Mari bersama menabung pahala amal jariyah untuk kehidupan kita kelak di akhirat.   BSI: 7086882242
a.n. Yayasan Yufid Network  

Seluruh dana untuk operasional produksi konten dakwah di Yufid: Yufid.TV, YufidEDU, Yufid Kids, website dakwah (KonsultasiSyariah.com, Yufid.com, KisahMuslim.com, Kajian.Net, KhotbahJumat.com, dll).

Yufid menerima zakat mal untuk operasional dakwah Yufid

AQIDAH, Nasehat

Wasiat-Wasiat Berharga bagi Anak Keturunanku –Semoga Allah Menjadikannya Bermanfaat bagi Mereka dan selain Mereka– 

Bismillahirrahmanirrahim.

Hal terpenting yang saya wasiatkan kepada kalian adalah agar kalian bertakwa, karena itu adalah wasiat Allah bagi umat terdahulu dan umat terakhir, sebagaimana yang Allah Ta’ala firmankan,

وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ

“… dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah.” (QS. An-Nisa: 131)

Ketakwaan juga sebab bagi segala kebaikan di dunia dan akhirat, sebagaimana yang Allah ‘Azza wa Jalla firmankan, 

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مِنْ أَمْرِهِۦ يُسْرًا

“Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. At-Talaq: 4)

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّـَٔاتِهِۦ وَيُعْظِمْ لَهُۥٓ أَجْرًا

“… dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipatgandakan pahala baginya.” (QS. At-Talaq: 5)

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن تَتَّقُوا۟ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنكُمْ سَيِّـَٔاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ ذُو ٱلْفَضْلِ ٱلْعَظِيمِ

“Hai orang-orang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu furqan (kemampuan membedakan antara kebenaran dan kebatilan). Dan kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS. Al-Anfal: 29)

وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ

“… Dan bertakwalah kepada Allah; dan Allah mengajarkanmu (ilmu).” (QS. Al-Baqarah: 282)

Kuwasiatkan kepada kalian, untuk menempuh sebab-sebab kebahagiaan dan berhati-hati dari terjerumus ke dalam sebab-sebab kesengsaraan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, dan dia dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik atas apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)

فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُۥ وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُۥ

“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan sebesar zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. Az-Zalzalah: 7-8)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka, serta selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)

Kuwasiatkan kepada kalian, untuk selalu merasa diawasi oleh Allah Ta’ala dalam setiap keadaan, sehingga tidak melihatnya dalam kemaksiatan, dan selalu melihatnya dalam ketaatan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

أَلَمْ يَعْلَم بِأَنَّ اللَّـهَ يَرَىٰ

“Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya?” (QS. Al-Alaq: 14)

يَوْمَ يَبْعَثُهُمُ اللَّهُ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا ۚ أَحْصَاهُ اللَّهُ وَنَسُوهُ ۚ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

“Pada hari ketika mereka dibangkitkan Allah semuanya, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah mengumpulkan (mencatat) amal perbuatan itu, padahal mereka telah melupakannya. Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (QS. Al-Mujadilah: 6)

إِنَّ رَبَّكَ لَبِالْمِرْصَادِ

“Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi.” (QS. Al-Fajr: 14)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan makna “ihsan” yang disebutkan dalam hadis Jibril yang masyhur itu. Beliau bersabda,

 الْإِحْسَانُ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

“Ihsan adalah kamu beribadah kepada Allah seakan-akan Engkau melihat-Nya, dan jika kamu tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim)

Kuwasiatkan kepada kalian, untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi hari kiamat. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18)

إِنَّ إِلَيْنَا إِيَابَهُمْ ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا حِسَابَهُمْ

“Sesungguhnya kepada Kami mereka kembali, kemudian sesungguhnya kewajiban Kami menghisab (membuat perhitungan terhadap amalan) mereka.” (QS. Al-Ghasyiah: 25-26)

يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُونَ لَا تَخْفَىٰ مِنكُمْ خَافِيَةٌ

“Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatu pun dari keadaanmu yang tersembunyi (dari Allah).” (QS. Al-Haqqah: 18)

وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا ۗ وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا

“… Dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan itu ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang pun.” (QS. Al-Kahfi: 49)

وَٱتَّقُوا۟ يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى ٱللَّهِ ۖ ثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

“Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan).” (QS. Al-Baqarah: 281)

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ

“Berbekallah! dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.” (QS. Al-Baqarah: 197)

Kuwasiatkan kepada kalian, untuk tunduk sepenuhnya terhadap apa yang datang dari Allah dan Rasulullah. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 36)

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللَّهَ وَيَتَّقْهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ

“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menetapkan hukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan, ‘Kami mendengar dan kami patuh’. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (QS. An-Nisa: 51-52)

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu’. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran: 31)

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“… Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.” (QS. Al-Hasyr: 7)

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“… maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.’ (QS. An-Nur: 63)

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu Allah perintahkan agar kamu bertakwa.” (QS. Al-An’am: 153)

Kuwasiatkan kepada kalian, untuk menjaga dan memanfaatkan waktu kalian dalam perkara yang dapat menghasilkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Juga menggunakan kesehatan dan keselamatan yang Allah berikan kepada kalian untuk hal yang mendatangkan kepada kalian kebaikan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra: 36)

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf: 18)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Ada dua nikmat yang kebanyakan manusia merugi di dalamnya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. al-Bukhari)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ، فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Ali radhiyallahu ‘anhu pernah berkata,

ارْتَحَلَتِ الدُّنْيَا مُدْبِرَةً، وَارْتَحَلَتِ الآخِرَةُ مُقْبِلَةً، وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بَنُونَ، فَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الآخِرَةِ، وَلاَ تَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا، فَإِنَّ الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلاَ حِسَابَ، وَغَدًا حِسَابٌ وَلاَ عَمَلَ.

“Dunia itu akan pergi berpaling, sedangkan akhirat akan datang menyingsing; dan keduanya (dunia dan akhirat itu) memiliki anak-anaknya. Jadilah anak-anak akhirat dan janganlah kalian menjadi anak-anak dunia. Hari ini (di dunia) adalah hari beramal tanpa ada perhitungan (hisab), sedangkan esok (di akhirat) adalah hari perhitungan (hisab) tanpa bisa beramal.” (Disebutkan oleh Imam al-Bukhari dalam “Bab fi al-Amal wa Thuluhu” (panjang angan), dari bab “ar-Raqaiq” (kelembutan hati) dalam kitabnya ash-Shahih.

Kuwasiatkan kepada kalian, untuk saling mengasihi dan menyayangi di antara kalian. Orang yang tua menyayangi yang muda, sedangkan yang muda menghormati yang tua. Dan perbaikilah hubungan di antara kalian. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِكُمْ ۖ وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“… Oleh sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu. Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Anfal: 1)

وَٱلَّذِينَ جَآءُو مِنۢ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلْإِيمَٰنِ وَلَا تَجْعَلْ فِى قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: ‘Ya Tuhan kami, berilah ampun kepada kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.’” (QS. Al-Hasyr: 10)

Kuwasiatkan kepada kalian, agar menjadi penyejuk hati bagi setiap orang yang mencintai kalian. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman tentang sifat-sifat para hamba-Nya:

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Dan orang-orang yang berkata: ‘Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.’” (QS. Al-Furqan: 74)

Imam al-Bukhari menyebutkan dalam kitab ash-Shahih di awal tafsir surat al-Furqan, “Hasan al-Basri berkata bahwa makna ‘anugrahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami)’ yakni penyejuk hati dalam ketaatan kepada Allah. Dan tidaklah ada sesuatu yang lebih menyejukkan hati seorang mukmin daripada melihat kekasihnya berada dalam ketaatan kepada Allah.” 

Kuwasiatkan kepada kalian, untuk berteman dengan orang-orang yang baik, dan menjauhkan diri dari berteman dengan orang-orang yang buruk. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً

“Perumpamaan teman dekat yang baik dan teman dekat yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Seorang penjual minyak wangi terkadang menghadiahkan minyak wanginya kepada kamu, terkadang kamu membeli sebagiannya, atau kamu dapat mencium semerbak harum minyak wangi itu. Sementara pandai besi, adakalanya ia membakar pakaianmu ataupun kamu akan mencium bau yang tidak sedap darinya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Kuwasiatkan kepada kalian, untuk banyak membaca al-Qur’an dan menghayati maknanya. Allah Ta’ala berfirman,

فَذَكِّرْ بِالْقُرْآنِ مَنْ يَخَافُ وَعِيدِ

“… Maka beri peringatanlah dengan Al-Qur’an orang yang takut dengan ancaman-Ku.” (QS. Qaf: 45)

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ ٱلْقُرْءَانَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَآ

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 24)

وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلْقُرْءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS. Al-Isra: 82)

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar: 17)

Kuwasiatkan kepada kalian, untuk senantiasa menjaga salat yang telah Allah wajibkan terhadap kalian pada waktunya; dan melaksanakan salat-salat sunah sebisa mungkin. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

“… dan dirikanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al-Ankabut: 45)

Karena begitu pentingnya salat, dalam banyak hadis sahih menyebutkan bahwa salat adalah tiang agama, perkara yang pertama kali seorang hamba dimintai pertanggungjawabannya pada hari kiamat, dan perkara yang terakhir kali akan hilang dari agama Islam. 

Salat fardu bagi kaum laki-laki harus dilaksanakan di masjid secara berjamaah, berdasarkan dalil-dalil yang menunjukkan hal itu. Sejumlah dalil itu telah saya sebutkan dalam risalah yang berjudul, “Amar Makruf Nahi Mungkar Salah Satu Faktor Terpenting Berdiri dan Eksistensinya Negara Saudi Arabia”. Risalah ini dicetak pada tahun 1430 H. Di dalamnya saya sebutkan satu tema tentang “Peringatan bagi Orang-Orang Taat terhadap Seruan yang Melemahkan Pelaksanaan Salat Berjamaah.”

Kuwasiatkan kepada kalian, untuk berhati-hati dari penggunaan handphone dan sejenisnya yang dapat mendatangkan bahaya dan akibat buruk di dunia dan akhirat, karena di dalamnya terdapat hal yang dapat membutakan mata dan hati. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى ٱلْأَبْصَٰرُ وَلَٰكِن تَعْمَى ٱلْقُلُوبُ ٱلَّتِى فِى ٱلصُّدُورِ

“Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (QS. Al-Hajj: 46)

Saya telah menulis risalah tentang ini dengan judul, “Berhati-hatilah dari Buta Mata dan Hati Akibat Melihat Handphone dan Syubhat-Syubhat yang Ditimbulkannya, Wahai Kaum Muslimin.”

Kuwasiatkan kepada kalian, untuk semangat dalam membaca buku-buku yang bermanfaat dan mendengar rekaman-rekaman yang berfaedah, yang bersumber dari para ulama yang hakiki pada zaman ini, seperti Syekh Abdul Aziz bin Baz dan Syekh Muhammad al-Utsaimin rahimahumallah.

Kuwasiatkan kepada kaum perempuan dari anak keturunanku, untuk menjaga hijabnya dengan menutup wajah mereka dari kaum laki-laki asing dan tidak bercampur baur dengan mereka. Wanita yang menyingkap wajahnya disebut dengan “سُفُورٌ” (pengumbaran) menurut para ulama bahasa dan syariat. Adapun para ulama bahasa, disebutkan dalam al-Qamus al-Muhith karya Fairuz Abadi dalam unsur kata “سَفَرَ”, “Wanita yang menyingkap wajahnya disebut dengan ‘سَافِرٌ’ (orang yang mengumbar aurat).” 

Sedangkan menurut para ulama syariat, tokoh akademisi yang paling menonjol pada zaman ini adalah Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah. Beliau berkata dalam kitab Majmu al-Fatawa jilid 5 hlm. 224, “Sebagaimana diketahui bahwa seruan agar wanita mengumbar wajahnya adalah seruan yang batil dan mungkar secara syariat dan akal, serta bentuk penentangan dan permusuhan terhadap agama Islam. 

Para penyeru dan pengusung hal tersebut melakukan itu bisa karena kejahilan, kelalaian, dan ketidaktahuan mereka terhadap akibat buruknya. Bisa juga karena keburukan niat dan kebusukan maksud mereka yang tidak peduli terhadap akhlak yang terpuji dan tidak menimbang perbuatan itu dengan baik. Itu juga bisa mereka lakukan karena permusuhan dan kedengkian mereka terhadap agama, sebagaimana yang dilakukan oleh para pengkhianat dan musuh-musuh yang mendapat bayaran atas itu.”

Kuwasiatkan kepada kaum perempuan dari anak keturunanku pada setiap generasi, untuk senantiasa menjaga hijab syar’i dan menghindari mengemudi mobil. Saya telah menulis risalah dalam hal ini dengan judul “Kewajiban Wanita Menutup Wajahnya dan Keharaman Bercampur Baur dengan Orang yang Bukan Mahramnya.” Risalah ini dicetak pada tahun 1430 H. Selain itu, saya juga telah menulis risalah yang menjelaskan haram dan bahayanya wanita mengemudikan mobil yang berjudul “Mengapa Wanita Tidak Mengemudikan Mobil di Kerajaan Saudi Arabia?” dan telah dicetak pada tahun 1427 H.

Saya memohon kepada Allah Ta’ala bagi kalian semua kebaikan, keberhasilan, dan taufik untuk meraih kebaikan dunia dan akhirat. Saya juga memohon kepada Allah Ta’ala agar memperbaiki keadaan kaum Muslimin di setiap tempat, bagi para pemimpin dan rakyatnya; mengaruniakan kepada mereka pemahaman agama dan keteguhan di atas kebenaran. Sungguh Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa. 

رَبِّ أَوْزِعْنِىٓ أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ ٱلَّتِىٓ أَنْعَمْتَ عَلَىَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَىَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَٰلِحًا تَرْضَىٰهُ وَأَصْلِحْ لِى فِى ذُرِّيَّتِىٓ ۖ إِنِّى تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّى مِنَ ٱلْمُسْلِمِينَ

“Ya Tuhanku, berikanlah aku petunjuk untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridai, berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”

Semoga selawat, salam, dan keberkahan senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad, dan kepada keluarga, dan para sahabat beliau.

***

Abdul Muhsin bin Hamd al-Abbad al-Badr

Sumber: 

https://al-abbaad.com/articles/036962

PDF Sumber Artikel

🔍 Lailahaillallah Tulisan Arab, Jilat Kemaluan Istri Menurut Islam, Hukumnya Menghisap Kemaluan Suami, Jilbab Jilbob, Nikah Sambil Kuliah

Visited 1 times, 1 visit(s) today

QRIS donasi Yufid