Segala puji hanya bagi Allah Yang Maha Kuasa, Maha Kuat, milik-Nya segala daya dan kekuatan, yang wajib diibadahi dan diagungkan dengan ucapan dan perbuatan, yang menyelamatkan orang-orang beriman dan yang menghancurkan orang-orang kafir saat huru-hara terbesar terjadi.
غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ ذِي الطَّوْلِ
“(Yang) Mengampuni dosa dan Menerima tobat, Maha Keras hukuman-Nya, dan Memiliki karunia (yang besar)…” (QS. Ghafir: 3)
Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya, Yang Menciptakan tujuh lapis langit, Yang Mengadakan seluruh makhluk dengan segala keajaiban penciptaan dalam keselarasan dan perbedaannya.
رَفِيعُ الدَّرَجَاتِ ذُو الْعَرْشِ يُلْقِي الرُّوحَ مِنْ أَمْرِهِ عَلَى مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ لِيُنْذِرَ يَوْمَ التَّلَاقِ
“(Dialah) Yang Maha Tinggi derajat-Nya, Yang memiliki ‘Arsy, Yang menurunkan wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, agar dia memperingatkan (manusia) tentang hari pertemuan (hari kiamat).” (QS. Ghafir: 15)
Saya juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, pemberi peringatan yang Allah utus dengan kabar gembira, kekasih yang Allah mudahkan dirinya dan siapa saja yang mengikutinya menuju kemudahan, yang Allah berfirman tentang beliau,
مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَىٰ لَقَدْ رَأَىٰ مِنْ آيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَىٰ
“Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dan tidak melampaui batas. Sungguh, dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kebesaran) Tuhannya yang paling besar.” (QS. An-Najm: 17-18)
Ya Allah, limpahkanlah selawat dan salam kepada beliau, sebagaimana Engkau telah mengutamakan kami dengan mengutus beliau kepada kami, bukan kepada kaum selain kami. Limpahkanlah juga selawat dan salam kepada keluarga beliau—yang berkat kedekatan nasab dengan beliau—mereka mendapat kemuliaan yang tinggi, juga kepada para sahabat beliau yang Engkau telah berfirman tentang mereka,
مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا
“Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya.” (QS. Al-Fath: 29)
Amma ba’du.
Saya wasiatkan kepada saudara-saudara tercinta dan diri saya pribadi agar bertakwa kepada Allah Yang Maha Mengawasi setiap gerak-gerik kalian, dan agar mengikuti setiap perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, karena sungguh ajal amat dekat, serta agar bertaubat kepada-Nya,
وَمَا يَتَذَكَّرُ إِلَّا مَنْ يُنِيبُ
“Dan tidak ada yang mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang kembali (kepada Allah).” (QS. Ghafir: 13)
Wahai orang-orang beriman! Akhir-akhir ini kita sibuk dengan perkara yang bukan rahasia lagi sedang panas di media sosial. Sedangkan di masa lalu kita juga sibuk dengan perkara-perkara lainnya, dan kelak di hari-hari ke depan—jika Allah masih memberi kita umur panjang—kita akan sibuk juga dengan perkara-perkara lain yang tidak pernah selesai: ada perkara yang muncul dengan sendirinya, ada juga yang muncul karena faktor lain. Dan hanya Allah yang mengetahui tujuan orang yang memicunya.
Di antara urusan ini dan itu, manusia melewati pagi dan petangnya dengan tetap berkutat di tempat dalam perjalanannya menuju Allah tanpa ada kemajuan, sehingga ia tidak memperoleh bekal untuk menyokong perjalanannya menuju negeri akhirat, tidak pula dapat memperbaiki kondisi duniawinya.
Ini bukanlah untuk meremehkan derajat mencegah kemungkaran dan orang-orang yang berjuang di atasnya, tetapi saya di sini menyeru diri saya pribadi dan Anda sekalian kepada perkara yang tidak mungkin ditinggalkan, baik ketika sedang mukim maupun safar, semasa hidup maupun setelah mati, yaitu perkara ikhlas kepada Zat yang di tangan-Nya kerajaan langit dan bumi. Karena keikhlasan adalah kunci penerimaan ibadah dan menjadi pembeda nilai setiap amalan dan pahalanya di sisi Allah Ta’ala.
Oleh karena itu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,
وَالْعَبْدُ قَدْ يَأْتِي بِالْحَسَنَةِ بِنِيَّةٍ وَصِدْقٍ وَإِخْلَاصٍ تَكُونُ أَعْظَمَ مِنْ أَضْعَافِهَا
“Terkadang seorang hamba mengerjakan satu kebaikan dengan niat yang baik, tulus, dan ikhlas yang menjadikannya amalan yang lebih agung daripada amalan yang berkali-kali lipatnya.”
Wahai saudara-saudara, keikhlasan merupakan hasil dari pengenalan terhadap nama dan sifat-sifat Allah Ta’ala yang membuahkan rasa cinta, rasa takut, dan rasa harap kepada-Nya.
Boleh saja seseorang bertanya, “Apa itu ikhlas?” Dan saya jawab, “Ikhlas adalah kondisi amalan-amalan hamba sama secara lahir dan batin.” Pada hari ini saya tidak akan membahas tentang cara meraih keikhlasan, tetapi cara seseorang mengetahui apakah dirinya orang yang ikhlas atau bukan.
Berikut ini adalah tanda-tanda keikhlasan, lalu timbanglah diri dan kondisimu dengan tanda-tanda itu. Ketika itu, engkau akan mengetahui bahwa keikhlasan sangat langka ditemukan dalam amalan, sangat jarang ada dalam jiwa. Hal itu karena Allah ‘Azza wa Jalla hanya menerima amalan dari orang-orang bertakwa, sedangkan banyak dari kita yang menganggap dirinya orang yang bertakwa atau mendekati itu, padahal antara dirinya dan mereka bagaikan antara timur dan barat. Ya Allah, kasihilah kami dengan rahmat-Mu!
Pertama:
Senantiasa mengharap ridha Allah dan terbebas dari riya’. Hal ini dapat terwujud ketika seseorang tidak mengharapkan manfaat duniawi dari amalan akhiratnya, menghindari kemudaratan dunia dengannya, atau mencari pujian dan ketenaran dengannya.
Dengarkanlah apa yang diucapkan Muhammad bin al-Qasim ini, “Aku pernah mendengar Muhammad bin Aslam mengucapkan sumpah beberapa kali: ‘Andai aku mampu mengerjakan amalan sunnah tanpa dilihat oleh dua malaikat yang menyertaiku, niscaya aku akan melakukannya karena takut terhadap riya!’
Dulu beliau pernah masuk rumah dan menutup pintunya, sehingga aku tidak mengetahui apa yang ia perbuat, hingga aku mendengar anaknya yang masih kecil menceritakan tentang tangisan ayahnya, sehingga ibunya pun melarang anak itu. Aku lalu bertanya kepada ibunya, ‘Ada apa ini?’ Ia menjawab: ‘Abu al-Hasan memasuki rumah lalu membaca (al-Qur’an) dan menangis, sehingga didengar oleh anaknya dan anaknya menceritakan tangisan itu.’ Dulu beliau apabila hendak keluar rumah, mencuci muka dan memakai celak agar bekas tangisannya tidak terlihat.”
Hal ini karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, sebagaimana disebutkan dalam Sahih Muslim,
إِنَّ اللهَ يُحِبُّ العَبْدَ التَّقِيَّ الغَنِيَّ الخَفِيَّ
“Sesungguhnya Allah menyukai hamba yang bertakwa, merasa cukup (kaya hati), dan tersembunyi (tidak menonjolkan diri/ikhlas).” (HR. Muslim)
Kedua:
Suka beramal ketika sendirian dan secara diam-diam. Ini adalah salah satu tanda paling menonjol dari keikhlasan. Orang-orang yang ikhlas sangat berusaha menyembunyikan amal saleh mereka yang bukan fardu. Karena amalan yang rahasia sangat menghinakan setan, serta jauh dari tercampur dengan riya, ujub, dan keinginan untuk tenar.
Para salafus shalih punya banyak kisah dalam hal ini, seperti yang dikisahkan Yahya bin Ma’in. Ia berkata bahwa dulu Yahya bin Said al-Qattan pergi bersamanya dengan membawa tasbih. Beliau memasukkan tangannya ke dalam kantong baju, lalu bertasbih (agar orang-orang tidak mengetahui ia sedang bertasbih). Ini adalah tabiat mereka, bukan semata-mata hal yang bidah, karena seburuk-buruk makhluk adalah pelaku bidah.
Ketiga:
Batin yang selaras dengan lahiriah, apa yang dirahasiakan tidak menyelisihi apa yang ditampakkan. Ini merupakan salah satu sifat para hamba Allah yang ikhlas, yang mengamalkan apa yang mereka ucapkan. Dengan sifat ini, mereka menyelisihi orang-orang munafik yang Allah sebutkan dalam firman-Nya,
يَقُولُونَ بِأَلْسِنَتِهِمْ مَا لَيْسَ فِي قُلُوبِهِمْ
“Mereka mengucapkan dengan lidahnya apa yang tidak ada dalam hatinya.” (QS. Al-Fath: 11)
Ibnu al-A’rabi berkata, “Orang yang paling rugi adalah yang menunjukkan amal salehnya kepada manusia, tapi menantang Zat yang lebih dekat kepadanya dari urat lehernya dengan amal keburukan.”
Keempat:
Takut amal salehnya tidak diterima. Ini adalah sifat yang Allah sebutkan bagi orang-orang yang ikhlas dalam firman-Nya,
وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ
“Dan mereka yang memberikan apa yang telah mereka berikan dengan hati yang takut (karena mereka tahu) bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (QS. Al-Mu’minun: 60)
Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Yakni mereka memberi pemberian, tetapi khawatir dan takut itu tidak diterima oleh Allah.”
Diriwayatkan dari Muhammad bin Malik bin Dhughaim, ia berkata, “Maulana Abu Ayyub menceritakan kepadaku, ‘Suatu hari Abu Malik pernah berkata kepadaku: ‘Wahai Abu Ayyub! Berhati-hatilah terhadap dirimu sendiri, karena aku melihat kegusaran orang-orang beriman di dunia tidak ada habisnya. Demi Allah! Seandainya hari akhir tidak datang membawa kegembiraan bagi orang beriman, niscaya terkumpul padanya dua perkara, yaitu kegusaran dunia dan kesengsaraan akhirat.’
Aku pun bertanya kepadanya: ‘Ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, bagaimana mungkin hari akhir tidak membawa kegembiraan baginya, padahal dia telah bersusah payah dan berlelah-lelah di dunia karena Allah?’
Beliau menjawab: ‘Wahai Abu Ayyub, bagaimana dengan penerimaan amalan? Bagaimana dengan keselamatan?’ Lalu beliau melanjutkan, ‘Betapa banyak orang yang merasa telah memperbaiki keadaannya, telah membaguskan persembahannya, telah memperbaiki niatnya, telah memperbaiki amalannya, lalu semua itu dikumpulkan pada hari kiamat, kemudian dilemparkan ke wajahnya!’”
Kelima:
Menghindar dari sikap ujub dan menganggap dirinya suci. Ini adalah sifat orang ikhlas yang mengetahui bahwa Allahlah yang telah memberinya karunia dengan segala nikmat, mengaruniakan kepadanya jasad untuk beribadah kepada-Nya, juga mengaruniakan kepadanya taufik untuk ibadah. Masruq rahimahullah berkata,
كَفَى بِالْمَرْءِ عِلْمًا أَنْ يَخْشَى اللَّهَ، وَكَفَى بِالْمَرْءِ جَهْلًا أَنْ يُعْجَبَ بِعَمَلِهِ
“Cukuplah seseorang dianggap berilmu jika ia takut kepada Allah, dan cukup seseorang dianggap bodoh jika ia merasa bangga dengan amalnya.”
Keenam:
Wahai para pelaku perbaikan! Tanda terakhir dari keikhlasan kepada Allah adalah berusaha melawan hawa nafsu dan menjadikannya tunduk pada kebenaran. Ini termasuk tanda yang paling susah bagi jiwa orang-orang yang ikhlas, karena hawa nafsu adalah kecondongan kepada tabiat jiwa, tidak akan ada orang yang dapat terlepas darinya kecuali orang-orang beriman yang benar-benar tulus.
Agar dapat terlepas dari hawa nafsu dibutuhkan pengawasan ketat terhadap hati dan perlawanan besar terhadap jiwa. Oleh karena itu, buah manis bagi orang yang mampu menyelisihi hawa nafsunya demi kebenaran adalah surga. Allah Ta’ala berfirman,
وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الهَوَىٰ فَإِنَّ الجَنَّةَ هِيَ المَأْوَىٰ
“Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya, maka sungguh, surgalah tempat tinggal(nya).” (QS. An-Naziat: 40-41)
Sang khalifah zuhud, Umar bin Abdul Aziz rahimahullah berkata,
لَا تَكُنْ مِمَّنْ يَتَّبِعُ الْحَقَّ إِذَا وَافَقَ هَوَاهُ، وَيُخَالِفُهُ إِذَا خَالَفَ هَوَاهُ، فَإِذًا أَنْتَ لَا تُثَابُ عَلَى مَا وَافَقْتَهُ مِنَ الْحَقِّ وَتُعَاقَبُ عَلَى مَا تَرَكْتَهُ مِنْهُ؛ لِأَنَّكَ إِنَّمَا اتَّبَعْتَ هَوَاكَ فِي الْمَوْضِعَيْنِ
“Janganlah jadi orang yang mengikuti kebenaran jika itu sesuai dengan hawa nafsumu, dan menyelisihi kebenaran jika itu bertentangan dengan hawa nafsumu. Karena jika demikian, engkau tidak akan mendapat pahala karena mengikuti kebenaran dan akan disiksa karena meninggalkan kebenaran, sebab pada dasarnya engkau hanya menuruti hawa nafsumu dalam dua keadaan itu.”
Ya Allah, karuniakanlah kepada kami keikhlasan dalam beribadah kepada-Mu dan mengikuti sunnah Nabi-Mu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sungguh Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
***
Syaikh Musyari bin Isa al-Mubli’
Sumber: https://www.alukah.net/sharia/0/62561/أمارات-الإخلاص/
🔍 Puasa Syawal Harus Berurutan Atau Tidak, Pengetahuan Islam Tentang Jodoh, Raja Dalam Islam, Shalat Sunnah Jum At, Amalan Agar Dapat Jodoh Yang Diinginkan
