Mari bersama menabung pahala amal jariyah untuk kehidupan kita kelak di akhirat.   BSI: 7086882242
a.n. Yayasan Yufid Network  

Seluruh dana untuk operasional produksi konten dakwah di Yufid: Yufid.TV, YufidEDU, Yufid Kids, website dakwah (KonsultasiSyariah.com, Yufid.com, KisahMuslim.com, Kajian.Net, KhotbahJumat.com, dll).

Yufid menerima zakat mal untuk operasional dakwah Yufid

AQIDAH

Kebenaran Hanya Ada di Syariat Islam, Tidak Tersebar di Seluruh Agama dan Kepercayaan

Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Selawat, salam, dan keberkahan semoga selalu tercurah kepada Rasul yang diutus sebagai rahmat bagi semesta alam, Nabi Muhammad, dan kepada seluruh keluarga, sahabat, dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan sebaik-baiknya hingga hari kiamat.

Amma ba’du.

Saya telah membaca dokumen yang diambil dari website Universitas Islam Madinah (UIM) yang ada di Madinah al-Munawwarah berkaitan dengan Seminar Internasional yang diadakan oleh Universitas Islam Madinah, dengan menghadirkan undangan dari International Islamic University Malaysia (IIUM).

Seminar ini membahas tentang inisiatif dari Pelayan Dua Tanah Suci, Raja Abdullah bin Abdul Aziz untuk mengadakan diskusi antarumat beragama dan kepercayaan. Seminar ini dimulai pada tanggal 18 Zulhijah 1433 H. 

Dalam seminar ini, Rektor Universitas Islam Madinah (UIM)—Madinah al-Munawwarah, Dr. Muhammad al-Uqla menyampaikan penegasannya bahwa toleransi agama Islam mengakui kebenaran dapat datang dari sumber mana saja dan mengakui kebenaran tanpa melihat siapa yang berkata. Beliau menambahkan bahwa asas diskusi antarumat beragama adalah asas yang murni bersumber dari al-Qur’an dan metode Nabawi yang disyariatkan. 

Hal ini karena kita mendapatkan bahwa al-Qur’an menyeru para Ahli Kitab—dan bahkan orang-orang musyrik—lebih dari satu kali, untuk berdiskusi dengan mereka tentang syubhat-syubhat yang mereka miliki, menanyakan dalil-dalil mereka, membalas bukti dengan bukti yang lain, memulai sanggahan dari apa yang mereka imani, dan membantah mereka atas apa yang mereka yakini, serta mendebat mereka tentang penyelisihan mereka terhadap kebenaran. 

Beliau juga menyebutkan bahwa asas inilah—berkat taufik Allah—yang menjadi dasar bagi Pelayan Dua Tanah Suci, Raja Abdullah bin Abdul Aziz, Raja Kerajaan Arab Saudi dalam inisiatifnya yang luhur untuk mengadakan diskusi antarumat beragama dan berkeyakinan. Inilah inisiatif yang menjadi inti pembahasan dalam seminar yang diberkahi ini.

Beliau menegaskan bahwa inisiatif ini menghadirkan asumsi bahwa kebenaran dapat tersebar di mana pun, tidak ada yang boleh memonopolinya, dan kebenaran adalah perkara yang dicari oleh seluruh penganut agama dan kepercayaan, serta siapa saja dari mereka yang tidak meyakini gagasan ini maka ia tidak akan dapat merealisasikan kehidupan yang saling berdampingan, beriringan, dan toleransi, yang ini merupakan dasar dari hubungan antara satu manusia dengan manusia yang lain.

Dan diskusi merupakan media bagi pihak-pihak yang berseberangan untuk mendapatkan titik temu, yang menjadi pijakan kokoh bagi mereka dalam memulai penentuan perkara-perkara yang mereka sepakati dan hal-hal yang mereka akui bersama, dan dapat menempatkan tangan mereka pada perkara-perkara yang mereka perselisihkan tanpa mengharuskan pihak lain untuk meninggalkan akidah dan nilai-nilai yang mereka yakini demi mengikuti mereka, serta menjauhkan diri dari pencampakan terhadap pihak yang menyelisihi dan pengingkaran terhadap apa yang mereka yakini.

Beliau juga menjelaskan bahwa seminar ini bertujuan untuk menunjukkan pentingnya inisiatif Pelayan Dua Tanah Suci untuk melakukan diskusi antaragama dalam rangka realisasi seminar ini dan penyampaian gagasannya yang mulia. 

Hal ini sebagai usaha untuk mengembalikan tatanan hubungan kemanusiaan di atas dasar-dasar keadilan, toleransi, dan kerukunan antar-pemeluk agama dan kepercayaan, juga untuk menelisik lebih dalam terhadap faktor-faktor dan prospek-prospek untuk mengembalikan konstruksi kepercayaan antara dunia Islam dengan agama-agama yang lain.

Berikut adalah beberapa catatan atas sambutan—yang disampaikan oleh Dr. Muhammad al-Uqla—ini:

  1. Tidak diragukan lagi bahwa kebenaran hanya ada pada al-Qur’an dan as-Sunnah yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah beliau diutus menjadi Rasul, seluruh manusia dan jin harus beriman kepadanya dan berpegang teguh kepada agamanya yang lurus, yang Allah tidak akan menerima agama lain dari siapa pun. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ ٱلْإِسْلَٰمِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِى ٱلْءَاخِرَةِ مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ

“Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidak akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran: 85)

وَمَآ أَرْسَلْنَٰكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَٰلَمِينَ

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya: 107)

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Dan Kami tidak mengutus kamu (Muhammad), melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (QS. Saba: 28)

وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَذَا الْقُرْآنُ لأُنذِرَكُم بِهِ وَمَن بَلَغَ

“Dan al-Qur’an ini diwahyukan kepadaku supaya dengan dia aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai al-Qur’an (kepadanya).” (QS. Al-An’am: 19)

وَمَن يَكْفُرْ بِهِ مِنَ الأَحْزَابِ فَالنَّارُ مَوْعِدُهُ

“Dan barang siapa di antara mereka (orang-orang Quraisy) dan sekutu-sekutunya yang kafir kepada al-Qur’an, maka nerakalah tempat yang diancamkan baginya.” (QS. Hud: 17)

فَإِنْ حَآجُّوكَ فَقُلْ أَسْلَمْتُ وَجْهِىَ لِلَّهِ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِ ۗ وَقُل لِّلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْأُمِّيِّۦنَ ءَأَسْلَمْتُمْ ۚ فَإِنْ أَسْلَمُوا۟ فَقَدِ ٱهْتَدَوا۟ ۖ وَّإِن تَوَلَّوْا۟ فَإِنَّمَا عَلَيْكَ ٱلْبَلَٰغُ ۗ وَٱللَّهُ بَصِيرٌۢ بِٱلْعِبَادِ

“Kemudian jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran Islam), maka katakanlah, ‘Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku.’ Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al-Kitab dan kepada orang-orang yang umi, ‘Apakah kamu (mau) masuk Islam?’

Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah). Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.” (QS. Ali Imran: 20)

Dan makna dari firman Allah dalam ayat ini (ءَأَسْلَمْتُمْ) adalah, “Masuklah kalian ke dalam agama Islam!”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda dalam surat yang dikirimkan kepada Heraclius, penguasa Romawi ketika itu, “Masuklah Islam, maka kamu akan selamat.” (HR. al-Bukhari no. 7 dan Muslim no. 4607)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

“Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang dari umat ini, baik Yahudi maupun Nasrani yang mendengar tentangku, kemudian dia meninggal dan tidak beriman dengan agama yang aku diutus dengannya, kecuali dia pasti termasuk penghuni neraka.” (HR. Muslim no. 368)

Saya telah menyebutkan secara lebih terperinci tentang perkara ini dalam risalah yang saya tulis sebagai tanggapan atas produksi film di Amerika yang menghina Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Risalah ini telah dipublikasikan pada tanggal 8 Zulqadah 1433 H dengan judul Awan di Langit Tidak akan Terganggu oleh Gonggongan Anjing yang Dilindungi Demokrasi Palsu (لن يضر السحابَ في السماء نباحُ الكلاب التي تحميها الديمقراطية الزائفة).

  1. Tidak diragukan lagi bahwa kitab Taurat dan Injil yang diturunkan kepada Nabi Musa dan Isa ‘alaihimassalam adalah benar, dan orang-orang yang dulu beriman kepada dua kitab itu berada di atas kebenaran. Namun, keduanya telah mengalami pengubahan, penambahan, dan pengurangan pada zamannya masing-masing. Hal ini ditunjukkan oleh al-Qur’an dalam firman Allah ‘Azza wa Jalla,

فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَٰذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ۖ فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُونَ

“Maka kecelakaan yang besar bagi orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu mereka berkata, ‘Ini dari Allah’; (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besar bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 79)

Setiap apa yang disebutkan dalam al-Qur’an al-Karim dan as-Sunnah yang sahih yang dinisbatkan kepada Taurat dan Injil, pasti benar-benar ada dalam dua Kitab Allah itu, meskipun perkara tersebut tidak ada lagi di dalamnya setelah pengubahan. Contohnya adalah firman-firman Allah ‘Azza wa Jalla berikut,

وَكَتَبْنَا عَلَيْهِمْ فِيهَآ أَنَّ ٱلنَّفْسَ بِٱلنَّفْسِ

“Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (Taurat) bahwasanya (membunuh) jiwa (dibalas) dengan jiwa …” (QS. Al-Maidah: 45)

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِندَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالإِنْجِيلِ 

“(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang umi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka …” (QS. Al-A’raf: 187)

مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاء عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاء بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.

Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin).

Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Fath: 29) 

Ini adalah sifat-sifat para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disebutkan dalam Taurat dan Injil, tapi sudah tidak ada lagi dalam kitab yang telah diubah, yang ada di tangan orang-orang Yahudi dan Nasrani sekarang.

  1. Syariat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengganti syariat-syariat sebelumnya, hukum dan amalan agama hanya yang disebutkan dalam syariat Islam, dan segala perkara yang boleh bersandar pada syariat Islam. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَى شَرِيعَةٍ مِّنَ الأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاء الَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ إِنَّهُمْ لَن يُغْنُوا عَنكَ مِنَ اللَّهِ شَيئًا وإِنَّ الظَّالِمِينَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُتَّقِينَ

“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sedikit pun dari siksaan Allah. Dan Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain, dan Allah adalah pelindung orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Jatsiyah: 18-19)

وَلَن تَرْضَى عَنكَ الْيَهُودُ وَلاَ النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُم بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِن وَلِيٍّ وَلاَ نَصِيرٍ

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah, ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar).’ Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 120)

وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُم بَيْنَهُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَاءهُمْ عَمَّا جَاءكَ مِنَ الْحَقِّ

“Dan Kami telah turunkan kepadamu al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.” (QS. Al-Maidah: 48)

وَأَنِ احْكُم بَيْنَهُم بِمَآ أَنزَلَ اللَّهُ وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَاءهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَن يَفْتِنُوكَ عَن بَعْضِ مَا أَنزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu.” (QS. Al-Maidah: 49)

Kita tidak perlu mencari kebenaran dan petunjuk dari kitab-kitab suci yang ada di tangan orang-orang Yahudi dan Nasrani yang telah diubah itu, serta ucapan-ucapan indah yang ada di dalamnya; karena dalam syariat Islam ada yang lebih baik dan lebih indah darinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَرَكْتُكُمْ عَلَى مِثْلِ الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لَا يَزِيغُ عَنْهَا إِلَّا هَالِكٌ

“Aku telah tinggalkan kalian di atas petunjuk yang terang, malamnya seperti siang. Tidak ada yang berpaling darinya melainkan ia akan binasa.” (Hadis sahih, diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ashim dalam as-Sunnah no. 48)

Kita tidak boleh mengatakan setelah diutusnya Nabi dan Rasul yang terakhir shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa kebenaran dapat tersebar di mana pun, tidak boleh ada seorang pun yang mengklaim sendiri kebenaran. Namun, kebenaran mutlak satu-satunya adalah seluruh makhluk yang dibebani syariat dari golongan jin dan manusia harus beriman dan berpegang kepada kebenaran dan petunjuk yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. 

Kita tidak bisa mengatakan bahwa itu adalah klaim monopoli kebenaran, tapi itu adalah komitmen terhadap apa yang Allah ‘Azza wa Jalla wajibkan kepada kita. Sebagaimana Allah ‘Azza wa Jalla firmankan,

اتَّبِعُواْ مَا أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُمْ وَلاَ تَتَّبِعُواْ مِن دُونِهِ أَوْلِيَاء قَلِيلاً مَّا تَذَكَّرُونَ

“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya).” (QS. Al-A’raf: 3)

فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلا يَضِلُّ وَلا يَشْقَى  وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنتُ بَصِيرًا قَالَ كَذَلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنسَى 

“Lalu barang siapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan tersesat dan tidak akan celaka. Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh baginya kehidupan yang sempit, dan Kami akan membangkitkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.

Ia Berkata, ‘Ya Tuhanku, mengapa Engkau membangkitkanku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?’ Allah berfirman, ‘Demikianlah telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, lalu kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan.’” (QS. Thaha: 123-126)

  1. Disebutkan dalam kalimat sambutan tersebut bahwa asas diskusi antarumat beragama adalah asas yang murni bersumber dari al-Qur’an dan metode Nabawi yang disyariatkan, dengan alasan bahwa kita mendapatkan dalam al-Qur’an ada seruan kepada Ahli Kitab—bahkan kepada orang-orang musyrik—lebih dari sekali, yang mana al-Qur’an mengajak untuk mendiskusikan syubhat-syubhat yang mereka miliki, menanyakan dalil-dalil mereka, membalas bukti dengan bukti lainnya, memulai sanggahan dari apa yang mereka imani, dan membantah mereka atas apa yang mereka yakini, serta mendebat mereka tentang penyelisihan mereka terhadap kebenaran.

Ini semua merupakan ucapan yang benar; dan orang yang mengimplementasikan dan mengamalkannya adalah para ulama Syariat. Mereka telah menulis banyak buku dalam perkara ini. Di antara buku-buku itu adalah:

  • Takhjil Man Harrafa at-Taurah wa al-Injil (Tamparan bagi Orang yang Telah Mengubah Taurat dan Injil); karya Abu al-Baqa al-Hasyimi, tahun 668 H.
  • Al-Jawab ash-Shahih Liman Baddala Din al-Masih (Jawaban Sahih atas Orang yang Telah Mengubah Agama Isa al-Masih); karya Syekhul Islam Ibnu Taimiyah, tahun 728 H.
  • Hidayah al-Hayara fi Ajwibah al-Yahud wa an-Nashara (Petunjuk bagi Orang-Orang Bingung tentang Jawaban-Jawaban untuk Kaum Yahudi dan Nasrani); karya Ibnu al-Qayyim, tahun 751 H.
  • Izhhar al-Haq (Menampakkan Kebenaran); karya Rahmatullah al-Hindi, tahun 1380 H.
  • Al-Barahin al-Injiliyah ‘ala Anna ‘Isa ‘Alaihissalam Dakhil fi al-‘Ubudiyah Wa Laa Hazhzha Lahu Min al-Uluhiyah (Bukti-Bukti dari Injil bahwa Isa ‘Alaihissalam Termasuk Hamba, dan Memiliki Sifat Ketuhanan); risalah ringkas karya Dr. Muhammad Taqiyuddin al-Hilali.

Sedangkan orang selain para ulama, apabila masuk ke dalam pembahasan seperti ini tidak dapat terjaga dari kesalahan dan ucapan terhadap Allah tanpa landasan ilmu.

  1. Adapun inisiatif Pelayan Dua Tanah Suci, Raja Abdullah—semoga Allah menjaganya dan memberinya taufik dalam menggapai rida-Nya—untuk melakukan diskusi antar-penganut umat beragama dan berkeyakinan, maka sebagaimana diketahui bahwa yang dimaksud adalah untuk menghadirkan kehidupan yang damai antar negara-negara dunia. 

Sehingga tidak timbul gangguan dari satu negara terhadap negara lainnya atau kezaliman dari satu negara terhadap negara lainnya. Di antaranya berupa kesepakatan antarnegara pada zaman ini untuk membuat kantor-kantor kedutaan besar setiap negara di negara-negara lain, demi menjamin kemaslahatan dan mengurus perkara-perkara yang berkaitan dengan negara tersebut.

  1. Ungkapan yang disampaikan dalam sambutan itu bahwa persaudaraan sesama manusia, tidak selaras dengan apa yang ada dalam al-Qur’an dan as-Sunnah yang menetapkan bahwa persaudaraan hanya antara sesama muslim, sebagaimana yang difirmankan oleh Allah ‘Azza wa Jalla,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara …” (QS. Al-Hujurat: 10)

Juga berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ

“Seorang muslim itu saudara bagi muslim yang lainnya.” (HR. Muslim no. 6578)

Syekh kami, Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah pernah menulis risalah berjudul, Laa Ukhuwwah Baina al-Muslimin wa al-Kafirin, Wa Laa Din Haq Gaira Din al-Islam (Tidak Ada Persaudaraan antara Orang-Orang Muslim dengan Orang-Orang Kafir, dan Tidak Ada Agama yang Benar selain Agama Islam).

Beliau menulisnya setelah menjabat Rektor Universitas Islam Madinah, dan dipublikasikan dalam majalah Universitas edisi keempat tahun ketujuh, pada Rabiul Akhir 1395 H. Risalah ini terhimpun dalam kitab beliau Majmu al-Fatawa jilid 2 hlm. 173.

Dalam risalah ini, beliau mengatakan, “Amma ba’du. Majalah ‘Ukazh, edisi 3031 yang diterbitkan tanggal 27/8/1394 H menyebarkan berita yang berkaitan dengan pendirian salat Jumat di Masjid Qurtuba. Majalah ini menyebutkan bahwa merayakan momen itu termasuk penguatan hubungan persaudaraan antara penganut dua agama, Islam dan Kristen.

Majalah Akhbar al-Alam al-Islami, edisi 395 yang diterbitkan pada tanggal 29/8/1394 H juga menyebarkan berita serupa. Majalah ini menyebutkan, ‘Tidak diragukan lagi bahwa kegiatan ini termasuk penegasan terhadap toleransi Islam, dan agama ini satu.’ 

Meninjau pernyataan-pernyataan tersebut yang bertentangan dengan dalil-dalil syar’i yang menunjukkan bahwa tidak ada persaudaraan dan kecintaan antara umat muslim dengan orang-orang kafir, tapi persaudaraan hanya antara sesama muslim, dan tidak ada kesatuan antara dua agama Islam dan Nasrani, karena agama Islam adalah agama yang benar yang wajib diikuti oleh seluruh penduduk bumi yang mukalaf.

Adapun agama Nasrani merupakan kekafiran dan kesesatan berdasarkan teks al-Qur’an al-Karim …” Kemudian beliau menyebutkan dalil-dalilnya dari al-Qur’an dan as-Sunnah, dan menjelaskan bahwa kebenaran hanya ada dalam agama Islam saja setelah diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Lalu beliau menambahkan, “Sedangkan agama-agama lain, baik itu Yahudi, Nasrani, atau lainnya adalah agama yang batil. Adapun kebenaran yang di dalamnya, maka syariat Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga telah datang dengan kebenaran itu atau dengan yang lebih sempurna dari itu, karena ia adalah syariat yang sempurna dan komprehensif untuk seluruh penduduk bumi.

Sedangkan syariat agama-agama lain adalah syariat-syariat eksklusif yang terhapus dengan hadirnya syariat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang merupakan syariat yang paling sempurna, komprehensif, dan bermanfaat bagi para hamba di dunia dan akhirat.”

Kemudian beliau menutup risalahnya dengan kalimat, “Seandainya ungkapan yang dipakai adalah ‘perayaan itu termasuk penguatan hubungan saling tolong menolong antara penganut dua agama (Islam dan Kristen) dalam perkara yang membawa manfaat bagi semua pihak’, niscaya itu lebih berdasar dan tidak melanggar larangan.”

Kalimat terakhir inilah yang selaras dengan inisiatif Pelayan Dua Tanah Suci hafizhahullah untuk mengadakan diskusi antar pengikut umat beragama dan berkeyakinan.

Barang siapa yang menelaah ucapan Syekh kami, Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, yang telah mengemban amanah mengurus urusan Universitas Islam Madinah sejak didirikan—15 tahun sebagai wakil dari Rektor Syekh Muhammad bin Ibrahim rahimahullah, lalu dilanjutkan sebagai rektor—dan ucapan rektor keenam ini, maka akan terang baginya perbedaan antara keadaan Universitas saat masih baru dan setelah lama berdiri. Wallahu al-Musta’an.

  1. Adapun ungkapan pada akhir sambutan itu, yaitu hendaklah kita menjauhkan diri dari pencampakan terhadap pihak yang menyelisihi dan pengingkaran terhadap apa yang mereka yakini, maka ini adalah hal yang sangat aneh dan mengherankan!

Bagaimana kaum muslimin tidak merasa aneh dan mengingkari ucapan bahwa Uzair adalah anak Allah dan Isa al-Masih adalah anak Allah, dan ucapan bahwa Allah adalah al-Masih putra Maryam, serta ucapan bahwa Allah adalah salah satu dari tiga oknum tuhan?! Padahal pengingkaran semua ini disebutkan dalam al-Qur’an al-Karim!

Saya memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar memberi taufik kepada negara Dua Tanah Suci, Saudi Arabia, baik itu penguasanya atau rakyatnya agar dimudahkan meraih segala kebaikan, menjaganya dari segala keburukan, memperbaiki keadaan kaum muslimin di segala tempat, dan menolong agama-Nya serta meninggikan kalimat-Nya. Sungguh Dia Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan doa.

Semoga selawat, salam, dan keberkahan selalu tercurah kepada hamba dan Rasul-Nya, Nabi Muhammad, dan kepada keluarga, dan seluruh sahabat beliau.

***

Abdul Muhsin bin Hamd al-Abbad al-Badr

Sumber: 

https://al-abbaad.com/articles/90-1433-12-24

PDF Sumber Artikel

🔍 Tidur Yang Membatalkan Wudhu, Nabi Khidir As Masih Hidup, Cara Mengusir Kuntilanak Yang Mengganggu, Cerita Syekh Siti Jenar, Remaja Coli

Visited 9 times, 9 visit(s) today

QRIS donasi Yufid