfaat tanda-tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Yunus: 101). Yang dimaksud dengan tanda-tanda dalam ayat ini adalah para imam.

Dalam bab ini juga disebutkan tafsir firman Allah ‘Azza wa Jalla:

كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا كُلِّهَا

“Mereka mendustakan tanda-tanda kekuasaan Kami semuanya …” (QS. Al-Qamar: 42). Yang dimaksud dengan tanda-tanda dalam ayat ini adalah para Imam. Maknanya, siksaan yang menimpa Fir’aun dan kaumnya disebabkan oleh pendustaan mereka terhadap para imam.

  • Bab: Yang dimaksud dengan orang-orang berilmu yang Allah perintahkan agar para makhluk bertanya kepada mereka adalah para Imam ‘alaihimussalam. (Jilid 1, hlm. 210). Yakni dalam firman Allah Ta’ala,

فَسْـَٔلُوٓا۟ أَهْلَ ٱلذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Bertanyalah kepada orang yang memiliki pengetahuan bila kalian tidak mengetahui” (QS. An-Nahl: 43).

  • Bab: Al-Qur’an membimbing kepada para Imam. (Jilid 1, hlm. 216).

Dalam bab ini disebutkan tafsir firman Allah ‘Azza wa Jalla:

إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus …” (QS. Al-Isra: 9). Yakni memberi petunjuk kepada Imam. 

Dalam bab ini juga disebutkan tafsir firman Allah ‘Azza wa Jalla:

وَالَّذِينَ عَقَدَتْ أَيْمَانُكُمْ

“… Dan (jika ada) orang-orang yang kamu telah bersumpah setia dengan mereka …” (QS. An-Nisa: 33). Yang dimaksud adalah para Imam ‘alaihimussalam dan Allah ‘Azza wa Jalla menetapkan sumpah setia kalian dengan para Imam.

  • Bab: Kenikmatan yang disebutkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla dalam kitab-Nya adalah para Imam ‘alaihimussalam. (Jilid 1, hlm. 217)

Dalam bab ini disebutkan tafsir firman Allah ‘Azza wa Jalla:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ بَدَّلُوا نِعْمَتَ اللَّهِ كُفْرًا

“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran …” (QS. Ibrahim: 28). Mereka meyakini bahwa Ali radhiyallahu ‘anhu berkata,

“Kami adalah nikmat yang Allah karuniakan kepada para hamba-Nya. Dengan kami, selamatlah orang yang selamat pada hari kiamat.”

Dalam bab ini juga disebutkan tafsir firman Allah ‘Azza wa Jalla dalam surah Ar-Rahman:

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

“Maka, nikmat Tuhan-Mu yang manakah yang engkau dustakan?” (QS. Ar-Rahman: 13). Yakni apakah terhadap Nabi atau penerima wasiat (Imam), kalian (jin dan manusia) mendustakan?

  • Bab: Amalan para hamba akan ditampakkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Imam ‘alaihimussalam. (Jilid 1, hlm. 219).
  • Bab: Para Imam ‘alaihimussalam memiliki seluruh kitab yang diturunkan dari Allah ‘Azza wa Jalla, dan mereka dapat membacanya meskipun bahasanya berbeda-beda. (Jilid 1, hlm. 227).
  • Bab: Tidak ada yang mampu menghimpun (menghafal) seluruh Al-Qur’an kecuali para Imam ‘alaihimussalam, dan mereka mengetahui seluruh ilmu yang ada di dalamnya. (Jilid 1, hlm. 228).
  • Bab: Para Imam ‘alaihimussalam mengetahui seluruh ilmu yang diajarkan kepada para malaikat, para nabi, dan para rasul ‘alaihimussalam. (Jilid 1, hlm. 255).
  • Bab: Para Imam ‘alaihimussalam mengetahui kapan akan meninggal dunia, dan mereka tidak akan meninggal kecuali dengan pilihan mereka sendiri. (Jilid 1, hlm. 258). 
  • Bab: Para Imam ‘alaihimussalam mengetahui tentang apa yang telah terjadi dan yang akan terjadi, tidak ada yang tersembunyi dari mereka. (Jilid 1, hlm. 260).
  • Bab: Allah ‘Azza wa Jalla tidak mengajarkan kepada nabi-Nya suatu ilmu kecuali juga memerintahkannya untuk mengajarkan ilmu itu kepada Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib), dia adalah sekutunya dalam ilmu. (Jilid 1, hlm. 263).
  • Bab: Tidak ada kebenaran sedikit pun yang dimiliki oleh seseorang kecuali kebenaran itu keluar dari para Imam ‘alaihimussalam, dan segala hal yang tidak keluar dari mereka adalah perkara batil. (Jilid 1, hlm. 399).

Seluruh bab tersebut mengandung hadis-hadis dari periwayatan mereka sendiri. Bab-bab itu disebutkan dalam kitab yang dicetak Maktabah ash-Shaduq, Teheran, dengan tahun 1381 Hijriah.

Kitab ini termasuk salah satu kitab rujukan mereka yang paling penting, atau bahkan yang terpenting. Dalam pendahuluannya terdapat pujian besar terhadap kitab tersebut dan penulisnya, yang wafat pada tahun 329 Hijiriah.

Hal-hal yang saya nukil ini merupakan beberapa contoh dari sikap berlebihan dari para pendahulu mereka terhadap para Imam.

Adapun ulama kontemporer mereka, yang paling menonjol pada zaman ini adalah al-Khumaini. Dia berkata dalam kitabnya yang berjudul al-Hukumah al-Islamiyah, halaman 52, yang merupakan bagian dari cetakan al-Maktabah al-Islamiyah al-Kubra di Teheran,

“Penetapan kewenangan dan kekuasaan pemerintahan bagi imam tidak berarti bahwa dia kehilangan kedudukannya di sisi Allah atau menjadi setara dengan para penguasa lainnya.

Sebab, imam memiliki kedudukan yang terpuji, derajat yang tinggi, dan kekhalifahan alam semesta, yang seluruh materi alam semesta ini tunduk kepada kewenangan dan kekuasaannya. 

Di antara perkara pokok dalam mazhab kami yaitu bahwa para Imam memiliki kedudukan yang tidak dapat diraih oleh malaikat yang dekat dengan Allah maupun nabi yang diutus.

Berdasarkan berbagai riwayat dan hadis yang kami miliki, Rasulullah yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Imam ‘alaihimussalam adalah cahaya sebelum mereka diciptakan (menjadi manusia).

Allah menjadikan mereka berada di sekitar arsy-Nya dan memberi mereka kedudukan yang sangat dekat dengan-Nya yang hanya diketahui oleh-Nya.

Malaikat Jibril telah berkata kepada Rasulullah dalam hadis-hadis yang berkaitan dengan Mi’raj, “… Seandainya kamu mendekat lagi seruas jari, niscaya kamu akan terbakar.”

Diriwayatkan dari para Imam bahwa mereka berkata, “Sesungguhnya kami memiliki kedudukan di sisi Allah yang tidak dapat dicapai oleh malaikat yang dekat dengan Allah maupun nabi yang diutus.”

Saya telah menukil ucapan ini dari al-Kulaini dan al-Khumaini dalam artikel yang berjudul “Apakah bersikap berlebihan terhadap sebagian keluarga Nabi, tetapi antipati terhadap para Nabi dan sahabat?”

Dalam artikel ini, saya membantah ucapan buruk dari Yasir al-Habib (nama yang memiliki arti mudah dan dicintai), yang pada hakikatnya dia adalah Asir Bagith (orang yang sulit dan dibenci).

Artikel ini telah dicetak secara tersendiri dan dicetak juga dalam kumpulan buku dan artikelku (jilid 7, hlm. 7–31). Asir Bagith ini telah berkata,

“Kami orang-orang syiah berkeyakinan bahwa para wali Allah ‘Azza wa Jalla yang terbaik setelah 14 orang yang maksum (terjaga dari dosa) adalah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam.

Berdasarkan penelitian para ulama, makhluk paling mulia adalah Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib dan Fatimah az-Zahra’ yang berada di tingkatan yang sama.

Setelah itu, Hasan dan Husain, lalu junjungan kami, Imam Mahdi. Selanjutnya, para imam dari keturunan Husain, mulai dari as-Sajjad hingga al-Askari, berada di tingkatan yang sama, kemudian Nabi Ibrahim Al-Khalil.”

Sekte Ismailiyah

Adapun sekte Ismailiyah, Ibnu al-Atsir telah berkata dalam kitabnya al-Lubab fi Tahdzib al-Ansab, jilid 1, hlm. 47,

“Adapun sekte Ismailiyah, mereka adalah kelompok kebatinan yang dinisbatkan kepada Muhammad bin Ismail bin Ja’far ash-Shadiq karena pemimpin mereka memiliki nasab dari Muhammad bin Ismail.

Namun, dalam kitab asy-Syajarah tidak ada catatan tentangnya. Saya katakan bahwa yang benar adalah sekte Ismailiyah mengangkat Ismail bin Ja’far bin Muhammad sebagai pemimpin sehingga sekte ini dinisbatkan kepadanya. 

Saya memberikan komentar setelah ucapan “saya katakan” dari Ibnu al-Atsir ini dan ucapan sebelumnya dari as-Sam’ani dalam kitab al-Ansab. Buku tentang sekte ini telah ditulis oleh Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir dengan judul al-Ismailiyyah: Tarikh wa Aqaid (Ismailiyah: Sejarah dan Berbagai Kepercayaannya).

Dr. Sulaiman bin Abdullah as-Salumi, salah satu pengajar di Universitas Ummul Qura, juga menulis buku serupa dengan judul Ushul al-Ismailiyah; Dirasah, Tahlil, Naqd (Akidah-Akidah Ismailiyah: Penelitian, Analisis, dan Kritik).

Dua buku tersebut telah tersebar di internet dalam website al-Maktabah al-Waqfiyah. Berikut adalah beberapa ucapan yang dinisbatkan kepada Ismailiyah yang disebutkan dalam buku Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir:

  • Makna salat adalah menaati Amirul Mukminin (yakni Ali) dan para imam yang dipilih oleh Allah dari keturunannya. (Kitab al-Kasyf karya Ja’far bin Manshur al-Yaman, hlm. 28).
  • Hakikat salat adalah menyambung hubungan dengan imam. (Kitab Kanzu al-Walad karya Ibrahim bin Husain al-Hamidi, hlm. 286).
  • Dari Ali, ia berkata, “Menunaikan zakat adalah mengakui para imam dari keturunanku.” (Kitab Zahratul Ma‘ani karya Idris ‘Imaduddin, hlm. 74).
  • Puasa adalah sikap diam di antara Ahli Zhahir (orang-orang yang masih berada di tingkatan pelaksana syariat, belum mencapai derajat hakikat) dan menyembunyikan rahasia dari mereka.

Adapun puasa bulan Ramadan adalah menyembunyikan derajat al-Qaim (Imam al-Mahdi) … Makna ayat, “barang siapa di antara kamu berada di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu” (QS. Al-Baqarah: 185), yaitu barang siapa mendapati zaman imam, hendaklah dia senantiasa bersikap diam. (Kitab al-Iftikhar karya Abu Ya’qub as-Sijistani, hlm. 126).

  • Haji ke Baitullah berarti menghadap imam pada zamannya dengan tujuan ketaatan … Tujuan dari haji ke Baitullah adalah untuk mengenal para imam. (Kitab al-Iftikhar karya Abu Ya’qub as-Sijistani, hlm. 126). 
  • Ja’far bin Manshur al-Yaman berkata, “Yang dimaksud dengan ar-Rafts, al-Fusuq, dan al-Jidal (dalam surah Al-Baqarah: 197) adalah Abu Bakar, Umar, dan Utsman.” (Kitab al-Kasyf, hlm.125).
  • Abu Ya’qub as-Sijistani berkata, “Yang dimaksud dengan al-Arsy dan al-Kursy adalah akal dan jiwa.” (Kitab al-Iftikhar, hlm. 40). 
  • Hatim bin Ibrahim berkata, “Pohon yang dilarang untuk dimakan buahnya oleh Adam adalah Habim bin Adam karena Adam menjadikannya sebagai penerusnya.” (Kitab asy-Syumus az-Zahirah bab Kisah Adam).
  • Ja’far bin Manshur al-Yamani berkata tentang makna ayat “Bahwa mereka (wanita-wanita beriman) tidak akan menyekutukan Allah dengan apa pun” (QS. Al-Mumtahanah: 12),

“Yaitu mereka berbaiat untuk tidak menyeru kepada selain Imam yang telah Allah pilih. Barang siapa menyeru kepada selain Imam yang telah Allah pilih, maka sesungguhnya dia telah berbuat syirik kepada Allah.” (Kitab al-Kasyf, hlm.165).

Aliran Ibadhiyah

Adapun berkaitan dengan aliran Ibadhiyah, Ahmad al-Khalili (salah satu ulama besar aliran Ibadhiyah) telah menulis buku tentangnya yang berjudul al-Haq ad-Damigh (Kebenaran yang Mengalahkan).

Isi buku ini menafikan kemungkinan kaum Mukminin dapat melihat Tuhan mereka di akhirat kelak, menegaskan pendapat bahwa Al-Qur’an adalah makhluk, dan pendapat bahwa para pelaku maksiat akan kekal di neraka.

Namun, Syaikh Ali bin Muhammad Nashir al-Faqihi telah menulis buku yang membantah pernyataan al-Khalili tersebut. Judul buku bantahan ini adalah ar-Radd al-Qawim al-Baligh ‘ala Kitab al-Khalili al-Musamma bi al-Haqq ad-Damigh (Bantahan Kuat atas Buku al-Khalili yang Berjudul al-Haq ad-Damigh).

Buku ini berisi bantahan terhadap keingkaran al-Khalili bahwa orang-orang beriman tidak dapat melihat Tuhan mereka di akhirat, pernyataannya bahwa Al-Qur’an adalah makhluk, dan bahwa para pelaku maksiat dari kaum Muslimin akan kekal di neraka.

Dalam buku ini, Syaikh Ali al-Faqihi merangkum ucapan al-Khalili ke dalam tiga pembahasan dan memberikan bantahan pada dua halaman pertama buku tersebut. Beliau berkata,

“Orang-orang beriman dapat melihat Allah ‘Azza wa Jalla di akhirat adalah perkara yang ditegaskan dalam hadis-hadis sahih, dari jalur yang telah mencapai derajat mutawatir menurut para ulama hadis, tidak mungkin dapat dibantah dan ditolak.

Di antaranya adalah hadis Abu Said al-Khudri dan Abu Hurairah yang ada dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim bahwa para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah kita akan melihat Tuhan kita pada hari kiamat?’

Beliau menjawab, ‘Apakah kalian akan kesulitan (berdesakan) ketika melihat matahari dan bulan yang tidak terhalangi awan?’ Para sahabat menjawab, ‘Tidak!’

Beliau menanggapi, ‘Kalian juga akan melihat Tuhan kalian seperti itu.’ Ini adalah sabda dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Namun, al-Khalili menukil hadis ini dan hadis-hadis lainnya, kemudian berkata (dan sungguh picik perkataannya),

“Wahai pembaca yang budiman, kamu dapat mengetahui dengan kecerdasanmu bahwa memahami hadis-hadis ini secara tekstual dapat mengarahkan kepada perkara yang tertolak oleh akal dan terbantah oleh bukti yang meyakinkan.”

Inilah yang dia katakan, bahwa hadis-hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sahih dalam Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, dan lainnya dianggap dusta oleh bukti yang dikemukakan Al-Khalili dan ditolak oleh akalnya sendiri.

Al-Khalili berkata dalam bukunya pada halaman 112–113,

“Firman Allah Ta’ala, ‘Dan tidak mungkin bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir …’ (QS. Asy-Syura: 51).

Penyampaian firman secara langsung dari balik tabir, apabila dinisbatkan kepada Allah, maknanya adalah penciptaan suara yang terdengar yang tidak berasal dari sesuatu, yang mengabarkan tentang maksud dari Allah, dan diterima oleh pendengaran orang yang dikhususkan oleh Allah untuk menerima firman itu.

Dengan pengertian inilah firman yang Allah sampaikan secara langsung kepada Nabi Musa ‘alaihissalam.” Inilah yang diucapkan oleh al-Khalili.

Bacalah firman Allah Ta’ala ketika berfirman kepada Nabi Musa:

إِنِّي أَنَا رَبُّكَ فَاخْلَعْ نَعْلَيْكَ ۖ إِنَّكَ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًى وَأَنَا اخْتَرْتُكَ فَاسْتَمِعْ لِمَا يُوحَىٰ إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

“Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu; sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa. Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu).

Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku.” (QS. Thaha: 12–14).

Apakah suara yang didengar oleh Nabi Musa tidak berasal dari apa pun? Padahal Allah berfirman kepada Musa, “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah … maka sembahlah Aku”?

Al-Khalili juga berpendapat bahwa seluruh pelaku dosa besar dari umat Nabi Muhammad akan kekal di neraka, meskipun mereka meninggal dunia dalam keadaan bertauhid (mengesakan Allah). Padahal Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya …” (QS. An-Nisa: 48).

Allah Ta’ala juga berfirman dalam hadis qudsi yang diriwayatkan oleh Abu Dzar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 يقول الله عز وجل وَمَنْ لَقِيَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطِيئَةً لَا يُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَقِيتُهُ بِمِثْلِهَا مَغْفِرَةً

“Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: ‘… Dan barang siapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula.’” (HR. Muslim no. 2687).

Demikianlah contoh-contoh yang ada dalam kitab dari tiga aliran sesat ini dan menjadi jelas kebatilan akidah yang mereka ikuti. Hasan bin Farhan al-Maliki (seorang penganut Syiah)—sebagaimana yang disebutkan di internet—telah mengungkapkan rahasia dari ucapan Syaikh al-Maghamisi ini.

Dia berkata, “Syaikh al-Maghamisi telah berbicara denganku tentang hal ini (yang menyamakan Ahlusunah dengan sekte-sekte sesat ini) di rumahnya beberapa bulan yang lalu. Kemudian saya mendorongnya agar berkenan menyampaikan hal ini kepada khalayak umum.”

Melalui pernyataan ini, telah jelas bahwa ucapan al-Maghamisi tersebut merupakan pengaruh dari teman yang buruk. Ini bukanlah hal yang aneh lagi bagi Hasan bin Farhan al-Maliki. Sebelumnya, dia juga telah memenuhi hatinya dengan kedengkian terhadap para sahabat dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka.

Saya telah menulis bantahan terhadapnya melalui dua buku dan dua artikel. Yang terakhir saya tulis pada tanggal 26 Safar 1434 H dengan judul az-Zindiq ar-Rafidhi Yufadhdhilu al-Khumaini ‘ala Katib al-Wahyi Mu’awiyah Radhiyallahu ‘Anhu” (Si Zindiq Penganut Syiah Rafidhah Lebih Mengutamakan al-Khumaini daripada Penulis Wahyu, Muawiyah Radhiyallahu ‘Anhu).

Bahkan, pendusta ini juga berceloteh bahwa Khumaini jauh lebih baik daripada Muawiyah. Semua tulisan bantahan saya ini telah dipublikasikan di internet.

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْوَهَّابُ

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)”

رَبَّنَا ٱغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلْإِيمَٰنِ وَلَا تَجْعَلْ فِى قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

“Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”

Semoga selawat, salam, dan keberkahan senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad, serta keluarga dan para sahabat beliau.

Sumber: 

https://al-abbaad.com/articles/299858

PDF Sumber Artikel

🔍 Hukum Istri Meninggalkan Suami Untuk Bekerja, Ngintip Mandi Online, 5 Kriteria Seorang Pemimpin Menurut Islam, Al Quran Diturunkan Pada Tanggal, Arti Riya Dalam Islam

Visited 1 times, 1 visit(s) today

QRIS donasi Yufid